Serat seret
Sebuah catatan awal yang belum rampung
Tak tahu dimana asalnya, dan tak tahu awalnya. Semua terjadi seperti sudah semestinya.
Tak sadar akan kelahirannya, tak paham dengan yang mengandungnya
Semua dirasakan ada. Dan seperti adanya.
Terjebak di jajaran hari, tersesat di runtutan waktu.
Seperti seorang ibu yang tak ragu melahirkan tubuhku.
Sementara yang mengandung sang aku belum juga aku tau.
Saat aku mulai mencoba berdiri. Dan memberi arti dari yang terjadi
Ada tradisi yang mengajarkan aku cara untuk menghadapi yang teradi.
Bahkan tradisi juga yang mengajarkan aku cara untuk pergi.
Diantara jajaran hari dan runtutan waktu
Ada ruang pengantara yang bisa manjakan perjalanan
Lalu malam yang akan mengajarkan kita untuk terdiam dan menanyakan
“apa yang sudah kita lakukan dan kita dapatkan dari yang kita kerjakan tadi siang”
Lantas…
Apa yang nanti akan kau berikan
Segudang janji atau sepenggal mimpi.
Sayangnya belum ada yang memastikan dan menjelaskan dengan cara apa manusia pertama di ciptakan, lalu dijadikannya hawa sebagai pasangan.
Sang pencipta menciptakan,
Lantas siapa yang menjadikan.?
Seperti ada yang masih di rahasiakan. Dengan cara apa adam di jadikan.
Apakah semesta yang melakukan sebagai salah satu wujud tanggung jawab atas ketentuan yang sudah di tetapkan.
Alam yang di ciptakan, menjadikan serbagai macam kehidupan sesuai dengan lingkungan dan caranya.
Lantas….
Seperti apakah proses kelahirannya?
Adam pertama di ciptakan dari empat unsur sifat hidup.
Lalu hawa dijadikan sebagai pasangan dari unsure yang sama.
Sayangnya mereka tak menemukan sebuah alasan kenapa ia memakan buah larangan
Hingga ia harus dikeluarkan dari keagungan.
Masihkan kau akan mencai jalan menuju keabadian. Jika adam yang pertama diciptakan justru dikeluakan karena hukuman.
Meski ada tanah yang dijanjikan
Apakah ia akan menyediakan satu tempat disana bagi orang orang yang menginginkannya.
Tak ada tempat di surga bagi orang yang berharap akan surga.
Masih tersimpan warna di balik cahaya sebagai sebuah petanda kehadiran sang ada.
Saat mata ini terjaga, disana kau melihat karena cahaya yang tiba.
Kekasihku….
Ajari aku agar tak ragu untuk menyerahkan diriku.
Kekasihku…
Aku tak akan datang padamu, jika wajahku selalu menatap kebelakang.
Aku tak akan dating kepadamu dengan mebelakangimu.
Kekasihku…
Segala yang terjadi tak akan pernah bisa aku hindari. semua aku harus hadapi dan aku lalui walau terkadang harus melukai hati.
Apakah semua akan tetap bertahan, jika keyakinan sudah dijadikan pikajan.
Apalah arti jika aku mengenali diri, sementara yang terberi tak lagi menyimpan arti.
Kekasihku…
Seertinya mati yang aku nanti. Agar satu saat nanti aku bisa bersandar pada satu sisi pulau sepi. Biar sendiri. Sebab disana aku bisa menari bersama hari tanpa mentari bahkan tanpa malam hari. Semoga disana aku dapat mengerti klo aku terlahir seorang diri dalam dunia yang sepi. Dunia tanpa hari dan matahari.
Kekasihku…
Ajari aku dalam menjalani hidup
Genggam tanganku dan tuntun aku agar tak ragu
Walau keyakinan telah aku simpan di hadapan
Kekasihku…
Aku tak menemukan alasan kenapa aku harus melupakanmu.
Sebab aku tak akan pernah bisa berlari bersembunyi.
Menghindari yang terjadi, tak ada tempat bersebunyi maka tak lagi ada rasa takut di hati untuk menghadapi…
Kekasihku…
Ada yang tersesat di dalam diri karena tak bisa mengenali.
Siapa yang mencari siapa.
Aku yang kau ingin temui, aku yang ingin kau kenali. Aku yang selalu berada dibalik apa yang sudah kau cipta. Tapi kau lupa jika aku tak pernah ada menjelma nyata.
Hanya nama yang menunjukan rupa. Aku ada dalam ada, aku menjelma dalam pernyataan. Aku tiada dan dipaksa ada hanya semata menjadi penyempurna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar