Senin, 23 Agustus 2010

lainnya

Jika merdeka nanti (he he..kenapa musti nanti yah)
Sudah 65 tahun pernyataan kemerdekaan Negara kita dinyatakan, udah lebih 65 tahun lagu kebangsaan Indonesia dikumandangkan. Begitu juga bendera Negara kita, sudah lama dikibarkan. Lantas apakah memang kenyataannya kita sudah merdeka? Merdeka dari diri kita, merdeka dari para penindas yang selalu mengancam keberadaan diri ini? Apakah kita hanya terdiam jika ancaman itu datang. Ataukah kita malah berbalik lari dan pergi meninggalkan ancaman yang menghadang. Sepertinya genrasi kita nggak pernah dididik untuk bersikap demikian, dan nggk juga dididik untuk menjadi generasi yang pengecut. Sebuah generasi yang hanya bisa bersembunyi dan berlari meninggalkan yang terjadi.
Untungna kita sebagai generasi bangsa, tidak lagi merasakan. Bagaimana hadangan senjata yang selalu mengancam. Kita juga nggak pernah merasakan bagaimana hadangan bayonet yang sewaktu waktu bisa merobek dan mencabik tubuh kita. Dan kita sedikitpun tidak pernah merasakan benar bahaya di depan mata yang selalu mengancam nyawa kita jika kita lengah barang sedikitpun. Kita tidak pernah merasakan panasnya peluru yang menembus tubuh kita. Dan kita tidak pernah berhadapan langsung dengan bahaya yang nyata dihadapan kita.
Kita sudah merdeka. Begitu kata negarawan dan para pahlawan yang sduah memerdekakan bangsa. Lantas apa yang harusnya kita perbuat dalam hidup ini. Apakah kita hanya akan memikirkan diri sendiri, memikirkan golongan dan kelompok sendiri, memikirkan ke egoaan yang besar dalam diri atau apa….? Apa yang harus kita perbuat.
Untung saja mereka yang berjuang memerdekakan bangsa ini nggak hidup di jaman sekarang. Jika saja mereka hidup kira-kira bagaimana perasaan mereka melihat kelakuan anak cucunya yang masih diperbudak oleh keinginan dan keakuannya.. diperbudak oleh nafsunya, yang sudah seperti fir’aun yang bangga dengan kekuasaanya Tapi takut akan ancaman kebaikan yang dihadapinya. Merasa diri paling benar, merasa egonya paling bijaksana dan paling mengabdi pada Negara dengan segala rencana rencana pembangunannya. Sementara disisi lain, hanya melantarkan dan membuat penderitaan hati rakyat semakin dalam.
Jika harus ada yang jadi korban dan dikorbankan, kenapa musti rakyat yang menanggung beban. Kepada siapakah sebenarnya para pemimpin yang berdiri, di garis depan yang mengatasnamakan Negara ini bertanggung jawab. Bukankah akhirnya untuk kesejahteraan rakyatnya. Lantas kenapa musti pencitraan yang di bangun agar seluruh dunia terkesan akan keadaan bangsa ini. Bangsa yang baik, bangsa yang bersahaja, bangsa yang masih untung tidak di rong-rong oleh sebagian besar yang rakyatnya terkapar karena merasakan lapar. Bangsa yang masih diuntungkan oleh rakyatnya yang memilih diam dan menerima ketidak-adilan akan para penguasan dalam memperlakukannya.
Apa yang sebenarnya yang dituju oleh bangsa ini saat dahulu memerdekakan diri dari penjajah. Bukankah tujuan itu harus jelas, bukankah tujuan itu adalah realita yang harus kita jelmakan dari sederetan kata-kata seperti yang tertuang dalam undang undang dasar Negara kita dan pancasila. Bukankan tujuan dimerdekakan bangsa ini agar seluruh rakyatnya bisa mencapai kesejahteraan dan bisa diberikan waktu untuk memanusiakan manusia. Ataukah tujuannya merdeka itu hanya sebatas tidak ada lagi penindasan sebagaimana yang diucapkan oleh para pejuang yang memberikan nyawanya supaya anak cucu mereka tidak meraskan hal yang sama, sebagaimana yang sudah dirasakan oleh mereka. Dengan tidak memikirkan kemana arah tujuan…..
Ah..sudah lah, terlalu berat jika harus menyuarakan tentang kegundahaan hati bila melihat keadaan bangsa.. mending ngopi aja dulu ah….wkwkkkk absurd banget…hufz

Tidak ada komentar: