Senin, 01 Juni 2009

lainnya

nglor ngidul
Ada untungnya juga ternyata ngobrol nggak jelas malam malam. Ngomong nggak pake tema, kesana kemari seperti nggak punya aturan. Apapun yang di omongin kayanya sah-sah saja untuk diucapkan. Yah lumayan lah (dari pada lo manyun) sekedar mencurahkan keresahan dan unek-unek pikiran. Iseng juga kadang obrolan, masa soal npwp aja di obrolin kan, kaya nggak ada obrolan lain aja. Dan tenyata emang menarik saat keluahan dari seorang teman yang mau buat NPWP, hal tersebut tentunya berangkat dari kesadaran dirinya, untuk menjadi warga Negara yang baik. Siapa tau besok-besok bisa kerja keluar, kan lumayan nggak kena biaya bea (2jt boo). Sayangnya kebaikan tak selamanya memiliki tempat dan diperhitungkan juga oleh sebuah aturan yang harusnya mewadahi niat baik tersebut.
Sebagai pekerja freelance alias serabutan dan nggak jelas jam kerjanya, ternyata pekerjaan dengan kategori tersebut tidak masuk dalam bagian salah satu item syarat untuk embuat npwp. Mencoba memanipulasi, dengan masuk kedalam item yang lain, pastinya akan ada resiko. Karena sebelum dikeluarkannya NPWP tersebut biasanya ada pengontrolan dari petugas untuk ngecek kebenaranya. Bila saja hasilnya nggak cocok, sudah jelas NPWP nggak bakalan keluar. Hal ini tentunya nggak menyangkut para pekerja freelance saja, bagi seorang senimanpun yang selalu konsisten dalam berkesenian ternyata nggak masuk kedalam salah satu jenis item yang ditawarkan oleh lembaga penarik pajak tersebut. Untung bagi yang sudah punya galeri, profesi mereka bisa mengguankan dan mengatasnamakan galerinya sebagai salah satu unit usaha yang di kelola oleh keluarga.
Susahnya untuk mendapatkan NPWP ternyata banyak juga dialami oleh pengusaha kecil yang nggak punya modal. Salah satu sarat untuk membuat usaha kecil, minimal harus punya modal 30jt. Itupun dalam bentuk tabungan dalam rekening sebagai sebuah jaminan akan unit usahanya. Makanya nggak sedikit, yang memanipulasi surat tersebut. Enak nggak enak ternyata yang namanya NPWP memiliki pengaruh pada pengembangan suatu unit usaha. Sama seperti halnya yang dialami seorang kawan yang kalah tender dalam usaha percetakannya, hanya karena sihak perusahaan nggak mau ambil resiko hanya karena persoalan NPWP. Wew…kejam emang. Tapi yah, pastinya hal itu ada baiknya juga.
Awalnya aku sendiri berpikiran, emang gila…pemerintah, kenapa hal yang harusnya mudah, justru malah membuat susah. Ibaratnya untuk mencari modal kita musti punya modal, yang namanya potensi tetep aja nggak berlaku. Entah urutan keberapa yang namanya mental usaha dari seorang yang mau berusaha. Semuanya seolah seperti ada setandarnya, ada batasan standarisasi yang harus di lewati dahulu. Saat standarisasi tersebut sudah bisa di lewati, barulah kita bebas untuk berexspresi dalam dunia usaha. Dan di bidang apapun kayanya, yah…mungkin karena hal ini juga yang membuat, banyaknya pare pekerja lebih memilih bekerja di luar alias menjadi tki/tkw semata mata hanya untuk mencari modal awal. Dan konyolnya juga untuk bekerja di luarpun butuh jaminan yang pasti dan salah satunya materi. Dan menjadi tki illegal mungkin salah satunya cara yang kemudian banyak di lakukan.
Kayanya bukan cuman untuk hal tersebut yah, bahkan untuk berlibur ke luar negeri sana minimal musti punya tabungan yang cukup, disana berapa hari, punya kartu asuransi dan tentunya sudah punya tiket pesawat pergi pulang. Ribet,,,jelimet…mendengar hal yang nggak masuk diakal, karena memang nggak menegrti maksudnya. Makanya ngecap pemerintah ini jahat dan kejam.
Mancoba memahami lebih dalam akan maksud semuanya, ternyata hasilnya memang pemerintahaan ini nggak berniat kejam pada penduduknya. Mencoba memahami hal baik dari masalah masalah tersebut dan hasilnya memang logika pergaulan pemikiran masyarakat ini masih nggak nyampe untuk memikirkan masalah demikian. Bagaimanapun juga, hal ini akan terkait pada perkembangan geopolitik Negara ini yang sudah menjadi bagian dari masyarakat dunia.
Karena justru kecerobohan masyarakat, yang selalu memberikan peluang Negara-negara lain menjajah kembali dan seenaknya mengembangkan kepentingan negaranya di Negara ini. Salah satu hal yang paling unik, saat kita melihat kejadian rombongan jamaah haji yang terlantar. Jika surat surat mereka itu di bilang aspal, lantas kenapa mereka sendiri bisa lolos waktu pemberangkatan dan bisa masuk dan meunaikan ibadah haji segala. Tiket dan semuanya sudah ada, pas giliran pulang justru mereka tertahan disana. Kasarnya klo misalkan mereka sudah punya tiket untuk pulang, lantas kenapa mereka musti tertahan di arab sana. Ngapain juga sih, pake acara nahan orang yang mau balik toh mereka punya tiket kok. Ternyata masalahnya tidak semudah itu. Justru kejadian yang seperti itu yang sering di manfaatkan oleh setiap Negara sebagai salah satu nilai tawar untuk memasukan kepentingan suatu Negara ke Negara lain.
Ini adalah cara yang mungkin saja sengaja dibuat, agar ada pembicaraan selanjutnya. Sama seperti halnya australi yang sering sekali mengeluarkan travel warning bagi warganya yang akan bepergian ke Indonesia saat mereka memiliki kepentingan negaranya untuk membuat usaha di Indonesia. Seperti kita tau, walaupun indosensia aman ternyata bisa dicitrakan nggak aman. Dan resikonya pemasukan hasil dari kunjungan dari wisatawan akan berkurang, apalagi travel warningnya berlaku dalam jangka yang lama. Jelas jelas akan mengurangi penghasilan Negara dari wisatawan. Apakah kita pernah bertanya kenapa cammonwalth bisa mendirikan bank di Indonesia? Bukankah bank yang ada di Negara ini tidak cukup baik bagi orang luar, sayakira masalahnya bukan disitu. Mungkin bisa kita pikirkan, pertama berapa banyak wisatawan australi datang keindonesia, dalam menjalankan atau memutarkan uang tentunya mereka akan lebih loyal dan lebih condong kepada bank yang berasal dari negaranya dan initinya tidak semuanya uang yang di keluarkan oleh wisatawan keluar dari perputaran uang dari Negara asalnya. Hemmm…sungguh cara yang kejam, dan mungkin cara yang seperti ini yang nggak kita pahami.
Mungkin disinilah, salah satu cara yang dilakukan oleh Negara dalam menertibkan dan mengatur masyarakatnya. Mungkin ini juga kenapa saat kita mau belibur atau bekerja keluar negeri dibutuhkan banyak persyaratan, hanya untuk meminimalisir, dan menutup selah-selah yang sering bocor. Karena selah yang sering bocor tersebut ternyata sering dimanfaatkan oleh Negara lain sebagai salah satu cara untuk mengakses kepentingan suatu Negara di dalam Negara ini. Bila hal tersebut ternyata demikian adanya, lantas masihkah kita akan bertanya bahwa Negara ini kejam? Atau justru masyarakatnya yang terlalu bodoh untuk memahami permasalahan yang demikian.
Semoga saja hal ini dilakukan emang untuk membangkitkan Negara ini yang sudah terlalu lama tertidur karena dimanjakan oleh keadaan alamnya dan mimpi mimpi indahnya.
Lah… trus hubungannya ama NPWP apaan ya? Padahal kan masih banyak item yang belum mewadahi bidang bidang pekerjaan yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Orang adminya masih belom beres.
Wew…

Tidak ada komentar: