Senin, 12 April 2010

lainnya

Cinta melulu….

Sang pencipta menitipkan perasaan dalam diri ini, salah satunya rasa untuk menyayangi dan mencintai untuk disebarkan di muka bumi. Dalam persoalan cinta dan kasih yang terlalu umum ini, pastinya kita tidak akan membagi dan memberikan karunia sang pencipta itu kita berikan pada hal yang kita inginkan. Pada logikanya mengenai persoalana ini, cinta yang utuh ini harus kita bagikan kepada siapapun dan kepada apapun. Bukan hanya kepada manusia atau orang yang kita cinta, pada semesta, pada alam raya, pada dirikita bahkan yang utama pada sang pencipta itu sendiri.
Begitu luas dan beragamnya makna cinta bila kita beri arti, terkadang menjadikan dirikita enggan untuk membatasi arti dari kata cinta tersebut. Ada yang menganggap dengan mengartikan sebuah kata, secara tidak langusng, kita sudah membatasi hal yang tak seharusnya tak berbatas. Itu mungkin anggapan kita yang mencoba memilih membiarkan cinta itu yang akan membatasi ruangnya. Sementara bagi orang-orang yang membatasi istilah cinta dengan memberikan arti menganggap karena ketidak mampuan kita mengarungi samudera cinta, maka batas yang kita sediakan akan memberikan satu sarah pada diri kita agar memperhatikan hal lain juga, sebab tidak hanya persoalan cinta yang melebihi luasnya samudera yang ada dalam kehidupan ini. Toh pada kenyataanya kita juga harus menanggalkan cinta yang begitu agung saat kita bersujud.
Untuk mengarungi luasnya samudra yang ada dalam diri kita, dibatasi atau tidak dibatasi itu semua kembali kepada dirikita. Yang meresahkan pikiran kemudian, bila kita kembali memikirkan rasa cinta itu dengan melihat realita yang ada, maka apakah agungnya cinta yang dititipkan hanya akan kita gunakan untuk sesekali bertahan.? Saat kita sendiri sudah teryakinkan oleh sebuah ikatan yang dinyatakan. Lantas kepada siapakah perasaan bahagia itu harus kita bagi, kepada orang yang kita cintai atau kepada orang yang mencntai kita?
Bila kita mencoba melihat pada realitas masyarakat. Sebagian besar masyarakat lebih memilih membagikan cintanya kepada orang yang kita cinta. Sesekali masarakat lebih memilih sakit ketimbang mencoba memilih kebahagiaan. Yang menyebabkan hal ini, logikanya sederhana. Ada beberpa poin yang utama kenapa manusia lebih memilih bertahan dengan rasa sakitnya. Pertama : cinta yang ada dalam diri kita bertumpu pada keinginan kita. Kita lebih tertarik untuk mengejar dan menaklukan orang yang kita inginkan ketimbang orang yang menginginkan kita. Hal itu memang sangat wajar terjadi. Padahal bila kita pikirkan lagi, orang yang mencintai dan mengejar cintanya akan lebih banyak mengorbankan apapun yang ada dalam diri kita, tidak hanya waktu, tapi juga hati kita bahkan hargadiri kita harus siap dipermalukan dan direndahkan.
Sayangnya persoalan cinta memang begitu adanya, kita lebih berani untuk menyakiti orang yang mencintaikita dan mencampakannya, disisi lain diri kita sendiri memang sudah siap untuk dicampakan oleh orang yang kita cinta. Lantas, kapan cinta itu akan bertemu. Bukankah masih ada keindahan cinta yang harus kita nikmati ketimbang merasakan sakitnya berkorban, memang keindahan itu akan lebih indah saat kita merasakan rasa sakit sebagai awalnya ketimbang langsung merasakan rasa manis awalnya dan pahit akhirnya. Tapi lebih baik tidak ada awal atau akhir tapi manis merasakan adanya cinta.
Yang kedua : Tantangan. Yah, manusia kadang merasa lebih tertantang untuk mendapatkan serta meraih apa yang sudah diinginkan Ketimbang menerima tantangan untuk orang yang mencintai diri kita. Orang orang terkesan merasakan sebuah kenyamanan saat andrenalinnya terus dipacu untuk memikirkan serta membuat diri kita selalu khawatir akan seseorang yang menjadi pujaan kita. Anehnya hal ini bukan hanya terjadi pada remaja saja, tapi pada orang dewasa juga. Mungkin saja cara orang yang kita cinta yang tidak bisa di mengerti kita, mungkin juga karena susah ditundukannya orang yang kita cinta sehingga akan membuat diri kita bangga saat kita bisa menaklukannya. Sayangnya cinta tidak pernah penjajahan dan penaklukan.
Pada dasarnya mencintai atau di cintai sama saja, sebab dua hal tersebut tak bisa dibandingkan antara satu dengan yang lainnya. Masing-masing punya ruangan dan nilainya sendiri-sendiri serta suasananya sendiri yang tak akan pernah sama bila dibandingkan. Mencintai terkadang lebih banyak disakiti, lebih banyak memberi tanpa memikirkan apa yang sudah kita dapatkan, sebab mencintai adalah pengabdian diri kita untuk beajar merelakan perasaan kita untuk diperlakukan bagaimanapun. Begitu juga dengan dicintai, tidak menutup kemungkinan juga pada orang yang mencintai kita bisa membuat diri kita disakiti hingga terluka juga hati kita. Lantas..? mendingan tidur aja ahhh…..

Tidak ada komentar: