Tampilkan postingan dengan label lainnya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lainnya. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Agustus 2010

lainnya

Kucing-kucing(-an)…
Untuk pertama kalinya aku berusaha menuliskan tentang kucing yang ada dirumahku. Entak kenapa, seperti ada hal yang menarik yang harus aku tuliskan akan binatang yang nggak jelas itu. Sayangnya aku nggak tau bagaimana harus menuliskannya, di tambah lagi referensi aku akan binatang satu itu nggak ada blass (alias blank..!). tapi bagaimanapun juga aku harus mencoba menuliskan dan menceritakanya. Semoga saja aku menemukan insfirasi untuk merangkay kata-kata agar bisa terbaca…
Secara bentuk memang nggak ada hal yang istimewa dari binatang piaraan yang ak maksudkan, mengingat kucing yang aku ceritakan hanya kucing kampung yang punya hobi nyolong ikan di dapur jika nggak diberikan makan. Mungkin saja jika yang aku ceritakan kucing seperti anggora, kucing Persia ato kucing ras lainnya. Pastinya aku akan lebih bersemangat untuk memikirkanya. Tapi entah, aku juga heran pada diriku sendiri sambil bertanya “kok mau maunya mikirin kucing, padahalkan cuman buang waktu aja”. Untung saja, aku pernah juga dengar seperti kata pepatah : “jika sesuatu hal yang udah kita pikirkan maka sesepele apapun sebaiknya segera dibereskan. Karena jika nggak di beresin bakalan pikiran kita makin kejebak untuk memikirkah hal itu-itu saja”.
Jadi mulai sajalah aku mulai menuliskanya, dengan berita yang pernah aku dengar bahwa rasul Muhammad SAW sangat memperlakukan dengan cara istimewa akan binatang yang satu ini. Entah pesan apa yang bisa di baca oleh umatnya akan sosok binatang yang satu ini agar bisa di maknai. Secara prilaku, binatang rumahan yang satu ini memang tidak ada yang special, bila kita lihat secara sepintas. justru malah sebaliknya tidak sedikit manusia yang menyukai binatang yang satu ini. Mengingat ulahnya yang sering ngabisin makanan dan ikan yang tersimpan rapi di lemari. Sikapnya yang suka mencuri, tapi aku yakin dia mencuri karena nggak di beri makanan. Dan itu sesuatu hal yang wajar di dunia binatang, hal dengan kucing garong yah…hufzz
Ternyata binatang satu ini memiliki posisi yang istimewa bagi manusia. Hal ini bisa dipastikan dengan banyaknya mitos yang tersebar di masyarakat akan binatang berkaki empat ini, diantara mitos-mitos yang ada antara lain: kucing akan membawa sial jika kita menabraknya dengan kendaraan saat dia melintas. oleh karenanya biasanya yang dilakukan oleh si penabrak segera membawa kucing yang sudah mati itu untuk menguburkanya, jika tidak sempat di bawa di kubur di sekitaran tempat kejadian biasa juga sering dilakukan. Hal ini tentunya dengan harapan agar nasib sial yang bisa terhindar. Biasanya juga sipelaku menyuruh orang di sekitar tempat kejadian untuk menguburkannya, jika memang keadaannya mendesak. Bagi aku, perlakuan seperti ini tak lain hanya sebatas sugesti, akan konstuksi nilai-nilai yang terwariskan dari orang orang sebelumnya. Seperti kita tahu, besarnya konstuksi pewarisan nilai-nilai ini, yang membuat segala mitos masih bisa terjaga.
Mitos yang lain yang beredar di masyarakat tentang kucing ini bahwa kucing dianggap memiliki nyawa sembilan. Jadi dia bisa merasakan kembali kehidupan setelah mati. Entah bagai mana proses nya. Apa dengan cara reinkarnasi pada kucing atau apalah…ak nggak tau. Oleh karenanya, jika itu benar maka secara bisa di bilang binatang satu ini bisa mengalahkan orang-orang yang sudah “kusuma” yang katanya bisa mengalami kematian dan hidup sampai tujuh kali…dan apakah benar mitos yang dialami kucing seperti ini, jikapun itu benar seharusnya banyak sekali kucing yang berkeliaran…bisa-bisa dunia di penuhi oleh binatang yang satu ini…hmmm.
Kucing bisa membawa keberuntungan alias hoky. Klo soal yang satu ini sudah pasti nggak cuman di percaya oleh masyarakat yang tinggal di desa. Sebab sebagian masyarakat yang sudah tinggal di kotapun masih banyak yang mengamini adanya mitos ini. Aku ingat benar saat nongkrong di blok m di daerah Jakarta sonoh. aku mendengar segrombolan pembuda yang memiliki usaha disana. Di tengah-tengah obrolanya dia membicarakan hoky dari seekor binatang satu ini. Aku hanya bediam mendengar asiknya obrolan mereka dan tentunya aku sama sekali nggak berniat ato punya niatan menguping apa yang di bicaraknnya. Cuman kedenger aja ama telinga, akan perbincangan mereka.
Sarat utama kucing yang di percaya membawa hoki adalah kucing jantan yang hanya memiliki tiga warna pada bulunya. Sudah pasti, mitos ini hanya berlaku pada kucing yang ada di Indonesia saja kebanyakan, sebab kucing-kucing ras seperti anggora ato Persia umumnya tidak memiliki banyak warna pada bulunya. Memang ada yang menarik dalam hal ini, dimana kucing pejantan yang memiliki tiga warna di bulunya di percaya memiliki hoki. Dan aku menganggapnya, itu memang merupaka sebuah pola pensakralan akan sesuatu hal yang berkembang di masyarakat tradisi Indonesia lama.pola pensakralan dalam kepercayaan masyarakat tradisi umumnya berpatokan pada hal yang beda seperti pensakralan kerbau pejantan albino, binatang albino ini memiliki warna yang berbeda dari umumnya kerbau. Oleh karenanya, biasanya bila binatang ini di gunakan untuk kepentingan upacara keagamaan nilai ekonomis binatang ini malah paling tinggi ketimbang binatang yang sejenis dengan warna yang umum.
Nah sekarang kita lihat yang terjadi pada kucing, kucing pejantan yang bulunya memiliki tiga warna sangat jarang didapatkan dan jarang ada, bahkan ak sempat sekali melihatnya saat kucing betina melahirkan anak kucing jantan yang memiliki tiga warna. Tidak berselang lama anak kucing itu sudah mati entah di makan oleh induknya, ato mungkin juga di makan oleh tikus. Tapi mungkin nggak yah, tikus bisa makan anak kucing yang baru dilahirkan, klo kata ibu ku sih katanya dimakan lagi ama induknya..hmmm aneh yah, Jadi saya sendiri nggak bisa melihat anak kucing pejantan itu tumbuh besar, dan nggak bisa juga ngedapetin hoky dari mitos kucing itu..hufzz. dan seperti itu beberapa mitos tentang kucing…
Hal yang lainnya, yang sempat aku mendengar berita dari seorang kawan yang baru balik dari sumba. Di daerah sana ada sebagian kelompok masyarakat justru memperlakukan binatang yang satu ini sebagai salah satu binatang yang bisa di konsumsi alias di santap, dan pernyataan dari mereka daging dari kucing sangat istimewa. Kelenturan dan kelembutan dari rasanya nggak bisa di bandingkan dengan binatang manapun. Wew…ak sempat kaget juga mendengar berita ini, karena sebelumnya ak belum sempat mendengar klo ada orang menjadikan kucing sebagai bahan untuk di konsumsi. Tapi entah bener apa nggak aku belom pernah kesana dan melihatna langsung…
Misteri lain yang ada dalam kucing yang menarik lainnya adalah saat binatang satu ini bukan merupakan binatang yang dianggap nejis (dalam islam) jika kucing mati, akan tetapi tidak di perkenankan juga untuk menyantap dagingnya. Lain hal binatang-binatang yang lainnya seperti anjing, he he… klo binatang satu itu bukan cuman bangkainya yang najis, waktu hidupnya aja binatang itu dah bisa membawa najis. Bahkan jika kita terkena air liurnya anjing maka kita harus bersuci dengan air atau pasir sebanyak tujuh kali..banyak juga contoh-contoh binatang yang lain yang dianggap najis bila menyentuh bangkainya, tapi disisi lain kita bisa mengkonsumsinya saat binatang itu di potong dengan tata cara memotong hewan yang benar seperti ayam, atau bebek (darahnya membuat najis). Anehnya untuk binatang yang satu ini tidak berlaku hal yang demikian. Bangkai kucing nggak membuat najis. Aneh yah.. (sambil garuk-garuk kepala..hufz, padahal biasa aja kaleee…).
Misteri yang lain dari seekor kucing ini saat aku coba berpikir pada kemana larinya kucing, sehingga keberadaan akan populasinya bisa di bilang seimbang. Padahal dilihat dari roduktifitas kelahirannya seekor indukan kucing bisa mengandung anaknya kembali setelah beberapa minggu melahirkan. Kita lihat saja jika seekor indukan kucing saat melahirkan lebih dari 4 ekor rata-rata melahirkan anaknya.. secara logika dengan produktifitas yang tinggi maka sudah selayaknya papulasi binatang ini makin hari makin bertambah banyak.mengingat juga masa hidupnya kucing lebih dari satu atau dua tahun. Dalam kenyataanya malah nggak seperti itu. Padahal sebagian besar masyarakatnya nggak pernah menjadikan kucing sebagai bahan konsumsi makanan. Lain hal dengan ayam, yang ribuan dikembang biakan atau menetas setiap hari akan tetapi ribuan juga yang di potong setiap hari dan di konsumsi oleh masyarakat, jadi wajar saja.
Lantas…pada kemana yah larinya tuh kucing…uhhh
Nah…nah…nah…trus ngapain juga yah repot-repot mikirin kucing yah….hmmm
Jangan aneh duehhh….

lainnya

Sang waktu : “ampuni aku”

Sepintas, aku menjadi malu saat aku coba berkaca pada diri sendiri, karena setelah aku sadari memang tak ada kemampuan apapun yang menjadi milik aku. Yang ada dalam diri hanya merupakan refresentasi akan adanya kekuasaan dari sang pencipta. Tak bisa aku elakan lagi dan tak bisa aku pungkiri juga. Bahwa aku tak punya kemampuan apapun. Lantas akhirnya aku kembali berpikir akan adanya ke Aku an dalam diri ini. Apa yang aku miliki? Apa yang aku punyai dalam hidup ini. Tak lain hanyalah proses kesakisian yang dialamai dalam setiap kejaidan yang dialami. Baik-buruk, susah-senang semua sudah menjadi kehendaknya. Pada setiap kejadian sudah pasti dengan segala keadaannya.

Menjemukan memang, bila sesekali mendengarkan para pemuka agama dalam bercerita tentang menghadapi kehidupan, kearifan hidup dan idelanya menjalankan hidup. Semua seperti terdengar menyejukan bila kita rasakan. Kata kata seperti mendamaikan swasana yang membuat hati gundah. Kata kata seperti mendamaikan sebuah pertemuan dari kegundahan dan gelisahnya hati.

Kadang aku berpikir untuk mencari solusi akan apa yang sedang aku alami. Hanya saja, tak ada yang bisa aku pertemukan agar bisa mendapatkan satu kesepakatan sebagai solusinya. Kadang pernah aku mencoba berharap dan meminta pada sang kuasa, hanya saja sebagian diri ini merasa malu saat aku berprilaku demikian. Memang kenyataannya kepada sang kuasalah kita harus memohon untuk meminta agar kita mendapatkan kasihnya. Kitapun diwajibkan untuk berdo’a kepada sang kuasa, karena dialah tempat untuk meminta.

Awalnya, berDo’a seperti penyelamat bagi diriku dalam nghadapi solusi. Tapi pikiranku malah menertawai kelakuanku. Karena sepintas ada suara yang membisiki aku dengan berkata : “ dengan berdo’a sama saja kita menyuruh sang kuasa untuk mengikuti akan apa yang kita inginkan, lagi pula bukankah taidak kurang satupun dalam kehidupan ini, bukankah semuanya sudah tersedia dan ada di dalam dunia apa yang menjadi kebutuhan seluruh mahluk”.

memang ada kalimat sang kuasa itu gimana kitanya, kita beranggapan dia baik maka baik dan jika kita beranggapan dia jahat maka jahat pulalah dia. Akpun membenarkan hal itu dan tidak menyalahkan sedikitpun akan kalimat itu, hanya saja tetap hatiku belum bisa menerimanya karena disisi lain ak masuh menjadi mahluk ciptaannya dan ak rasa nggak etis bila ak harus mengatur yang kuasa dengan cara berdo’a untuk mengikuti apa yang kita anggapkan.

Bahkan di dengan ayat nya sendiri, sang kuasa memerintahkan mahluknya untuk meminta dan memohon kepadanya. Hanya saja, apakah kita sendiri sudah mempotensikan secara maksimal, akan apa yang sudah dia berikan dengan adanya tubuh ini. Aku menjadi malu, dan berpikir untuk mempertanggung-jawabkan akan apa yang sudah diberikanpun aku nggak memiliki kemampuan, apalagi bila di tambah, aku harus meminta yang sudah pasti aku nggak akan bisa mempertanggung-jawabkannya. Lantas apa yang harus aku lakukan, nggak mungkin ak menunggu waktu akan datangnya mimpi aku, sementara aku membuang waktu yang aku alami saat ini dan menukarkannya dengan berdiam diri atau berkeluh kesah.

Mungkin dibutuhkan waktu dalam menemukan satu titik keseimbangan dalam menyikapi hidup. Baik buruknya sudah menjadi kehendaknya hanya saja akhirnya kita harus berpikir cara menyikapi segala apapun yang sudah di beri. Hal yang melukai hati, yang di beri sesunggunya adalah hal yang sangat indah bila kita tau cara menyikapinya. Karena disanalah kita bisa bercerita banyak dan mendapatkan pengalaman akan kejadian yang dialami.

Belajar cara berserah diri, membiarkan diri untuk di atur oleh sang waktu. Membiarkan diri untuk diperlakukan dan ditempatkan sebagaimana kehendaknya. Belajar tentang ketulusan saat menghadapi kejadian. Hingga akhirnya kita sadari bahwa yang kuasa tak akan pernah rela membuat diri kita terluka jika kita mengamini apapun yang dia beri… kita harus ingat, bahwa “tuhan bersama kita saat ini: dalam kisah Muhammad di goa hiroh”.

lainnya

Jika merdeka nanti (he he..kenapa musti nanti yah)
Sudah 65 tahun pernyataan kemerdekaan Negara kita dinyatakan, udah lebih 65 tahun lagu kebangsaan Indonesia dikumandangkan. Begitu juga bendera Negara kita, sudah lama dikibarkan. Lantas apakah memang kenyataannya kita sudah merdeka? Merdeka dari diri kita, merdeka dari para penindas yang selalu mengancam keberadaan diri ini? Apakah kita hanya terdiam jika ancaman itu datang. Ataukah kita malah berbalik lari dan pergi meninggalkan ancaman yang menghadang. Sepertinya genrasi kita nggak pernah dididik untuk bersikap demikian, dan nggk juga dididik untuk menjadi generasi yang pengecut. Sebuah generasi yang hanya bisa bersembunyi dan berlari meninggalkan yang terjadi.
Untungna kita sebagai generasi bangsa, tidak lagi merasakan. Bagaimana hadangan senjata yang selalu mengancam. Kita juga nggak pernah merasakan bagaimana hadangan bayonet yang sewaktu waktu bisa merobek dan mencabik tubuh kita. Dan kita sedikitpun tidak pernah merasakan benar bahaya di depan mata yang selalu mengancam nyawa kita jika kita lengah barang sedikitpun. Kita tidak pernah merasakan panasnya peluru yang menembus tubuh kita. Dan kita tidak pernah berhadapan langsung dengan bahaya yang nyata dihadapan kita.
Kita sudah merdeka. Begitu kata negarawan dan para pahlawan yang sduah memerdekakan bangsa. Lantas apa yang harusnya kita perbuat dalam hidup ini. Apakah kita hanya akan memikirkan diri sendiri, memikirkan golongan dan kelompok sendiri, memikirkan ke egoaan yang besar dalam diri atau apa….? Apa yang harus kita perbuat.
Untung saja mereka yang berjuang memerdekakan bangsa ini nggak hidup di jaman sekarang. Jika saja mereka hidup kira-kira bagaimana perasaan mereka melihat kelakuan anak cucunya yang masih diperbudak oleh keinginan dan keakuannya.. diperbudak oleh nafsunya, yang sudah seperti fir’aun yang bangga dengan kekuasaanya Tapi takut akan ancaman kebaikan yang dihadapinya. Merasa diri paling benar, merasa egonya paling bijaksana dan paling mengabdi pada Negara dengan segala rencana rencana pembangunannya. Sementara disisi lain, hanya melantarkan dan membuat penderitaan hati rakyat semakin dalam.
Jika harus ada yang jadi korban dan dikorbankan, kenapa musti rakyat yang menanggung beban. Kepada siapakah sebenarnya para pemimpin yang berdiri, di garis depan yang mengatasnamakan Negara ini bertanggung jawab. Bukankah akhirnya untuk kesejahteraan rakyatnya. Lantas kenapa musti pencitraan yang di bangun agar seluruh dunia terkesan akan keadaan bangsa ini. Bangsa yang baik, bangsa yang bersahaja, bangsa yang masih untung tidak di rong-rong oleh sebagian besar yang rakyatnya terkapar karena merasakan lapar. Bangsa yang masih diuntungkan oleh rakyatnya yang memilih diam dan menerima ketidak-adilan akan para penguasan dalam memperlakukannya.
Apa yang sebenarnya yang dituju oleh bangsa ini saat dahulu memerdekakan diri dari penjajah. Bukankah tujuan itu harus jelas, bukankah tujuan itu adalah realita yang harus kita jelmakan dari sederetan kata-kata seperti yang tertuang dalam undang undang dasar Negara kita dan pancasila. Bukankan tujuan dimerdekakan bangsa ini agar seluruh rakyatnya bisa mencapai kesejahteraan dan bisa diberikan waktu untuk memanusiakan manusia. Ataukah tujuannya merdeka itu hanya sebatas tidak ada lagi penindasan sebagaimana yang diucapkan oleh para pejuang yang memberikan nyawanya supaya anak cucu mereka tidak meraskan hal yang sama, sebagaimana yang sudah dirasakan oleh mereka. Dengan tidak memikirkan kemana arah tujuan…..
Ah..sudah lah, terlalu berat jika harus menyuarakan tentang kegundahaan hati bila melihat keadaan bangsa.. mending ngopi aja dulu ah….wkwkkkk absurd banget…hufz

Senin, 12 April 2010

lainnya

Kesalahan kedua
Lantas, apakah kita mampu memperbaiki sebuah kesalahan yang sudah dialami, saat kita menjalani hari? Dengan cara apa kita akan memperbaiki kesalahan itu? Untuk apa kita harus memperbaikinya sementara kesalahan itu sudah kita lewati.? Walaupun tidak menutup kemungkinan kesalahan yang kita buat hari ini akan terjadi kembali di hari nanti. Seberapa yakinkah kita mengamini, bila sebuah kejadian yang kita alami hari ini akan kita ulangi di hari nanti? Lebih baik mencari sesuatu masalah yang belum kita temui, ketimbang kita harus mencari suatu masalah yang sudah kita lewati.
Kesalahan, di perbaiki atau tanpa di perbaiki tak akan pernah berubah. Di ingat atau tidak di ingat ia akan tetap saja sama. Jika kesalahan itu menyakitkan maka rasa dari luka itu pastinya akan tetap terjaga. Hati yang akan selalu menjadi penjaga sebuah rasa yang tersimpan di dalam dada. Sementara disisi lain, luka itu akan tetap menjadi tanda yang selalu bisa kita baca. Menyesal atau menyatakan pengakuan dalam menikapinya hanya akan membuang waktu. Jadi, jangan pernah meminta maaf jika kita tidak sanggup untuk menjalankan hukuman. Sebab sebuah maaf akan hilang dengan sendirinya saat kita selesai menjalankan hukuman.
Kesalahan bukanlah sebuah kecerobohan akan ketidak-mampuan diri kita untuk memahami sebuah kejadian. Jika kebenaran hanya mikik sang pencipta dan kesalahan adalah milik kita. Oleh karenanya, kesalahan adalah hukuman akan kelalaian kita yakan ketidak mampuan. Maka, apa salah kita? Akantetapi di sisi yang lain kita bisa menganggap kesalahan merupakan sebuah keharusan yang terkadang harus kita jalankan tanpa pernah ada penyesalan, bukankah tidak menutup kemungkinan bahwa sebuah kesalahan adalah satu ketentuan yang harus kita jalankan. Bila kita bisa merasakan, ada sebuah keindahan yang bersembunyi dibalik setiap kesalahan yang pernah kita lakukan. Jika kita menyadari apa yang kita lakukan adalah sebuah kesalahan, maka kesadaran adalah penyiksaan yang tak pernah bisa kita tepis.
Tidak pernah ada yang berani menilai dalam hidup, sebab tak ada lagi aturan yang mengikatnya. Hanya ketentuan yang diberlakukan untuk melakukan apapun yang sudah menjadi ketetapan. Ruang kehidupan harus ditinggalkan dan kematian harus kita rasakan dengan perasaan. Maka berbahagialah orang-orang yang masih hidup dan bisa merasakan kematian dalam kehidupannya.
Segala kejadian ini begitu sempurna, sampai-sampai aku tak sempat merasakan keindahan yang begitu tipis menggantikan detik-detik perubahan. akupun sempat bertanya: jika rasa tak lagi punya kesanggupan merasakan suasana, apakah semuanya itu nyata? sementara disisi lain aku bisa menyatakan semuanya itu nyata dan menjelma. Tak ada lagi runtutan do’a yang bisa di baca untuk mendamaikan suasana. Harapan yang biasanya aku gunakan kali ini tak bisa ku temukan untuk dipergunakan, ia seolah lenyap.
Ada diri kita didalam karya kita, lantas masihkah ada sang pencipta didalam ciptaannya? Sementara yang diberikan kuasa adalah semesta setelah selesai dicipta untuk mengelola yang ada. Tak ada yang harus kita takutkan jika kita tidak menemukan tempat untuk bersembunyi. Seperti halnya yang tak menemukan alasan kenapa harus takut pada sang pencipta, sebab ia yang kita cinta.
Harusnya kita meyakini dengan bukti, bahwa tuhan tak pernah menanamkan ketakutan. Sebab bagaimanapun walau kita menemukan cinta dalam ketakutan tapi alangkah baiknya jika kita takut karena cintanya. Cinta kasihnya yang selalu ia tanamkan makanya lebih baik kita takut karena cinta dan kasihnya, ketimbang kita cinta karena takutnya. Walaupun ada bagian bagian yang kita cinta dan kita takuti akan tetapi yang menjadi pembeda dari keduanya adalah awal, dimana sebuah awal bisa digunakan sebagai salah satu alasan untuk menyandarkan ketidakmampuan diri kita saat menghadapi yang terjadi.
Semoga nanti di ujung sepi bisa kita kenali apapun yang sudah pernah kita lewati. Saat kita menyanyi dan menari dendang lagu hati, kita berada dalam abadi.
Atas nama cinta, selamatkan aku dari setiap kejadian yang sudah kau berikan. Selamatkan… selamatkan… selamatkan...

lainnya

Cinta melulu….

Sang pencipta menitipkan perasaan dalam diri ini, salah satunya rasa untuk menyayangi dan mencintai untuk disebarkan di muka bumi. Dalam persoalan cinta dan kasih yang terlalu umum ini, pastinya kita tidak akan membagi dan memberikan karunia sang pencipta itu kita berikan pada hal yang kita inginkan. Pada logikanya mengenai persoalana ini, cinta yang utuh ini harus kita bagikan kepada siapapun dan kepada apapun. Bukan hanya kepada manusia atau orang yang kita cinta, pada semesta, pada alam raya, pada dirikita bahkan yang utama pada sang pencipta itu sendiri.
Begitu luas dan beragamnya makna cinta bila kita beri arti, terkadang menjadikan dirikita enggan untuk membatasi arti dari kata cinta tersebut. Ada yang menganggap dengan mengartikan sebuah kata, secara tidak langusng, kita sudah membatasi hal yang tak seharusnya tak berbatas. Itu mungkin anggapan kita yang mencoba memilih membiarkan cinta itu yang akan membatasi ruangnya. Sementara bagi orang-orang yang membatasi istilah cinta dengan memberikan arti menganggap karena ketidak mampuan kita mengarungi samudera cinta, maka batas yang kita sediakan akan memberikan satu sarah pada diri kita agar memperhatikan hal lain juga, sebab tidak hanya persoalan cinta yang melebihi luasnya samudera yang ada dalam kehidupan ini. Toh pada kenyataanya kita juga harus menanggalkan cinta yang begitu agung saat kita bersujud.
Untuk mengarungi luasnya samudra yang ada dalam diri kita, dibatasi atau tidak dibatasi itu semua kembali kepada dirikita. Yang meresahkan pikiran kemudian, bila kita kembali memikirkan rasa cinta itu dengan melihat realita yang ada, maka apakah agungnya cinta yang dititipkan hanya akan kita gunakan untuk sesekali bertahan.? Saat kita sendiri sudah teryakinkan oleh sebuah ikatan yang dinyatakan. Lantas kepada siapakah perasaan bahagia itu harus kita bagi, kepada orang yang kita cintai atau kepada orang yang mencntai kita?
Bila kita mencoba melihat pada realitas masyarakat. Sebagian besar masyarakat lebih memilih membagikan cintanya kepada orang yang kita cinta. Sesekali masarakat lebih memilih sakit ketimbang mencoba memilih kebahagiaan. Yang menyebabkan hal ini, logikanya sederhana. Ada beberpa poin yang utama kenapa manusia lebih memilih bertahan dengan rasa sakitnya. Pertama : cinta yang ada dalam diri kita bertumpu pada keinginan kita. Kita lebih tertarik untuk mengejar dan menaklukan orang yang kita inginkan ketimbang orang yang menginginkan kita. Hal itu memang sangat wajar terjadi. Padahal bila kita pikirkan lagi, orang yang mencintai dan mengejar cintanya akan lebih banyak mengorbankan apapun yang ada dalam diri kita, tidak hanya waktu, tapi juga hati kita bahkan hargadiri kita harus siap dipermalukan dan direndahkan.
Sayangnya persoalan cinta memang begitu adanya, kita lebih berani untuk menyakiti orang yang mencintaikita dan mencampakannya, disisi lain diri kita sendiri memang sudah siap untuk dicampakan oleh orang yang kita cinta. Lantas, kapan cinta itu akan bertemu. Bukankah masih ada keindahan cinta yang harus kita nikmati ketimbang merasakan sakitnya berkorban, memang keindahan itu akan lebih indah saat kita merasakan rasa sakit sebagai awalnya ketimbang langsung merasakan rasa manis awalnya dan pahit akhirnya. Tapi lebih baik tidak ada awal atau akhir tapi manis merasakan adanya cinta.
Yang kedua : Tantangan. Yah, manusia kadang merasa lebih tertantang untuk mendapatkan serta meraih apa yang sudah diinginkan Ketimbang menerima tantangan untuk orang yang mencintai diri kita. Orang orang terkesan merasakan sebuah kenyamanan saat andrenalinnya terus dipacu untuk memikirkan serta membuat diri kita selalu khawatir akan seseorang yang menjadi pujaan kita. Anehnya hal ini bukan hanya terjadi pada remaja saja, tapi pada orang dewasa juga. Mungkin saja cara orang yang kita cinta yang tidak bisa di mengerti kita, mungkin juga karena susah ditundukannya orang yang kita cinta sehingga akan membuat diri kita bangga saat kita bisa menaklukannya. Sayangnya cinta tidak pernah penjajahan dan penaklukan.
Pada dasarnya mencintai atau di cintai sama saja, sebab dua hal tersebut tak bisa dibandingkan antara satu dengan yang lainnya. Masing-masing punya ruangan dan nilainya sendiri-sendiri serta suasananya sendiri yang tak akan pernah sama bila dibandingkan. Mencintai terkadang lebih banyak disakiti, lebih banyak memberi tanpa memikirkan apa yang sudah kita dapatkan, sebab mencintai adalah pengabdian diri kita untuk beajar merelakan perasaan kita untuk diperlakukan bagaimanapun. Begitu juga dengan dicintai, tidak menutup kemungkinan juga pada orang yang mencintai kita bisa membuat diri kita disakiti hingga terluka juga hati kita. Lantas..? mendingan tidur aja ahhh…..

Rabu, 24 Maret 2010

lainnya

do'a dulu ah

Dan akirinya aku kembali mencoba mengawali hari dengan sedikit do’a. saat sebagaian orang masih terjaga, perlahan aku paksakan untuk membuka mata. Supaya bisa melihat warna cahaya yang bersahaja menyapa. Berat memang, jika janji dari indahnya hari tak pernah bisa menjadi bukti. Padahal pagi yang kembali sudah mengorbankan mimpi malam hari.
Indah Bulan malam ini tak secantik mawar ditaman.
Sayangnya aku tak menemukan keindahan, saat bunga mawar itu tak memiliki tangkai. Hingga akhirnya aku sadar bahwa hany tangkailah yang menjadikan mawar itu di lihat indah.
Diantara kepingan kepingan bahasa yang berada dalam bait bait kata yang bisa terbaca. Kembali aku mencoba mengeja keihidupan pada awal datangnya hari. Biar sepi, ternyata sisa embun yang tertempel pada dedauna menjadikan hati ini dirasa lebih hangat. Lantas, akankah pagi yang kembali akan seindah seperti biasanya. Bukankah awan hitam biasa menjadi penghalang akan datangnya cahaya.
Warna merah sebelum datangnya cahaya yang selalu aku damba. Warna merah sebagai salah satu petanda akan adanya gairah. Yap…gairah untuk menikmati hari yang akan kita jalani. Dan pagi ini aku tak akan berbagi keindahan.
Heuh…kehidupan, kehidupan yang pandai menyembunyikan ketakutan. Sayangna memang tidak ada kemampuan untuk meniadakan kekhawatiran. Was-was, tak biasanya menemani. Cemas, tak biasanya kujumpai saat pagi kembali. Lantas, apa yang sebenarnya akan tejadi. Ini semata hanya Karena hal yang tak biasa terkadang yang akan membuat segala sesuatu dirasa istimewa. Hal tak biasa yang biasanya kemudian dijadikan bahan cerita.
Seperti menunggu proses kelahiran. Dan kelahiran kali ini lingkungan yang menjadi rahim untuk mengeluarkan diriku. Rahim yang akan melahirkan kesadaran akan keadaan. Dan ini kemudian aku sebut sebagai kehidupan kedua, dari tak ada menjadi ada karena kesadarannya.
Dan sejenak aku sadar, jika jari jemari ini aku teruskan menari diantara hurup hurup mungkin saja tak akan pernah menghabiskan air tinta sari pati semsesta. Tak terasa jika akhirnya aku harus percaya bahwa airmata adalah kata yang pernah bisa diucapkan. Ia adalah bahasa ketulusan untuk meyakinkan sisi lain dari jiwa yang terasing saat sendirian.
Lantas, siapa yang akan segera tiba agar dapat merubah luka menjadi surga.
Bersiap siap menyambut orang yang tak pernah kita duga yang akan menjadi penyempurna hidup kita.

lainnya

pagi hari

Lantas, siapa yang sebenarnya menaburkan janji saat malam kembali. Padahal senja yang pergi masih saja bisa aku nikmati dalam kesendirian. Semua seperti menawarkan akan datangnya cahaya. Bukankah bulan yang punya kuasa akan jubah gelap yang melekat pada malam yang berujung kelam. Atau mungkin bintang yang menari yang akan lelapkan hati. Sehingga kita dibuatnya makin tak mengerti akan yang terjadi.
Sendiri kembali harus aku lewati malam sunyi. Taburan resah yang menjamah menjadikan kegelisahan ini seperti gairah yang harus segera tercurah. Sayangnya belum juga ada yang berani mendekat dan menjamah hingga mencurahkan keindahan. Otak kecilku berkata, “itulah adanya, keindahan yang mengalir dalam darah tak akan tercurah dan malam ini kembali tak akan kau dapatkan keindahan yang akan memanjakanmu saat kau terjaga”
Perlahan langit mulai mengitamkan malam, gelap seperti menjadi petanda. Akankah hujan akan kembali tiba dengan segera? Bukankah aku tak akan bisa menjaga untuk menggagalkan sesuatu yang akan segera tiba. Tidak ada yang bisa. bahkan sang pencipta, seperti tak punya kuasa untuk menggagalkan sesuatu hal yang sudah ia cipta dan ia percaya untuk mengelola alam semesta.
Untungnya semesta yang dipercaya mengatur dunia. Sehingga menjadikan manusia tak mampu menghadapinya, bahkan menaklukannya.
Yang sudah ia cipta yang dapat menjadikan segala sesuatu menjadi “ada” dan yang menjadi pembeda adalah rupa dari nama. Seperti halnya adam yang diciptakan dan hawa dijadikan dari bentuk dan unsur yang sama. Pada bagian bagian tertentu pemisahan antara yang diciptakan dan yang dijadikan terkadang saling menaklukan dan melumpuhkan. itu semata untuk menadapatkan satu kepuasan yang akan membawa pada perasaan dan mengekalkan keegoan.
Di balik semua kejadian, ada kesendirian yang tak akan pernah bisa mendapatkan segala yang di inginkan. Bukan semata karena banyaknya penghalang dari yang sudah ditentukan. Tetapi terkadang ketidak-mampuan dan ketidak-tahuan akan jalan untuk mendapatkan sering menjadikan segala yang diinginkan hanya menjadi sebuah harapan yang pernah diinginkan tapi tak pernah didapatkan. Lantas apalagi yang musti dilakukan, bukankan sebenarnya hanya cara untuk mati yang kita perlukan. Supaya keindahan akan hidup bias kita rasakan.
Adanya pilihan merupakan sebuah perselingkuhan akan kesetiaan. Supaya keindahan disisi lain yang tak pernah kita perlukan bisa juga kita rasakan. Hal itu ada Semata hanya membawa dan menghantarkan kita pada kesempurnaan hidup di dunia. Saat semuanya tiba, disana kita akan bertanya dengan siapa kita tiba. Apa dengan bekal baju yang sama atau hanya dengan telanjang dada supaya kita bisa langsung merasakan curahan cinta dari sang pencipta.
Sayangna perselingkuhan tidak pernah menjadi sebuah kebutuhan, sementara seksetiaan yang tidak pernah ada dihadapan tak juga didapatkan. Hanya sebatas kebodohan makin menjadikan perangkap-perangkap dirasakan sangat dekat. Kesetiaan yang lama di beritakan tak pernah bisa kita temukan. Haruskah kita tetap berkerashati mencari sesuatu hal yang takernah aku kenali. Lebih baik memang, bila kita mencari sesuatu hal yang belum kita temui dari pada kita mencari hal hal yang sudah di lewati. Sayangnya kita hanya berdiam diri melihat keadaan yang dirasakan saat ini yang sangat menyakitkan.

lainnya

Serat seret
Sebuah catatan awal yang belum rampung

Tak tahu dimana asalnya, dan tak tahu awalnya. Semua terjadi seperti sudah semestinya.
Tak sadar akan kelahirannya, tak paham dengan yang mengandungnya
Semua dirasakan ada. Dan seperti adanya.

Terjebak di jajaran hari, tersesat di runtutan waktu.
Seperti seorang ibu yang tak ragu melahirkan tubuhku.
Sementara yang mengandung sang aku belum juga aku tau.

Saat aku mulai mencoba berdiri. Dan memberi arti dari yang terjadi
Ada tradisi yang mengajarkan aku cara untuk menghadapi yang teradi.
Bahkan tradisi juga yang mengajarkan aku cara untuk pergi.

Diantara jajaran hari dan runtutan waktu
Ada ruang pengantara yang bisa manjakan perjalanan
Lalu malam yang akan mengajarkan kita untuk terdiam dan menanyakan
“apa yang sudah kita lakukan dan kita dapatkan dari yang kita kerjakan tadi siang”
Lantas…
Apa yang nanti akan kau berikan
Segudang janji atau sepenggal mimpi.

Sayangnya belum ada yang memastikan dan menjelaskan dengan cara apa manusia pertama di ciptakan, lalu dijadikannya hawa sebagai pasangan.
Sang pencipta menciptakan,
Lantas siapa yang menjadikan.?
Seperti ada yang masih di rahasiakan. Dengan cara apa adam di jadikan.
Apakah semesta yang melakukan sebagai salah satu wujud tanggung jawab atas ketentuan yang sudah di tetapkan.
Alam yang di ciptakan, menjadikan serbagai macam kehidupan sesuai dengan lingkungan dan caranya.
Lantas….
Seperti apakah proses kelahirannya?

Adam pertama di ciptakan dari empat unsur sifat hidup.
Lalu hawa dijadikan sebagai pasangan dari unsure yang sama.
Sayangnya mereka tak menemukan sebuah alasan kenapa ia memakan buah larangan
Hingga ia harus dikeluarkan dari keagungan.

Masihkan kau akan mencai jalan menuju keabadian. Jika adam yang pertama diciptakan justru dikeluakan karena hukuman.
Meski ada tanah yang dijanjikan
Apakah ia akan menyediakan satu tempat disana bagi orang orang yang menginginkannya.
Tak ada tempat di surga bagi orang yang berharap akan surga.
Masih tersimpan warna di balik cahaya sebagai sebuah petanda kehadiran sang ada.
Saat mata ini terjaga, disana kau melihat karena cahaya yang tiba.

Kekasihku….
Ajari aku agar tak ragu untuk menyerahkan diriku.
Kekasihku…
Aku tak akan datang padamu, jika wajahku selalu menatap kebelakang.
Aku tak akan dating kepadamu dengan mebelakangimu.

Kekasihku…
Segala yang terjadi tak akan pernah bisa aku hindari. semua aku harus hadapi dan aku lalui walau terkadang harus melukai hati.
Apakah semua akan tetap bertahan, jika keyakinan sudah dijadikan pikajan.
Apalah arti jika aku mengenali diri, sementara yang terberi tak lagi menyimpan arti.

Kekasihku…
Seertinya mati yang aku nanti. Agar satu saat nanti aku bisa bersandar pada satu sisi pulau sepi. Biar sendiri. Sebab disana aku bisa menari bersama hari tanpa mentari bahkan tanpa malam hari. Semoga disana aku dapat mengerti klo aku terlahir seorang diri dalam dunia yang sepi. Dunia tanpa hari dan matahari.

Kekasihku…
Ajari aku dalam menjalani hidup
Genggam tanganku dan tuntun aku agar tak ragu
Walau keyakinan telah aku simpan di hadapan

Kekasihku…
Aku tak menemukan alasan kenapa aku harus melupakanmu.
Sebab aku tak akan pernah bisa berlari bersembunyi.
Menghindari yang terjadi, tak ada tempat bersebunyi maka tak lagi ada rasa takut di hati untuk menghadapi…

Kekasihku…
Ada yang tersesat di dalam diri karena tak bisa mengenali.
Siapa yang mencari siapa.

Aku yang kau ingin temui, aku yang ingin kau kenali. Aku yang selalu berada dibalik apa yang sudah kau cipta. Tapi kau lupa jika aku tak pernah ada menjelma nyata.
Hanya nama yang menunjukan rupa. Aku ada dalam ada, aku menjelma dalam pernyataan. Aku tiada dan dipaksa ada hanya semata menjadi penyempurna.

lainnya

individu, personal
Jika tidak lagi otak ini digunakan untuk berpikir maka pikiran yang mana lagi yang harus digunakan. Lantas apa saja peranan otak saat tak lagi dibutuhkan untuk sarana berpikir. Sepertinya otak hanya berfungsi untuk menjadi penyeimbang akan keberadaan tubuh secara organik saja. Ia hanya berfungsi mengontrol laju darah dan segala fungsi organ yang ada di tubuh ini.
Tuhan sepertinya sudah menyediakan segala apa yang kita butuhkan. Kehidupan tanpa di pinta ia berikan, begitu juga dengan jalan untuk menggapai satu tujuan, semua sudah ia sediakan. Keberlanjutan akan jalannya kehidupan menjadi salah satu bagian yang utama. Perubahan akan terus ada, baik yang membangun atau yang merubah satu tatanan juga ia sediakan. Tidak hanya itu sebuah kehancuran terkadang ia hanya membiarkan kejadian seperti itu menerjang keseharian.
Kita tidak akan pernah memahami siapa yang akan menyempurnakan kehidupan ini. Adanya diri kita atau sang pencipta. Tanpa kita apakah tuhan akan tetap ada, pastinya saja ia akan tetap ada. Sebeb pada dasarnya salah satu sifat yang ia miliki ialah meng-Ada dari yang ada. Resikonya kita tak lagi menjadi saksi dari apa yang terjadi, tidak ada yang harus dipertanggung-jawabkan dari sebuah kesaksian dan perjalanan. Sehingga akan menadikan hakekat hidup ini hanya sebatas ruangan kecil yang menyelimuti diri.
Sesuatu hal akan terjadi, semata bukan karena kebetulan. Segalanya sudah direncanakan baik di sadari atau tidak, baik kita ingat akan perencanaan itu atau bahkan lupa sama sekali. Hal seperti ini yang terkadang dianggap sebuah kejadian seolah terselimuti oleh penghalang. padahal di dalam realitasnya, sesungguhnya semua kejadian itu sangatlah terbuka dan transparan dan tidak terselimuti apapun.
Selalu saja tersedia untuk menggantikan. Tidak ada selah sedikitpun ruang kosong yang berada di hadapan. Manusia pada dasarnya adalah mahluk individu ia menjadi personal saat menjalani kehidupan. disetiap ada kehidupan disana pasti akan ada dinamika, akan ada upaya untuk memenuhi kebutuhan untuk mempertahankan kehidupan. Di dalam kehidupan juga akan berlaku tata-krama, norma, bahkan agama. Di dalam kehidupan juga manusia berkomunikasi dan mencoba menjalin hubungan dengan siapapun bahkan dengan mahluk apapun. Kehidupan seolah menjadi bagian yang tidak pernah terpisahkan dalam keseharian. Didalam kehidupan juga berlaku wilayah wilayah ruang dan waktu, disana ada peran dan aturan yang memberlakukan aturannya. Lantas apakah benar manusia hidup di dalam kehidupan karena semata disanalah bumi manusia itu berada.? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, sudah barang tentu kita akan mebutuhkan waktu untuk menguraikannya (padahal yang menjadi kendala sebenarnya ialah nggak punya kompetensi aja diri ini untuk menguraikannya…hufzz).
Secara umum manusia memiliki dua bagian terpenting. Dua hal tersebut terbagi dalam dua bagian : bagian pertama untuk menjelaskan keberadaan adanya diri manusia sebagai mahluk individu dan bagian ini terbagi pada tiga bagian utama: pertama adanya wujud yang menjelaskan akan adanya manusia. Pada bagian wujud ini adanya manusia hanya dalam wujud itu sendiri (adanya manusia karena adanya lafal/pernyataan yang menyatakan manusia itu ada). Pada wilayah ini persepsi dan adanya perwujudan/penjelmaan manusia yang bisa di lihat dan dipegang tidak ada.
Kedua: manusia itu ada karena bentuk. Pada wilayah ini yang lebih banyak bermain dan menjelaskan tentang adanya manusia hanya dalam wilayah cognitive persepsion. Bentuk manusia dipersepsikan oleh pikiran dengan sebuah bayangan yang menjelaskan akan manusia. Persepsi tersebut misalnya bentuk manusia itu memiliki tangan, kepala, badan, dua kaki serta yang lainnya. Padahal di dalam kenyataannya/ pada realitasnya, yang menjelaskan akan persepsi dari tanda tersebut tidak hanya di miliki oleh manusia. Binatang atau hewan seperti kera atau gorilla akan memiliki cirri yang sama dengan manusia dengan kedua tangan, kaki, kepala tubuh dan yang lainnya.
Ketiga: pada bagian yang ketiga inilah perwujudan/ jelmaan manusia dengan wujud dan bentuknya bisa kita lihat, bisa kita pegang dan bisa kita bedakan dengan mahluk yang lain seperti contoh sebelumnya. Pada bagian ini tentunya tidak seluruhnya menjelma nyata karena di dalam realitasnya ada bagian bagian yang tidak bisa di lihat oleh mata seperti bagian jiwa atau bagian yang ada dalam wilayah persepsi yang menjelaskan akan adanya manusia.
Bagian yang kedua yang ada dalam manusia adalah bagian personal. Dalam bagian ini pada dasarnya hanya sebatas kelanjutan dari bagian yang pertama tadi. yang menjadi bagian pembeda dengan bagian yang pertama hanya menyangkut soal nama dan rupa. Bagian ini yang selalu mengedepankan identitas, dan yang utama dari identitas itu adalah nama dan rupa. Mengapa demikian dalam dua hal inilah yang biasanya lebih dominan dalam urusan personal karena akan melibatkan bermacam manusia didalamnya. identitas inilah yang kemudian lebih banyak diberlakukan, karena pada realitasnya identitas akan menyesuaikan kedalam wilayah diri dan social budaya. Pada bagian inilah fungsi dari adanya bagian pertama itu berlaku. Walalalllhhhhh….udah ah, lama lama bisa keram otak…..hufzz…

Sabtu, 13 Februari 2010

lainnya

hufss...huf
sayangna tuhan tidak pernah menyediakan satu tempat di sorga, bagi umat yang menginginkan sorga

Kamis, 08 Oktober 2009

lainnya

kekasihku
Lantas siapa yang akan membuat diriku bangga untuk menjadi seorang laki-laki. Menjadi seperti seorang kesatria yang bersahaja datang dari medan laga. Bukan aku tak mencari dengan siapa hidup ini akan di beri arti, juga bukannya aku berdiam diri. Hanya saja kau terus berlari saat aku sudah meluangkan waktu untuk mendekati dirimu. Percaya sajalah, aku takanan menaklukan dirimu karena aku tau kau bukan budakku. Aku juga tak akan memperlakukan dirimu seperti pembantu sebab aku tau karena aku yang akan selalu menjagamu. Menjaga kesempurnaan yang ada dalam dirimu saat aku bisa menuju satu waktu bersama…
Aku tau, kau tak akan teryakinkan akan kata-kata yang sudah kubacakan, aku hanya teryakini kalau kau tidak tuli. Aku tak akan meyakinkanmu sebab dirimu sendiri yang harus meyakinkannya sendiri. Sebagai sebuah konsekwensi akan rasa yakinmu berarti kau harus menjalani keyakinan itu agar bisa terbukti. Keyakina bukan sebuah awal, juga bukan sebatas kepastian. keyakinan adalah satu kesatuan proses antara mengawali dan menjalani saemata untuk memberi bukti kalau yang sudah kau awali memang benar adanya. Keyakinan itu akan terhenti jika saja kau sudah melewati bagian ruang pengantara yang menjadi bagian dari dalam dirinya. Keyakinan itu akan segera tergantikan oleh suatu kewajiban serta tanggung jawab akan apa yang sudah dijalankan.
Seperti kepingan senja yang memaksakan sebagian hati untuk terus memanja. Saat aku coba memilah untuk kusembahkan kepingan itu untukmu. Diantara serpihan itu, kadang perih sampai suaraku terdengar lirih. aku akan tetap memilah walau tanganku berdarah. Aku tak akan menyerah, selama aku belum bisa mengumpulkan kembali kepingan yang sudah terberai pecah.
Aku hanya ingin membuat diriku bangga saat menjadi seorang pria. Kebangganku semata karena kau ada bukan diantara perbatasan sebuah rasa yang begitu menggebu dalam dada. Aku hanya ingin saat aku meraih kebahagiaan dan kau ada sebagai seorang yang sudah membagikan sedikit waktu yang ada.
Sepertinya aku tak menemukan alasan saat kebahagiaan itu datang padaku dan aku masih terpaku. Aku tak menemukanmu, lantas bagaimana aku bisa menjalani semuanya jika tak ada representasi akan keberadaanmu. disisi lain kau memberikan sedikit waktu yang kau simpan dalam ruangan kalbu dan itu tentunya berada dibagian dalam hatimu.
Harusnya bukan cuman aku yang meyakinkan pada diriku akan adanya cintamu. Walau akhirnya Aku mulai tau kaupun sama, selalu berusaha untuk memberikan satu kejadian agar aku bisa teryakinkan akan ketulusan cintamu.
Kekasihku, jalan yang sudah aku coba jalani sudah aku bedakan dengan jalan yang orang lain jalani. Kekasihku, jika nanti aku sampai di pintu hatimu dengan jalan yang sudah kulalui maka dimanapun kau simpan diriku, selalama disana ada ijinmu. Kekasihku, yang aku cari semata hanya restumu untuk menjadi bagian akan ada-Nya dirimu.

Rabu, 07 Oktober 2009

lainnya

saat pagi kembali
Awalnya aku hanya ingin berbagi nasib dengan menukarkan kesunyian dalam diri masing-masing. Hanya saja semua itu tak bisa terlepaskan begitu saja, waktu yang sudah aku sediakan hanya mampu menyisihkan percikan dari sisi-sisi kesunyian. Jika saja apa yang aku sudah rasakan bisa terlepas hingga terhempas, heuh…tapi tak semudah itu untuk mengawali apa yang seharusnya aku nikmati.

Sesaat sedikit harap melekat bersama pagi, kemudian pergi disaksikan oleh mentari. Aku hanya bisa berdiam diri menjadi saksi dari apa yang sudah terjadi. Tak ada yang ditinggalkan selain sesak yang berdesakan mengisi ruangan di dalam dada. Sayangnya aku tak menemukan kata yang bisa kau percayai untuk menaha langkah yang semakin menjauh. Hati yang luluh tak jua bisa menahan peluh.

Di kamar ini, yang hanya disaksikan oleh suara suara yang pelan merayap, keinginan itu mulai tersirami.

Sayangnya saat hari perlahan berganti Belum juga aku teryakini walau perempuan yang aku nanti sudah kembali menghampiri. Entah apa yang aku alami, kini. Seperti tak merelakan untuk memberikan hati agar bisa di mengerti. Dia, orang yang melukai tak selayaknya membuat mataku terjaga, sudah tak lagi ada rasa walau dia memaksa untuk memanja.

Diantara susunan kata kata yang sudah tercipta, diantara jajaran rasa yang sudah terbuang sia sia. Ada sisa-sisa yang akhirnya membuat aku percaya akan satu rasa yang tersisa.
Andai saja mesin pembaca isi hati yang dirasa sudah tercipta, barangkali begitu banyak yang berseliweran bermacam keraguan serta segala solusi yang masih menyatu dan terpisah. Seperti berada di dunia antah berantah, tak punya arah bukan berarti tak terarah.

Satu sajak yang berisi tentang ceritamu hilang…
mungkin saja aku lupa dan sudah membuangnya…
karena memang terlalu mudah cerita itu hilang begitu saja, juga dalam ingatan. Tak lagi menyisakan cerita walau sekarang kau sudah ada…
Anehnya cermin itu selain memantulkan bayangan sendiri,
ia juga melindungi matamu yang teduh
walau akhirny perlahan matamu mulai berkaca.

Pernah aku berkata : jangan pernah mengartikan segala sesuatu seorang diri. Sebab yang sudah menjadi mimpimu selain sudah kau jalani juga sudah lama kau kenali, hanya tinggal menunggu matahari itu pergi. Maka segala sesuatunya walau samar pasti akan terlihat oleh mata.

Serahkan pada malam, satukan dirimu dalam remang. Sebab sejatinya segala sesuatu di cipta bukan pada saat matahari menjelang tapi pada saat diri sudah bisa memaknai akan adanya malam. Apakah kau tidak pernah bertanya kenapa ayat ayat yang sudah kau percaya didapatkan pada saat hari sudah malam.

Yah itulah malam, yang menjadikan siang sebagai gudang permasalahan sekaligus untuk mengisikan jawaban. Hanya malam yang bisa memastikan kapan siang akan datang. Malam yang akan memastikan dimana seharusnya kau berjalan.

lainnya

Saat sebagian diri terdiam
Jari-jariku perlahan seperti kaku, semoga saja aku masih mampu untuk berkata kata dan menuliskannya. Kekakuan ini coba ku selami, untungnya tak membuat pikiranku beku. Hal ini akhirnya bukan hanya sebatas pembenaran dari segala kelakuan. Sebab tak ada pernyataan yang bisa aku pinjam, juga belum menemukan rangkaian kata yang bisa membuat orang percaya.
Diantara hamparan kesunyian, ditengah hempasan riak-riak yang menjadi alunan pengiring samudera yang bernyanyi. Perlahan mata coba ku pejam, mulut ini kupaksakan bungkam suara suara itu perlahan terdengar diselah selah rerumputan yang mulai berlarian setelah bersembunyi di balik semak. Yah…semak yang berada di bagian dalam diri. Walau mulut dibungkam, akan tetapi terlinga ini masih jelas mendengarkan makian dan segala keresahan pikiran yang terus merangkaikan kata-katanya.
Ingatan perlahan mulai berseri, jari jemari perlahan mulai menari. Indahnya hari yang aku lalui menjadikan diri bisa kembali memaknai sebuah arti yang baru saja terjadi.
Kehidupan, kehidupan…sepertinya hanya menjadikan keluhan-keluhan dari segala kebimbangan. Hingga akhirnya akan sampai juga pada satu keputusan untuk memastikan mana yang harus dikorbankan. semua sudah diciptakan dan kita tinggal membuktikan, semua tinggal menjalani sebab keinginan sudah ada dalam diri.
Yah…langkah pertama hanya tinggal menemukan jalan yang sudah diciptakan, lalu kita mulai menjalani dan semoga mimpi-mimpi itu bisa segera kita temui…
Dan saat aku meniatkan diri untuk mulai mengawali, kau berpesan agar aku berHATI-HATI….aku hanya bisa menyela dalam diri, heuh…hati-hati, sebuah kata yang berulang, cukup gampang di mengerti tapi sukar diberikan arti yang pasti…
Hati-hati, saat aku berjalan untuk menjalani satu perjalanan. Tetntunya perjalanan kali ini bukan sebuah perjalanan yang mudah, juga bukan juga sukar untuk di jalani. Lantas dibagian jalan yang sebelah mana dan di jarak yang keberapa kehati hatian itu bisa menjadi bukti. Bukankah saat aku terjatuh dan menabrak satu rintangan hingga akhirnya aku kembali terpental kau hanya akan berbicara, “aku sidah bilang sebelumnya kau musti hati hati” dan disisi lain aku sendiri tidak menjelaskan dibagian bagian yang mana aku musti berhati hati.
Aku seperti tak punya harga diri saat aku berjalan kehadapan illahi, tanpa tau bagaimana maengawali tanpa tau tempat tujuan yang nanti akan kutemui. Jika ia benar bersembunyi dalam diri yang jelas yang ada di dalam diri hanya sebagi sebuah representasi akan keberadaan Nya. sebab “INI” bukan berarti “INI”,” iTu” bukan berarti “iTu”. “Dia” bukan berarti “Dia”, “Aku” Bukan berarti “Aku” dan yang ditemui hanya istilah “bukan berarti” yang menjadikan satu pengingkaran didalam diri.
Keberadaan akan Ada Nya hanya ada pada pernyataan-Nya.

Senin, 01 Juni 2009

lainnya

keperwanan itu

April dipertengahan bulan
(saat seorang gadis, sudah teryakinkan)
Seorang perempuan muda pada beberapa hari lalu bertanya padaku tentang virginitas, aneh…sungguh aneh, padahal dia tau klo aku tuh cwo yang mau jadi laki-laki sebelom jadi pria. kok malah nanya soal seperti itu ke aku yah. Nggak di jawab, dia minta jawaban, mau di jawab aku juga nggak ngerti bener soal seperti itu. Akhirnya jawabanpun sekenanya saja, untungnya mulut ini nggak ragu untuk berbicara. Pikirku tuh cwe yang dah mau nyerahin diri, ternyata cwonya yang ngajakin dan dia kebingungan. Mungkin dia tau kali yah, klo nggak di kasih pasti hubungan mereka akan bubar padahal di sisi lain dia merasa sayang bangat ama tuh cwo, tapi dia sendiri ingin menjaga virginitasnya.
Wacana virginitas untuk saat ini bukanlah sebagai salah satu hal yang banyak di amini oleh sebagian perempuan muda. Virginitas tentu bukan sesuatu hal yang berharga untuk tetap dipertahankan sampai waktunya tiba. Mungkin wacana ini sebenarnya hanyalah wacana biasa untuk dijadikan pagar bagi para perempuan selain adanya norma dan aturan lainnya yang tersebar di masyarakat. Wacana tersbut tentunya dihembuskan hanya semata untuk membatasi kebutuhan biologis seseorang. Atau entah apalah maksudnya dengan istilah virginitas tersebut, bingung ngejelasin soal istilah.
Untungnya menjadi orang yang nggak tau dan di suruh memberi saran pula akan hal ini sudah barang tentu tak memiliki beban apapun dalam berbicara. Dengan entengnya ini mulut memberikan pertimbangan lain kepada orang yang meminta saran. Dan anehnya, dia juga meng iya kan. Hingga sampai saat ini, pernyataan dia ke aku nggak jadi melakukannya. Mungkin juga tuh cwonya gondok kali ya, saat di pinta bercinta oleh si cowonya nggak di kasih ama si cwe.
Akhirnya aku merasa nggak enak hati juga yah ama tuh cowo. Apa lagi aku seorang cwo. Tapi tak apalah biar di kira aku nyetanin seetan sekalipun aku pasti terima. masalahnya jelas aku setanin mereka, orang aku sendiripun mau pacaran masih nggak boleh. Heuh…sebuah permintaan saran kepada orang yang salah dan nggak di dukung lagi kan. Wek wek wek….kapok malah nggak jadi bercinta.
Karena kejadian itu, akhirnya aku bertanya-tanya dan berpikir. Lantas seberapa besar sih virginitas klo di hargain? Apakah hanya dengan jadian trus pacaran kemudian sesorang dapat memberikan segalanya. Apakah virginitas itu sebanding dengan kata kata cinta, kata sayang, kaulah bungaku, kaulah yang terindah, dan tek tek bngek lainnya. setelah itu seseorang dapat menyerahkan keperawanannya? Wew…enak bener ya, setelah diberikan trus di tinggalin he he he….syukurin, kapok, mampus dah. Apakah virginitas juga sebanding dengan besarnya rasa cinta yang diberikan oleh sepasang manusia? Lantas apa jaminannya klo hanya hal tersebut berbanding dengan nilai virginitas. toh dalam kenyataanya kata kata tersebut nggak bisa dijadikan jaminan buat seseorang agar bisa melanjutkan hubungan ke wilayah lainnya. Bukankah dalam kenyataannya kata kata indah tersebut malah berbanding dengan rasa sakit hati setelah semua pergi.
Orang pacaran di jaman sekarang emang ada hubungannya yah antara pacaran dengan bercinta? Nggak harus ada hubungannya kan. Walaupun ada apakah keterhubungan tersebut sifatnya mutlak? Nggak juga kan. Untungnya, baik melakukan hal yang baik atau nggak baik pastinya punya konsekwensi masing masing dan membutuhkan pengorbanan. Entah korbannya sakit hati saat kita menghidarinya karena pasti setelah itu akan putus, karena dianggap nggak cinta. Dan melakukannyapun sebenarnya nggak ngejamin seseorang akan setia kepada pasangannya yang mengatasnamakan cinta, kesetiaan, ketulusan dan berbagai istilah yang memanjakan ato mengikat.
Ok kita kembali lagi ke bahasan awal, tentang cerita temanku. Hubungan mereka adalah hubungan beda agama. setahu aku, hubungan seperti itu dalam kenyataannya banyak sekali orang yang nggak berhasil untuk menjalankan dan melewati rintangan tersebut. Mungkin ini kunci yang aku gunakan biar dikata aku di anggap nyetanin setan. Wekkwkwkwk… Dan saranku pada si cwe pertama gimana klo harga keperawanannya di bayar dengan pengorbanan diri si cwo untuk pindah keyakinan, trus mengasih kabar pada keluarga dan kerabatnya klo dia udah pindah keyakinan. Kayanya harga virginitas dengan hal itu sebanding yah. Tapi entaran dulu. Klo misalkan nggak mau di uji kaya gitu, kan jelas yah jawaban dan sifatnya tuh cwo.
nah Klo misalkan dia mau, bukan berarti kita harus memberikan virginitas begitu aja kan karena itu belom cukup. Sekarang begini, logikanya jika seorang berani pindah keyakinan hanya karena menginginkan melakukan hubungan seperti itu, berarti secara nggak langsung orang tersebut bisa saja malah menyakiti pasangannya. Orang keyakinan yang di doktrin dari kecil aja sudah ia langgar dan di langkahi. Nggak menutup kemungkinan klo dia juga akan menghianati seorang perempuan. Karena diri seseorang nggak akan berbanding dengan yang diyakininya. Masih belom ada jaminannya kan he he he…jadi jangan dulu di beriin deh tuh. Kita uji lagi dengan tahap selanjutnya. Kira-kira dah berapa lama sih kita pertahanin virginitas kita. Klo misalkan dia mau untuk menebus waktu yang di korbanin si cewe berarti menidangan nikah aja langsung. Karena aku yakin tuh cwo bener-bener serius. Dan pastinya dia baik. Jangan sia-siain lagi lah. Susah nyarinya he he he….sayangnya tuh cewek malah berkata, aku dah terlanjur sayang ama dia, aku takut untuk sendiri, dan aku nggak mau sakit hati.
Ehem…manis sekali.
Mendengar pernyataan itu, ternyata aku hanya bisa terdiam. Dalam hatiku berkata..hehe sayangnya dengan berduapun belum tentu kita berani untuk menghadapi kehidupan. Kemudian aku hanya berpesan, jangan pernah sakit hati akan apapun yang terjadi. Semoga semua akan baik saja dan kau bisa nikmati, apa yang seharusnya kau nikmati karena kalian yang sedang menjalin hubungan.
Gila…prihatin dan miris juga ngedengernya (he he he sok suci bener ya)
Tapi, yah seperti itulah terkadang manusia. Ngerecokin sebuah hubungan yang harusnya aku sendiri bisa sadar dan tau diri akan wilayah mana aja sih yang nggak boleh dilakuian. Jadi nggak enak body juga sih sebenernya, tapi kan konyolnya cwe tersebut minta saran ke aku. Padahalkan mereka yang ngejalanin, mereka yang rasain, mereka yang lakuin. Ngapain juga minta saran ke aku, harusnya kan enak yah. Saat ingin bercinta, trus orang yang kita cinta itu ada. Weh..weh..weh…Sempurna benerkan tuh waktu yang di lewati. Sayangnya belom juga terjadi, mungkin mereka nggak berani kali ya. He he he…
==== ***====
30 mei 09 dini hari jam 01:15 pagi, tlpon selularku berbunyi, seorang cewek kembali menyapaku dengan nada yang agak berat. Seperti ia sendiri nggak tau apa yang musti diucapkan dan diutarakan kepadaku. Aku hanya coba meraba-raba pembicaraan dari ketidak jelasana (tentunya dengan gaya sok tau, kan beda tipis tuh yah ama orang cerdas). Sebuah ungkapan menyesalah yang dirasakan dengan sangat berat yang membuat kesimpulan dalam diriku. Semua sudah terjadi, dan janji menjaga keperawanan sudah di ingkari.
Yah itulah akhirnya…dan aku sendiripun sadar, klo aku bukan seorang malaikat penjaga yang selalu ada mengingatkan segala hal yang dilakukan oleh sepasang manusia. Sebuah harga yang pantas untuk didapatkan, yah… rasa sesak, dari suara tangis yang terisak. Sakit hati ini harus dialami dan di jalani. Kekecewaan itu tak akan bisa kita ingkari. Seperti kesia-siaan saja selama ini aku mengingatkan, supaya kau tidak melakukan hal itu dan slalu konsisten untuk menjaganya.
Harga keperawanan harus di bayar dengan sakit hati, sebuah penyesalan yang tak akan pernah bisa dilupakan (semoga itu pantas dan layak). Mungkin benar apa yang dikatakan orang : sakit dari awal akan lebih baik bila kita harus sakit di kemudian. Bukan bermaksud untuk membandingkan, karena memang hal ini tidak untuk dibandingkan. Maslahnya hanya ada pada kejadian yang akan terjadi pada awal perjalanan atau di waktu kemudian saat menjalankan. Toh keduanya sama-sama sakit, mungkin jelasnya mencari cara untuk menyakiti hati sendiri atau mungkin juga hanya menunda untuk di sakiti.
Gilaa, dah cape-cape ngingetin, ternyata nggak di denger juga. Dan sekarang, sampe termewek-mewek deh (semoga nggak memanggap kejadian ini sebagai kejadian yang merugikan). Udah sakit hati karena di tinggalin ama tuh cowoknya, musti pake acara kehilangan nilai keperawanan pula kan…weh weh weh…coba klo dari dulu mau bersikapnya, walaupun sakit hati karena kita menyakiti seseorang. paling nggak, kita sudah menjaga sebuah keperawanan yang dimliki. Mungkin itu sebentuk konsistensi menjaga janji dalam diri yang sudah di jalani. tinggal uring-uringannya doang dah, minta saran ke aku yah gimana bisa ngasih saran. Orang semua udah kejadian.!
Gilaa..sakit bener ngedengernya… nyesek... Walau kita sadar, pilihan untuk melakukan akan sebanding dengan pilihan untuk mengingkari. Hanya saja yang membuat aku heran kok lebih memilih melakukan, bukankah daya untuk mengatakan tidak itu sebenarnya jaga sama. Tapi yah sudahlah….yang musti sekarang kita pikirkan hanya mencari solusi, untuk menjawab ketakutan-ketakutan yang kau rasakan.
Mencoba mencari solusi, agar perasaan menyesal bisa segera di lewati. Sebab bagaimanapun juga kehidupan ini akan terus berlanjut. Masalah keperawanan hanya sebatas satu titik diantara banyak titik dalam kehidupan. Sangat nggak logis bila masalah satu titik itu akan merembet pada titik titik yang lain dan kita hanya membiarkan kehancuran dan membuat terpuruk. Biarlah masalah keperawanan di batasi oleh keperawanan itu sendiri dengan segala pengingkarannya.
Yang pasti, hari kan berganti seperti mentari yang kembali ini pagi. Sebuah kejadian yang di lewati baik dipikirkan ataupun tidak, semuanya nggak bakalana bisa merubah kejadian itu. Kita bukan budak dari masa lalu, juga bukan pemuja masa depan. Terlalu berharga waktu saat ini bila harus kita tukarkan dengan perasaan luka yang sudah lewat. Anggaplah itu sebagai sebuah kekalahan dari ketidak-mampuan diri kita yang tak pernah bisa kita ingkari.
Coba berkompromilah dengan diri. Mulai belajarlah untuk menerima sebuah kejadian agar kita bisa dengan senyuman melewati kejadian itu. Santé saja, soal keperawanan tak akan lagi menjadi beban saat kau melakukannya lagi untuk yang kesekian kali walau dengan orang yang beda sekalipun. walaupun ada rasa sakit hati, toh hanya sebatas dihianati karena ditinggalkan dan kau akan menganggap semua laki-laki emang bajingan (kalo kata cwe yang di sakiti, klo cowo yang di hianati pasti ngomongnya emang cewek berengsek).
Tak ada yang musti disalahkan dari sebuah kejadian. Semua kehendak dari kehidupan, seolah kita sendiri terjebak dalam teka-tekinya. Kita hanya bisa sebatas mengalihkan perasaan serta dampak dari sebuah kejadian. Yang akan terjadi nggak akan pernah bisa dikompromikan, ia akan menimpa siapapun. Ia tak akan pernah memilah dan memilih seseorang yang layak untuk di terjang oleh kejadian. Semua tak akan pernah bisa menghindar, tak akan ada yang bisa sembunyi atau melarikan diri. Saat sesuatu akan terjadi siap tidak siapnya diri kejadian itu harus di lalui. Cuman klo misalkan kejadiannya nggak kita sukai siap-siap ngeles aja kali ya..he he he walaupun kena, kan nggak parah yah, paling cuman nyeseg di jantung.
Untungnya kejadian ini sering terjadi pada setaip generasi, bahkan sepertinya hal ini sudah terjadi sebelum aku jadi…yah sudahlah, malah repot ngurusin maslah orang lain, kaya aku nggak punya urusan aja yah….ngeberesin kuliah aja nggak beres-beres. piuhh…

lainnya

nglor ngidul
Ada untungnya juga ternyata ngobrol nggak jelas malam malam. Ngomong nggak pake tema, kesana kemari seperti nggak punya aturan. Apapun yang di omongin kayanya sah-sah saja untuk diucapkan. Yah lumayan lah (dari pada lo manyun) sekedar mencurahkan keresahan dan unek-unek pikiran. Iseng juga kadang obrolan, masa soal npwp aja di obrolin kan, kaya nggak ada obrolan lain aja. Dan tenyata emang menarik saat keluahan dari seorang teman yang mau buat NPWP, hal tersebut tentunya berangkat dari kesadaran dirinya, untuk menjadi warga Negara yang baik. Siapa tau besok-besok bisa kerja keluar, kan lumayan nggak kena biaya bea (2jt boo). Sayangnya kebaikan tak selamanya memiliki tempat dan diperhitungkan juga oleh sebuah aturan yang harusnya mewadahi niat baik tersebut.
Sebagai pekerja freelance alias serabutan dan nggak jelas jam kerjanya, ternyata pekerjaan dengan kategori tersebut tidak masuk dalam bagian salah satu item syarat untuk embuat npwp. Mencoba memanipulasi, dengan masuk kedalam item yang lain, pastinya akan ada resiko. Karena sebelum dikeluarkannya NPWP tersebut biasanya ada pengontrolan dari petugas untuk ngecek kebenaranya. Bila saja hasilnya nggak cocok, sudah jelas NPWP nggak bakalan keluar. Hal ini tentunya nggak menyangkut para pekerja freelance saja, bagi seorang senimanpun yang selalu konsisten dalam berkesenian ternyata nggak masuk kedalam salah satu jenis item yang ditawarkan oleh lembaga penarik pajak tersebut. Untung bagi yang sudah punya galeri, profesi mereka bisa mengguankan dan mengatasnamakan galerinya sebagai salah satu unit usaha yang di kelola oleh keluarga.
Susahnya untuk mendapatkan NPWP ternyata banyak juga dialami oleh pengusaha kecil yang nggak punya modal. Salah satu sarat untuk membuat usaha kecil, minimal harus punya modal 30jt. Itupun dalam bentuk tabungan dalam rekening sebagai sebuah jaminan akan unit usahanya. Makanya nggak sedikit, yang memanipulasi surat tersebut. Enak nggak enak ternyata yang namanya NPWP memiliki pengaruh pada pengembangan suatu unit usaha. Sama seperti halnya yang dialami seorang kawan yang kalah tender dalam usaha percetakannya, hanya karena sihak perusahaan nggak mau ambil resiko hanya karena persoalan NPWP. Wew…kejam emang. Tapi yah, pastinya hal itu ada baiknya juga.
Awalnya aku sendiri berpikiran, emang gila…pemerintah, kenapa hal yang harusnya mudah, justru malah membuat susah. Ibaratnya untuk mencari modal kita musti punya modal, yang namanya potensi tetep aja nggak berlaku. Entah urutan keberapa yang namanya mental usaha dari seorang yang mau berusaha. Semuanya seolah seperti ada setandarnya, ada batasan standarisasi yang harus di lewati dahulu. Saat standarisasi tersebut sudah bisa di lewati, barulah kita bebas untuk berexspresi dalam dunia usaha. Dan di bidang apapun kayanya, yah…mungkin karena hal ini juga yang membuat, banyaknya pare pekerja lebih memilih bekerja di luar alias menjadi tki/tkw semata mata hanya untuk mencari modal awal. Dan konyolnya juga untuk bekerja di luarpun butuh jaminan yang pasti dan salah satunya materi. Dan menjadi tki illegal mungkin salah satunya cara yang kemudian banyak di lakukan.
Kayanya bukan cuman untuk hal tersebut yah, bahkan untuk berlibur ke luar negeri sana minimal musti punya tabungan yang cukup, disana berapa hari, punya kartu asuransi dan tentunya sudah punya tiket pesawat pergi pulang. Ribet,,,jelimet…mendengar hal yang nggak masuk diakal, karena memang nggak menegrti maksudnya. Makanya ngecap pemerintah ini jahat dan kejam.
Mancoba memahami lebih dalam akan maksud semuanya, ternyata hasilnya memang pemerintahaan ini nggak berniat kejam pada penduduknya. Mencoba memahami hal baik dari masalah masalah tersebut dan hasilnya memang logika pergaulan pemikiran masyarakat ini masih nggak nyampe untuk memikirkan masalah demikian. Bagaimanapun juga, hal ini akan terkait pada perkembangan geopolitik Negara ini yang sudah menjadi bagian dari masyarakat dunia.
Karena justru kecerobohan masyarakat, yang selalu memberikan peluang Negara-negara lain menjajah kembali dan seenaknya mengembangkan kepentingan negaranya di Negara ini. Salah satu hal yang paling unik, saat kita melihat kejadian rombongan jamaah haji yang terlantar. Jika surat surat mereka itu di bilang aspal, lantas kenapa mereka sendiri bisa lolos waktu pemberangkatan dan bisa masuk dan meunaikan ibadah haji segala. Tiket dan semuanya sudah ada, pas giliran pulang justru mereka tertahan disana. Kasarnya klo misalkan mereka sudah punya tiket untuk pulang, lantas kenapa mereka musti tertahan di arab sana. Ngapain juga sih, pake acara nahan orang yang mau balik toh mereka punya tiket kok. Ternyata masalahnya tidak semudah itu. Justru kejadian yang seperti itu yang sering di manfaatkan oleh setiap Negara sebagai salah satu nilai tawar untuk memasukan kepentingan suatu Negara ke Negara lain.
Ini adalah cara yang mungkin saja sengaja dibuat, agar ada pembicaraan selanjutnya. Sama seperti halnya australi yang sering sekali mengeluarkan travel warning bagi warganya yang akan bepergian ke Indonesia saat mereka memiliki kepentingan negaranya untuk membuat usaha di Indonesia. Seperti kita tau, walaupun indosensia aman ternyata bisa dicitrakan nggak aman. Dan resikonya pemasukan hasil dari kunjungan dari wisatawan akan berkurang, apalagi travel warningnya berlaku dalam jangka yang lama. Jelas jelas akan mengurangi penghasilan Negara dari wisatawan. Apakah kita pernah bertanya kenapa cammonwalth bisa mendirikan bank di Indonesia? Bukankah bank yang ada di Negara ini tidak cukup baik bagi orang luar, sayakira masalahnya bukan disitu. Mungkin bisa kita pikirkan, pertama berapa banyak wisatawan australi datang keindonesia, dalam menjalankan atau memutarkan uang tentunya mereka akan lebih loyal dan lebih condong kepada bank yang berasal dari negaranya dan initinya tidak semuanya uang yang di keluarkan oleh wisatawan keluar dari perputaran uang dari Negara asalnya. Hemmm…sungguh cara yang kejam, dan mungkin cara yang seperti ini yang nggak kita pahami.
Mungkin disinilah, salah satu cara yang dilakukan oleh Negara dalam menertibkan dan mengatur masyarakatnya. Mungkin ini juga kenapa saat kita mau belibur atau bekerja keluar negeri dibutuhkan banyak persyaratan, hanya untuk meminimalisir, dan menutup selah-selah yang sering bocor. Karena selah yang sering bocor tersebut ternyata sering dimanfaatkan oleh Negara lain sebagai salah satu cara untuk mengakses kepentingan suatu Negara di dalam Negara ini. Bila hal tersebut ternyata demikian adanya, lantas masihkah kita akan bertanya bahwa Negara ini kejam? Atau justru masyarakatnya yang terlalu bodoh untuk memahami permasalahan yang demikian.
Semoga saja hal ini dilakukan emang untuk membangkitkan Negara ini yang sudah terlalu lama tertidur karena dimanjakan oleh keadaan alamnya dan mimpi mimpi indahnya.
Lah… trus hubungannya ama NPWP apaan ya? Padahal kan masih banyak item yang belum mewadahi bidang bidang pekerjaan yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Orang adminya masih belom beres.
Wew…

lainnya

hee..
Sedikit-sedikit haram…
Sedikit-sedikit haram…
Haram kok sedikit sedikit…
Kurang lebihnya seperti itu yang di ungkapkan oleh seorang kawan saat mendengar sebuah pernyataan tentang facebook yang dinyatakan haram oleh sekelompok para ulama di daerah jawa timur sana. Pernyataan tersebut tentu bukan cuman di muat di layar kaca, tapi juga termuat dalam surat kabar. Kejadian tersebut pastinya mendapatkan sebuah sebuah sambutan yang hangat dari orang orang penggila facebook yang sedang ramai ramainya dimanfaatkan sebagai media pergaulan manusia modern indonsia.
Bila menurut keterangan dari salah satu surat kabar, di haramkanya facebook karena web tersebut sudah banyak di salah gunakan, penyalah gunaan tersebut seperti mencari jodoh, berbicara yang tak selayaknya dibicarakan oleh kedua insan yang berbeda jenis kelamin. Patokannya memang jelas, di dalam hukum agama sudah di atur tata cara mencari jodoh/pasangan hidup. Dan memang benar, tapi apakah hal seperti itu dan hanya karena itu sampai harus mengeluarkan sebuah pernyataan haram segala. Jelasnya hal itu nggak cukuplah.
Karena kejadian ini, saya jadi teringat pada cerita seorang kawan yang mencoba mengulas kenapa minuman beralkohol itu diharamkan. Pembahasannya asik, hingga sampai pada satu kesimpulan bahwa objek yang ada sebenarnya tidaklah haram, tapi yang diharamkan sebenarnya saat seseorang melakukan (meminum). Saya baru sadar dengan kesimpulan tersebut setelah coba saya pikirkan dan ternyata memang antara melakukan dan sebuah objek adalah dua hal yang berbeda. Dan kebetulan dampak dari minuman memang bisa memabukan, dan saat seseorang tersebut mabuk dia lupa akan tuhannya.
Inti dari semuanya ternyata terletak pada kata LUPA KEPADA TUHANNYA, karena salah satu tujuan manusia diciptakan agar selalu INGAT PADA SANG PENCIPTA (dalam bahasa kampung itu istilahnya eling). Dan ternyata setelah di bawa ke hal yang lebih umum jelasnya setiap barang yang memabukan sudah pasti haram, klo misalkan barang tersebut bisa membuat orang lupa sama sang penciptanya.
Coba kita balik lagi ke masalah facebook, sebenarnya haram di bagian yang mana sih dari sebuah situs tersebut. Klo misal hanya masalah pencarian jodoh dan berbicara yang nggak nggak…hal tersebut saya rasa di setiap tempat dimanapun juga berlaku hal yang demikian. lantas apakah kita juga akan mengharamkan tempat tempat yang katanya akan menghasilkan kesesatan. Bukankah contoh dari tempat tersebut yang harus kita kenali dan kemudian setelah kita kenal coba kita keluar dari tempat tersebut. Belajar dari keburukan untuk meninggalkan yang buruk, pada saat kita bisa meninggalkannya hal baik tanpa dipelajaripun sudah kita tempati (hayooohhh..belibet).
Hal ini saya rasa, sama halnya saat ada pernyataan setan itu harus kita kenali (heuh..pernyataan yang aneh setan kok harus di deketi trus di kenali lagi kan padahalkan setan harus kita perangi, tapi justru sayangnya saat perang itu belum di mulai sebagian besar manuusia justru malah berlari menghindari heuh…gimana bisa perang). Mungkin ini hal baiknya saat kita coba mengenali syetan, karena logikanya saat lawan kita sudah kita kenali maka akan sangat mudah bisa kita taklukan. Dan memang proses mengenali beserta dosanya adalah konsekwensi setiap diri masing masing.
Karena hal tersebut sudah menjadi bagian dari kehidupan, apakah kita akan mengingkari sebuah kenyataan dari kehidupan. Jelas dengan mengingkari kehidupan secara nggak langsung kita sudah mengingkari yang sudah menciptakan kehidupan ini (mengingkari akan ciptaanya). Kejadian-kejadian yang kita hadapi yang seharusnya kita pelajari, karena turunya ayat alquran setelah adanya kejadian yang di alami oleh nabi. Mungkin kasarnya kitab tersebut bisa dianggap sebagai sebuah kitab kejadian dan kejadian kejadian tersebut adalah gambaran umum sebuah kehidupan yang dialami oleh setiap manusia dalam masa hidupnya.
Untungnya ada ayat yang menjelaskan klo tuhan itu gimana manusianya, tuhan akan menjadi baik jika dianggap baik dan begitu juga sebaliknya. Tapi masalahnya, layakah jika manusia sebagai mahluk ciptaanya, memperlakukan sang pencipta dengan cara mahluk ciptaannya atau mahluk ciptaannya yang harusnya hidup sesuai dengan ketentuan sang pencipta. Resikonya saat manusia hidup sesuai dengan ketentuan sang pencipta, maka di dalam diri manusia tidak ada hak untuk menilai apapun dan tidak memiliki apapun di dalam hidupnya. karena semua yang ada dan dialami dalam kehidupannya dianggap sudah menjadi ketentuan akan qodrat dan irodatnya. Manusia tidak lagi bisa kompromi atao negosiasi dan mungkin itu salah satu hukum tuhan yang tak akan pernah bisa di tawar lagi oleh mahluknya.
Disinilah mungkin pentingnya hakekat dan syariat, saat dua menjadi satu dan yang satu terbentuk dari dua unsur. Keduanya saling melengkapi dan tak akan saling menghianati. Seperti halnya satu nama Allah yang terbentuk dari 99 nama yang dimilikinya juga, semua menuju pada yang satu yakni Allah agar bisa merasakan kehadiran yang tunggal yakni dzar. Ato mungkin seperti halnya symbol salib antara vertical dan horizontal harus bisa diseimbangkan. Demi semata mendapatkan keutuhan dalam tatanan kehidupan dan keutuhan akan pencapaian hidup manusia.
Heuh…..makanya baca, baca, baca. Dan ingat orang yang membaca bukan berarti mereka punya hak untuk menilai, karena membaca dan menilai adalah dua hal yang berbeda tapi bisa jadi satu karena kan biasanya orang yang ngebaca sudah pasti bisa menyimpulkan bahan bacaannya dan kesimpulan kan bagian dari salah satu penilaian. Weh weh weh…nah trus gimana neh.

lainnya

bila saja
Bila saja pagi ini aku tak mengenali warna cahaya, mungkin saja mimpi yang hinggap semalam tak lagi aku bisa mengenalinya. Kepingan kepingan kata kata itu menjadikan otakku enggan untuk merangkainya. Saluran yang biasanya aku gunakan untuk merangkai kata kata menjadi kalimat sudah lama tak lagi aku bersihkan. Bisa jadi tersumbat, semoga kata kata itu tak menggerogoti pikiranku.
Tanggung jawab ini membuat aku bingung, ia seperti menyesatkan di tengah rimba belantara. Sementara keagungan yang mengalun lantun sayup sayup terdengar memanggil. Kembali, kembali, kembali. Disini rumahmu, rumah yang semestinya bisa kau jaga, rumah yang semestinya bisa kau rawat, rumah yang semestinya menghadirkan sebuah kebahagiaan yang terlihat dari pancaran senyuman.
Perasaan yang bertalu dalam hatimu adalah keraguanmu. Takakan ada orang yang bisa meyakinkanmu sebab kata kata semuanya sudah kau lapalkan. Rangkailah, bereskan agar tidak berserakan. Bekal yang sudah di sediakan sudah saatnya kau gunakan. Sayang bila itu di abaikan.
Nanti malam akan ada sebuah pertunjukan, pastinya kau akan sendang bila saja mau datang untuk menyaksikan. Tiket yang sudah di sediakan adalah tiket penonton. Jangan sampai kau malah menjadi pemain di tengah tengah acara pertunjuka. Hati hati, takut terjebak dalam sebuah rangkaian pertunjukan yan sudah di sajikan. Nanti kau akan bingung sendiri, hingga suatu saat kau sadar dan akan berkata “ini bukan sebuah permainanku, karena tiket yang aku bawa adalah tiket penonton”.
Dalam perjalanan kisahnya, pertunjukan ini menyoal pertunjukan tentang kehidupan. Dimana ada yang menjadi pemain, penonton, dan smuanya yang tak pernah bisa di sebutkan satu persatu. Ingat peran masing masing. Jangan pernah meragu dalam memainkan peran, karena keraguan akan menjebak kita pada pengingkaran sebuah keharusan. Keraguan akan membawa kita pada masalah yang seharusnya tidak pernah bisa kita masalahkan.

lainnya

kejadian itu
Jika kejadiannya hanya menyakiti maka aku akan pastikan untuk melewati hal itu. Kesetiaan sepertinya sudah tidak lagi bisa di pegang. Kekhawatiran sepertinya sudah jelas menjelma. Bukan karena besarnya keraguraguan yang dirasakan. Ini hanya pilihan untuk memastikan akan kejelasan jalannya hidup ini. Setiap waktu dan detik yang berdetak menjadikan perasan ini untuk menjadikan pikiran yang terbagi.
Aku bukan seorang laki-laki yang selalu memegang teguh rasa ragu dalam diriku. Aku juga bukan seorang laki-laki yang selalu sibuk memikirkan bagaimana membuat keturunan. Aku adalah laki-laki yang bisa menjalankan keinginanku. Buakan karena ego atau terlalu cepat menggambil keputusan, ada kejadian yang akan memastikan akan apa yang diinginkan.
Kehidupan sudah menjelma nyata. Ada hal bawaan dan ada hal yang datang belakangan. Batasanya adalah kelahiran. Ia seperti ruang pengantara antar bagian dari perjalanan hidup ini. Pemberian nama pada anak, mencoba memungsikan segala alat indra yang ada dalam tubuh, mengasah intuisi dari rasa walau mulut belum bicara. Ini adalah proses adaptasi awal akan kebradaan tubuh yang terkorelasi dengan semesta.
Saat seseorang sudah beranjak dewasa, ada nilai nilai yang di pegang sebagai landasan ideologinya dalam memandang kehidupan. Mencoba memahami jalan kehidupan dengan berpegangan pada keyakinan diri dan dengan sedikit harapan. Maka berharap Menjadi lebih dewasa, menjadi manusia berguna bagi nusa dan bangsa, menjalani hidup apa adanya, menjalani hidup seperti air yang mengalir dan sebagainya.
Menjalani hidup mengalir seperti air. Sebagai sebuah karakter bentuk air sudahlah jelas kalau ia akan mencari jalan untuk keluar walau bertemu dangan jalan buntu sekalipun. Rasa kagum manusia saat melihat kesifatan akan benda yang ada di sekitarnya memberikan satu nilai yang kemudian dijadikan pegangan.
Sebagai sebuah karakter yang selalu mengalir dari tempat yang atas kemudian mengalir ke tempat yang rendah. pada akhirnya sampai pada sebuah samudra yang luas tentunya tidaklah gampang. Selain ada proses dan ada hal-hal “yang lain” yang akan menyesuaikan pada logika alam yang di lewatinya. Lantas seberapa kuatkah manusia dapat memahami logika alam yang berada di luar pikiran manusia? Seberapa kuatkan kompetensi otak manusia memikirkan logika alam? Bukankah manusia hidup di dalamnya! Sebuah kekonyolan bila manusia hidup di dalamnya, tapi tidak dapat menemukan keterkaitan antara logika yang ada pada alam.
Saat jalan kehidupan diibaratkan sebagai sebuah air yang mengalir. Lantas apakah memang lautan yang akan di tuju oleh setiap manusia. Bukankah ke-suci-an itu adanya di atas gunung. sementara lautan adalah tempat yang akan menampung segala kotoran dan dosa-dosa manusia. Apakah hal ini sudah berarti bahwa tujuan manusia adalah tempat yang kotor. Pastinya pernyataan yang seperti itu tak akan bisa memberikan kepuasan dalam pikiran ini. Ada alasan lain yang musti diutarakan dan dinyatakan. alasan adalah hal pembenaran yang selalu di pegang oleh manusia.
Logika pengibaratan “yang pas”seharusnya dijadikan pegangan oleh manusia. Ada gunung yang masih dijadikan sebagai tempat kesucian. Kesanalah seharusnya jalan yang harus kembali di jejaki. Seperti halnya ikan salmon yang akan mengadakan perjalanan ke tepian hulu untuk berkembang biak dan mati. Disana ada awal kehidupan yang harusnya bisa kita temui. Jalan pulang yang harusnya sudah mulai di kenali karena dari sanalah asal manusia. awal asal kembali ke asal. Bukan lautan yang dijadikan sebagai tujuan kemana kita pulang.

lainnya

sepenggal kalimat
Sebuah kejadian harusnya bisa mendewasakan, bukan Cuma sebatas harapan yang dihasilkan. Belajar menerima, dan merelakan segala yang ada dalam diri harusnya menjadi awal. Agar sebuah perjalanan bisa dinikmati adanya. Menukarkan suasana yang ada mungkin hanyalah sebatas cara untuk meninabobokan dan sedikit menenangkan kegelisahan. Perkenalan ini harusnya diteruskan, hanya modal tekad dan kesungguhan untuk mencapat pada satu pijakan kepastian.
Suasana yang harusnya dialami saat ini, kayanya rugi bener bila hanya di tukarkan dengan keluhan. Anjrit..sementara untuk nyari suasana lain ternyata nggak bisa di lakukan, malah cuman hasilkan kebingungan doang. Gila…bego bener diri ini.
He he..jadi inget ama temen di kampung. Udah ama mertua di musuhin, ama istri di tinggalin, ke tempat gurunya nggak di akuin lagi sebagai murid, sementara ketempat ia biasa nongkrong dan ngobrol sering di usir. Mau ngadu ama orang tua dah nggak ada, jangankan ama sodara. Orang yang paling dekat ama dirinya aja dah ninggalin. Trus kepada siapa, kejemuan ini mesti di aduin. Mau pasrah dan menyerahkan kejadian, kayanya nggak ada yang musti di pasrahkan. Toh semuanya sudah terjadi dan harus di lewati. Lantas bagaimana bisa keluar dari kungkingan pikiran ini. He he mau nggak di pikirin sayangnya nggak bisa ngebohongin pikiran. Mau nggak di rasain, sayangnya tubuh dah kebawa-bawa ama keresahan. Heuhh…..bingung, gila gila gilaaaa….
Sebuah perasaan yang aneh, karena nggak bisa di cerna oleh akal pikiran. Sayangnya aku nggak tau jawaban akan kejadian yang sekarang dialami, pengennya sih tidur. Nyatanya tetep aja mata masih melek. Najis tralala…bener dah. Heran, padahal dulu pernah juga ngalamin kejengahan kaya gini. Dan besok-besoknya pakde meninggal. Dan sekarang, masa kaya gitu lagi sih. Yah walaupun kemaren lusa waktu tidur ane mimpi gigi atas copot, dan mitosnyakan bakal ada yang meninggal. Padahalkan klo mau meninggal yang meninggalah dengan tenang dan sewajarnya. Toh bagaimanapunjuga hal itu sudah menjadi ketentuan dari yang punya hidup, klo dah ketemu alesan dan cara untuk pergi, yah semoga selamat sampai tujuan aja kali yah. He he anjrit gila juga nih pikiran.
Rasa ini sungguh nggak wajar…
Solusi, solusi dan solusi yang harus di temui, heuh….dimana kali tuh ngumpetnya solusi, susah bener klo lagi butuh di temuinya. Nggak enak juga soalnya klo terlalu lama wajah ini terlalu murung. Senyuman yang seharusnya hadir di kala keadaan seperti ini, ia seperti berlari mungkin juga bersembunyi di balik kejengahan sebagai dasar ketidak mampuan pikiran meraba perasaan.
Dan akhirnya hanya rasa kasihannya tuhan aja dah cukup tuk mengasihani kegunadahan yang di rasakan. Santé aja, masih ada kalimat kok yang bisa dijadikan juru selamat. Masih ada kalimat yang bisa kita jadikan penyemangat. Masih ada kalimat yang bisa kita jadikan pelengkap suasana yang di rasakan. Masih ada kalimat yang bisa menjelaskan keindahan yang harusnya bisa dirasakan. Masih ada kalimat sebelum menjelang kiamat. Masih ada kalimat….masih ada kalimat dan masih ada kalimat. Tetap semangat….

lainny

Tersesat akan rasa lapar
Lapar yang kemudian banyak menjebak pikiranku, ia bayak membawaku kedalam alam yang harusnya sudah lama bisa aku atasi, akan tetapi sampe saat ini nyatanya belum juga aku bisa lewati. Ia hinggap dalam tubuh ini kemudian melebur menjadi kesatuan yang sukar untuk dipisahkan. Sebuah cara yang belum bias aku dapatkan untuk mengatasi hal ini, karena logikanya kita nggak akan merasakan rasa lapar bila mana rasa tersebut tidak sempat kita pikirkan. Tidak ada yang bisa dihilangkan bila semuanya sudah ada yang menyediakan, sebagai sebuah solusi pastinya kita bisa mengalihkan kedalam keadaan yang lainnya.
Dampak dari rasa lapar pastinya jelas akan bisa kita buktikan dan kita rasakan, secara medis pastinya akan menghubungkan pada pertumbuhan tubuh, kedalam kurangnya gizi yang dibutuhkan oleh tubuh, dan kebanyakan yah kena penyakit maag. Di dalam hal yang lainnya rasa lapar akan membawa kita akan buntunya sebuah logika, ia tidak bisa membawa kita pada sebuah pikiran yang jernih dan dianggap normal bahkan oleh diri kita. Dalam keadaan lapar,mata ini seperti buta karena kita akan menghiraukan secantik apapun orang yang melintas di hadapan kita, walaupun perempuan cantik tersebut baru keluar dari salon perawatan kecantikan. Lanjutnya dampak dari rasa lapar akan membutakan perasaan yang ada di dalam hati kita, ia tak akan mampu mengajak kita akan kedalam keadaan sekeliling kita klo masih banyak keindahan yang yang harusnya bisa kita nikmati.
Sebagai salah satu hal yang ditakutkan oleh sebagian besar manusia maka langkah langkah untuk mengatasinya dengan berbagai cara sesuai dengan keadaan individu di lingkungan ia tinggal. Di lapisan manapun yang ada di masyarakat bahkan di kelas manapun, di berbagai belahan dunia manapun berbagai cara dilakukan untuk mengantisipasi akan perasaan lapar tersebut.
Bekerja siang malam, bahkan dengan cara yang baik yang sesuai normatip maupun cara cara yang buruk yang bisa menghasilkn konsekwensi penjara seperti menodong, merampok, menipu dan lain sebagainya masih juga banyak yang melakuknnya. Kesemuanya tersebut adalah sebuah prilaku dalam mengatasi rasa lapar yang berada di dalam tubuh ini.
Sebagai sebuah konsep yang adanya dalam sebuah rasa, maka didalam kenyataannya rasa lapar kemudian masuk kedalam berbagai sendi yang ada dalam tubuh ini. Sepertihalnya yang terjadi pada mata yang fungsinya sebagai alat penglihat, kemudian memunculkan istilah lapar mata. Juga yang terjadi pada otak, sama halnya yang terjadi dalam pikiran atau yang terjadi pada nafsu yang ada dalam diri. Seperti tidak pernah merasa cukup akan apa yang sudah ada, akan apa yang sudah di dapat yang harusnya kita sendiri tinggal menikmatinya. Lantas apakah kita tak pernah merasa cukup dan selalu mencari orientasi untuk mendapatkan yang lebih, lantas apakah memang yang lebih itu ada? Dan apakah emang yang lebih itu akan diraskan cukup baik sementara di dalam kehidupan kita hanya membutuhkan hal yang pas, yang akan membereskan masalah masalah ini.
Dan bagaimanakah cara anda menyikapi akan rasa lapar ini? Halah…mikirin rasa lapar aja sampe segininya….heh….udah lah mendingan makan aja dulu lah, pusiang aku.
Aku tengok ke kanan dan ke kiri, masih juga belum aku temui orang yang aku tunggu. Banyak yang orang yang melintas di hadapan, tapi sepertinya tak satupun ada yang aku kenal. Dan sepertinya aku harus kembali menunggu, akan apa yang sudah aku coba amini. Karena semua pasti akan terberi dengan semestinya. Janji sepotong roti jelasnya akan bisa aku nikmati. Dengan segelas susu yang menemani pastinya ini pagi hanya keindahan yang dirasakan.
Kembali aku tengok ke kanan dan ke kiri, belum juga ada tanda tanda akan kehadirannya. Ah..terlanjur aku mengamini akan sepotong roti yang akan di beri. Sekedar pengganjal isi perut pastinya siang ini akan di lewati dengan sedikit senyman yang terlihat jelas di bibir. Usahaku hanya menunggu. Dan yang aku tahu setiap usaha pasti akan mendapatkan hasil. Menunggu adalah jalan usahan untuk mendapatkan hasil. Seberapapun besarnya, sepeti apapun bentuknya. Hasil dari usahaku akan mendapatkan hasil yang layak adanya.
Tuhan tak akan pernah memberikan makanan untuk memenuhi kebutuhan langsung turun dari langit. Tengoklah ke kanan dan ke kiri, karena jalan itulah salah satu jalan yang paling dekat dengan diri masing masing. Dan melalui jalan itu juga sepotong roti akan dibagikan. Bersabarlah, karena terkadang justru kesabaran yang akan menunjukan jalan kemana kaki ini harus dilangkahkan.
Ada beberapa jiwa yang terkapar karena menahan rasa lapar. Semoga rasa lapar itu tak membutakan mata. Karena bila lapar sudah menjadi tameng paling depan yang melapisi diri, baik mata hati atau harga diri tak akan pernah dipedulikan. Lapar yang kadang menutup pikiran, tak ada jalan kebaikan atau jalan keburukan. Hanya jalan yang ada, akan dijalankan. Lapar yang akan meutupi perasaan dalam diri, tak akan bisa merasakan keindahan hari ini. Atau mungkin juga segala keindahan yang di temui, semua akan dihiraukannya. Hanya makan doang jawabannya.
Dan jemari ini mulai gemetar, pastinya akan menjalar ke bagian baian organ lainnya.
Dan sebagain manusia mati menjadi budak rasa lapar…
He he he…nggak ada mulia-mulianya jadi manusia, toh klo akhirnya harus diperbudak oleh perasaan yang selalu dirasakan oleh perut.
Hadu….hhh ampunlah.