Senin, 01 Juni 2009

lainnya

kejadian itu
Jika kejadiannya hanya menyakiti maka aku akan pastikan untuk melewati hal itu. Kesetiaan sepertinya sudah tidak lagi bisa di pegang. Kekhawatiran sepertinya sudah jelas menjelma. Bukan karena besarnya keraguraguan yang dirasakan. Ini hanya pilihan untuk memastikan akan kejelasan jalannya hidup ini. Setiap waktu dan detik yang berdetak menjadikan perasan ini untuk menjadikan pikiran yang terbagi.
Aku bukan seorang laki-laki yang selalu memegang teguh rasa ragu dalam diriku. Aku juga bukan seorang laki-laki yang selalu sibuk memikirkan bagaimana membuat keturunan. Aku adalah laki-laki yang bisa menjalankan keinginanku. Buakan karena ego atau terlalu cepat menggambil keputusan, ada kejadian yang akan memastikan akan apa yang diinginkan.
Kehidupan sudah menjelma nyata. Ada hal bawaan dan ada hal yang datang belakangan. Batasanya adalah kelahiran. Ia seperti ruang pengantara antar bagian dari perjalanan hidup ini. Pemberian nama pada anak, mencoba memungsikan segala alat indra yang ada dalam tubuh, mengasah intuisi dari rasa walau mulut belum bicara. Ini adalah proses adaptasi awal akan kebradaan tubuh yang terkorelasi dengan semesta.
Saat seseorang sudah beranjak dewasa, ada nilai nilai yang di pegang sebagai landasan ideologinya dalam memandang kehidupan. Mencoba memahami jalan kehidupan dengan berpegangan pada keyakinan diri dan dengan sedikit harapan. Maka berharap Menjadi lebih dewasa, menjadi manusia berguna bagi nusa dan bangsa, menjalani hidup apa adanya, menjalani hidup seperti air yang mengalir dan sebagainya.
Menjalani hidup mengalir seperti air. Sebagai sebuah karakter bentuk air sudahlah jelas kalau ia akan mencari jalan untuk keluar walau bertemu dangan jalan buntu sekalipun. Rasa kagum manusia saat melihat kesifatan akan benda yang ada di sekitarnya memberikan satu nilai yang kemudian dijadikan pegangan.
Sebagai sebuah karakter yang selalu mengalir dari tempat yang atas kemudian mengalir ke tempat yang rendah. pada akhirnya sampai pada sebuah samudra yang luas tentunya tidaklah gampang. Selain ada proses dan ada hal-hal “yang lain” yang akan menyesuaikan pada logika alam yang di lewatinya. Lantas seberapa kuatkah manusia dapat memahami logika alam yang berada di luar pikiran manusia? Seberapa kuatkan kompetensi otak manusia memikirkan logika alam? Bukankah manusia hidup di dalamnya! Sebuah kekonyolan bila manusia hidup di dalamnya, tapi tidak dapat menemukan keterkaitan antara logika yang ada pada alam.
Saat jalan kehidupan diibaratkan sebagai sebuah air yang mengalir. Lantas apakah memang lautan yang akan di tuju oleh setiap manusia. Bukankah ke-suci-an itu adanya di atas gunung. sementara lautan adalah tempat yang akan menampung segala kotoran dan dosa-dosa manusia. Apakah hal ini sudah berarti bahwa tujuan manusia adalah tempat yang kotor. Pastinya pernyataan yang seperti itu tak akan bisa memberikan kepuasan dalam pikiran ini. Ada alasan lain yang musti diutarakan dan dinyatakan. alasan adalah hal pembenaran yang selalu di pegang oleh manusia.
Logika pengibaratan “yang pas”seharusnya dijadikan pegangan oleh manusia. Ada gunung yang masih dijadikan sebagai tempat kesucian. Kesanalah seharusnya jalan yang harus kembali di jejaki. Seperti halnya ikan salmon yang akan mengadakan perjalanan ke tepian hulu untuk berkembang biak dan mati. Disana ada awal kehidupan yang harusnya bisa kita temui. Jalan pulang yang harusnya sudah mulai di kenali karena dari sanalah asal manusia. awal asal kembali ke asal. Bukan lautan yang dijadikan sebagai tujuan kemana kita pulang.

Tidak ada komentar: