Tersesat akan rasa lapar
Lapar yang kemudian banyak menjebak pikiranku, ia bayak membawaku kedalam alam yang harusnya sudah lama bisa aku atasi, akan tetapi sampe saat ini nyatanya belum juga aku bisa lewati. Ia hinggap dalam tubuh ini kemudian melebur menjadi kesatuan yang sukar untuk dipisahkan. Sebuah cara yang belum bias aku dapatkan untuk mengatasi hal ini, karena logikanya kita nggak akan merasakan rasa lapar bila mana rasa tersebut tidak sempat kita pikirkan. Tidak ada yang bisa dihilangkan bila semuanya sudah ada yang menyediakan, sebagai sebuah solusi pastinya kita bisa mengalihkan kedalam keadaan yang lainnya.
Dampak dari rasa lapar pastinya jelas akan bisa kita buktikan dan kita rasakan, secara medis pastinya akan menghubungkan pada pertumbuhan tubuh, kedalam kurangnya gizi yang dibutuhkan oleh tubuh, dan kebanyakan yah kena penyakit maag. Di dalam hal yang lainnya rasa lapar akan membawa kita akan buntunya sebuah logika, ia tidak bisa membawa kita pada sebuah pikiran yang jernih dan dianggap normal bahkan oleh diri kita. Dalam keadaan lapar,mata ini seperti buta karena kita akan menghiraukan secantik apapun orang yang melintas di hadapan kita, walaupun perempuan cantik tersebut baru keluar dari salon perawatan kecantikan. Lanjutnya dampak dari rasa lapar akan membutakan perasaan yang ada di dalam hati kita, ia tak akan mampu mengajak kita akan kedalam keadaan sekeliling kita klo masih banyak keindahan yang yang harusnya bisa kita nikmati.
Sebagai salah satu hal yang ditakutkan oleh sebagian besar manusia maka langkah langkah untuk mengatasinya dengan berbagai cara sesuai dengan keadaan individu di lingkungan ia tinggal. Di lapisan manapun yang ada di masyarakat bahkan di kelas manapun, di berbagai belahan dunia manapun berbagai cara dilakukan untuk mengantisipasi akan perasaan lapar tersebut.
Bekerja siang malam, bahkan dengan cara yang baik yang sesuai normatip maupun cara cara yang buruk yang bisa menghasilkn konsekwensi penjara seperti menodong, merampok, menipu dan lain sebagainya masih juga banyak yang melakuknnya. Kesemuanya tersebut adalah sebuah prilaku dalam mengatasi rasa lapar yang berada di dalam tubuh ini.
Sebagai sebuah konsep yang adanya dalam sebuah rasa, maka didalam kenyataannya rasa lapar kemudian masuk kedalam berbagai sendi yang ada dalam tubuh ini. Sepertihalnya yang terjadi pada mata yang fungsinya sebagai alat penglihat, kemudian memunculkan istilah lapar mata. Juga yang terjadi pada otak, sama halnya yang terjadi dalam pikiran atau yang terjadi pada nafsu yang ada dalam diri. Seperti tidak pernah merasa cukup akan apa yang sudah ada, akan apa yang sudah di dapat yang harusnya kita sendiri tinggal menikmatinya. Lantas apakah kita tak pernah merasa cukup dan selalu mencari orientasi untuk mendapatkan yang lebih, lantas apakah memang yang lebih itu ada? Dan apakah emang yang lebih itu akan diraskan cukup baik sementara di dalam kehidupan kita hanya membutuhkan hal yang pas, yang akan membereskan masalah masalah ini.
Dan bagaimanakah cara anda menyikapi akan rasa lapar ini? Halah…mikirin rasa lapar aja sampe segininya….heh….udah lah mendingan makan aja dulu lah, pusiang aku.
Tampilkan postingan dengan label makanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label makanan. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 27 Desember 2008
Senin, 28 April 2008
makanan
Ekspansi nasi
Makan…makan…makan… yah seperi itulah terkadang orang menyebutnya dalam sebuah tayangan tentang kuliner di sebuah stasiun tv. Kemudian istilah kuliner menjadi tidak asing di telinga masyarakat setelah mr Bondan dengan acara wisata kulinernya menjadi salah satu tayangan yang cukup memberikan kesan pada para penontonnya. Hal ini berdampak pada stasiun tv yang lainnya yang kemudian membuat acara dengan tema yang sama yakni kuliner.
Bagi saya jelas menarik bila kita berbicara mengenai persoalan makanan ini. Karena bukan cuman mentok pada persoalan perut ato persoalan aroma yang di hasilkan dari makanan sehingga memancing selera makan kita. Tentunya lebih dari itu, berbicara soal kuliner kita juga akan berbicara soal ekonomi, kesehatan, psikologi social, bahkan kita akan berbicara pada persoalan politik identitas dan exsistensi sebuah budaya dan pola kehidupan masyarakat saat mereka mencoba mencicipi makanan tersebut.
Dengan beragamnya sudut pandang sudah barang tentu saya sendiri tidak akan mampu untuk menjelaskan persoalan kuliner tersebut, serta keterhubungan diantara sub sub yang sudah saya paparkan sebelumnya. Dan disini saya hanya akan bercerita mengenai hal hal kecil saja yang pernah saya lihat, saya amati dan coba saya pikirkan hingga ahirnya meresahkan pikiran saya dan untuk hal iu juga saya coba menuliskan. Karena agaimanapun juga keresahan itu harus di tuliskan terlepas ada yang berminat membacanya atau memikirkannya juga.
Satu hal keresahan akan persoalan makanan tersebut yakni saat banyaknya para penjual makanan di tengan padatnya kota yang ada di Denpasar ini. Banyaknya kedai kedai makan tersebut anehnya justru di kembangkan oleh orang orang yang berada di luar masyarakat denpasar khususnya. Dan perkemangannya jelas sangat pesat, karena hampir di setiap ruas jalan raya akan dengan mudah kita temui jajakan makanan tersebut.
Sebut saja nasi campur atau pecel lele ato ayam goreng dengan bumbu pecel yang notabene makanan tersebut sangat identik dengan etnis tertentu (jawa) yang banyak beredar di Denpasar ini. Makanan yang di sajikan untuk makan malam tersebut yang bukanya hanya dari sore sampe malam saja sangat mendapatkan sambutan yang cukup lumayan besar, mungkin karena harganya yang murah hanya dengan harga dibawah sepuluh ribu kita sudah mendapatkan satu porsi makanan yang isinya lauk, sayuran dan segelas minnuman hangat atau dingin, pastinya cukuplah untuk membuat perut kita kenyang.
Kemudian yang mengganjal di pikiran saya awalnya saat diterimanya makanan tersebut di Denpasar ini kemudian mereka bisa berkembang dan bisa eksis. Dan jawabannya sangat mudah yang jelas yang membuat makanan tersebut tetap eksis sudah barang tentu ada pendukung dari makanan tersebut yakni tidak sedikit orang jawa yang merantau ke Denpasar. Tapi apakah hanya sebatas itu? Bukankah para konsumen mereka banyak juga orang Denpasar yang pastinya menikmati sajian dari makanan tersebut? Lantas bagaimana pertentangan makan tersebut terjadi sehingga sebagai sebuah solusinya memberikan pilihan yang sangat terbuka bagi “masyarakatnya”? dan untuk menjawab persoalan tersebut tentunya tidak gampang.
Bagi saya untuk menjelaskan pertanyaan yang demikian sama juga saat kita mencoba menjelaskan produk-produk makanan dengan label luar seperti Mc D, KFC atau Hoka-Hoka Bento dan sebagainya yang sangat ngetrend di masyarakat modern sekarang ini hanya saja yang membedakannya mungkin saja pangsa pasarnya, kemudian tempat penyajiannya dan menejemen pemasarannya saja berbeda yang dari kesemuanya jelas tidak susah untuk kita dapatkan. Tapi,,,ah pastinya terlalu rumit untuk memaparkan masalah semuanya.
Bagaimanapun juga kesemua produk makan yang saya paparkan diatas bukan produk yang lahir dari kreatifitas masyarakat setempat. ( aneh…belom selesai ngejelasin persoalan pertama, eh persoalan kedua dah nongol. Emang gak focus) jdi persoalan kedua yakni apakah produk makanan yang sudah di paparkan diatas akan mempengaruhi pola makan dan pola hidup masyarakat setempat. Karena bagaimanapun juga, setiap makan yang disajikan akan mempengaruhi pola prilaku seseorang, hal ini dapat kita lihat mulai dari cara menyajikan makanan, cara menyantap makan tersebut akan membawa seseorang pada pola tertentu. Yakni pola makan dan pola prilaku seseorang yang akan cenderung akan berprilaku sama dengan masyarakat dimana awal makan tersebut berkembang.
Hal yang seperti ini sudah barang tentu tidak akan pernah dirasakan secara sadar oleh para konsumennya. Karena hal tersebut mungkin saja terhalang oleh nikmatnya aroma serta nikmatnya rasa dari makanan yang kita santap, dan apakah hal tersebut bisa kita tanggapi secara wajar.
trus apa lagi yah....akhh...ntar ntaran aja deh ngelanjutinnya.... ah klo nggak gimana klo awab sendiri aja akan pertanyaannya...gak keberatankan.Ekspansi nasi
Makan…makan…makan… yah seperi itulah terkadang orang menyebutnya dalam sebuah tayangan tentang kuliner di sebuah stasiun tv. Kemudian istilah kuliner menjadi tidak asing di telinga masyarakat setelah mr Bondan dengan acara wisata kulinernya menjadi salah satu tayangan yang cukup memberikan kesan pada para penontonnya. Hal ini berdampak pada stasiun tv yang lainnya yang kemudian membuat acara dengan tema yang sama yakni kuliner.
Bagi saya jelas menarik bila kita berbicara mengenai persoalan makanan ini. Karena bukan cuman mentok pada persoalan perut ato persoalan aroma yang di hasilkan dari makanan sehingga memancing selera makan kita. Tentunya lebih dari itu, berbicara soal kuliner kita juga akan berbicara soal ekonomi, kesehatan, psikologi social, bahkan kita akan berbicara pada persoalan politik identitas dan exsistensi sebuah budaya dan pola kehidupan masyarakat saat mereka mencoba mencicipi makanan tersebut.
Dengan beragamnya sudut pandang sudah barang tentu saya sendiri tidak akan mampu untuk menjelaskan persoalan kuliner tersebut, serta keterhubungan diantara sub sub yang sudah saya paparkan sebelumnya. Dan disini saya hanya akan bercerita mengenai hal hal kecil saja yang pernah saya lihat, saya amati dan coba saya pikirkan hingga ahirnya meresahkan pikiran saya dan untuk hal iu juga saya coba menuliskan. Karena agaimanapun juga keresahan itu harus di tuliskan terlepas ada yang berminat membacanya atau memikirkannya juga.
Satu hal keresahan akan persoalan makanan tersebut yakni saat banyaknya para penjual makanan di tengan padatnya kota yang ada di Denpasar ini. Banyaknya kedai kedai makan tersebut anehnya justru di kembangkan oleh orang orang yang berada di luar masyarakat denpasar khususnya. Dan perkemangannya jelas sangat pesat, karena hampir di setiap ruas jalan raya akan dengan mudah kita temui jajakan makanan tersebut.
Sebut saja nasi campur atau pecel lele ato ayam goreng dengan bumbu pecel yang notabene makanan tersebut sangat identik dengan etnis tertentu (jawa) yang banyak beredar di Denpasar ini. Makanan yang di sajikan untuk makan malam tersebut yang bukanya hanya dari sore sampe malam saja sangat mendapatkan sambutan yang cukup lumayan besar, mungkin karena harganya yang murah hanya dengan harga dibawah sepuluh ribu kita sudah mendapatkan satu porsi makanan yang isinya lauk, sayuran dan segelas minnuman hangat atau dingin, pastinya cukuplah untuk membuat perut kita kenyang.
Kemudian yang mengganjal di pikiran saya awalnya saat diterimanya makanan tersebut di Denpasar ini kemudian mereka bisa berkembang dan bisa eksis. Dan jawabannya sangat mudah yang jelas yang membuat makanan tersebut tetap eksis sudah barang tentu ada pendukung dari makanan tersebut yakni tidak sedikit orang jawa yang merantau ke Denpasar. Tapi apakah hanya sebatas itu? Bukankah para konsumen mereka banyak juga orang Denpasar yang pastinya menikmati sajian dari makanan tersebut? Lantas bagaimana pertentangan makan tersebut terjadi sehingga sebagai sebuah solusinya memberikan pilihan yang sangat terbuka bagi “masyarakatnya”? dan untuk menjawab persoalan tersebut tentunya tidak gampang.
Bagi saya untuk menjelaskan pertanyaan yang demikian sama juga saat kita mencoba menjelaskan produk-produk makanan dengan label luar seperti Mc D, KFC atau Hoka-Hoka Bento dan sebagainya yang sangat ngetrend di masyarakat modern sekarang ini hanya saja yang membedakannya mungkin saja pangsa pasarnya, kemudian tempat penyajiannya dan menejemen pemasarannya saja berbeda yang dari kesemuanya jelas tidak susah untuk kita dapatkan. Tapi,,,ah pastinya terlalu rumit untuk memaparkan masalah semuanya.
Bagaimanapun juga kesemua produk makan yang saya paparkan diatas bukan produk yang lahir dari kreatifitas masyarakat setempat. ( aneh…belom selesai ngejelasin persoalan pertama, eh persoalan kedua dah nongol. Emang gak focus) jdi persoalan kedua yakni apakah produk makanan yang sudah di paparkan diatas akan mempengaruhi pola makan dan pola hidup masyarakat setempat. Karena bagaimanapun juga, setiap makan yang disajikan akan mempengaruhi pola prilaku seseorang, hal ini dapat kita lihat mulai dari cara menyajikan makanan, cara menyantap makan tersebut akan membawa seseorang pada pola tertentu. Yakni pola makan dan pola prilaku seseorang yang akan cenderung akan berprilaku sama dengan masyarakat dimana awal makan tersebut berkembang.
Hal yang seperti ini sudah barang tentu tidak akan pernah dirasakan secara sadar oleh para konsumennya. Karena hal tersebut mungkin saja terhalang oleh nikmatnya aroma serta nikmatnya rasa dari makanan yang kita santap, dan apakah hal tersebut bisa kita tanggapi secara wajar.
ah tapi males ngelanjutin tulisana..bingung... emm tapi gimana klo untuk pertanyaana di jawab sendiri aja yah..he he he...
Makan…makan…makan… yah seperi itulah terkadang orang menyebutnya dalam sebuah tayangan tentang kuliner di sebuah stasiun tv. Kemudian istilah kuliner menjadi tidak asing di telinga masyarakat setelah mr Bondan dengan acara wisata kulinernya menjadi salah satu tayangan yang cukup memberikan kesan pada para penontonnya. Hal ini berdampak pada stasiun tv yang lainnya yang kemudian membuat acara dengan tema yang sama yakni kuliner.
Bagi saya jelas menarik bila kita berbicara mengenai persoalan makanan ini. Karena bukan cuman mentok pada persoalan perut ato persoalan aroma yang di hasilkan dari makanan sehingga memancing selera makan kita. Tentunya lebih dari itu, berbicara soal kuliner kita juga akan berbicara soal ekonomi, kesehatan, psikologi social, bahkan kita akan berbicara pada persoalan politik identitas dan exsistensi sebuah budaya dan pola kehidupan masyarakat saat mereka mencoba mencicipi makanan tersebut.
Dengan beragamnya sudut pandang sudah barang tentu saya sendiri tidak akan mampu untuk menjelaskan persoalan kuliner tersebut, serta keterhubungan diantara sub sub yang sudah saya paparkan sebelumnya. Dan disini saya hanya akan bercerita mengenai hal hal kecil saja yang pernah saya lihat, saya amati dan coba saya pikirkan hingga ahirnya meresahkan pikiran saya dan untuk hal iu juga saya coba menuliskan. Karena agaimanapun juga keresahan itu harus di tuliskan terlepas ada yang berminat membacanya atau memikirkannya juga.
Satu hal keresahan akan persoalan makanan tersebut yakni saat banyaknya para penjual makanan di tengan padatnya kota yang ada di Denpasar ini. Banyaknya kedai kedai makan tersebut anehnya justru di kembangkan oleh orang orang yang berada di luar masyarakat denpasar khususnya. Dan perkemangannya jelas sangat pesat, karena hampir di setiap ruas jalan raya akan dengan mudah kita temui jajakan makanan tersebut.
Sebut saja nasi campur atau pecel lele ato ayam goreng dengan bumbu pecel yang notabene makanan tersebut sangat identik dengan etnis tertentu (jawa) yang banyak beredar di Denpasar ini. Makanan yang di sajikan untuk makan malam tersebut yang bukanya hanya dari sore sampe malam saja sangat mendapatkan sambutan yang cukup lumayan besar, mungkin karena harganya yang murah hanya dengan harga dibawah sepuluh ribu kita sudah mendapatkan satu porsi makanan yang isinya lauk, sayuran dan segelas minnuman hangat atau dingin, pastinya cukuplah untuk membuat perut kita kenyang.
Kemudian yang mengganjal di pikiran saya awalnya saat diterimanya makanan tersebut di Denpasar ini kemudian mereka bisa berkembang dan bisa eksis. Dan jawabannya sangat mudah yang jelas yang membuat makanan tersebut tetap eksis sudah barang tentu ada pendukung dari makanan tersebut yakni tidak sedikit orang jawa yang merantau ke Denpasar. Tapi apakah hanya sebatas itu? Bukankah para konsumen mereka banyak juga orang Denpasar yang pastinya menikmati sajian dari makanan tersebut? Lantas bagaimana pertentangan makan tersebut terjadi sehingga sebagai sebuah solusinya memberikan pilihan yang sangat terbuka bagi “masyarakatnya”? dan untuk menjawab persoalan tersebut tentunya tidak gampang.
Bagi saya untuk menjelaskan pertanyaan yang demikian sama juga saat kita mencoba menjelaskan produk-produk makanan dengan label luar seperti Mc D, KFC atau Hoka-Hoka Bento dan sebagainya yang sangat ngetrend di masyarakat modern sekarang ini hanya saja yang membedakannya mungkin saja pangsa pasarnya, kemudian tempat penyajiannya dan menejemen pemasarannya saja berbeda yang dari kesemuanya jelas tidak susah untuk kita dapatkan. Tapi,,,ah pastinya terlalu rumit untuk memaparkan masalah semuanya.
Bagaimanapun juga kesemua produk makan yang saya paparkan diatas bukan produk yang lahir dari kreatifitas masyarakat setempat. ( aneh…belom selesai ngejelasin persoalan pertama, eh persoalan kedua dah nongol. Emang gak focus) jdi persoalan kedua yakni apakah produk makanan yang sudah di paparkan diatas akan mempengaruhi pola makan dan pola hidup masyarakat setempat. Karena bagaimanapun juga, setiap makan yang disajikan akan mempengaruhi pola prilaku seseorang, hal ini dapat kita lihat mulai dari cara menyajikan makanan, cara menyantap makan tersebut akan membawa seseorang pada pola tertentu. Yakni pola makan dan pola prilaku seseorang yang akan cenderung akan berprilaku sama dengan masyarakat dimana awal makan tersebut berkembang.
Hal yang seperti ini sudah barang tentu tidak akan pernah dirasakan secara sadar oleh para konsumennya. Karena hal tersebut mungkin saja terhalang oleh nikmatnya aroma serta nikmatnya rasa dari makanan yang kita santap, dan apakah hal tersebut bisa kita tanggapi secara wajar.
trus apa lagi yah....akhh...ntar ntaran aja deh ngelanjutinnya.... ah klo nggak gimana klo awab sendiri aja akan pertanyaannya...gak keberatankan.Ekspansi nasi
Makan…makan…makan… yah seperi itulah terkadang orang menyebutnya dalam sebuah tayangan tentang kuliner di sebuah stasiun tv. Kemudian istilah kuliner menjadi tidak asing di telinga masyarakat setelah mr Bondan dengan acara wisata kulinernya menjadi salah satu tayangan yang cukup memberikan kesan pada para penontonnya. Hal ini berdampak pada stasiun tv yang lainnya yang kemudian membuat acara dengan tema yang sama yakni kuliner.
Bagi saya jelas menarik bila kita berbicara mengenai persoalan makanan ini. Karena bukan cuman mentok pada persoalan perut ato persoalan aroma yang di hasilkan dari makanan sehingga memancing selera makan kita. Tentunya lebih dari itu, berbicara soal kuliner kita juga akan berbicara soal ekonomi, kesehatan, psikologi social, bahkan kita akan berbicara pada persoalan politik identitas dan exsistensi sebuah budaya dan pola kehidupan masyarakat saat mereka mencoba mencicipi makanan tersebut.
Dengan beragamnya sudut pandang sudah barang tentu saya sendiri tidak akan mampu untuk menjelaskan persoalan kuliner tersebut, serta keterhubungan diantara sub sub yang sudah saya paparkan sebelumnya. Dan disini saya hanya akan bercerita mengenai hal hal kecil saja yang pernah saya lihat, saya amati dan coba saya pikirkan hingga ahirnya meresahkan pikiran saya dan untuk hal iu juga saya coba menuliskan. Karena agaimanapun juga keresahan itu harus di tuliskan terlepas ada yang berminat membacanya atau memikirkannya juga.
Satu hal keresahan akan persoalan makanan tersebut yakni saat banyaknya para penjual makanan di tengan padatnya kota yang ada di Denpasar ini. Banyaknya kedai kedai makan tersebut anehnya justru di kembangkan oleh orang orang yang berada di luar masyarakat denpasar khususnya. Dan perkemangannya jelas sangat pesat, karena hampir di setiap ruas jalan raya akan dengan mudah kita temui jajakan makanan tersebut.
Sebut saja nasi campur atau pecel lele ato ayam goreng dengan bumbu pecel yang notabene makanan tersebut sangat identik dengan etnis tertentu (jawa) yang banyak beredar di Denpasar ini. Makanan yang di sajikan untuk makan malam tersebut yang bukanya hanya dari sore sampe malam saja sangat mendapatkan sambutan yang cukup lumayan besar, mungkin karena harganya yang murah hanya dengan harga dibawah sepuluh ribu kita sudah mendapatkan satu porsi makanan yang isinya lauk, sayuran dan segelas minnuman hangat atau dingin, pastinya cukuplah untuk membuat perut kita kenyang.
Kemudian yang mengganjal di pikiran saya awalnya saat diterimanya makanan tersebut di Denpasar ini kemudian mereka bisa berkembang dan bisa eksis. Dan jawabannya sangat mudah yang jelas yang membuat makanan tersebut tetap eksis sudah barang tentu ada pendukung dari makanan tersebut yakni tidak sedikit orang jawa yang merantau ke Denpasar. Tapi apakah hanya sebatas itu? Bukankah para konsumen mereka banyak juga orang Denpasar yang pastinya menikmati sajian dari makanan tersebut? Lantas bagaimana pertentangan makan tersebut terjadi sehingga sebagai sebuah solusinya memberikan pilihan yang sangat terbuka bagi “masyarakatnya”? dan untuk menjawab persoalan tersebut tentunya tidak gampang.
Bagi saya untuk menjelaskan pertanyaan yang demikian sama juga saat kita mencoba menjelaskan produk-produk makanan dengan label luar seperti Mc D, KFC atau Hoka-Hoka Bento dan sebagainya yang sangat ngetrend di masyarakat modern sekarang ini hanya saja yang membedakannya mungkin saja pangsa pasarnya, kemudian tempat penyajiannya dan menejemen pemasarannya saja berbeda yang dari kesemuanya jelas tidak susah untuk kita dapatkan. Tapi,,,ah pastinya terlalu rumit untuk memaparkan masalah semuanya.
Bagaimanapun juga kesemua produk makan yang saya paparkan diatas bukan produk yang lahir dari kreatifitas masyarakat setempat. ( aneh…belom selesai ngejelasin persoalan pertama, eh persoalan kedua dah nongol. Emang gak focus) jdi persoalan kedua yakni apakah produk makanan yang sudah di paparkan diatas akan mempengaruhi pola makan dan pola hidup masyarakat setempat. Karena bagaimanapun juga, setiap makan yang disajikan akan mempengaruhi pola prilaku seseorang, hal ini dapat kita lihat mulai dari cara menyajikan makanan, cara menyantap makan tersebut akan membawa seseorang pada pola tertentu. Yakni pola makan dan pola prilaku seseorang yang akan cenderung akan berprilaku sama dengan masyarakat dimana awal makan tersebut berkembang.
Hal yang seperti ini sudah barang tentu tidak akan pernah dirasakan secara sadar oleh para konsumennya. Karena hal tersebut mungkin saja terhalang oleh nikmatnya aroma serta nikmatnya rasa dari makanan yang kita santap, dan apakah hal tersebut bisa kita tanggapi secara wajar.
ah tapi males ngelanjutin tulisana..bingung... emm tapi gimana klo untuk pertanyaana di jawab sendiri aja yah..he he he...
Jumat, 18 Januari 2008
makanan
enaknya ngopi pagi
pernah tau klo minum kopi pagi-pagi itu nyenengin, ato malam hari saat kerjaan dah kelar melewati waktu yang sesaat jelas asik kali yah dan pernah tau klo filosofi tentang kopi itu pernah dikisahkan oleh dee. yang pasti asik lah.... dan pernah tau klo setiap daerah itu punya cara tersendiri dalam menyuguhkan segelas kopi kepada tamunya. sebenernya pengen sih nulisin...tapi lagi males.....nulis
pernah tau klo minum kopi pagi-pagi itu nyenengin, ato malam hari saat kerjaan dah kelar melewati waktu yang sesaat jelas asik kali yah dan pernah tau klo filosofi tentang kopi itu pernah dikisahkan oleh dee. yang pasti asik lah.... dan pernah tau klo setiap daerah itu punya cara tersendiri dalam menyuguhkan segelas kopi kepada tamunya. sebenernya pengen sih nulisin...tapi lagi males.....nulis
Selasa, 30 Oktober 2007
makanan
Wisata kuliner dan masalah perut kita
Tayangan wisata kuliner dalam sebuah program televisi ternyata cukup banyak di nikmati oleh masyarakat. Hal ini bisa kita lihat bagaimana acara acara yang sejenisnya kemudian bermunculan dalam acara- acara siaran televise. Banyaknya bermunculan acara yang sama sudah pasti akan kita maklumi karena kondisi industri pertelevisian di masyarakat kita sepertinya yah memang seperti itu, saat reting sebuah tayangan didapatkat cukup tinggi maka tema tema yang sama juga diangkat dengan sebuah tayangan yang sebenarnya hampir sama juga. Pengemasan yang sederhana, yang hanya mengambil background dari satu tempat makan ketempat makan lain dengan sebuah acara kekseluruhan yang cukup santai. Hal ini dirasa pas dengan kondisi para penonton yang bisa menikmatinya dengan santai juga. Hanya saja bagai manpun juga, tayangan tayangan kuliner tersebut saya sendiri merasakan cukup muak dengan menontonnya. Bahkan terkadang saya sendiri merasakan jadi tidak enak makan setelah melihat tayangan tersebut.
Maklum saja bagaimanapun juga sebagai seorang yang masih belum jelas akan sebuah penghasilan antara makan dan tidak makan cukup seimbanglah dalam keseharian. Walaupun memang bisa makan, tentunya makanan yang saya makan tidak pernah sama dengan yang ada dalam tayangan tayangan tersebut. Bila bicara soal keterasingan.! saya sendiri memang merasa terasing, (mungkin juga mengasingkan diri he he) karena belum pernah mencoba makanan seharga yang sudah diberitakan tersebut trus hubunganan antara keterasingan dan nggak bisa beli makanan apa yah he he . Bagi beberapa golongan satu porsi seharga diatas lima puluh ribu sangat terjangkau, dan memang benar mereka bisa menikmati karena memang mereka mampu.
Walaupun memang tidak selamanya, tempat tempat yang mereka kunjungi dalam membuat acara tidak selamanya dan tidak selalu berada di tempat yang mewah. Karena beberapa episode dalam tayangan tersebut memang mengambil latar makanan-makanan yang berada di lesehan. Dengan sebuah suasana terkesan mereka yang tampil disana cukup menikmati makan yang sudah mereka sajikan.
Kita tidak pernah berpikir, bagaimana pola konsumsi yang sudah kita lakukan selama ini sudah cukup banyak mempengaruhi keadaan diri kita. Banyaknya penyakit salah satunya sudah jelas dari pola konsumsi makanaan yang di makan. Logikanya sederhanan, makana-makanan yang berada di supermarket supermarket dan tempat tempat yang katanya sudah menjamin akan nilai gizi serta kandungan akan vitamin yang mereka makan sudah pasti akan terjamin. Jadi wajar makanan-makanan dari bahan baku yang bersih mulus tanpa ada ulat satupun terkadang menjadi sebuah pilihan utmana untuk mereka konsumsi. Aneh memang, jelas aneh lah karena bagaimanapun juga pikiran saya menganggap binatang saja ( ulat dan teman temannya ) mereka sudah tidak lagi mampu untuk hidup di dalam bahan baku makanan tersebut. Sementara sebagian besar masyarakat kita justru makanan yang seperti itu menjadi menu pilihan utama. Lahhhh kok jadi kesini nulisnya wekzzz aneh…!.
Tahu makanan Indonesia secara tidak langsung kita akan mengenal berbagai macam karekter manusia Indonesia. Keadaan ekonomi masyarakat Indonesia dan kita akan tahu hal-hal yang lainnya menyangkut kepribadian manusia Indonesia. Banyak memang hal hal yang menarik dari sebuah makanan yang sudah kita makan.
Seperti itulah mungkin salah satu tujuan yang mendasari tayangan tentang kuliner ditayangkan. Memang bukan cuman soal reting demi kepentingan usaha pertelevisian akan tetapi hal-hal lain yang jauh lebih menarik. Ada baiknya tayangan tersebut tidak harus melulu menyajikan sebuah makanan yang dihidangkan dengan “mak nyusnya saja”saat makan tersebut di santap, tapi sudah sebaiknya latar belakang makanan tersebut baik yang berlatarkan tentang sejarahnya makanan, maupun yang melatar belakangi terbentuknya makanan yang sudah bisa diciptakan dengan wujud seperti itu. bagi saya mungkin akan jauh lebih menarik untuk disajikan ke masyarakat. Sebab bagaimanapun juga sebuah makan yang seperti saya tuliskan sebelumnya akan mewakili latar belakang kondisi sosial budaya masyarakat Indonesia.
Keunikan akan mengemas sebuah makanan untuk dimakan memang banyak jalan cerritnyanya. Bahan bahan yang mungkin saja bagi sebagian kita tidak ada nilai gizinya toh masih juga dapat kita temukan di daerah daerah seperti makanan jukut ares, makanan tersebut di buat dari pelepah pisang batu yang kemudian dimasak menjadi sebuah kuah yang di makan untuk menemani lawar. Secara logika kita pasti makanan tersebut tidak ada nilai gizinya tapi anggapan dari kawan kawan saya justru makanan tersebut dapat menetralisir dari makanan lawar (yang di buat dengan bahan daging) yang sudah dimakannya.
Disisi lain saya sendiri berpikiran bagai mana awal makan tersebut di buat, jangan jangan makan tersebut di buat pada masa susuahnya masyarakat setempat memperoleh makan (yang layak untuk di konsumsi dengan latar belakang nasi serta sayuran dengan lauknya) dikarenakan karena kondisi pemerintahan pada saat itu memang tidak setabil sehingga untuk mendapatkan makanan mereka mengexplorasi tumbuh-tumbuhan yang bisa di makan untuk memepertahankan hidup. Hal tersebut jika benar maka akan jelas bagai mana sebuah makanan serta korelasinya terhadap perpolitikan yang mengakibatkan krisis ekonomi yang sudah dialami oleh pemerintahan, sehingga dampak kemiskinan dapat dirasakan oleh masyarakat ini dan dengan salah satu wujud nyatanya yang kita bisa lihat dari makanan yang sudah di konsumsi tadi.
Tayangan wisata kuliner dalam sebuah program televisi ternyata cukup banyak di nikmati oleh masyarakat. Hal ini bisa kita lihat bagaimana acara acara yang sejenisnya kemudian bermunculan dalam acara- acara siaran televise. Banyaknya bermunculan acara yang sama sudah pasti akan kita maklumi karena kondisi industri pertelevisian di masyarakat kita sepertinya yah memang seperti itu, saat reting sebuah tayangan didapatkat cukup tinggi maka tema tema yang sama juga diangkat dengan sebuah tayangan yang sebenarnya hampir sama juga. Pengemasan yang sederhana, yang hanya mengambil background dari satu tempat makan ketempat makan lain dengan sebuah acara kekseluruhan yang cukup santai. Hal ini dirasa pas dengan kondisi para penonton yang bisa menikmatinya dengan santai juga. Hanya saja bagai manpun juga, tayangan tayangan kuliner tersebut saya sendiri merasakan cukup muak dengan menontonnya. Bahkan terkadang saya sendiri merasakan jadi tidak enak makan setelah melihat tayangan tersebut.
Maklum saja bagaimanapun juga sebagai seorang yang masih belum jelas akan sebuah penghasilan antara makan dan tidak makan cukup seimbanglah dalam keseharian. Walaupun memang bisa makan, tentunya makanan yang saya makan tidak pernah sama dengan yang ada dalam tayangan tayangan tersebut. Bila bicara soal keterasingan.! saya sendiri memang merasa terasing, (mungkin juga mengasingkan diri he he) karena belum pernah mencoba makanan seharga yang sudah diberitakan tersebut trus hubunganan antara keterasingan dan nggak bisa beli makanan apa yah he he . Bagi beberapa golongan satu porsi seharga diatas lima puluh ribu sangat terjangkau, dan memang benar mereka bisa menikmati karena memang mereka mampu.
Walaupun memang tidak selamanya, tempat tempat yang mereka kunjungi dalam membuat acara tidak selamanya dan tidak selalu berada di tempat yang mewah. Karena beberapa episode dalam tayangan tersebut memang mengambil latar makanan-makanan yang berada di lesehan. Dengan sebuah suasana terkesan mereka yang tampil disana cukup menikmati makan yang sudah mereka sajikan.
Kita tidak pernah berpikir, bagaimana pola konsumsi yang sudah kita lakukan selama ini sudah cukup banyak mempengaruhi keadaan diri kita. Banyaknya penyakit salah satunya sudah jelas dari pola konsumsi makanaan yang di makan. Logikanya sederhanan, makana-makanan yang berada di supermarket supermarket dan tempat tempat yang katanya sudah menjamin akan nilai gizi serta kandungan akan vitamin yang mereka makan sudah pasti akan terjamin. Jadi wajar makanan-makanan dari bahan baku yang bersih mulus tanpa ada ulat satupun terkadang menjadi sebuah pilihan utmana untuk mereka konsumsi. Aneh memang, jelas aneh lah karena bagaimanapun juga pikiran saya menganggap binatang saja ( ulat dan teman temannya ) mereka sudah tidak lagi mampu untuk hidup di dalam bahan baku makanan tersebut. Sementara sebagian besar masyarakat kita justru makanan yang seperti itu menjadi menu pilihan utama. Lahhhh kok jadi kesini nulisnya wekzzz aneh…!.
Tahu makanan Indonesia secara tidak langsung kita akan mengenal berbagai macam karekter manusia Indonesia. Keadaan ekonomi masyarakat Indonesia dan kita akan tahu hal-hal yang lainnya menyangkut kepribadian manusia Indonesia. Banyak memang hal hal yang menarik dari sebuah makanan yang sudah kita makan.
Seperti itulah mungkin salah satu tujuan yang mendasari tayangan tentang kuliner ditayangkan. Memang bukan cuman soal reting demi kepentingan usaha pertelevisian akan tetapi hal-hal lain yang jauh lebih menarik. Ada baiknya tayangan tersebut tidak harus melulu menyajikan sebuah makanan yang dihidangkan dengan “mak nyusnya saja”saat makan tersebut di santap, tapi sudah sebaiknya latar belakang makanan tersebut baik yang berlatarkan tentang sejarahnya makanan, maupun yang melatar belakangi terbentuknya makanan yang sudah bisa diciptakan dengan wujud seperti itu. bagi saya mungkin akan jauh lebih menarik untuk disajikan ke masyarakat. Sebab bagaimanapun juga sebuah makan yang seperti saya tuliskan sebelumnya akan mewakili latar belakang kondisi sosial budaya masyarakat Indonesia.
Keunikan akan mengemas sebuah makanan untuk dimakan memang banyak jalan cerritnyanya. Bahan bahan yang mungkin saja bagi sebagian kita tidak ada nilai gizinya toh masih juga dapat kita temukan di daerah daerah seperti makanan jukut ares, makanan tersebut di buat dari pelepah pisang batu yang kemudian dimasak menjadi sebuah kuah yang di makan untuk menemani lawar. Secara logika kita pasti makanan tersebut tidak ada nilai gizinya tapi anggapan dari kawan kawan saya justru makanan tersebut dapat menetralisir dari makanan lawar (yang di buat dengan bahan daging) yang sudah dimakannya.
Disisi lain saya sendiri berpikiran bagai mana awal makan tersebut di buat, jangan jangan makan tersebut di buat pada masa susuahnya masyarakat setempat memperoleh makan (yang layak untuk di konsumsi dengan latar belakang nasi serta sayuran dengan lauknya) dikarenakan karena kondisi pemerintahan pada saat itu memang tidak setabil sehingga untuk mendapatkan makanan mereka mengexplorasi tumbuh-tumbuhan yang bisa di makan untuk memepertahankan hidup. Hal tersebut jika benar maka akan jelas bagai mana sebuah makanan serta korelasinya terhadap perpolitikan yang mengakibatkan krisis ekonomi yang sudah dialami oleh pemerintahan, sehingga dampak kemiskinan dapat dirasakan oleh masyarakat ini dan dengan salah satu wujud nyatanya yang kita bisa lihat dari makanan yang sudah di konsumsi tadi.
Jumat, 26 Oktober 2007
makanan
makan yang sehat
Seperti apakah makan yang sehat? Sudah dengan jelas pasti akan menjawab yah makanan yang 4 sehat 5 sempurna. Wajar saja bila jawaban yang seperti itu akan kita dengar, sebab bagai manapun juga konsep 4 sehat 5 sempurna adalah sebuah konsep ideal bagi manusia Indonesia untuk menjalani hidup yang sehat. Selain kandungan gizi yang cukup dan dengan susu sebagai sebuah pelengkap dalam sebuah menu makanan. Tapi apakah konsep ini masih juga berlaku yah di tengah mahalnya harga sembako. He he apa hubungannya coba. Tapi tak apalah…. Bagi aku sendiri sebenarnya konsep tersebut itu tidak terlalu usang karena memang sebagai sebuah menu yang ideal dengan kandungan gizi yang memang pas dengan kondisi masyarakat Indonesia. Tapi bagi saya mengenai kosep makan yang sehat bila hanya dilihat dari persoalan gizi dan persoalan biologis saja sebagai sebuah manusia hal ini aku rasa tidak adil. Karena konsep ini bagai-manupun juga sangat terkait dengan konsep manusia sendiri. Konsep 4 sehat 5 sempurna tentunya tidak bisa mewakili secara keseluruhan akan hal kesehatan manusia itu sendiri.
Dalam diri manusia kita akan mengenah tiga unsur pokok dalam manusia. Pertama sebagai mahluk biologis kedua sebagai mahluk sosial dan ketiga sebagai mahluk religius. Dari sini terlihat jelas bagai mana konsep diatas tersebut tidak bisa mewakili dengan konsep yang lainnya. Hal makana yang dimakan memang memiliki kandungan gizi yang sudah pasti ada di dalam makanan tersebut tapi apakah makanan tersebut memiliki kandungan gizi religius atau gizi sosial. Belum tentukan makanan yang kita makan memiliki kandungan gizi ketiga unsur tersebut. Lantas makanan yang seperti apa yang bisa dimakan agar memiliki ketiga kandungan gizi tersebut? Nah loh…. Bingung juga kan.
Sebagai mahluk religius prihal makanan yang dimakan akan memiliki kandungan gizi bila mana makan tersebut dihasilkan dan didapatkan dari hasil dengan cara yang baik dalam mendapatkanya. Hal yang baik ini tentunya sudah pasti akan berhubungan dosa dan tidak dosa. Sebagai manusia religius makan yang dimakan secara tidak langsung akan mempengaruhi keadaan jiwa kita, sifat-sifatnya pun sudah jelas.
Di dalam Bhagawagita dijelaskan bagaimana sifat seseorang dalam persoalan makanan ini. Dalam bab XVII 7-10 dijelaskan makanan yang disenangi oleh semua ada tiga macam (7). Pertama makanan-makanan yang meninggikan hidup, tenaga, kekuatan, kesehatan, kebahagiaan dan suka cita, yang manis dan lunak banyak mengandung zat-zat makanan dan rasanya enak adalah makanan yang disukai oleh orang yang baik(8). Makanan-makanan yang terlalu pahit, masam, asin, pedas, kering dan angus yang akan menimbulkan kesakitan, duka cita dan penyakit di sukai oleh orang yang bernafsu(9). Dan makanan yang basi, hambar, berbau, dingin, sisa kemarinnya dan kotor adalah makanan yang disukai oleh orang yang bodoh(10). Sementara dalam islam setahu saya makanan yang sehat adalah makanan selain memiliki kandungan gizi, tidak memabukan dan tidak diharamkan serta didapatkan dengan cara halal walaupun ia memakannya tidak membaca basmalah tentu tidak masalah dan itu pasti menyehatkan asal jangan busuk dan tidak layak makan karena bagi yang berpikir makanan yang baik yang pasti akan dimakan olehnya.
Untuk makanan yang sehat secara sosial hal ini tetntunya kita akan sangat mempertimbangkan akan keadaan orang orang di sekitar kita. Kesenjangan soal makanan sudah pasti ada hanya saja bagaimana kita meminimalisir dan menjaga perasaan orang orang disekitar kita saat kita menikmati makanan yang kita makan. Sehingga makanan yang kita konsumsi setiap hari memang bener bener sehat karena mencakup dari tiga unsure dengan diri manusia. Sudah jelas akan percuma bila hanya konsep 4 sehat 5 sempurna saja kita jalani sementara dua konsep yang lain mengerti saja tidak. He he he…
Memang rumit bila kita menginginkan makanan yang kita makan bener-bener “sehat”. Karena memang banyak hal dan banyak faktor yang musti kita pertimbangkan sehingga wajar juga bila ada orang mengatakan “nyari makan yang haram saja susah, apa lagi yang halal” tentunya saya tidak bermaksud memaksa anda untuk menjalankan ketiga konsep yang ada dalam diri manusia yang di wakili dari hal makanan. Akan tetapi yah nggak ada salahnya juga kan klo misalkan saja kita mencoba hal hal lain yang dirasakan unik dan yang butuh akan tantangan akan hal yang aneh he he he sudahlah cape nulis mulu mending klo cuman nulis ini pake mikir lagi kan padahal kan aku cuman ingin nulis doing tapi anehnya pikiran kok ikut-ikutan. Wekzxixixixix
Seperti apakah makan yang sehat? Sudah dengan jelas pasti akan menjawab yah makanan yang 4 sehat 5 sempurna. Wajar saja bila jawaban yang seperti itu akan kita dengar, sebab bagai manapun juga konsep 4 sehat 5 sempurna adalah sebuah konsep ideal bagi manusia Indonesia untuk menjalani hidup yang sehat. Selain kandungan gizi yang cukup dan dengan susu sebagai sebuah pelengkap dalam sebuah menu makanan. Tapi apakah konsep ini masih juga berlaku yah di tengah mahalnya harga sembako. He he apa hubungannya coba. Tapi tak apalah…. Bagi aku sendiri sebenarnya konsep tersebut itu tidak terlalu usang karena memang sebagai sebuah menu yang ideal dengan kandungan gizi yang memang pas dengan kondisi masyarakat Indonesia. Tapi bagi saya mengenai kosep makan yang sehat bila hanya dilihat dari persoalan gizi dan persoalan biologis saja sebagai sebuah manusia hal ini aku rasa tidak adil. Karena konsep ini bagai-manupun juga sangat terkait dengan konsep manusia sendiri. Konsep 4 sehat 5 sempurna tentunya tidak bisa mewakili secara keseluruhan akan hal kesehatan manusia itu sendiri.
Dalam diri manusia kita akan mengenah tiga unsur pokok dalam manusia. Pertama sebagai mahluk biologis kedua sebagai mahluk sosial dan ketiga sebagai mahluk religius. Dari sini terlihat jelas bagai mana konsep diatas tersebut tidak bisa mewakili dengan konsep yang lainnya. Hal makana yang dimakan memang memiliki kandungan gizi yang sudah pasti ada di dalam makanan tersebut tapi apakah makanan tersebut memiliki kandungan gizi religius atau gizi sosial. Belum tentukan makanan yang kita makan memiliki kandungan gizi ketiga unsur tersebut. Lantas makanan yang seperti apa yang bisa dimakan agar memiliki ketiga kandungan gizi tersebut? Nah loh…. Bingung juga kan.
Sebagai mahluk religius prihal makanan yang dimakan akan memiliki kandungan gizi bila mana makan tersebut dihasilkan dan didapatkan dari hasil dengan cara yang baik dalam mendapatkanya. Hal yang baik ini tentunya sudah pasti akan berhubungan dosa dan tidak dosa. Sebagai manusia religius makan yang dimakan secara tidak langsung akan mempengaruhi keadaan jiwa kita, sifat-sifatnya pun sudah jelas.
Di dalam Bhagawagita dijelaskan bagaimana sifat seseorang dalam persoalan makanan ini. Dalam bab XVII 7-10 dijelaskan makanan yang disenangi oleh semua ada tiga macam (7). Pertama makanan-makanan yang meninggikan hidup, tenaga, kekuatan, kesehatan, kebahagiaan dan suka cita, yang manis dan lunak banyak mengandung zat-zat makanan dan rasanya enak adalah makanan yang disukai oleh orang yang baik(8). Makanan-makanan yang terlalu pahit, masam, asin, pedas, kering dan angus yang akan menimbulkan kesakitan, duka cita dan penyakit di sukai oleh orang yang bernafsu(9). Dan makanan yang basi, hambar, berbau, dingin, sisa kemarinnya dan kotor adalah makanan yang disukai oleh orang yang bodoh(10). Sementara dalam islam setahu saya makanan yang sehat adalah makanan selain memiliki kandungan gizi, tidak memabukan dan tidak diharamkan serta didapatkan dengan cara halal walaupun ia memakannya tidak membaca basmalah tentu tidak masalah dan itu pasti menyehatkan asal jangan busuk dan tidak layak makan karena bagi yang berpikir makanan yang baik yang pasti akan dimakan olehnya.
Untuk makanan yang sehat secara sosial hal ini tetntunya kita akan sangat mempertimbangkan akan keadaan orang orang di sekitar kita. Kesenjangan soal makanan sudah pasti ada hanya saja bagaimana kita meminimalisir dan menjaga perasaan orang orang disekitar kita saat kita menikmati makanan yang kita makan. Sehingga makanan yang kita konsumsi setiap hari memang bener bener sehat karena mencakup dari tiga unsure dengan diri manusia. Sudah jelas akan percuma bila hanya konsep 4 sehat 5 sempurna saja kita jalani sementara dua konsep yang lain mengerti saja tidak. He he he…
Memang rumit bila kita menginginkan makanan yang kita makan bener-bener “sehat”. Karena memang banyak hal dan banyak faktor yang musti kita pertimbangkan sehingga wajar juga bila ada orang mengatakan “nyari makan yang haram saja susah, apa lagi yang halal” tentunya saya tidak bermaksud memaksa anda untuk menjalankan ketiga konsep yang ada dalam diri manusia yang di wakili dari hal makanan. Akan tetapi yah nggak ada salahnya juga kan klo misalkan saja kita mencoba hal hal lain yang dirasakan unik dan yang butuh akan tantangan akan hal yang aneh he he he sudahlah cape nulis mulu mending klo cuman nulis ini pake mikir lagi kan padahal kan aku cuman ingin nulis doing tapi anehnya pikiran kok ikut-ikutan. Wekzxixixixix
Rabu, 24 Oktober 2007
makanan
Makan dan mitos
Pada masyarakat Indonesia kebiasaan akan tradisi lisan menjadi salah satu akan budaya masyarakatnya. Bentuk bentuk tradisinyapun beragam tidak hanya soal sastra, tapi soal pewarisan budayapun hanya disampaikan secara lisan. Seperti ada anggapan bahwa menulisakan sesuatu hitu hanya akan meninggalkan sebuah jejak yang bisa di pelajari oleh siapa saja Sehingga nilai sakralnyapun akan berkurang. Hal ini mengesankan adanya keterkaitan antara tradisi lisan dengan sebuah kekercayaan yang di pegang oleh masyarakat. Dalam beberapa hal memang tidak menutup kemungkinan sebuah tradisi itu di tuliskan. Ini bisa kita lihat bagaimana tinggalan tinggalan kebudayaan terdahulu masih bisa kita kenali dengan sebuah bukti yang kongkrit dalam berbagai bentuk tentunya. Bentuk bentuk tersebut selain bentuk artefak maupun bentuk babad yang hampir terdapat pada setiap daerah. Lantas bentuk yang bagaimana klo sebuah tradisi itu bisa dituliskan dan dalam bentuk apa juga tradisi itu tidak dituliskan? Toh di dalam kenyataan yang terjadi dimasyarakat kedua hal tersebut masih ada pada masyarakat.
Mitos sebagai sebuah bentuk tradisi lisan secara beriringan dengan perkembangan dunia yang semakin maju dan moderen ( ? ) didalam perkembangannya ternyata sebuah mitos tersebut masuk juga kedalam perkembanyan jaman tersebut. Mitos merasuk dalam dunia moderenitas sementara manusia manusia moderen terkadang tidak menyadari akan keberadaan mitos yang sudah mengungkung pola pikir masyarakatnya. Bentuknyapun kemudian tidak hanya sebatas pada cerita tapi pada bendapun bisa saja di katakana sebagai sebuah mitos. Dan mitos disini sebagai sebuah konsep dasarnya sebagai sesuatuhal yang kebenarannya harus dibuktikan dan kenyataannya pernah terjadi atau hanya sebatas pada sebuah cerita omong kosong belaka yang sudah menjauhi akan sebuah kejadian yang sudah terjadi.
Beragamnya mitos yang terjadi pada setiap lapisan masyarakat, sudah barang tentu tidak akan bisa mengelarkan coretan coretan yang tidak akan berguna ini dan tidak akan bisa di jelaskan satu persatunya. Hanya saja terkadang saat kita berbicara mengenat persoalan mitos terus terang saja terkadang masalah ini membawa imajinasi saya keberbagai hal dan keberbagai tempat. Misalkan saja mitos mitos soal makanan.
Mitos dalam makanan ini banyak sekali bisa kita temui dalam keseharian kita. Makanan makan tertentu dapat di percaya akan memberikan kepeda yang memakannya sebuah nilai lebih ketimbang makanan yang biasa di makan oleh manusia. Padahal yah pada dasarnya sebuah makana bila dimakan sudah barang tentu akan memberika sebuah nilai yang lebih. Walaupun tidak mendapatkan sebuah perlakuan husus mengenai makanan ini tapi di sisi lain secara tidak langsung orang sudah membengi dan meperlakukannya secara khusus ketimbang makanan yang lain. sepertinya adanya nilai yang lain dari sebuah makanan terjadi dikarenakan seseorang tersugesti dengan memakan makanan tersebut. Selain itu juga bila kita menyadari kondisi kita dari sebelum dan sesudah makan tersebut serta membandingkan nilai gizi yang ada di makanan tentunya wajar saja bila ternyata makantersebut membawa pengaruh terhadap tubuh ini.
Contoh mitos mitos dalam makanan misalnya saja kacang yang dimakan akan memperbanyak jerawat, atau telur dan sebagainya yang di racik dengan campuran rempah-rempah dijadikan sebagai obat kuat bagi laki laki. Makan sayuran seperti toge akan menambah hormone yanga ada di diri kita, coklat dengan kegemukannya… ah sudah lah jadi bingunng……hah….udah lah
Pada masyarakat Indonesia kebiasaan akan tradisi lisan menjadi salah satu akan budaya masyarakatnya. Bentuk bentuk tradisinyapun beragam tidak hanya soal sastra, tapi soal pewarisan budayapun hanya disampaikan secara lisan. Seperti ada anggapan bahwa menulisakan sesuatu hitu hanya akan meninggalkan sebuah jejak yang bisa di pelajari oleh siapa saja Sehingga nilai sakralnyapun akan berkurang. Hal ini mengesankan adanya keterkaitan antara tradisi lisan dengan sebuah kekercayaan yang di pegang oleh masyarakat. Dalam beberapa hal memang tidak menutup kemungkinan sebuah tradisi itu di tuliskan. Ini bisa kita lihat bagaimana tinggalan tinggalan kebudayaan terdahulu masih bisa kita kenali dengan sebuah bukti yang kongkrit dalam berbagai bentuk tentunya. Bentuk bentuk tersebut selain bentuk artefak maupun bentuk babad yang hampir terdapat pada setiap daerah. Lantas bentuk yang bagaimana klo sebuah tradisi itu bisa dituliskan dan dalam bentuk apa juga tradisi itu tidak dituliskan? Toh di dalam kenyataan yang terjadi dimasyarakat kedua hal tersebut masih ada pada masyarakat.
Mitos sebagai sebuah bentuk tradisi lisan secara beriringan dengan perkembangan dunia yang semakin maju dan moderen ( ? ) didalam perkembangannya ternyata sebuah mitos tersebut masuk juga kedalam perkembanyan jaman tersebut. Mitos merasuk dalam dunia moderenitas sementara manusia manusia moderen terkadang tidak menyadari akan keberadaan mitos yang sudah mengungkung pola pikir masyarakatnya. Bentuknyapun kemudian tidak hanya sebatas pada cerita tapi pada bendapun bisa saja di katakana sebagai sebuah mitos. Dan mitos disini sebagai sebuah konsep dasarnya sebagai sesuatuhal yang kebenarannya harus dibuktikan dan kenyataannya pernah terjadi atau hanya sebatas pada sebuah cerita omong kosong belaka yang sudah menjauhi akan sebuah kejadian yang sudah terjadi.
Beragamnya mitos yang terjadi pada setiap lapisan masyarakat, sudah barang tentu tidak akan bisa mengelarkan coretan coretan yang tidak akan berguna ini dan tidak akan bisa di jelaskan satu persatunya. Hanya saja terkadang saat kita berbicara mengenat persoalan mitos terus terang saja terkadang masalah ini membawa imajinasi saya keberbagai hal dan keberbagai tempat. Misalkan saja mitos mitos soal makanan.
Mitos dalam makanan ini banyak sekali bisa kita temui dalam keseharian kita. Makanan makan tertentu dapat di percaya akan memberikan kepeda yang memakannya sebuah nilai lebih ketimbang makanan yang biasa di makan oleh manusia. Padahal yah pada dasarnya sebuah makana bila dimakan sudah barang tentu akan memberika sebuah nilai yang lebih. Walaupun tidak mendapatkan sebuah perlakuan husus mengenai makanan ini tapi di sisi lain secara tidak langsung orang sudah membengi dan meperlakukannya secara khusus ketimbang makanan yang lain. sepertinya adanya nilai yang lain dari sebuah makanan terjadi dikarenakan seseorang tersugesti dengan memakan makanan tersebut. Selain itu juga bila kita menyadari kondisi kita dari sebelum dan sesudah makan tersebut serta membandingkan nilai gizi yang ada di makanan tentunya wajar saja bila ternyata makantersebut membawa pengaruh terhadap tubuh ini.
Contoh mitos mitos dalam makanan misalnya saja kacang yang dimakan akan memperbanyak jerawat, atau telur dan sebagainya yang di racik dengan campuran rempah-rempah dijadikan sebagai obat kuat bagi laki laki. Makan sayuran seperti toge akan menambah hormone yanga ada di diri kita, coklat dengan kegemukannya… ah sudah lah jadi bingunng……hah….udah lah
Senin, 22 Oktober 2007
makanan
Makanan, sesaji dan ritus keagamaan
Suatu malam di sebuah rumah yang tidak terlalu mewah aku tak bisa mngeingkari akan laparnya perut ini. Mau tak mau di rumah yang sudah aku anggap rumahku sendiri dan orang-orang yang mengisi rumahnya sudah aku anggap sebagai orangtuaku kebiasaan lama aku kembali ( mungkin karena perut dah merasa lapar ) tanpa mnghiraukan orang yang mengisi rumah itu aku pergi ke dapur dan mencari sisia sisa makanan yang dimakan tadi sore. Bukan sebuah kebetulan akurasa bila ternyata di dalam lemari makanan terdapat ayam bakar yang terbungkus dalam kotak. Tanpa berpikir panjang langsung saja aku santap ayam tersebut kujadikan sebagai pelengkap makanku. Tidak banyak memang daging ayam yang aku makan. Hanya saja di tengah tangah asiknya santap malam, datanglah kemudain orangtua yang beranjak dari tidurnya dan berkata kata kepadaku “emangnya daging ayam ini aku belikan untuk mu apa, seenaknya saja makan” orang tua itu langsung mengambil sebagian besar daging yang sudah aku buka. setelah mendengar perkataan seperti itu, selera makanku langsung saja hilang dengan segera.
Kejadian tersebut terus terag membuat aku sedikit tercengang, karena selain pertama mengalaminya juga banyak pertanyaan pertanyaan yang bermunculan dari sebuah omelan orang tua itu. Dan ku masih memeikirkan akan makanan tersebut dan klau misalkan makanan tersebut bukan orang yang ada di rumah lantas untuk siapa ia membelikan ayam baker itu. Malam itu aku tidak menemukan jawabannya dan aku sendiri tidak ada keberanian untuk menanyakan hal tersebut. Ah sudahlah pikirku, mungkin makanan tersebut untuk sesuatu hal yang ia percayai akan membawa kebeuntungan baginya dan tentunya aku akan tidak mempedulikannya. Aku hanya menyadari di rumah ini dengan lingkungan masyarakat tradisi aku menganggapnya sudah biasa hal ini terjadi. Walaupun hal tersebut hanya cerita cerita yang aku dengar saja dari obrolan di sebuah warung kopi.
Prihal makana tentunya bagi masyarakat tradisi di beberapa tempat di jawa tettunya akan memiliki makna lain, sepiring makanan tidak hanya di khususkan oleh manusia saja yang memakannya tapi karena besarnya kekeprcayaan yang masih banyak berlaku di berbagai kelompok masyarakat menjadikan makanan sebagai sebuah sarana untuk sebuah sesaji yang di khususkan untuk roh-roh nenekmoyang/ leluhur ataupun untuk sesuatuhal yang di percaya akan membawa keberuntungan dengan harapan sebagian besar keluarga mereka tidak diganggu oleh mahluk-mahluk halus tentunya dan sebagai sogokannya yang berupa sesaji makan tersebut.
Dimasyarakat Indonesia moderen dan dalam konsep kesehatan gizi kita akan mengenal istilah 4 sehat 5 sempurna sebagai menu tambahan untuk masalah gizi bagi manusia. Sementara bagi sesaji kita juga akan mengenal istilah tersebut dengan 7 rupa dan 5 rasa yang terbagi dalam bentuk 7 rupa makanan dengan bentuk serta warna yang berbeda dan 5 rasa minuman dengan rasa yang berbeda seperti kopi manis, kpi pahit, teh manis/ pahit, susu dan air putih. 7 rupa makanan dengan lima rasa minuman tettunya mamiliki makna tersendiri bagi masyarakat yang percaya akan keberadaan leluhurnya.
Sebagai sebuah ucapan trima kasih dan sebagai sebuah sarana keagamaan. Sebuah makanan akan mengalami perlakuan yang berbeda sebab bagaimanapun juga makanan disini sudah memiliki nilai sacral sebab tidak boleh dimakan dan lebih mendahulukan leluhur untuk mencicipi makana tersebut dan manusia disini menjadi orang kedua yang akan memakan sajian tersebut. Dan makanan tersebut akan menjadi propan bila sebuah ritus penyajian makana tersebut sudah selesai dilaksanakan dengan sebuah tahapan ritual kepercayaan.
Kedekatan makanan dengan ritus keagamaan dimasyarakat berlangsung sudah sejak lama dan di pegang erat oleh penganut kepercayaan tersebut. Bentuk-bentuknyapun beragam tergantung jenis upacara apa yang dilangsungkan sehingga ketidak-samaan ritual ini sudah pasti akan membedakan bentuk sesaji yang dihidangkan. Ritual-ritual keagamaan yang melibatkan berbagai sajian makanan untuk saat ini masih banyak bisa kita temui baik dalam televise ataupun secara langsung. Makna dalan setiap bentuk sesaji tentunya akan sangat berbeda.
Di dalam perkembangannya dan besarnya pengaruh agama langitan secara tidak langsung mengeser sebuah tatanan makna yang sudah ada. Saya sendiri menganggap pergeseran makna tersebut karena selain bedanya bentuk tatanan dari sebuah agama yang tidak membolehkan akan ritus tersebut, dan sisi lain masyarakat yang ingin mempertahankan kebiasaan dri orang orang sebelumnya tetap berjalan. Misalkan saja yang paling mudah di lihat di masyarakat tradisi saat mereka melakukan jiarah kubur yang membawa bekal makanan dengan satu daging ayam utuh yang dibakar serta beberapa ikan. Bagi masyarakat tradisi lama pola dan maknanya akan sama sebagai sesaji untuk leluhur yang sudah meninggal ( dan ini dianggap sebagai sebuah perbuatan bidah dalam agama islam ) dan makana bagi masyarakat tradisi sekarang makna yang terkandung didalamnya yah..! untuk bekal makan bersama-sama saja setelah mereka melakukan jiarah kubur.
Yang pasti akan selalu bahasan lain dan pasti melebar bila saya sendiri meneruskan tulisan ini…( padahal males nulis he eh ehe he he)
Kejadian tersebut terus terag membuat aku sedikit tercengang, karena selain pertama mengalaminya juga banyak pertanyaan pertanyaan yang bermunculan dari sebuah omelan orang tua itu. Dan ku masih memeikirkan akan makanan tersebut dan klau misalkan makanan tersebut bukan orang yang ada di rumah lantas untuk siapa ia membelikan ayam baker itu. Malam itu aku tidak menemukan jawabannya dan aku sendiri tidak ada keberanian untuk menanyakan hal tersebut. Ah sudahlah pikirku, mungkin makanan tersebut untuk sesuatu hal yang ia percayai akan membawa kebeuntungan baginya dan tentunya aku akan tidak mempedulikannya. Aku hanya menyadari di rumah ini dengan lingkungan masyarakat tradisi aku menganggapnya sudah biasa hal ini terjadi. Walaupun hal tersebut hanya cerita cerita yang aku dengar saja dari obrolan di sebuah warung kopi.
Prihal makana tentunya bagi masyarakat tradisi di beberapa tempat di jawa tettunya akan memiliki makna lain, sepiring makanan tidak hanya di khususkan oleh manusia saja yang memakannya tapi karena besarnya kekeprcayaan yang masih banyak berlaku di berbagai kelompok masyarakat menjadikan makanan sebagai sebuah sarana untuk sebuah sesaji yang di khususkan untuk roh-roh nenekmoyang/ leluhur ataupun untuk sesuatuhal yang di percaya akan membawa keberuntungan dengan harapan sebagian besar keluarga mereka tidak diganggu oleh mahluk-mahluk halus tentunya dan sebagai sogokannya yang berupa sesaji makan tersebut.
Dimasyarakat Indonesia moderen dan dalam konsep kesehatan gizi kita akan mengenal istilah 4 sehat 5 sempurna sebagai menu tambahan untuk masalah gizi bagi manusia. Sementara bagi sesaji kita juga akan mengenal istilah tersebut dengan 7 rupa dan 5 rasa yang terbagi dalam bentuk 7 rupa makanan dengan bentuk serta warna yang berbeda dan 5 rasa minuman dengan rasa yang berbeda seperti kopi manis, kpi pahit, teh manis/ pahit, susu dan air putih. 7 rupa makanan dengan lima rasa minuman tettunya mamiliki makna tersendiri bagi masyarakat yang percaya akan keberadaan leluhurnya.
Sebagai sebuah ucapan trima kasih dan sebagai sebuah sarana keagamaan. Sebuah makanan akan mengalami perlakuan yang berbeda sebab bagaimanapun juga makanan disini sudah memiliki nilai sacral sebab tidak boleh dimakan dan lebih mendahulukan leluhur untuk mencicipi makana tersebut dan manusia disini menjadi orang kedua yang akan memakan sajian tersebut. Dan makanan tersebut akan menjadi propan bila sebuah ritus penyajian makana tersebut sudah selesai dilaksanakan dengan sebuah tahapan ritual kepercayaan.
Kedekatan makanan dengan ritus keagamaan dimasyarakat berlangsung sudah sejak lama dan di pegang erat oleh penganut kepercayaan tersebut. Bentuk-bentuknyapun beragam tergantung jenis upacara apa yang dilangsungkan sehingga ketidak-samaan ritual ini sudah pasti akan membedakan bentuk sesaji yang dihidangkan. Ritual-ritual keagamaan yang melibatkan berbagai sajian makanan untuk saat ini masih banyak bisa kita temui baik dalam televise ataupun secara langsung. Makna dalan setiap bentuk sesaji tentunya akan sangat berbeda.
Di dalam perkembangannya dan besarnya pengaruh agama langitan secara tidak langsung mengeser sebuah tatanan makna yang sudah ada. Saya sendiri menganggap pergeseran makna tersebut karena selain bedanya bentuk tatanan dari sebuah agama yang tidak membolehkan akan ritus tersebut, dan sisi lain masyarakat yang ingin mempertahankan kebiasaan dri orang orang sebelumnya tetap berjalan. Misalkan saja yang paling mudah di lihat di masyarakat tradisi saat mereka melakukan jiarah kubur yang membawa bekal makanan dengan satu daging ayam utuh yang dibakar serta beberapa ikan. Bagi masyarakat tradisi lama pola dan maknanya akan sama sebagai sesaji untuk leluhur yang sudah meninggal ( dan ini dianggap sebagai sebuah perbuatan bidah dalam agama islam ) dan makana bagi masyarakat tradisi sekarang makna yang terkandung didalamnya yah..! untuk bekal makan bersama-sama saja setelah mereka melakukan jiarah kubur.
Yang pasti akan selalu bahasan lain dan pasti melebar bila saya sendiri meneruskan tulisan ini…( padahal males nulis he eh ehe he he)
makanan
Makanan pesta setelah perang
Bagi masyarakat Indonesia umumnya nasi adalah sebuah makan pokok yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat, kebiasaan mengkonsumsi makanan ini kemudian muncul istilah belum dikatakan makan bila belum makan nasi walaupun pada saat waktu makan mereka sudah menyantap singkong atau makanan makanan lain yang secara gizi sudah cukup bila di makan. Pada setiap tempat dimanapun perbedaan pula makan dan pola konsumsi makanan secara tidak langsung akan membedakan juga pola pikir dan pola prilaku masyarakatnya ( selain lingkungan alam tentunya ).
Bagi manusia yang dikategorokan sebagai mahluk yang memakan segala ( baik daging maupun tumbuhan ) selalu menjadikan prioritas utama dalam menjalankan hidupnya. Banyak sekali alasan soal makanan ini di jadikan sebagai sebuah tameng dari proses menjalankan hidup ini. Orang orang bekerja alasannya pertama agar ada jaminan mereka bisa makan untuk hari ini dan beberapa hari kemudian. Dan hal ini tidak berlaku bagi orang kaya saja bagi orang miskin secara materialpun keduanya sama sama masih memiliki rasa takut akan tidak makan ( takut akan rasa lapar ) karena konsekwensinya yah jelas orang yang sudah bosen makan cuman orang “mati”. Ktakutan ini tidak hanya terjadi pada orang yang takut tidak bisa makan karena tidak ada makanan yang harus dimakan. Orang orang yang kelebihan makananpun ternyata masih juga masih memiliki ketakutan soal makanan.
Didalam perkembangan proses kebudayaan, setelah manusia bisa menjinakan binatang yang berada di setiap lingkungan dan bisa mengkategorikan binatang binatang apa saja yang bisa di pelihara dan tidak akan mengancam keberadaan manusia secara langsung membuat pola kehidupan manusia sudah mulai teratur. Karena mereka harus sudah memiliki tempat tinggal yang menetap dan tidak berpindah pindah tempat lagi. Memiliki binatang ternak sebagai sebuah jaminan akan kebutuhan makan ( selain kegiatan utamanya masih berburu untuk mendapatkan makanan ). Secara tidak langsung ternyata membawa sebuah keresahan baru dengan binatang ternaknya.
Babi sebagai sebuah hewan piaraan yang memiliki nilai lebih ( ketmbang binatang lain ) bagi suku suku pedalam di papua. Dalam sebuah buku laporan perjalanan menjelaslan bagaimana hewan peliharaan tersebut dapat mengancam keberlangsungan hidup manusia. Proses konflik antara mansyarakat suku dengan hewan leliharaannya cukup unik, karena suku tersebut akan melibatkan kelompok lain untuk mengatasinya. Pertama tama mereka beternak bagi sebagai sebuah makanan di waktu waktu tertentu saja oleh karenanya babi tersebut dianggap hewan yang sacral. Jadi masyarakat tersebut beternak babi sudah menjadi keharusan dan bahkan sama memperlakukan babi dengan anak sendiri dan ada yang memperlakukan lebih ketimbang anak sendiri. Karena kebanyakan beternak babi, sementara untuk konsumsi daging sebagian laki laki berburu hewan lain untuk dijadikan sebagai sebuah makanan yang di konsumsi sehingga lama kelamaan makin banyak babi yang sudah di ternak tersebut dirasakan mengancam akan keberlangsungan hidup manusia, selain makin banyak makanan yang diberikan untuk babi juga semakin besar popolasi pertumbuhan babi di sana. Dan untuk nenyetabilkan akan binatang peliharaan itu dibuatkanlah konflik antar suku untuk melakukan peperangan. Karena secara logikanya makin lama perang maka main banyak juga pasokan konsumsi yang digunakan. Walaupun ternyata perang sukunya tidak berlagsung lama dan hanya sebatas seremonial saja tapi keadaannya tentu sama seperti perang sungguhan. Disana juga ada kompromi perdamaian sebagai tahapan akhir dari konflik yang dibuat, karena pesta setelah perang daging babi selalu di gunakan dalam jalannya pesta tersebut. Makin banyak orang yang terlibat maka akan makin banyak juga binatang pliharaan yang di korbankan.
Perang antar suku ini diciptakan sebagai sebuah satu alasan dalam mengurangi populasi dari babi yang di ternak. Dengan sebuah pesta yang dilakukan bersama-sama itu yang penting he he he
Bagi masyarakat Indonesia umumnya nasi adalah sebuah makan pokok yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat, kebiasaan mengkonsumsi makanan ini kemudian muncul istilah belum dikatakan makan bila belum makan nasi walaupun pada saat waktu makan mereka sudah menyantap singkong atau makanan makanan lain yang secara gizi sudah cukup bila di makan. Pada setiap tempat dimanapun perbedaan pula makan dan pola konsumsi makanan secara tidak langsung akan membedakan juga pola pikir dan pola prilaku masyarakatnya ( selain lingkungan alam tentunya ).
Bagi manusia yang dikategorokan sebagai mahluk yang memakan segala ( baik daging maupun tumbuhan ) selalu menjadikan prioritas utama dalam menjalankan hidupnya. Banyak sekali alasan soal makanan ini di jadikan sebagai sebuah tameng dari proses menjalankan hidup ini. Orang orang bekerja alasannya pertama agar ada jaminan mereka bisa makan untuk hari ini dan beberapa hari kemudian. Dan hal ini tidak berlaku bagi orang kaya saja bagi orang miskin secara materialpun keduanya sama sama masih memiliki rasa takut akan tidak makan ( takut akan rasa lapar ) karena konsekwensinya yah jelas orang yang sudah bosen makan cuman orang “mati”. Ktakutan ini tidak hanya terjadi pada orang yang takut tidak bisa makan karena tidak ada makanan yang harus dimakan. Orang orang yang kelebihan makananpun ternyata masih juga masih memiliki ketakutan soal makanan.
Didalam perkembangan proses kebudayaan, setelah manusia bisa menjinakan binatang yang berada di setiap lingkungan dan bisa mengkategorikan binatang binatang apa saja yang bisa di pelihara dan tidak akan mengancam keberadaan manusia secara langsung membuat pola kehidupan manusia sudah mulai teratur. Karena mereka harus sudah memiliki tempat tinggal yang menetap dan tidak berpindah pindah tempat lagi. Memiliki binatang ternak sebagai sebuah jaminan akan kebutuhan makan ( selain kegiatan utamanya masih berburu untuk mendapatkan makanan ). Secara tidak langsung ternyata membawa sebuah keresahan baru dengan binatang ternaknya.
Babi sebagai sebuah hewan piaraan yang memiliki nilai lebih ( ketmbang binatang lain ) bagi suku suku pedalam di papua. Dalam sebuah buku laporan perjalanan menjelaslan bagaimana hewan peliharaan tersebut dapat mengancam keberlangsungan hidup manusia. Proses konflik antara mansyarakat suku dengan hewan leliharaannya cukup unik, karena suku tersebut akan melibatkan kelompok lain untuk mengatasinya. Pertama tama mereka beternak bagi sebagai sebuah makanan di waktu waktu tertentu saja oleh karenanya babi tersebut dianggap hewan yang sacral. Jadi masyarakat tersebut beternak babi sudah menjadi keharusan dan bahkan sama memperlakukan babi dengan anak sendiri dan ada yang memperlakukan lebih ketimbang anak sendiri. Karena kebanyakan beternak babi, sementara untuk konsumsi daging sebagian laki laki berburu hewan lain untuk dijadikan sebagai sebuah makanan yang di konsumsi sehingga lama kelamaan makin banyak babi yang sudah di ternak tersebut dirasakan mengancam akan keberlangsungan hidup manusia, selain makin banyak makanan yang diberikan untuk babi juga semakin besar popolasi pertumbuhan babi di sana. Dan untuk nenyetabilkan akan binatang peliharaan itu dibuatkanlah konflik antar suku untuk melakukan peperangan. Karena secara logikanya makin lama perang maka main banyak juga pasokan konsumsi yang digunakan. Walaupun ternyata perang sukunya tidak berlagsung lama dan hanya sebatas seremonial saja tapi keadaannya tentu sama seperti perang sungguhan. Disana juga ada kompromi perdamaian sebagai tahapan akhir dari konflik yang dibuat, karena pesta setelah perang daging babi selalu di gunakan dalam jalannya pesta tersebut. Makin banyak orang yang terlibat maka akan makin banyak juga binatang pliharaan yang di korbankan.
Perang antar suku ini diciptakan sebagai sebuah satu alasan dalam mengurangi populasi dari babi yang di ternak. Dengan sebuah pesta yang dilakukan bersama-sama itu yang penting he he he
Minggu, 21 Oktober 2007
makanan
Makan-makan
Sebagai sebuah konsekwensi dari kehidupan, sepertinya makanan adalah harga mati yang harus dilakukan. Konsekwensinya jelas bila sebagai sebuah mahluk hidup bila mengingkari akan makanan. Setiap makluk hidup pasti akan makan, baik binatang, tumbuhan atau manusia.
Dalam rantai makanan seperti pada pelajaran biologi waktu di sekolah pasti sebagian besar dirikita mengenali rantai makanan tersebut, sesama mahluk hidup saling memakan dan melibatkan mahluk hidup yang lainnya. Didalam klasifikasinya mahluk hidup terbagi pada tiga golongan dalam hal makan memakan. Pertama pemakan tumbuhan saja, kedua pemakan daging dan yang ketiga pemakan segala.
Sebagai manusia yang menjadi bagian dari mahluk hidup rata rata pemakan segala adalah hal yang biasa. Hanya saja kemudian persoalan perut ini tidak hanya sebatas isi perut saja, karena bagi manusia persoalan makanan tidak hanya selesai pada persoalan kenyangnya perut yang sudah terisi oleh makanan yang dimakannya. Lantas masalah apalagi yang muncul kemudian pada persoalan makanana yang dimakan manusia.
Makanan yang juga dimakan manusia baik yang dimakan yang sudah memalui proses dengan dimasak ( yang mengalami pengolahan ) dengan yang dimakan langsung tanpa menlalui proses pengolahan memiliki makna tersendiri. Pemberian makna pada makanan oleh manusia selain untuk membedakan dengan mahluk hidup janglain juga sebagai suatu tahapan perkembangan akan proses kebiasaan manusia dalam berbudaya. Sehingga sebuah makanan memiliki makna tersendiri tentunya.
Makna makanan sendiri bagi manusia bisa di anggap dan dimaknai sebagai sebuah status social yang ada dalam setiap masyarakat, sebagai sebuah simbol terimakasih ( hal ini ada dalam dunia religi ) sebagai sebuah sarana konflik di beberapa masyarakat, sebagai sebuah pertentangan gender ( dalam palsafah jawa, laki-laki itu yang dipegang perutnya ) sebagai sebuah pencitraan gaya hidup di masyarakat modern. Dan hal tersebut pasti akan di jelaskan, hanya saja tidak sekarang.
Sebagai sebuah pembuka untuk menuliskan persoalan makan memakan ( makanan ) tulisan pembuka ini hanyalah sekedar sapaan saya saja. tnx
Sebagai sebuah konsekwensi dari kehidupan, sepertinya makanan adalah harga mati yang harus dilakukan. Konsekwensinya jelas bila sebagai sebuah mahluk hidup bila mengingkari akan makanan. Setiap makluk hidup pasti akan makan, baik binatang, tumbuhan atau manusia.
Dalam rantai makanan seperti pada pelajaran biologi waktu di sekolah pasti sebagian besar dirikita mengenali rantai makanan tersebut, sesama mahluk hidup saling memakan dan melibatkan mahluk hidup yang lainnya. Didalam klasifikasinya mahluk hidup terbagi pada tiga golongan dalam hal makan memakan. Pertama pemakan tumbuhan saja, kedua pemakan daging dan yang ketiga pemakan segala.
Sebagai manusia yang menjadi bagian dari mahluk hidup rata rata pemakan segala adalah hal yang biasa. Hanya saja kemudian persoalan perut ini tidak hanya sebatas isi perut saja, karena bagi manusia persoalan makanan tidak hanya selesai pada persoalan kenyangnya perut yang sudah terisi oleh makanan yang dimakannya. Lantas masalah apalagi yang muncul kemudian pada persoalan makanana yang dimakan manusia.
Makanan yang juga dimakan manusia baik yang dimakan yang sudah memalui proses dengan dimasak ( yang mengalami pengolahan ) dengan yang dimakan langsung tanpa menlalui proses pengolahan memiliki makna tersendiri. Pemberian makna pada makanan oleh manusia selain untuk membedakan dengan mahluk hidup janglain juga sebagai suatu tahapan perkembangan akan proses kebiasaan manusia dalam berbudaya. Sehingga sebuah makanan memiliki makna tersendiri tentunya.
Makna makanan sendiri bagi manusia bisa di anggap dan dimaknai sebagai sebuah status social yang ada dalam setiap masyarakat, sebagai sebuah simbol terimakasih ( hal ini ada dalam dunia religi ) sebagai sebuah sarana konflik di beberapa masyarakat, sebagai sebuah pertentangan gender ( dalam palsafah jawa, laki-laki itu yang dipegang perutnya ) sebagai sebuah pencitraan gaya hidup di masyarakat modern. Dan hal tersebut pasti akan di jelaskan, hanya saja tidak sekarang.
Sebagai sebuah pembuka untuk menuliskan persoalan makan memakan ( makanan ) tulisan pembuka ini hanyalah sekedar sapaan saya saja. tnx
Langganan:
Postingan (Atom)