Rabu, 24 Maret 2010

lainnya

pagi hari

Lantas, siapa yang sebenarnya menaburkan janji saat malam kembali. Padahal senja yang pergi masih saja bisa aku nikmati dalam kesendirian. Semua seperti menawarkan akan datangnya cahaya. Bukankah bulan yang punya kuasa akan jubah gelap yang melekat pada malam yang berujung kelam. Atau mungkin bintang yang menari yang akan lelapkan hati. Sehingga kita dibuatnya makin tak mengerti akan yang terjadi.
Sendiri kembali harus aku lewati malam sunyi. Taburan resah yang menjamah menjadikan kegelisahan ini seperti gairah yang harus segera tercurah. Sayangnya belum juga ada yang berani mendekat dan menjamah hingga mencurahkan keindahan. Otak kecilku berkata, “itulah adanya, keindahan yang mengalir dalam darah tak akan tercurah dan malam ini kembali tak akan kau dapatkan keindahan yang akan memanjakanmu saat kau terjaga”
Perlahan langit mulai mengitamkan malam, gelap seperti menjadi petanda. Akankah hujan akan kembali tiba dengan segera? Bukankah aku tak akan bisa menjaga untuk menggagalkan sesuatu yang akan segera tiba. Tidak ada yang bisa. bahkan sang pencipta, seperti tak punya kuasa untuk menggagalkan sesuatu hal yang sudah ia cipta dan ia percaya untuk mengelola alam semesta.
Untungnya semesta yang dipercaya mengatur dunia. Sehingga menjadikan manusia tak mampu menghadapinya, bahkan menaklukannya.
Yang sudah ia cipta yang dapat menjadikan segala sesuatu menjadi “ada” dan yang menjadi pembeda adalah rupa dari nama. Seperti halnya adam yang diciptakan dan hawa dijadikan dari bentuk dan unsur yang sama. Pada bagian bagian tertentu pemisahan antara yang diciptakan dan yang dijadikan terkadang saling menaklukan dan melumpuhkan. itu semata untuk menadapatkan satu kepuasan yang akan membawa pada perasaan dan mengekalkan keegoan.
Di balik semua kejadian, ada kesendirian yang tak akan pernah bisa mendapatkan segala yang di inginkan. Bukan semata karena banyaknya penghalang dari yang sudah ditentukan. Tetapi terkadang ketidak-mampuan dan ketidak-tahuan akan jalan untuk mendapatkan sering menjadikan segala yang diinginkan hanya menjadi sebuah harapan yang pernah diinginkan tapi tak pernah didapatkan. Lantas apalagi yang musti dilakukan, bukankan sebenarnya hanya cara untuk mati yang kita perlukan. Supaya keindahan akan hidup bias kita rasakan.
Adanya pilihan merupakan sebuah perselingkuhan akan kesetiaan. Supaya keindahan disisi lain yang tak pernah kita perlukan bisa juga kita rasakan. Hal itu ada Semata hanya membawa dan menghantarkan kita pada kesempurnaan hidup di dunia. Saat semuanya tiba, disana kita akan bertanya dengan siapa kita tiba. Apa dengan bekal baju yang sama atau hanya dengan telanjang dada supaya kita bisa langsung merasakan curahan cinta dari sang pencipta.
Sayangna perselingkuhan tidak pernah menjadi sebuah kebutuhan, sementara seksetiaan yang tidak pernah ada dihadapan tak juga didapatkan. Hanya sebatas kebodohan makin menjadikan perangkap-perangkap dirasakan sangat dekat. Kesetiaan yang lama di beritakan tak pernah bisa kita temukan. Haruskah kita tetap berkerashati mencari sesuatu hal yang takernah aku kenali. Lebih baik memang, bila kita mencari sesuatu hal yang belum kita temui dari pada kita mencari hal hal yang sudah di lewati. Sayangnya kita hanya berdiam diri melihat keadaan yang dirasakan saat ini yang sangat menyakitkan.

Tidak ada komentar: