Senin, 01 Juni 2009

lainnya

keperwanan itu

April dipertengahan bulan
(saat seorang gadis, sudah teryakinkan)
Seorang perempuan muda pada beberapa hari lalu bertanya padaku tentang virginitas, aneh…sungguh aneh, padahal dia tau klo aku tuh cwo yang mau jadi laki-laki sebelom jadi pria. kok malah nanya soal seperti itu ke aku yah. Nggak di jawab, dia minta jawaban, mau di jawab aku juga nggak ngerti bener soal seperti itu. Akhirnya jawabanpun sekenanya saja, untungnya mulut ini nggak ragu untuk berbicara. Pikirku tuh cwe yang dah mau nyerahin diri, ternyata cwonya yang ngajakin dan dia kebingungan. Mungkin dia tau kali yah, klo nggak di kasih pasti hubungan mereka akan bubar padahal di sisi lain dia merasa sayang bangat ama tuh cwo, tapi dia sendiri ingin menjaga virginitasnya.
Wacana virginitas untuk saat ini bukanlah sebagai salah satu hal yang banyak di amini oleh sebagian perempuan muda. Virginitas tentu bukan sesuatu hal yang berharga untuk tetap dipertahankan sampai waktunya tiba. Mungkin wacana ini sebenarnya hanyalah wacana biasa untuk dijadikan pagar bagi para perempuan selain adanya norma dan aturan lainnya yang tersebar di masyarakat. Wacana tersbut tentunya dihembuskan hanya semata untuk membatasi kebutuhan biologis seseorang. Atau entah apalah maksudnya dengan istilah virginitas tersebut, bingung ngejelasin soal istilah.
Untungnya menjadi orang yang nggak tau dan di suruh memberi saran pula akan hal ini sudah barang tentu tak memiliki beban apapun dalam berbicara. Dengan entengnya ini mulut memberikan pertimbangan lain kepada orang yang meminta saran. Dan anehnya, dia juga meng iya kan. Hingga sampai saat ini, pernyataan dia ke aku nggak jadi melakukannya. Mungkin juga tuh cwonya gondok kali ya, saat di pinta bercinta oleh si cowonya nggak di kasih ama si cwe.
Akhirnya aku merasa nggak enak hati juga yah ama tuh cowo. Apa lagi aku seorang cwo. Tapi tak apalah biar di kira aku nyetanin seetan sekalipun aku pasti terima. masalahnya jelas aku setanin mereka, orang aku sendiripun mau pacaran masih nggak boleh. Heuh…sebuah permintaan saran kepada orang yang salah dan nggak di dukung lagi kan. Wek wek wek….kapok malah nggak jadi bercinta.
Karena kejadian itu, akhirnya aku bertanya-tanya dan berpikir. Lantas seberapa besar sih virginitas klo di hargain? Apakah hanya dengan jadian trus pacaran kemudian sesorang dapat memberikan segalanya. Apakah virginitas itu sebanding dengan kata kata cinta, kata sayang, kaulah bungaku, kaulah yang terindah, dan tek tek bngek lainnya. setelah itu seseorang dapat menyerahkan keperawanannya? Wew…enak bener ya, setelah diberikan trus di tinggalin he he he….syukurin, kapok, mampus dah. Apakah virginitas juga sebanding dengan besarnya rasa cinta yang diberikan oleh sepasang manusia? Lantas apa jaminannya klo hanya hal tersebut berbanding dengan nilai virginitas. toh dalam kenyataanya kata kata tersebut nggak bisa dijadikan jaminan buat seseorang agar bisa melanjutkan hubungan ke wilayah lainnya. Bukankah dalam kenyataannya kata kata indah tersebut malah berbanding dengan rasa sakit hati setelah semua pergi.
Orang pacaran di jaman sekarang emang ada hubungannya yah antara pacaran dengan bercinta? Nggak harus ada hubungannya kan. Walaupun ada apakah keterhubungan tersebut sifatnya mutlak? Nggak juga kan. Untungnya, baik melakukan hal yang baik atau nggak baik pastinya punya konsekwensi masing masing dan membutuhkan pengorbanan. Entah korbannya sakit hati saat kita menghidarinya karena pasti setelah itu akan putus, karena dianggap nggak cinta. Dan melakukannyapun sebenarnya nggak ngejamin seseorang akan setia kepada pasangannya yang mengatasnamakan cinta, kesetiaan, ketulusan dan berbagai istilah yang memanjakan ato mengikat.
Ok kita kembali lagi ke bahasan awal, tentang cerita temanku. Hubungan mereka adalah hubungan beda agama. setahu aku, hubungan seperti itu dalam kenyataannya banyak sekali orang yang nggak berhasil untuk menjalankan dan melewati rintangan tersebut. Mungkin ini kunci yang aku gunakan biar dikata aku di anggap nyetanin setan. Wekkwkwkwk… Dan saranku pada si cwe pertama gimana klo harga keperawanannya di bayar dengan pengorbanan diri si cwo untuk pindah keyakinan, trus mengasih kabar pada keluarga dan kerabatnya klo dia udah pindah keyakinan. Kayanya harga virginitas dengan hal itu sebanding yah. Tapi entaran dulu. Klo misalkan nggak mau di uji kaya gitu, kan jelas yah jawaban dan sifatnya tuh cwo.
nah Klo misalkan dia mau, bukan berarti kita harus memberikan virginitas begitu aja kan karena itu belom cukup. Sekarang begini, logikanya jika seorang berani pindah keyakinan hanya karena menginginkan melakukan hubungan seperti itu, berarti secara nggak langsung orang tersebut bisa saja malah menyakiti pasangannya. Orang keyakinan yang di doktrin dari kecil aja sudah ia langgar dan di langkahi. Nggak menutup kemungkinan klo dia juga akan menghianati seorang perempuan. Karena diri seseorang nggak akan berbanding dengan yang diyakininya. Masih belom ada jaminannya kan he he he…jadi jangan dulu di beriin deh tuh. Kita uji lagi dengan tahap selanjutnya. Kira-kira dah berapa lama sih kita pertahanin virginitas kita. Klo misalkan dia mau untuk menebus waktu yang di korbanin si cewe berarti menidangan nikah aja langsung. Karena aku yakin tuh cwo bener-bener serius. Dan pastinya dia baik. Jangan sia-siain lagi lah. Susah nyarinya he he he….sayangnya tuh cewek malah berkata, aku dah terlanjur sayang ama dia, aku takut untuk sendiri, dan aku nggak mau sakit hati.
Ehem…manis sekali.
Mendengar pernyataan itu, ternyata aku hanya bisa terdiam. Dalam hatiku berkata..hehe sayangnya dengan berduapun belum tentu kita berani untuk menghadapi kehidupan. Kemudian aku hanya berpesan, jangan pernah sakit hati akan apapun yang terjadi. Semoga semua akan baik saja dan kau bisa nikmati, apa yang seharusnya kau nikmati karena kalian yang sedang menjalin hubungan.
Gila…prihatin dan miris juga ngedengernya (he he he sok suci bener ya)
Tapi, yah seperti itulah terkadang manusia. Ngerecokin sebuah hubungan yang harusnya aku sendiri bisa sadar dan tau diri akan wilayah mana aja sih yang nggak boleh dilakuian. Jadi nggak enak body juga sih sebenernya, tapi kan konyolnya cwe tersebut minta saran ke aku. Padahalkan mereka yang ngejalanin, mereka yang rasain, mereka yang lakuin. Ngapain juga minta saran ke aku, harusnya kan enak yah. Saat ingin bercinta, trus orang yang kita cinta itu ada. Weh..weh..weh…Sempurna benerkan tuh waktu yang di lewati. Sayangnya belom juga terjadi, mungkin mereka nggak berani kali ya. He he he…
==== ***====
30 mei 09 dini hari jam 01:15 pagi, tlpon selularku berbunyi, seorang cewek kembali menyapaku dengan nada yang agak berat. Seperti ia sendiri nggak tau apa yang musti diucapkan dan diutarakan kepadaku. Aku hanya coba meraba-raba pembicaraan dari ketidak jelasana (tentunya dengan gaya sok tau, kan beda tipis tuh yah ama orang cerdas). Sebuah ungkapan menyesalah yang dirasakan dengan sangat berat yang membuat kesimpulan dalam diriku. Semua sudah terjadi, dan janji menjaga keperawanan sudah di ingkari.
Yah itulah akhirnya…dan aku sendiripun sadar, klo aku bukan seorang malaikat penjaga yang selalu ada mengingatkan segala hal yang dilakukan oleh sepasang manusia. Sebuah harga yang pantas untuk didapatkan, yah… rasa sesak, dari suara tangis yang terisak. Sakit hati ini harus dialami dan di jalani. Kekecewaan itu tak akan bisa kita ingkari. Seperti kesia-siaan saja selama ini aku mengingatkan, supaya kau tidak melakukan hal itu dan slalu konsisten untuk menjaganya.
Harga keperawanan harus di bayar dengan sakit hati, sebuah penyesalan yang tak akan pernah bisa dilupakan (semoga itu pantas dan layak). Mungkin benar apa yang dikatakan orang : sakit dari awal akan lebih baik bila kita harus sakit di kemudian. Bukan bermaksud untuk membandingkan, karena memang hal ini tidak untuk dibandingkan. Maslahnya hanya ada pada kejadian yang akan terjadi pada awal perjalanan atau di waktu kemudian saat menjalankan. Toh keduanya sama-sama sakit, mungkin jelasnya mencari cara untuk menyakiti hati sendiri atau mungkin juga hanya menunda untuk di sakiti.
Gilaa, dah cape-cape ngingetin, ternyata nggak di denger juga. Dan sekarang, sampe termewek-mewek deh (semoga nggak memanggap kejadian ini sebagai kejadian yang merugikan). Udah sakit hati karena di tinggalin ama tuh cowoknya, musti pake acara kehilangan nilai keperawanan pula kan…weh weh weh…coba klo dari dulu mau bersikapnya, walaupun sakit hati karena kita menyakiti seseorang. paling nggak, kita sudah menjaga sebuah keperawanan yang dimliki. Mungkin itu sebentuk konsistensi menjaga janji dalam diri yang sudah di jalani. tinggal uring-uringannya doang dah, minta saran ke aku yah gimana bisa ngasih saran. Orang semua udah kejadian.!
Gilaa..sakit bener ngedengernya… nyesek... Walau kita sadar, pilihan untuk melakukan akan sebanding dengan pilihan untuk mengingkari. Hanya saja yang membuat aku heran kok lebih memilih melakukan, bukankah daya untuk mengatakan tidak itu sebenarnya jaga sama. Tapi yah sudahlah….yang musti sekarang kita pikirkan hanya mencari solusi, untuk menjawab ketakutan-ketakutan yang kau rasakan.
Mencoba mencari solusi, agar perasaan menyesal bisa segera di lewati. Sebab bagaimanapun juga kehidupan ini akan terus berlanjut. Masalah keperawanan hanya sebatas satu titik diantara banyak titik dalam kehidupan. Sangat nggak logis bila masalah satu titik itu akan merembet pada titik titik yang lain dan kita hanya membiarkan kehancuran dan membuat terpuruk. Biarlah masalah keperawanan di batasi oleh keperawanan itu sendiri dengan segala pengingkarannya.
Yang pasti, hari kan berganti seperti mentari yang kembali ini pagi. Sebuah kejadian yang di lewati baik dipikirkan ataupun tidak, semuanya nggak bakalana bisa merubah kejadian itu. Kita bukan budak dari masa lalu, juga bukan pemuja masa depan. Terlalu berharga waktu saat ini bila harus kita tukarkan dengan perasaan luka yang sudah lewat. Anggaplah itu sebagai sebuah kekalahan dari ketidak-mampuan diri kita yang tak pernah bisa kita ingkari.
Coba berkompromilah dengan diri. Mulai belajarlah untuk menerima sebuah kejadian agar kita bisa dengan senyuman melewati kejadian itu. Santé saja, soal keperawanan tak akan lagi menjadi beban saat kau melakukannya lagi untuk yang kesekian kali walau dengan orang yang beda sekalipun. walaupun ada rasa sakit hati, toh hanya sebatas dihianati karena ditinggalkan dan kau akan menganggap semua laki-laki emang bajingan (kalo kata cwe yang di sakiti, klo cowo yang di hianati pasti ngomongnya emang cewek berengsek).
Tak ada yang musti disalahkan dari sebuah kejadian. Semua kehendak dari kehidupan, seolah kita sendiri terjebak dalam teka-tekinya. Kita hanya bisa sebatas mengalihkan perasaan serta dampak dari sebuah kejadian. Yang akan terjadi nggak akan pernah bisa dikompromikan, ia akan menimpa siapapun. Ia tak akan pernah memilah dan memilih seseorang yang layak untuk di terjang oleh kejadian. Semua tak akan pernah bisa menghindar, tak akan ada yang bisa sembunyi atau melarikan diri. Saat sesuatu akan terjadi siap tidak siapnya diri kejadian itu harus di lalui. Cuman klo misalkan kejadiannya nggak kita sukai siap-siap ngeles aja kali ya..he he he walaupun kena, kan nggak parah yah, paling cuman nyeseg di jantung.
Untungnya kejadian ini sering terjadi pada setaip generasi, bahkan sepertinya hal ini sudah terjadi sebelum aku jadi…yah sudahlah, malah repot ngurusin maslah orang lain, kaya aku nggak punya urusan aja yah….ngeberesin kuliah aja nggak beres-beres. piuhh…

Tidak ada komentar: