Tampilkan postingan dengan label religi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label religi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 September 2011

religi

belajar bersabar
Belajar cara untuk mengerti, memahami dan kemudian mencoba mengaflikasikannya kedalam realitas diri. Mungkin kalimat seperti itu yang aku rasa tepat yang bisa di gunakan untuk mewalili kegundahan pikiranku saat ini. Kegundahan yang normal dan normaif sebenarnya saat di selah selah waktu yang sebagian besar luang, akhirnya ak coba gunakan dan mengisinya dengan melihat dan memikirkan fenomena sosial manusia saat ini. Entah harus melihanya dari sisi yang sebelah mana harus aku mulai menuliskannya. Yang pasti apa yang pernah ak lihat dan apa yang pernah dipikirkan sudah membuat kegundahan ini makin dirasa meresahkan.
Menuliskan tentang manusia mungkin saja terlalu luas bila ak harus jelaskan. Entah harus dengan menggunakan ukurang apa hingga ak bisa menyatakan luas. Tapi, mungkin saja hal itu aku gunakan karena ketidak mampuan aku untuk menjelaskan dengan sebagaimana mestinya.
Akhirnya aku mulai ingat akan apa yang ingin aku tuliskan. Yakni mengenai kalimat pernyataan di dalam ajaran Islam yakni ; “manusia itu adalah mahluk yang paling mulia yang di ciptakan oleh Tuhan bila di bandingkan dengan mahluk lainnya” entah dari sisi yang mana , kemuliaan/mulianya manusia itu berada. Karena bila kita lihat dari fenomena realitas sosial masyarakat pada saat ini. Benarkah sudah mencerminkan akan kemuliaan sesosok mahluk yang bernama manusia? Benarkan apa yang sudah dilakukan merupakan cerminan yang seharusnya manusia lakukan. Benarkan semua prilaku yang keluar dari sosok tubuh yang ada adalah prilaku dari manusia sebenarnya.? Lantas bagaimana idealnya manusia agar bisa berprilaku sesuai dengan kodratnya sebagai manusia, yang berpegang pada ajaran islam?
Bangsa indonesia ini di huni oleh mayoritas penduduknya memeluk ajaran islam, tapi coba kita lihat dalam kenyataannya. Mulai dari para pengelola Negara sampai pada rakyat jelata hampir semuanya memiliki peranan dengan mengarah pada kegagalan untuk menjadi sosok manusia seutuhnya menurut ajaran islam. Koroptor, para mafia dalam pemerintahan, pencuri, pemabuk, penjudi, penipu dan bahkan para pelacur yang mengisi komplek komplek prostitusi, pada umumnya bila kita lihat identitas di KTP rata rata mereka meyakini islam sebagai agamanya. Tapi apakah seperti itu sangat sesuai dengan etika manusia yang menjadikan islam sebagai agamanya. Bahkan tidak sedikit pula orang-orang berjanggut panjang, berjubah dan mengidentikan diri pada keislaman. Serta tidak sedikit pula para pemuka agama yang paham dan pintar memaknai lafad-lafad kitab suci yang tertulis nyata. Tapi tidak paham benar akan siapa dirinya dan dimana wilayahnya yang terjebak dan terbawa nafsunya.
Bagi ak sendiri meyakini Islam tak pernah mengajarkan mahluk yang bernama manusia mengajarkan untuk menjadi hal yang dipaparkan di atas. Walaupun tidak menutup kemungkinan jika hal itu sudah menyangkit dengan kehendak sang esa. Karena bagaimanapun juga, yang esa masih memerlukan manusia untuk di jadikan contoh ketidak baikan bagi manusia dengan menggunakan manusia agar sesuai dengan kehendak yang esa. Walaupun dengan pengecualian orang yang di jadikan contoh ketidak baiakan memiliki kesadaran akan kehendaknya yang esa, atau mungkin dia memang di butakan akan hal ketuhanan. Hanya saja walau sosok manusia itu sadar akan kehendaknya yang esa lantas yang menjadi pertanyaan kemudian seberapa besar seseorang mampu menerima dan diperlakukan demikian. Dan pasti pembahasannya akan menjadi lain bila harus di sangkutkan ke hal ketuhanan. Tapi bagi aku hal ini merupakan hal wajar juga sebagai bahan perenungan diri kita.
Memang sangat disayangkan, karena sesuatu hal yang sudah dinyatakan tapi kita tak mampu mempertanggung-jawabkannya. Memang pada dasarnya kita tak memiliki kemampuan apapun jika bukan karena ijin yang Esa. Kita tak mampu melakukan apapun.
Sayangnya yang bersemayam dalam sosok tubuh ini bukan cuman manusia, tapi para malaikat dan para iblis yang tercermin dalam sifatnya, yakni setan. Tidak mudah memang, akan tetapi tidak juga merupakan hal yang sulit, jika kita mulai belajar berproses agar bisa menjadi manusia seutuhnya. Pertenangan demi pertentangan yang ada di dalam diri seperti menjadi hal yang biasa, hingga akhirnya hanya menimbulkan pembenaran demi pembenaran akan apa yang sudah dilakukan. Entah pembenaran yang kita gunakan merupakan pembenaran yang keluar dari kebenaran atau pembenaran yang kita gunakan untuk menutupi ke Ego an.
Memang butuh waktu yang harus kita luangkan untuk memahami benar akan sifat manusia yang sebenarnya. Mungkin itu hal biasa dan bukan merupakan hal yang bisa menarik hati kita. Bahkan jika saja aku berhak menilainya. Bagi aku prilaku manusia saat ini hanya berbatas pada keegoan untuk menutupi kepicikan-kepicikan yang tersembunyi di dalamnya. Mungkin hal ini sangatlah konyol, bahkan pernyataan yang tidak punya dasar apapun. Tapi sesekali coba kita lihat keadaan sebenarnya : dalam realitas sosial yang ada saat ini sebagian besar manusia hanya mengharapkan hal yang menguntungkan bagi stiap individu, bukankah disisi lain kita sudah mengingkari realitas yang lain. Yang di dalam kenyataannya dualism kehidupan tidak bisa terlepas dari manusia itu sendiri.
Dalam bagian yang lain, coba kita lihat di sekitar kita. Dan rata rata setiap manusia menginginkan hidup sennang, kaya raya, punya pendamiping hidup yang sangat mencintai dan menyayangi tampan/cantik di tambah penurut. Ingin melakukan hal apapun yang diinginkan sebebas bebasnya tanpa batas.mati tidak di siksa di hari akhir di masukan ke surga. Memang indah sempurna sekali. Tapi apakah itu mungkin.? Memang tidak ada hal yang tidak mungkin bagi pemilik semesta ini, tapi sayangnya kita masih berwujud manusia.
Kadang kita tidak bijak memperlakukan diri kita. Tanpa sadari kita hanya mengklaim sesuatu yang sebenarnya bukan milik kita. Kita seolah baik dengan cara mengasihi dan saling berbagi padahal nyata nyata yang meberi itu sebenarnya bukan kita tapi tangan kita. Kita solah perhatian dan menyayangi sesame mahluk yang sedang terluka. Padahal nyata-nyata bahwa kasih yang Esa tak akan pernah kekurangan untuk menyayangi mahluknya yang sedang terluka atau bersedih. Tanpa kita sadari kita di dorong oleh para iblis bahwa semua yang dilakukan karena kebaikan diri kita.
Tidak sedikit wilayah yang bukan wilayah kita. Kita gunakan untuk kepentingan dan pemenuhan nafsu dalam diri. Bahkan terkadang kita tidak segan memerintah yang Esa untuk mengikuti ingin dan nafsunya kita. Memang pada dasarnya Ia lah tempat dimana semua mahluk bergantung, Ia pemilik alam semesta dan kepadanyalah kita hanya di haruskan meminta segalapertolongan. Tapi sayangna kita tidak pernah tahu bagaimana cara meminta yang sesuai dengan kehendaknya dia, atau mungkin kita sebenarnya yang tak mengenal siapa yang sudah menciptakan kita. Sehingga sifat manusiawi yang dijadikan pembenaran untuk menutupi kebodohan kita yang sebenarnya.
Kadang aku sempat juga berpikiran dengan mempertanyyakan kenapa manusia di perintahkan untuk beribadah oleh yang Esa. Tapi disisi lain memang belum paham juga apakah mahluk lain selain manusia di perintahkanjuga untuk beribadah secara langsung oleh Tuhan. Sebagaimana perintah ibadah itu jelas seperti yang di kisahkan oleh para utusan di bumi dalam pewahyuan.
Salah satu alasan yang paling memungkinkan kenapa manusia di perintah untuk beribadah karena manusia satu satunya mahluk yang tidak pernah menempati wilayahnya, tidak pernah menempati tadkirnya. Lain dengan binatang. Para binatang tidak pernah diperintah langsung untuk beribadah karena mereka sudah menempati wilayahnya, alamnya dan takdirnya. Para binatang tidak pernah complain pada yang menciptakan dan tidak pernah mempertanyakan kenapa mereka di jadikan dengan bentuk seperti itu, atau kenapa mereka harus di ciptakan. Dan mungkin bila kita melihat mahluk yang lain, maka dengan berada di wilayahnya berada dalam takdir dan kehendaknya kita akan bisa menjadi manusia ideal layaknya yang terkandung dalam ajaran Islam. Aminn…

religi

Lebaran yang dirayakaan
Setelah sebulan lamanya menunggu dan akhirnya waktu yang di tunggu tiba juga. Bukan Cuma dengan berdiam diri kita menunggu datangnya momen itu, tapi dengan menjalani puasa menahan lapar dan dahaga hari raya itu akan bisa di rasakan dengan perasaan yang beda. Berbagai macam jenis kebahagiaan sudah barang tentu kita bisa rasakan…ada kepuasan tersendiri saat merayakan hari raya itu bila kita mengikuti prosesnya dari awal.
Hanya saja untuk kali ini ak sendiri merasakan perbedaan yang sangat berbeda disaat hari raya tiba, tidak ada kebahgiaan, tidak ada ketakutan, tidak ada kesedihan, bahkan tidak juga merasakan hal yang sebaiknya, tidak merasakan keceriaan tak merasakan geregetnya hati saat waktu yang kita nanti kita alami. Aku tidak terlalu memahami benar bagaimana menjelaskan yang aku rasakan saat ini. Aku percaya ini bukan sebentuk kehampaan hati atau kefanaan jiwa, karena awal menjelang puasa aku merasakan kekhawatiran yang sangat, tapi saat ini perasaan khawatir tidak sedikitpun aku rasakan. Padahal sehari menjelang puasa duit yang ada di kanong saku cuman 14 rb, itupun sebagian sudaah ak belikan sebungkus rokok. aku merasakan lebaran untuk kali ini adalah lebaran yang beda dan tidak seperti lebaran-lebaran sebelumnya. Bila aku bandingkan momen lebaran tahun kemaren ak sangat merasakan jembarnya swasana, damainya hati dan hanya kebahagiaan yang mungkin saja mendominsi dalam diri ku. Sehingga terlihat benar satu senyuman kecil ada di bibirku.
Aku seperti menjadi seorang individu yang terasing dengan lingkungannya. Menjadi seorang individu yang lagi tidak ingin tahu akan apa yang terjadi di sekelilingnya. Dan pembenaran aku untuk saat ini adalah perubahan yang ada diluar diriku yang menjadikan aku menjadi seperti ini. Perubahan yang mengharapkan prilaku dalam diri ini berubah tapi tidak paham dengan arah perubahannya. Ak menjadi seseorang yang lebih tertutup seolah aku tidak lagi memiliki hak untuk mengisakhan segala yang pernah terjadi dan menimpa diriku.
Mengenai hari raya lebaran kali ini, sebenernya ak lebih merasakan keprihatinan yang sangat. Mengenai adanya perbedaan waktu yang terjadi di agama islam dan hal ini jelas membuat aku merasa miris melihatnya. padahal bagaimanapun adanya, seharusnya setiap waktu yang kita lalui akan seelalu saling menyesuaikan dengan ruang. Sehingga kita bisa menemukan ketetapan yang sesuai dengan realitasnya sebenarnyas. Untungnya saja dalam ajaran islam hal perbedaan bukan merupakan sesuatu yang harus dibesar-besarkan hingga berujung pada konflik sesame muslim. Islam memang mangajarkan akan arti keindahan dalam perbedaan.
Memang dalam hal ini pemerintahlah yang punya kewnangan untuk menetapkan dan memutuskan kapan hari raya itu bisa kita rayakan. Akan tetapi disisi lain mengenai masalah keyakinan bukan merupakan hak pemerintah untuk menentukannya. Karena bagaimanapun juga bila sudah menyangkut soal keyakinan hanya individu-individulah yang berhak menentukannya.
Dan hal yang membuat ak paling gundah bila melihat momen penetapan hari raya ini justru terletak pada hal menetapkan kapan kita harus merayakan perayaan ini. Seperti ada hal yang tak pernah bisa aku terima saat pemerintah menetapkan kapan kita di perbolehkan merayakan perayaan hari raya ini. Bukannya ak tidak percaya dengan pemerintah hanya saja, aku berpikiran bagaimana jika penetapan tanggal jatuhnya hari raya itu beda dengan realitas yang sebenarnya.….
Pada penanggalan tahun hijriah yang menjadikan bulan sebagai landasan untuk menghitung sebagai tahun untuk mengingat dimulainya hijrah rasullullah. Dan segala momen kejadian yang pernah dialami dan di nyatakan oleh rasul, maka dalam menetapkan penanggalan seharusnya pemerintah juga mempertimbangkan dan melihat momen-momen lainnya yang terjadi selama satu tahun. Ada pun momen momen tersebut seperti halnya malam LAILATULLQODR (yang dipercayai sebagai malam diturunkannya Al-Quran di malam ke 17 bulan Rhamadan),atau momen malam NISFU SYABAN(yang di percaya sebagai malam seribu berkah, dan pada moment malam tersebut bagi sebagian kalangan percaya bahwa disanalah malam tepat terbukanya pintu langit).
Pikiranku apakah momen momen tersebut hanyalah sebagai sebuah cerita kosong belaka yang tak akan pernah bisa kita buktikan kebenarannya, jika pun benar cerita itu memang nyata. Siapa saja yang pernah menyaksikan momen malam tersebut. Dan yang pasti, jarang sekali orang yang berani mengungkapkan akan kebenaran hal itu, karena sebagian mereka yang pernah mengalami dan membuktikan tak akan punya keberanian untuk memaparkannya. Sehingga menimbulkan kesan cerita seperti itu hanya sebatas cerita bualan saja, dan cerita itu hanya berlaku bagi kalangan orang yang sudah ma’rifat pada allah atau kalangan “tertentu saja”…
Sampai saat ini, aku sendiripun belum pernah menemukan orang yang sanggup menyatakan akan kebenaran moment LAILATULQODR dan NISFU SYA’BAN, karena ak sendiripun hanya baru mendengar bahwa penanggalan yang ada saat ini memiliki perbedaan waktu antara satu sampai dua hari dari waktu terjadinya moment tersebut. Coba saja bayangkan jika pernyataan yang pernah ak dengar tersebut merupakan kebenaran yang sesuai dengan terjadinya moment nisfu sya’ban dan lailatul qodr. Berarti secara tidak langsung, sebagian besar umat yang beragama islam tak akan pernah bisa sekalipun membuktikan kebenaran sebuah momen yang dianggap sangat istimewa dalam dunia islam, padahal momen tersebut ada dalam penanggalan agama islam. Akan tetapi tidak ada hal yang idak mungkin bagi sangpencipta, hingga ak percaaya bagi orang orang yang di percaya oleh sang pencipta agar bisa menyaksikan kebenaran itu moment tersebut pasti bisa di buktikan kebenarannya.
Mungkin saja, sebagian besar masyarakat kita dan sebagian para ulama yang duduk di dalam pemerintahan sudah tidak lagi bisa mendengar akan bahasa yang sudah di ungkapkan oleh alam. Atau mungkin juga sebagian besar dari kia sudah tidak lagi belajar mendengar bahasa alam. Sehingga kita seperti terasing dan tidak lagi saling mengerti akan kebutuhan masing masing. Dan apakah kita hanya mengamini cerita-cerita yang tak pernah kita alami untuk kita jadikan kebenaran. Apakah kita sudah tidak lagi tertarik untuk menemui kisah kisah yang dialami oleh para pendahulu kita. Bukankah kita diberi hak yangsama oleh sangpencipta untuk mengungkapkan tabir ke Esa an nya. Atau mungkin kita yang asik membatasi diri untuk menjadi bagian yang terpisah dari penciptaan.

Sabtu, 27 Desember 2008

religi

Jangan di baca yah ( Tulisana aneh )
Memahami logika diantara yang menjelma menjadikan ucapan terbata-bata, membuktikan sesuatu yang di yakini sepertinya butuh kalimat yang bisa di pahami oleh orang yang kita ajak bicara, lantas apa yang kemudian menjadi milik kita dalam kehidupan ini.? Kemudian batasan apa yang harusnya jelas akan peruntuknnya.
Hanya bagian bagian ruangan kecil yang tersedia. Sepertinya memang tidak ada rumah dalam sebuah rumah. Yang ada hanya kamar, dan ruangan-ruangan yang akan melengkapi keberadaan sebuah rumah sebagai identitas yang nyata adanya.
Konsep, yang kemudian akan menjadi sebuah pembatas dalam kehidupan, penjelasan dan sebuah keterangan akan sesuatu hal yang menjadikan sebuah objek akan berbeda. Dalam istilah wujud, bentuk dan perbentukan yang saling berkaitan satu sama lain, setiap wujud akan membutuhkan bentuk dalam artian wujud merupanan salah satu bagian dari bentuk. setiap bentuk agar bisa di lihat, diraba dan dirasakan akan memerlukan sebuah perbentukan. Dalam kenyataannya memang setiap bentuk tidak selamnya akan membuat perbentukan yang riil, sebab masih ada sebuah perbentukan dalam bentuk kesifatan yang tak pernah bisa diperbentukan.
Untuk memahami apa yang dijelaskan sebelumnya pastinya kita akan membutuhkan sebuah contoh yang semoga saja bisa kita pahami akan yang menjadi sebuah pembeda dari istilah wujud, bentuk dan perbentukan. Misalkan saja manusia sudah barang tentu bila setiap pastinya mengerti klo perbentukan manusia itu seperti apa dan bagai mana, hal ini pastinya sudah jelas karena perbentukan yang bisa di lihat dan di raba akan menganggap inilah realitas manusia. Akan tetapi siapa yang pernah tahu akan wujud manusia yang sebenarnya..? yang ada dalam sebuah penjelasan keilmuan hanya sampai pada bentuk dan perbentukannya saja saya kira..(semoga salah ngira, he he he)
Disini jelas di dalam bentuk yang namanya manusia memiliki ciri punya tangan, telinga hidung kaki tubuh, mata dan lain sebagainya, tanpa melihatpun orang sudah punya gambaran tentang bentuk dari manusia, dalam artian sebuah bentuk bisa saja dijelaskan oleh bahasa tanpa kita melihatnya. Lantas bukankah binatang binatang yang lainpun ada yang memiliki ciri-ciri yang sama dengan manusia, seperti halnya kera atopun gorilla. Bentuk inilah kemudian dijelaskan oleh sebuah perbentukan yang kemudian menjadikan sebuah pembeda antar ciri yang sama. Dari penyatuan antara bentuk dan perbentukan inilah yang kemudian dinyatakan bahwa inilah manusia, sementara disisi yang lain ada istilah wujud yang jarang kita jamah, bahkan jarang sekali kita bisa menembus kepada ruangan tersebut untuk mengetahui wujud manusia yang sebenarnya dan identitas manusia yang seperti ini sebenarnya tidakah cukup untuk menjelasnkan bahwa manusia itu seperti ini atau seperti itu, mungkin kita butu bahasa yang lain sebagai sebuah istilah untuk merujuk kepada objek wujud manusia yang sebenarnya, dan mungkin juga di sana kita sudah tidak lagi memerlukan kata untuk menjelaskan sebuah objek sebenarnya, cukup merasakannya sajalah.
Secara penyatuan jelasnya ketiga unsur tersebut ada di dalam diri ini. Tidak terpisah tapi satu dan jelasnya yang satu itu bukan berarti tidak bisa di pisah (jadi pisahin aja dulu biar kite tahu). Secara sadar ataupun tidak jika kita bisa tau akan wujud manusia, maka keren juga kali yah. He he he….

Rabu, 24 Desember 2008

religi

Sebuah kenangan di tanggal kelahiranku
Bersembunyi sajalah, tapi ingat jangan bawa bawa yang lain biar gak ketauan. Karena terkadang sebuah masalah itu selalu membuntuti, jadi ada baiknya tinggalkan saja perasaan bersalahmu dengan menyimpan dirimu agar kau bisa melenggang pergi, atau jika kau tak sanggup meninggalkannya maka simpan saja hati dan segala pikiranmu agar kau bisa tau jelas akan permasalahan yang di hadapi.
Baik buruknya pada akhirnya harus kita jalankan, karena Ia bukan sebuah pilihan yang berada di hadapan dengan posisi sejajar hingga akhirnya kita menganggap bisa memilihnya. Pastinya ia berada dalam posisi yang berkesinambungan dan akan terus berkesinambungan. Konsekwensinya saat kita bisa ngelewati kesedihan maka kebahagiaan jelas yang dirasakan dan begitu juga sebaliknya saat kita bisa ngelewati kebahagiian jelaslah sudah klo hal tidak menyenangkan sedang kita rasakan.
Mungkin terlalu banyak yang musti kita kenali hal hal yang ada dalam diri, sehingga kadang kita lupa bagaimana memposisikan diri kita dan merasakan serta menerima sebuah kejadian yang menimpa kita. Perasaan sabar tidaklah cukup sebelum kita bisa memahami dan memosisikan masalah pada sebuah tempat yang ada dalam hati kita. Entah di dalam otak, dalam pikiran ato di dalam hati sebagai sebuah terminal pertemuan yang akan berikan perasaan berdebar.
He he…aneh..! emang sebenernya apa sih masalahnya…? Kok sampe segitunya yah mikir dan ngejelasina. Yah kadang seperti itulah aku, seolah aku nggak tau dengan siapa aku bicara. Sampe sampe musti repot ngejawab seperti itu, padahal masalahnya aja nggak tau. Sok tau…itu salah satu sikapku sepeti itu jelasnya dan entah ini sebuah pengakuan ato sebuah keresahan saat pikiran tak bisa lagi menampung segala bahan materi yang dirasakan oleh hati.
Lantas apa yang sebenarnya yang harus aku tuliskan, agar aku bisa ngeisahkan sebuah perasaan yang sudah jelas aku rasakan. Apakah tentang diri, tentang apa yang terjadi, tentang apa yang musti di cari, tentang apa yang musti di pahami ato tentang apa…? Sebuah hal yang belum juga aku bisa jelaskan dan aku mengerti.
Pastinya bukan dengan sebuah keraguan aku menuliskan ini, hanya keyakinanku pada sebuah jemari yang terus menari tak henti menekan huruf-huruf dan merangkainya hingga menjadi satu kalimat yang bisa di baca ( semoga aja bisa di mengerti ) keyakinan ini juga ibaratnya seprti seorang ibu yang tak pernah ragu untuk melahirkanku dan mengasuhku. Sebagai sebuah kejadian yang bisa aku pahami tapi hal itu aku yakini walau aku nggak merasakan keyakian yang di alami oleh ibuku.
Ingatanku akan cerita masa bayiku sudah jelas dapat di mengerti oleh pikiranku, saat mata, telinga dan semua jenis indra belum berfungsi, tapi ibuku sudah tau apa yang aku inginkan pada saat itu, air susu sebagai jawaban akan keburuhan dari rasa laparku, hanya dengan tangisanku tak lama ia datang dan mendiamkanku hingga kembali aku terlelap memejamkan mata. Hanya itu dan itu awal kehadiranku, tanpa malu tanpa ragu semuanya seperti sudah menjadi kehendaknya. Cuman tinggal menjalankan, lantas apa sih susahnya ?
Semua sudah terberi, semua sudah hadir dalam kehidupan, semua sudah membawa bekal rezeki, jalan hidup yang sudah di aturnya. Lantas apa lagi ? cuman cukup menjalankan tanpa modal sedikitpun untuk menyaksikan segala kejadian kejadian yang bisa kita rasakan dalam diri. Apakah kita masih akan mencari sesuatu hal yang belum pernah kita kenali? Ato mencari sesuatuhal yang hanya bisa kita temui dengan merasakannya ? sayangnya kita tak pernah tau dan tidak pernah berjalan di negeri kematian sebagai sebuah negeri yang dirasakan aneh ( aneh karena kita tak mengenalnya ) lantas saat kita berada di sana apakah kita akan sadar tanpa melewatinya. Hanya bekal keyakinan saat semuanya sudah terlewati baru akan kita pahami akan apa yang sudah terjadi.
Yah…negeri kematian, negeri kematian. tanpa bisa mengungkapkan dengan bahasa tapi bisa merasakan dengan sebuah kejadian yang akan di alami. Menjalaninya dan menikmati alam sekitarnya tanpa bisa memperbincangkan tak bisa memperdebatkan. Disanalah jalan keabadian dari sebuah jalan ketiadaan, disanalah sebuah jalan perenungan tanpa bisa membenearkan dan menyalahkan kehidupan.
Awalnya aku bertanya tentang asalku, karena bila diri ini sebenarnya terpisah antara jiwa dan raga, sebagai salah satu bukti yang bisa kita pahami saat kita menyaksikan sebuah peristiwa tentang kematian. maka asal raga jelas keluar dari rahim ibu terus nenek sampe seterusnya hingga sapai pada sebuah kisah tentang penciptaan manusia pertama yakni adam dan hawa yang dalam kisahnya hawa berasal dari tulang rusuk adam dan adam diciptakan dari bahan empat unsur materi tanah,air, api dan udara. Sementara saat aku bertanya tentang asal jiwaku dimana dia bersembunyinya sebelum aku berada dalam rahim ibuku..?
seperti itulah sebuah pertanyan pasti akan membutuhkan sebuah jawaban yang bisa meyakinkan diri kita bahwa itulah adanya. Dari rasa sir ( sebuah rasa yang menginginkan seseorang untuk saling mendekat dan mendekap hingga gairah yang mengalir dalam darah bisa tercurah ) disanalah salah satu asal aku sebelumnya, di sebuah ruang keinginan tanpa berpikir untuk merencanakan sebuah hasil. Di sebuah ruangan yang tak tau merasakannya musti bagai mana dan musti pakai rasa yang mana yang ada di dalam diri kita. Tak ada kemampuan dalam diri ini untuk menjelaskan semuanya hingga tak ada lagi pertanyaan pertanyaan yang akan membingungkan.
Hanya bisa di pikirkan dan di renungkan sebuah kejadian yang telah di lewati
Tak akan pernah bisa ingkari, sebuah kejujuran yang mendorong bibir ini untuk berkata
Sementara tanganku yang tak jemu untuk menuliskan kata kata yang bisa di baca
Semua sudah menjelma
Dan itu baik adanya.
Tangan ini yang menuliskan. ketidak tahun miliku semoga saja hal ini bukan sebuah kebenaran, sebeb sejatinya aku nggak pernah tahu.

religi

Saat gossip bisa disaksikan adanya
Ada hal hal yang tak akan pernah bias di mengerti dalam sebuah perjalanan keseharian. Kejadian demi kejadian sejujurnya tak pernah dibayangkan. Hal menyaksikan dan merasakan itulah intinya sebagai seorang manusia yang sudah diciptakan. pertemuan yang tak direncanakan menjadikan suasana hati tak bisa di mengerti karena di dalam kebahagiaan itulah ketiadaan menjelma nyata, kemudian sangat banyak yang diexspresikan dalam sebuah tertawaan, itulah salah satu hakekat kebahagiaan.
Sebuah kisah, dongeng, riwayat ato apalah bentuknya sangat kencang mengikat pikira kita. Sepertinya kita hidup dengan sebuah bekal kisah (harapan, impian) yang kita dapatkan untuk menempuh perjalanan pada sebuah titik yakni keberhasilan. Tidak sedikit kisah kisah yang menjadikan inspirasi bagi seseorang. Banyak yang “sukses” dan tidak sedikit yang terpeleset jatuh dan terpental dari kehidupan. Lantas realistis seperti inikah yang di bicarakan oleh orang orang dalam memaknai sebuah perjalanan dalam hidup.
Aku seperti termakan oleh sebuah kisah kisah kehidupan yang menina bobokan aku dan secara tidak langsung aku di paksa untuk membenarkan dan memberikan sebuah pernyataan akan keberanaran kisah tersebut. Padahal menyaksikannya saja tidak pernah lantas bagai mana aku harus memberikan sebuah pernyataan dengan dasar keyakinan yang ada dalam diriku. Jelas aneh, dan nggak bisa masuk kedalam pengertianku, seperti itulah awalnya.
Jelasnya inilah salah satu konsekwensi saat kita di besarkan di sebuah kampung, cerita cerita yang aneh dan tidak masuk logika jelas sudah menjadi hal biasa.orang orang di kampungku jelas percaya akan seseorang yang bisa meninggalkan tubuhnya sementara dirinya berada di daerah lain. Kisah lainnya orang orang di kampungku juga percaya dengan adanya prilaku aneh mencari kekayaan dengan menikahi syetan (kisah pesugihan). Bagi aku sendiri hal semacam itu adalah hal yang sangat aneh dan tidak bisa di terima oleh pikiranku.
Di dalam sebuah prosesnya Pikiranku punya pandangan lain setelah aku sendiri menyaksikan sebuah pernyataan dari mulut orang yang menyatakan pernah berhubungan dengan kisah tersebut. Awalnya sepele, dalam sebuah pengajian tentang agama yang diadakan di kampungku dan itu hanya di ikuti oleh beberapa orang saja. Kedatangan seorang tamu baru yang di bawa dan di kenalkan oleh seorang kawan yang biasa mengikuti pengajian. Secara pisik orang tersebut kira kira memiliki usia lebih dari 50 tahun, dan itu taksiranku karena raut wajah yang tak lagi muda.
Kabar dari kawanku orang tersebut bisa dikatakan sebagai salah satu orang yang punya pemahaman dalam tentang agama, bisa dikatakan orang tersebut di masyarakatnya dianggap sebagai orang yang sakti karena ucapannya selalu bisa dibuktikan dan terjadi saat ia berkata kata tidak baik karena di latar belakangi rasa terbawa emosinya. Selain itu juga kawanku bercerita juga pada saat menjalankan dunia spiritualnya (karena tidak terkontrolnya kemudian ia menjadi gila) dan pada saat ia gila, ia bisa menyatakan klo perasaanya itu tidak gila, ia rajin kemesjid tidak ada henti hentinya. Akan tetapi secara nyata yang di lihat oleh masyarakat selama lebih kurang tiga tahun ia jadi orang gila yang suka nongkrong di persimpangan jalan di kampungnya. Bahkan ia juga menyatakan klo pada saat itu ia juga pernah menolong gurunya yang sempat terjatuh waktu menjalani haji. Bagi aku kisah tersebut jelas nggak bisa di mengerti oleh logika, karena bila di bahas dengan dasar keimanan dan di landasi oleh keyakinan dalam diri, hal tersebut tidaklah sulit bagi sang pencipta untuk mengirimkan bantuan kepada gurunya yang terjatuh pada saat menjalani ritual haji dengan wujud persis seperti dia, yang membuat aneh pikiran saya kok orang yang di masyarakatnya sedang tidak waras tapi dia mampu menyatakan hal yang seperti itu.
Dalam kisah yang lain, yang terjadi pada seorang anak muda. Bila di kira kira mungkin saja usianya nggak terpaut jauh dengan aku. Hanya saja yang membedakannya dia sudah memiliki keluarga sementara aku kekasih aja belom punya he he he…. Di suatu waktu di penghujung bulan ramadhan menjelang hari raya, di tengah tengah asik nya percakapanku dengan kawan yang biasa shering dalam hal hal keagamaan kedatangan dua orang pemuda memutus percakapan kami. Sesaat ia datang dan tanpa panyjang lebar ia bercerita tentang kesusahan yang dialami serta mengeluarkan keluh-kesah yang sudah dialaminya.
Awalnya aku tak memahami perbincangannya, namun lama kelamaan akhirnya aku tau juga akan apa yang sudah ia perbuat setelah ia berani menyatakan klo baru beberapa bulan kemaren ia menikah lagi tapi bukan dengan manusia melainkan dengan mahluk halus, ia kemudian menunjukan surat perjanjian pernikahannya dan dengan segala konsekwensinya. setelah mendengar pernyataan itu tanpa ku sadari langsung aku terperanjat dengan degup jantung yang sudah tidak lagi beraturan. Ia sendiri merasa aneh karena awalnya kertas tersebut tidak memiliki tulisan tapi setelah pernikahanya beres kertas itu ada tulisannya dan bisa di baca oleh mata.
Aku menyaksikan pengakuannya dan tidak bisa berpikir apa apa hanya terdiam melihat dirinya. Percakapan diapun dilanjutkan membicarakan akan rasa penyesalannya karena dia menganggap sudah lancang berani untuk melakukan hal yang di dalam agamanya di larang, bahkan terkutuklah orang orang yang melakukan hal tersebut. Halah…. capek juga yah nulis.
Yah sepertinya itulah sebuh kisah yang bisa dinyatakan kebenaranya saat aku sendiri menyaksikan sebuah pengakuan. Dahulu kisah kisah terebut aku mendengarnya denganlewat cerita orang dengan menggunakan istilah katanya, sementara saat itu aku bisa menyaksikannya langsung klo cerita cerita tersebut ternyata memang ada dan nyata. Huh….ngopi aj dulu ah…capek

religi

antara aku
Waktu yang akan memastikan sebuah kejadian, bila setiap orang memiliki kebenaran maka apakah kebenaran yang di miliki seseorang akan dibenarkan juga oleh orang lain. Sementara mutlaknya kebenaran tidak akan melihat orang yang akan memberakan, ia akan tetap menjadi sebuah kebenaran walau tanpa ada yang membenarkan.
Memahami dan mengisi ruang ruang kosong yang ada dalam diri, ibarat bahasa yang tak memerlukan kata. Ia ada saat ucapan tak bisa menjelaskan dan menemukan kata yang pas untuk digunakan, yah itulah salah satunya bahasa kejadian yang hanya bisa dirasakan dan di saksikan. Setiap kata yang beda pada akhirnya akan membawaa kita pada sebuah tempat yang berbeda juga. Lantas kata yang seperti apakah yang bisa dijadikan sebagai sebuah ciri akan keberadaan manusia ? bukankah semua dalam realitasnya manusia memiliki beragam bahasa yang berbeda dan dapat membedakan identitasnya ? tidak ada kemustahilan bagi pikiran untuk memahami hal seperti ini, dengan sebuah logika pastinya tidaklah mungkin jika bentuk dan wujud manusia seperti yang kita lihat memiliki ciri yang sama akan memiliki kata yang beda.
Pernah suatu waktu dalam perbincangan saya dengan seorang kawan di teras koskosan memikirkan tentang satu kata yang memiliki arti sama dengan kata yang sama di bumi ini. Dan samai saat ini akhirnya belum juga aku menemukan jawaban tersebut. Samai sampai aku tak lagi memikirkan akan pertanyaan yang terjadi dalam perbincangan tersebut, maklum sajalah bila saya tak lagi mengingat pertanyaan tersebut karena hal itu sudah terjadi beberapa tahun yang lalu.
Dalam sebuah keimpulan awal, nyatanya aku tak menemukan jawaban akan tetapi hanya menemukan kata-kata dalam bentuk kesipatan untuk mengungkapkan sesuatu hal yang kemudian terexspresikan dengan tak lebih dari tiga huruf saja. Misalkan saja kata oh, uh, em dan yang lainnya. Sebagai huruf vocal kata tersebut ternyata bisa dikategorikan sebagai salah satu ungkapan yang menyimbolkan kesifatan yang ada dalam diri ini.
He he konyol juga yah, padahal untuk membuktikanya aja belom pernah. Kok bisa bisanya memberikan sebuah jawaban yang belom pernah dibuktikan. Jelasnya bila kita menggunakan sebuah ajaran kegamaan kata kata tersebut sudah sangat jelas digunakan sebagai sebuah ungkapan dari ketiadaan diri dan menganggap hal yang terjadi adalah sesuatu hal yang sangat diwajarkan dan sangat biasa. Dengan sebuah alibi tentunya saat pemahaman tentang agama sudah beres semua, saat tidak ada lagi keanehan akan kejadian lantas kata yang seperti apa yang akan kita gunakan untuk mengisi ruangan tersebut. Jelasnya sudah tidak lagi ada kata yang bisa digunakan( bukan berarti kata kata yang sudah ada tidak lagi berlaku).
Akan selalu kita alami, sesuatu hal yang aneh saat logika tidak lagi mampu menerka maka pikiran akan menjelaskannya sampai kita menegrti dan menganggukan kepala sambil bibir ini tersenyum. Disanalah klo kata orang orang yang sudah memahami arti sebuah perjalanan kehidupan menganggap ketiadaanlah yang dirasakan, seperti halnya saat kita mengerti dan memahami makna tertawa. Kita akan merasakan dan bila mengkategorikan ia nggak masuk kedalam bahagia, senang ato gembiranya hati ini, lantas klo kita pikirkan ada apa sih di dalam ketawa..?

Senin, 21 Januari 2008

religi

mantra...he he he
Dalam khasana budaya nusantara keragaman hasil karya manusia bisa di lihat dan kita nikmati dalam berbagai bentuk dan rupa. Adanya kebutuhan dasar untuk saling melengkapi akan adanya rasa kekurangan menjadikan manusia terus mencari dengan berbagai cara. Dalam bentuk folklore hasil karya manusia bisa di kategorikan dalam tiga bentuk yakni
folklore lisan yang lebih mengorientasikan pada bentuk-bentuk lisan seperti karya sasta, serat dongeng, legenda, mitos dan lain sebagainya yang kedua yakni bentuk semi lisan dan tulisan yakni terjelaskan dan dapat kita temui dalam bentuk ritual keagaman, pertunjukan kesenian, permainan dan sebagainya, dan yang ketiga yakni foklor bukan lisan folklore ini lebih beroientasi penjelasan bentuk bangunan, peninggalan situs kepurbakalaan dan sebagainya. Ketiga bentuk tersebuta dalam masyarakat tradisi sudah menjadi keseharian yang tak bisa dilepaskan.
Pembahasan foklor lisan tentunya sudah banyak di bahas dan di kaji dengan berbagai cara pandang. Keberadaan sisa sisa peninggalan yang akhirnya hanya menyisakan jejak jejak pertanyaan yang harus di jawab dan dijelaskan sesuai dengan jiwa jaman.
Dalam dunia spiritual tradisional atau dunia mistik di jawa baik serat maupun mantra selalu mendapat tempat khusus dalam pemikiran masyarakat, hal ini dikarenakan adanya anggapan kalau tidak semua orang akan mampu menguasai hal-hal tersebut. Walaupun sebenarnya laku mistik ini akan membawa manusia pada pemahaman akan diri seseorang dan akhirnya akan membawa kepada kekuatan spiritual yang kemudian bisa di bawa kepada hal yang baik maupun hal yang buruk.
Sebuah mantra atau juga bisa diistilahkan dengan doa-doa suci yang terlantun dalam beberapa baris kata-kata dan sering digunakan oleh masyarakat sebagai sebuah awal untuk memulai segala bentuk kegiatan dalam keseharian. Memang dalam kenyataan-nya bentuk bentuk mantra ini beragam.
Dalam fungsinya Minimal ada tiga hal yang harus di kenali yakni pertama penggunaan untuk melukai seseorang, mantra ini biasanya di sebut sebagai mantra jahat karena ia hanya digunakan untuk melukai seseorang hingga akhirnya bisa membunuh orang tersebut. Mantara untuk melukai ini di setiap daerah yang berada di nusantara ini memiliki nama yang berbeda di sunda dengan istilah teluh, di bali dengan leak, di jawa dengan santet dll yang kedua mantara yang digunakan untuk mengobati, mantara ini digunakan sebagai sebuah pelengkap akan dualisme kehidupan dengan kata lain dalam perakteknya biasanya mantar mantra ini dianggap sebagai sebuah mantra yang baik karena ia hanya mengobatio ataupun hanya digunakan untuk menangkal dari mantra yang tidak baik. Dan yang ketiga di sebut sebagai sebuah mantra pengantara, sebagai sebuah mantra wilayah abu-abu dan berada diantara hitam dan putih sebenarnya sangat tipis sekali yang membedakan pusisi peleburan tersebut. Akan tetapi bila kita bedakan biasanya mantar mantra ini terebar dalam keseharian masyarakat pemenuhan hawa nafsu dan tak ada nurani dan lebih terkesan memaksakan seseorang untuk tunduk di hadapan kita seperti mantra-mantra dalam bentuk jaran goyang dll merupakan sebagai sebuah wilayah peleburan di bagian mantra jahat. Sementara disisi lain sebagai sebuah titik lebur dari mantra yang baik biasanya terlihat dalam mantra keseharian misalnya mantra-mantra seperti pengasihan agar banyak di senangi orang agar bila di gunakan untuk usaha usahanya lancer atau dagangannya laku keras.
Bila dikaji lebih lanjut lagi tentunya akan ada bermacam hal yang menopang dan mendukung keberadaan sebuah mantra, biasanya untuk menggunakan sebuah mantra seseorang harus menjalani beberapa proses agar sebuah mantra bisa digunakan. Setiap apa yang ada sudah pasti akan ada yang memilikinya begitu juga dengan mantra. Dan biasanya seseorang harus menjalani puasa mutih, pati geni beberapa hari atau dengan cara lain yang dianggap sebagai sebuah syarat seseorang bisa menggunakan mantra yang diinginkannya. Biasanya juga waktu puasa atau waktu menjalankan proses ritual ini sudah ditentukan karena ada hari hari dan jam jam tertentu sebuah mantra bisa di gunakan dan tidak bisa digunakan. Sebagai sebuah pantangan.
Bila di lihat secara setruktur hal ini sangatlah jelas bisa di lihat pertama dari waktu penggunaan biasanya tempat sepi dan sunyi dinggap sebagai sebuah waktu yang pas untuk menjalankan ritual ini sebagai sebuah awal dimulainya membacakan sebuah mantra. oleh karena itu kebanyakan mantra mantra dijalankan pada saat malam hari saat orang orang sudah tertidur. Dalam tataran teknis memang kebanyakan penggunaan mantra selalu menggunakan hal hal lain sebagai sebuah pelantara. Biasanaya untuk mantra mantra yang jahat lebih banyak menggunakan batuan udara sebagai sebuah pelantara. Bisa juga pelantaranya dalam bentuk makanan atau benda benda keseharian yang dianggap digunakan juga oleh si objek yang akan di tuju. Dan secara keseluruhan ada tiga hal dalam mengaflikasaikan sebuah mantra pertama tentunya kepercayaan serta keyakinan si pelaku dalam menggunakan mantra, kedua keberadaan objek akan keadaan cultur sebagai sebuah latar belakang, dan yang ketiga penggunaan sebuah sarana yang di gunakan sebab bukan hanya doa saja yang di bacakat dan di percaya akan dapat mempengaruhi seseorang tapi adanya hal lain yang kadang menentukan.

Jumat, 18 Januari 2008

religi

sejarah masuknya islam ke bali
(studi kasus sejarah masuknya islam ke badung dan jembrana)
penyebaran Agama Islam masuk kewilayah Nusantara melalui dua jalur persebaran. pertama melalui jalur politik dan yang kedua melalui jalur perdagangan. jalur politik ini dilakukan mengingat pusat-pusat kekuasaan yang ada di setiap daerah di Nusntara ini di pegang oleh para penguasa yang beragama Hindu-Budha sebagai agama sekaligus kepercayaan yang dianut oleh masyarakat pendunkung kerajaan tersebut. penyebaran agama islam yang dilakukan memalui jalur politik ini
tentunya dilakukan dengan segenap tenaga dan pikiran dengan berbagai cara yang dilakukan oleh para mubalig, dengan tujuan utama yakni mengislamkan para penguasa yang memegang sebuah wilayah kekuasaan dan dengan harapan tentunya saat penguasa (Raja) memeluk Ajaran Islam maka secara tidak langsung para pengikutnyapun akan memeluk Agama Islam, sehingga proses islamisasi bisa terlaksana. cara-cara yang di tempuh diantaranya dengan melakukan pendekatan terhadap orang-orang kerajaan (orang yang memiliki pengaruh di istana tersebut) ataupun dengan caraperkawinan.

sementara yang kedua dengan menggunakan jalur perdagangan. maraknya jalur perdagangan yang ada di Nusantara ini, tentunya dimanfaatkan juga oleh para penyiar ajaran islam. sebagai sebuah jalur persebaran yang dirasakan efektif. pusat-pusat perdagangan yang ada di nusantara ini (sahbandar) dijadikan sebagai sebuah tempat untuk menanamkan ajaran islam. adapun pusat-pusat tersebut yang kemudian kita kenal seperti wilayah Malaka, Samudra pasai, Demak (Jawa Tengah), Jawa Timur (Gersik), serta Maluku dengan kerajaan Ternate, serta kerajaan Goa (Makasar). dari wilayah inilah kemudian islam menyebar ke berbagai wilayah di Nusantara. dan dari perhubungan dagang itu juga akhirnya para pelayar-pelayar Bugis, Jawa dan lainnya turut menyebarkan ajaran Islam yang sudah di yakininya. berdasarkan catatan sejarah proses pengembangan tersebut sudah berlangsung sejak abad ke-XV masehi. maka sebagai dari akibat proses penyebaran tersebut jugalah kemudian bermunculan Kerajaan-Kerajaan yang bercorak Islam seperti kerajaan Samudera Pasai, Mataram, Ternate, Goa, Demak, Banjar dll tampil di berbagai daerah-daerah yang ada di Nusantara ini.

dalam hal ini masuknya Ajaran Islam di Bali tentunya tidak terlepas dari perkembangan Agama Islam di daerah-daerah yang lain. persebaran Ajaran Islam di Bali di setiap daerah Kabupaten tentunya memiliki latar belakang yang berbeda-beda dengan berbagai masa yang tidak sama. Bali yang berjumlah penduduk 2.528.644 (tahun 1984) dengan penduduk yang beragama Islam didalamnya tercatat 110.752 (tahun 1984) yang terbagi dan tersebar di 8 Kabupaten yang ada di Bali. di Jembarana 39.130 jiwa. Tabanan 4.775 jiwa, Badung 18.677jiwa, Gianyar 922 jiwa, Klungkung 3.338 jiwa, Bangli 463 jiwa, Karangasem 9.493 jiwa, dan Buleleng 33.948 jiwa yang terbagi dalam berbagai ras serta golongan suku bangsa di indonesia maupun keturunan dari Arab maupun India. dalam sebuah catatan sejarah, Islam pertama masuk kewilayah Bali pada masa Kerajaan Gelgel ( Klungkung ) sebagai sebuah Kerajaan terbesar di Bali yang wilayahnya mencakup Blambangan ( Jawa Timur), Lombok serta Sumbawa dengan seorang Raja yang bernama Sri Dalem Waturenggong berkisar abad ke-XVI.

pada masa pemerintahan Sri Dalem Waturenggong tahun 1460-tahun 1550 masehi. sebagai seorang Raja yang pada saat itu usianya masih muda seperti diungkapkan dalam sebuah kidung yang menjelaskan tentang kedatangan rombongan dari "Mekah". hampir dapat dipastikan pada saat itu baginda belum di "diksa"( disucikan; menurut Adat kebiasaan Agama Hindu, seseorang boleh disucikan setelah berumur 25 tahun ). hal kedatangan rombongan dari "Mekah" juga di tulis oleh Gora Sirikan dalam buku kidung Pamancangah. menurut kidung Pamancangah ( C.C Berg ) : "pada tahun candra sangkala : sima ilang kartaningrat, yaitu tahun caka 1400 ( tahun 1478 masehi ) Kerajaan Majapahit runtuh karena di serang oleh Girindra Wardani dari Kediri, dan pada kesempatan itulah Raden Fatah putera Raja Brawijaya, Raja Majapahit terlahir dari seorang padmi dari Palembang yang kemudian oleh para Wali dan para Ulama dinobatkan sebagai Sultan Demak. Raden Fatah bersama para Wali dan Ulama selalu berupaya menyebarkan Ajaran Islam tidak hanya di Jawa tetapi juga keluar Jawa.

rupa-rupanya Sultan Demak atau Raden Fatah yang datang ke istana Gelgel di Bali. Raja Bali yang bernama Waturenggong yang memerintah dari tahun 1460-1550mashi. dengan menggunakan politik pendekatan Raja-Raja pada saat pemerintahannya itu datanglah serombongan ke istana Gelgel " ternyatalah pada waktu itu baginda masih muda, datanglah utusan dari mekah dengan membawa gunting dan paisau cukur hendak mengislamkan baginda, baginda amat marah. pisau cukur lalu dicukurkan pada telapak kaki baginda dan tumpulah paisu cukur itu tak ubahnya seperti gurinda. guntingnya diguntingkan pada jari tangan baginda, namun gunting itu terpisah".

dalam tembang tersebut diatas dikatakan bahwa yang datang keistana Gelgel utusan dari Mekah tapi jelasnya yang dimaksudkan adalah orang-orang Demak, seperti yang dikatakan oleh C.C Berg dalam desertasinya : "propaganda islam"yang oleh pemancangah di sebut terjadi sebelum tahun-tahun muda Waturenggong. oleh karena gagal mengislamkan Raja, maka rombongan kembali kedemak dan beberapa orang pengiringnya tinggal di Gelgel dan orang-orang yang tinggal inilah yang kemudian menurunkan orang-orang Islam di Gelgel. sementara dalam sumber lain mengatakan bahwa saat utusan tersebut gagal mengislamkan Raja Gelgel maka utusan tersenut kemudian menikam dirinya dengan menggunakan kerisnya dan mayatnya dimakamkan di desa satra ( kurang lebih 3 Km di selatan Kelungkung atau 1,5 Km dari sebelah barat daya Gelgel ). oleh masyarakat sekarang kuburannya di sebut sema jarat atau sema pajaratan ( bahasa bali ) sebutan jarat tentunya akan mengingatkan kita pada istilah Gujarat ( nama para pedagang Gujarat dari India ) yang peranannya sangat besar di Nusantara.

dalam sumber lain dapat di catat bahwa pernah terjadi peristiwa penting dalam pemerintahan Dalem Ketut Ngelesir sebagai Raja Gelgel I (1380-1460) yaitu Raja Bali pernah mengadakan kunjungan ke Keraton Majapahit pada masa Raja Hayam Wuruk mengadakan konfrensi Kerajaan-Kerajaan masal se-Nusantara. dan dari cerita turun temurun ini jugalah di peroleh informasi masuknya Islam pertama ke Gelgel dengan mengikuti sebagai pengiring Dalem ( sebutan Raja ) dari Majapahit. sebagai pengiring mereka datang sebagnyak 40 orang pada masa Ketut Ngelisir Raja Gelgel I. apabila kunjungan dari Dalem Majapahit dengan mengajak iring-iringan orang Islam yang pertama sudah ada dipusat kerajaan di Bali sejak abad XIV. orang-orang Islam yang menetap di Gelgel tidak mendirikan kerajaan tersendiri seperti Kerajaan-Kerajaan Islam di Pantai Utara Jawa, akan tetapi mereka bertindak sebagai abdi dalem yang memerintah, juga tugas mereka sebenarnya tidak di ketahu dengan jelas dan tidak ada juga tradisi yang mengatakan mereka pernah mengambil alih peranan-peranan kepemimpinan tradisional tertentu sebelum kedatangannya.

seperti sudah saya ungkapkan sebelumnya kalau persebaran serta masuknya Ajaran Islam di Bali setiap daerah Kabupaten memiliki kisah serta latar belakang sendiri sendiri, tentunya hal tersebut tidak bisa saya ungkapkan secara keseluruhan. Mengingat sedikitnya waktu serta terbatasnya dana untuk melakukan penelitian langsung ke lapangan. maka karena hambatan tersebut mungkin saya coba menjelaskan masuknya Ajaran Islam ke Badung serta masuknya Ajaran Islam ke Jembrana sejauh pengetahuan yang saya ketahui.

Masuknya Ajaran Islam ke Badung
seperti yang sudah kita ketahui masuknya Ajaran Islam ke tiap Kabupaten yang ada di Bali tentunya melakukan jalan yang sama yakni perdagangan dan politik. akan tetapi dalam perkembangannya memiliki perkembangan sendiri-sendiri yang cukup unik. masuknya Ajaran Islam ke wilayah Badung dalam kisah atau cerita yang beredar di masyarakat bisa di katakan bermotif sosial ekonomi. Dalam bidang sosial cenderng kepada alasan pri-kemnusiaan sedangkan yang bermotifkan ekonomi lebih mengarah pada hubungan kerjasama dagang antar Kerajaan Badung dengan para pedagang dari Bugis.

kisah masuknya Ajaran Islam di Badung di mulai saat sebuah perahu dengan awak perahu orang Jawa mendarat darurat di Tuban, karena perahu tersebut mengalami kerusakan yang cukup parah sehingga dirasakan perlu oleh para awak untuk memperbaiki perahunya. pendaratan perahu tersebut ternyata di ketahui oleh para pasikepan kerajaan ( petugas kerajaan/polisi kerajaan ) yang kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada Raja Cokorda Pamecutan III yang berkuasa pada saat itu. karena situasi politik pada saat itu sedang mengalami guncangan dikarenakan adanya konflik antar Kerajaan Badung dengan Kerajaan yang ada di Mengwi. yang walaupun diplomasi dari mulut-kemulut ternyata tidak bisa mendapatkan kata sepakat, maka disinilah kemudian mengangkat senjata adalah jalan keluarnya pada saat itu.
orang-orang pendatang dari Jawa yang di pimpin oleh Raden Sastroningrat bangsawan kelahiran Madura, oleh Raja kemudian dijanjikan kebebasannya kembali serta akan dinikahkan dengan putrinya apa bila bersedia membantu Raja dalam pertempurannya melawan Kerajaan Mengwi dan sekaligus mengalahkannya. perjanjian ini kemudian di terimanya Raden Sastroningrat kemudian bersama bala tentara dari Kerajaan Badung serta Bugis bergabung untuk menyerang Puri Mengwi. dalam pertempuran ini Puri Mengwi berhasil dikalahkan dan Rajapun menepati janjinya raden sastroningrat dengan putri Raja Pamecutan III yang bernama Agung Ayu Rai dinikahkan.

Raden Sastroningrat setelah menikah kemudian mengajak Agung Ayu Rai untuk dikenalkan dengan keluarga Raden Sastroningrat. ia di bawa pertama ke Mataram kemudian di bawa ke Bangkalan, Madura tempat asal Raden Sastroningrat untuk diresmikan pernikahannya. dibawanya Agung Ayu Rai selain untuk dikenalkan juga untuk diislamkan mengingat juga dalam tradisi perkawinan di Jawa yakni hukum Patriarkhat maka dengan sendirinya juga Agung Ayu Rai mengikuti ajaran suaminya dengan memeluk Ajaran Islam. masuknya Agung Ayu Rai secara tidak langsung juga mengajak parapengiringnya yang ikut ke Jawa juga memeluk Agama Islam sebagai tanda bakti akan sang putri.

sekembalinya dari Tanah Jawa, kedua pasangan suami istri ini segera balik ke kerajaan dan di terima dengan baik oleh Raja. akan tetapi setelah Raja tahu kalau sang putri telah berganti Agama, maka dengan segera Raja memerintahkan kepada mentrinya untuk menempatkan sang putri di kebon ( tempat ini yang bernama Karang Semaya atau Batan Nyuh, yang sekarang tempat tersebut di kenal dengan nama kepaon ) tempat ini sebelumnya di kenal karena keangkerannya sebagai suatu tempat yang tengat karena banyak di huni oleh mahluk halus sebangsa Jin, Setan, Genderuwo serta Mbaurekso lainnya yang kata orang mempunyai bentuk yang menyeramkan dan menkutkan. bersama-sama dengan pengiringnya yang mengikuti tuan putri ke Jawa yang kemudian memeluk Agama Islam juga turut menemani tuan putri dalam pembuangan. sedangkan suaminya Raden Sastroningrat oleh Raja ditempatkan di Ubung.

Anak Agung Ayu Rai wafat dan dimakamkan dipemakaman Badung dekat dengan Puri Raja, dan sekarang pemakamannya di kenal dengan nama "Pura Keramat Puri Pemecutan". konon kabarnya putri ini meninggal karena di bunuh oleh Raja sendiri, sewaktu sang putri hendak melakukan sholat subuh dengan berpakaian serba putih. hal ini kemudian oleh pungawa disangka putri sedang ngeleak, kejadian ini segera diberitakan kepada Raja. Ketika sang putri di bunuh, bekas darah yang tercecar tersebut mengeluarkan aroma yang harum. akibat kejadian ini jugalah akhirnya Raja memerintahkan untuk merawat dan menjaga makam putri tersebut. hingga sekarang makam tersebut banyak di datangi untuk di jiarahi oleh orang-orang Madura, Jawa dan juga orang-orang Bali sendiri. sedangkan Raden Sastroningrat setelam meninggal dimakamkan di Ubung juga.

Sejarah Masuknya Islam ke Jembrana
setelah Kerajaan Gelgel pindah ke Kelungkung pada masa kepemimpinan Dewa Agung Jambe, maka vasal-vasal yang ada di bawahnya kemudian mengakui kepemimpinan Dewa Agung Jambe di Kelungkung hanya sebagai seorang pemimpin kerohanian yang berasal dari keturunan dari Raja-Raja Majapahit, sedangkan sebagai pemilik fungsi politik kerajaan sudah tidak berfungsi lagi. salah satu kerajaan yang mengakui hal tersebut adalah Jembrana, walaupun kerajaan yang ada di Jembrana merupakan sebuah kerajaan kecil bila dibandingkan dengan kerajaan yang ada di daerah lain di Bali. walaupun nama kerajaan dengan nama Berambang belum di kenal sebagai Kerajaan Jembrana. Kerajaan Berambang yang letaknya dekat Hulu Sungai Ijo Gading ( sebelah Utara Kota Negara ) pada masa itu di pegang oleh Keluarga Arya Pancoran.

walaupun berasal dari kerajaan kecil akan tetapi penguasa Kerajaan Brambang mempunyai tekad yang kuat untuk berkembang seperti Kerajaan-Kerajaan yang lainnya yang ada di Bali. hal ini lah kemudian ketika para pedagang dari Bugis yang singgah di Pantai Selatan Jembrana, Keluarga Arya Pancoran tidak menolak mereka. para pedagang dari Bugis yang datang pertama kali sekitar tahun 1653 dan tahun 1660 sampai tahun 1661.

sebab-sebab kedatangan para pedagang dari Bugis ini memang tidak begitu jelas diungkapkan. tapi kemungkinan terbesar yakni pada masaa itu Kerajaan Goa di Sulawesi Selatan sedang berkecamuk perang antara orang-orang Bugis Makasar dengan para VOC Belanda ( Hikayat Haji Sirat, 1935 : 1-3). seperti yang kita ketahui, perang akan membawa dampak terhadap berbagai bidang yang ada di masyarakat dan sebagai rasa tidak puasnya dari kekalahan mereka terhadap VOC maka melarikan diri ke luar wilayah adalah salah satu solusi yang diambil oleh bangsa Bugis-Makasar ini.

kedatangan orang-orang Bugis-Makasar ini belum berhenti sampai di sini, karena pada gelombang berikutnya datang lagi para rombongan sebanyak 4 perahu yang di pimpin oleh Daeng Nhakoda dengan 20 pengikutnya. dalam kisahnya perahu itu di ceritakan sebagai perahu bersenjata keturunan Sultan Wajo yang kemudian mendarat di Pantai Air Kuning di Jembrana tahun 1669 dan tidak lama mereka kemudian menuju kemuara Perancak dan menetap sementara di sebuah tempat yang kemudian di sebut Kampung Bajo, di tepian sebelah barat sungai Kuala Perancak ( Wayan Reken, 1980:3 ).

tidak lama mereka menetap dan mereka mengetahui daerah yang ditempatinya merupakan wilayah Kerajaan Brambang. kemudian mereka menusri sungai Ijo Gading menuju Utara dengan maksud meminta ijin kepada Raja Brambang untuk menetap di pinggiran sungai Ijo Gading dengan tujuan berdagang. dengan adanya aktifitas perdagangan yang dilakukan oleh orang-orang Bugis tersebut lama kelamaan daerah perdagangan mereka menjadi ramai karena di lintasi oleh pera pedagang-pedagang dari daerah lain, sebagai tempat transit maupun sebagai tempat menjual barang dagangan. keadaan semakin ramainya daerah perdagangan tersebut sehingga menjadi sebuah bandar, maka sebagai rasa hormat orang Bugis ini kemudian memberi nama Bandar tersebut dengan nama Bandar Pancoran.

sekitar 28 tahun kemudian seluruh wilayah Jembrana dilanda musibah kebanjiran, sehingga Puri beserta wilayah lainnya habis di terjang luapan banjir, Raja Brambang pada saat itu yang bernama I Gusti Ngurah Putu Tapa beserta Rakyatnya ikut jadi korban, namun orang-orang Bugis yang pada saat itu mendiami Bandar Pancoran banyak yang berhasil menyelamatkan diri karena sebagian besar perahu-perahu mereka tidak ikut hanyut. sementara wakil dari Raja Brambang yang bernama I Gusti Ngurah Made Yasa beserta Istrinya selamat kerena pada saat itu mereka sedang mengundang ke Kerajaan di Mengwi untuk Upacara Ngeluwer.

saat sekembalinya mereka dari Mengwi Kerajaan berambang sudah hancur di hempas oleh banjir dan mereka tidak menemukan Rajanya. dan dengan terpaksa juga akhirnya I Gusti Ngurah Made Yasa meminta bantuan ke Kerajaan Mengwi. karena hubungan baiknya maka Kerajaan Mengwi membantu dengan memberikan 100 hamba sahaya untuk membangun Kerajaan kembali di Jembrana, hanya saja tidak berdaulat seperti semula melainkan sudah menjadi vasal Mengwi ( Wayan Reken, 1980 : 7 ).

berkat bantuan dari Mengwi dan di bantu oleh masyarakat Belambangan yang melarikan diri karena desakan Islam di Jawa, akhirnya Puri Jembrana kembali didirikan. yang di beri nama Puri Jero Andul ( dalam babad basang tamiang ). sementara I Gusti Ngurah Made Yasa sendiri hanya berpangkat Mangkubumi. setelah itu kemudian datanglah I Gusti Agung Alit Takuang beserta patihnya dengan diringi 400 rakyatnya. ke Jembrana atas permohonan I Gusti Ngurah Made Yasa dan kemudian di Jembarana berdiri lagi kemudian Puri dengan nama Puri Gde Jembrana dengan Rajanya I Gusti Agung Alit Takuang dengan gelar Anak Agung Ngurah Jembrana sebagai sebuah wakil dari Kerajaan Mengwi. kemudian pada masa inilah Kerajaan Jembrana mulai berkembang baik dalam bidang maritim amupun bidang perdagangan. berkembangnya Kerajaan Jembarana tentunya sangat terkait dengan orang-orang Bugis dan sebagai jasanya kemudian Raja Jembrana memberikan ijin menetap kepada orang Bugis dan keluarganya di sekitaran Bandar Pancoran.

setelah Anak Agung Ngurah Jembrana wafat Kerajaan Jembarana kemudian di pegang oleh cucunya yang bernama Anak Agung Putu Handul.( 1775-1795 ) kemunculan Raja baru ini ternyata membuat Jembarana makin berkembang sehingga Kerajaan-Kerajaan lain mulai iri melihat perkembangan yang dialami Kerajaan Jembarana. niatan Jembarana untuk dikuasaipun di mulailah bermunculan, serangan dari Kerajaan Tabanan akan tetapi hasilnya gagal. demikian juga pada tahun 1770 Kerajaan Badung menyerang Jembarana dengan melewati Sungai Ijo Gading megenaskan karena selain kalah perang juga banyak para pasukannya yang di makan oleh buaya serta di hancurka oleh orang-orang Bugis. keberhasilan menahan serangan ini tentunya berkat orang Bugis yang menguasai wilayah Bandar Pancoran.

beberapa tahun kemudian orang-orang yang beragama Islam mulai berdatangan kembali kali ini di bawah pimpinan Haji Sihabudian beserta pengikutnya yang terdiri dari Haji Yasin ( orang suku bugis asal Buleleng ) Tuan Lebay asal Serawak dan Datuk Guru Syah suku keturunan Arab. menjelang beberapa tahun kemudian iring-iringan perahu dengan perlengkapan senjata perang kemudian datang lagi dari arah timur dan kali ini rupanya iring-iringan yang datang adalah sisa-sisa dari pasukan Sultan Pontianak yang telah tersingkir dari Kalimantan karena dikalahkan VOC. mereka ini di pimpin oleh Syarif Abdullah bin Yahya Maulana al-qodery. dan atas ijin Sihabudin mereka diijinkan masuk ke Kuala Perancak dan berlabuh di pelabuhan darurat Air Kuning. di dengarnya Bandar Pancoran merupakan bandar yang ramai mereka masuk menysuri Sungai Ijo Gading melihat sungai yang banyak kelokan mereka teringat dengan kampung halaman di Pontianak lalu mereka berteriak dengan di komandoi liloan, liloan, liloan. ( bahasa melayu artinya belokan ) dari kata itulah anak buah Syarif Abdullah kemudian memberikan nama sungai tersebut sungai liloan. dan lama kelamaan menjadi kata Loloan.

oleh sahbandar mereka diajak menghadap Raja Anak Agung Seloka sebagai rasa hormat dan mengeluarkan persahabatan. kemudian Raja Jembarana menerima persahabatan dengan syarat meriam-meriam yang mereka bawa harus diserahkan seperti orang Bugis dahulu. akan tetapi Syarif Abdullah menolak permintaan Raja Jembrana tersebut secara halus dan dengan jaminannya Syarif Abdullah akan membantu Raja Jembrana melawan para musuh musuhnya atau VOC, Rajapun sepakat dengan tawaran seperti itu dan kemudian Raja memberikn 80 ha tanah di kiri-kanan tebing Sungai Ijo Gading untuk pemukiman mereka. dengan ijin itulah Syarif Abdullah beserta anak buahnya membanguan perkampungan di daerah yang sudah di tunjuk dan di sebelah timur pula lah kemudian di bangun sebuah benteng yang kemudian di beri nama Benteng Fatimah ( nama yang diambil dari nama istrinya Syarif Abdullah putri Sultan Banjarmasin ). perahu-perahu perangnya di ubah menjadi perahu dagang sementara meriam-meriamnya diturunkan dan kemudian ditempatkan di Benteng Fatimah. Sejak itulah mereka berperan penting mengembangkan perekonomian di Jembrana serta menjaga dari serbuan serbuan Kerajaan lainnya di Bali. perjalanan dagang mereka sampai juga ke Malaka dan daerah lainnya di Nusantara, lalu kemudian mereka membawa sanak keluarganya ke Jembarana.

Bandar Loloan menjadi ramai untuk perdagangan, dan pada tahun 1803 akhirnya puri Jembrana yang megah resmi berdiri dan di perkampungan Islam tahun 1852 berhasil mendirikan sebuah bangunan mesjid besar. Hal ini kemudian membuat iri kerajaan-kerajaan yang ada di Bali karena kemakmurannya selain itu juga menganggap Kerajaan Jembarana ini dirasa setrategis bagi Kerajaan Badung khususnya, karena saat mereka pergi berdagang ke wilayah Jawa maka bandar yang ada di Jembrana dijadikan sebagai tempat singgah dan tempat berdagang juga.dan pada tahun 1805 pula Kerajaan Badung menyrang Jembrana dan pada saat itu juga mereka kalah. namun Kerajaan Badung tetap mengangkat Raja Jembarana sebagai penguasa untuk menghindari terjadinya pemberontakan. akan tetapi untuk mengawasi kepentingan Jemberana Raja Badung menempatkan pasukannya dan pasukan orang Bugis. Dan pada kenyataannya Raja Jembarana tetap saja membangkang dan tidak mau mengakui sebagai vasal Badung. sehingga kemudian Raja Pamecutan mengangkat Fatiimi seorang Bugis dari Badung menjadi vasal Badung di Jembarana. sedangkan Gusti Gde Jembarana berkedudukan di bawah Fatiimi. ( R. Van Eck,1880 : 211 )

kemjuan orang Bugis ini juga ternyata membuat iri Raja Buleleng bukan saja kededudukan mereka yang memegang peranan tetapi juga adanya orang-orang Jembarana yang mengadu ke Buleleng. dalam pengaduannya mereka betapa sewenang-wenangnya mereka di Jembrana. pengaduan ini juga kemudian di terima oleh Mengwi maklum saja Jembrana sebelumnya merupakan dari vasal Mengwi. Buleleng kemudian mencoba mendesak Badung untuk melenyapkan orang Bugis di Jembrana. dengan selembar surat dari Raja Buleleng. " api yang baru menyala harus dipadamkan, kalau api menjalar dan membesar dan menyentuh benda-benda di sekitarnya sangat sukar untuk menahan api itu".( P.H. Van der kemp, 1899 : 334 )

Atas desakan Raja Buleleng itu akhirnya Kerajaan Badung bersikap pasif dan menyerahkan semuanya kepada Buleleng. dengan dasar itulah Buleleng akhirnya membujuk Gusti Gde Jembrana untuk membantu usahanya untuk menyerang orang-orang Bugis di Jembrana, dengan janji bilamana menang, Gusti Gde Jembrana akan dikembalilkan haknya sebagai Raja di Jembrana.( Wayan Ranteg, 1984:79).

Tentu saja Raja Jembarana langsung menyetujui maksud dari Kerajaan Buleleng dengan menyiapkan 5000 tentara dengan berpura pura membantu orang Bugis disana sehingga maksud dari Raja Rembarana tidak di curigai. itupun kemudian bergabung dengan pasukan Buleleng yang berjumlah 10000 orang dengan di pimpin oleh patih I Gustu Noman Jelantik dan kemudian mereka mengalahkan pasukan dari Bugis dengan dipimpin langsung oleh Fattimi melayani gempuran dari pasukan gabungan Jembrana dan Buleleng walaupun pasukan Bugis perlahan mundur akan tetapi perlawanan terus di lakukan hingga akhirnya Fattimi dan keluarganya gugur juga dalam perperangan dengan menikamkan kerisnya ke tubuhnya sendiri sementara jumlah korban sekitar 1200 orang ( Van eck, 1880: 73-74 ).

Dengan adanya kejadian ini kemudian berakhir jugalah kisah orang Bugis di Jembrana, sebagian mereka yang selamat dari peperangan itu kemudian menjalankan tetap menjalankan kegiatan seperti biasa. Fattimi sebagai puncak dari kejayaan suku Bugis di Jembrana telah berakhir sementara Syarif Abdullah tidak lagi dikisahkan setelah Kerajaan Jembrana dijadikan vasal dari Kerajaan Badung. dengan demikian kurang lebih sekitar dua abad sejak awal kedatangannya di Jembrana orang-orang Bugis telah mengalami banyak perkembangan juga. hingga akhirnya Kerajaan Jembrana dan umumnya Bali kemudian ditaklukan juga oleh Belanda.

Sabtu, 29 Desember 2007

religi

kabar dari kampung, Balaraja.
beberapa minggu yang lalu persisnya di awal bulan desember 07, sebuah surat kabar nasional ku nikmati dengan membaca nya lembar demi lembar, halaman demi halaman. dari sekian halaman yang aku baca ada salah satu kolom beritayang kemudian menjadi perhatianku. maklum saja, kolom berita tersebut membahas soal kampungku dan hal ini aku anggap sebagai sebuah perkembangan kampungku yang jauh disana, di kecamatan balaraja jelasnya. beritanya singkat hanya membahas soal pertemuan antara gubernur jakarta ( fauji bowo ) dengan gubernur banten ( ratu Atut )yang dalam pertemuannya membahas perencanaan pembuatan pasar induk di kecamatan balaraja ( pasar induk yang direncanakan sebagai pusat perdagangan komoditi untuk wilayah jakarta khususnya bahkan untuk expor)
sejenak aku berpikir setelah membaca berita tersebut, untuk pembuatan pasar induk di kecamatan balaraja aku rasa tempat ( pasar ) yang paling siap untuk di buat hal seperti itu adalah pasar sentiong yang lokasinya hanya sekitar 300 meter dari rumahku. saya anggap pasar tersebut merupakan tempat yang paling siap untuk di buat sebagai pasar induk tentunya selain wilayah pasar yang relaif dekat dengan jalur utama antara merak jakarta selain itu juga masih tersebidanya lahan untuk dijadikan pasar yang cukup luas dan daerah daerah lain yang ada di kecamatan balaraja tentunya tidak memiliki karakter wilayah yang sama dengan pasar sentiong.
Dengan adanya kabar tersebut, saya rasa wajar yah saat saya mencoba menuliskan sedikit tentang kampung ( mungkin karena rindu juga kali yah hikzz....)dan dengan adanya kabar tersebut tentunya bisa jadi nasib para warga di kampung sana jelas akan beruba ( tapi nggak tau berubahnya ke arah yang mana ), karena yang saya tahu sampai saat ini sebagian besar warga disana belum tentu memiliki kesiapan mental untuk menyambut dan mengisi akan adanya hal baru tersebut. dan apalah jadinya masyarakat disana yang selalu menganggap sok pintar tapi sangat mudah di manipilasi, bukan berarti saya tidak percaya kepada mereka. tapi kerana ini soal kepedulian saya saja akan kampung yang jauh disana karena mungkin ketakutan saya saja yang memandang sebagian masyarakat yang akhirnya hanya menjadi penonton saja, dan perlahan mereka terusir dari tanah kelahirannya karena tidak mampu lagi bersaing dengan para pendatang baru yang membuat usaha disana.
wacana ini tentunya bukan merupakan sebuah wacana baru bagi masyarakat yang tinggal di sekitaran pasar sentiong. karena beberapa puluh tahun yang lalu, dan saya sendiri pada saat itu masih anak anak yang masih seneng bermain. para orang-orang tua disana memiliki kisah yang unik akan tempat yang akan di bangun pasar induk tersebut. entah sejak kapan persisnya mitos tersebut dihembuskan yang pasti cerita akan hal tersebut sudah tersiar sejak saya kanak-kanak, mitos yang berbentuk ramalan tersebut masyarakat menganggapnya sebanding dengan ramalannya joyoboyo. ramalan tersebut berbunyi " nanti di suatu masa/waktu, tempat disana (di sekitaran pemakaman pecinaan) akan menjadi sebuah dermaga pelabuhan yang besar, disana akan banyak kapal kapal bersandar dan disanalah akan menjadi tempat pelabuhan perdagangan yang besar". memang hanya beberapa kalimat saja yang saya ingat akan tetapi masalahnya kemudian bukan cuman itu tapi lebuh kepada sebuah kebijakan pada pemerintah daerah.
sungguh mengesankan bukan. dan apakah ini merupakan sebuah hal yang kebetualan tentu bagi saya yang sampai saat ini menganggap bahwa sebuah kejadian yang terjadi bukan merupakan sebuah hal yang kebetulan dan hal kejadian tersebut sudah direncanakan. dan mungkin ini hanyalah sebuah pikiran tak waras saya saja yang kembali hadir. dan apakah memang benar hal ini adalah hal yang sudah direncanakan? ( yang pasti memang hal ini merupakan sebuah perencanaan yah emang jelas ini rencananya gubernur untuk membuat pasar induk disana...! maksudnya bila di hubungkan dengan cerita yang beredar di masyarakkat crut..! tapi masa sih hal ini merupakan hal kebetulan, tapi ah nggak mungkin lah. yah memang nggak mungkin...tapi kok pas bener yah antara ramalah dengan perencanaan pembangunan pasar...? ah memang aneh...! wew..wew..wew jangan jangan selama ini sebuah kebijakan pembangunan pemerintah sangan mempertimbangkan ramalan ato berawal dari sebuah ramalan..? tapi apakah mereka sebelumnya tahu klo di masyarakat sana ada ramalan yang seperti itu? jawabannya nggak mungkin kan...! tapi bagaimana juga klo misalkan pemerintah tahu akan cerita soal ranmalan tersebut, hal ini akan jelas kan bagaimana masyarakat kemudian di nina bobokan oleh pemerintah dan masyarakat di kurung dengan mitos mitos yang beredar di masyarakat saat hal tersebut bisa diujudkan oleh pemerintah. nah loh...lantas...! jangan-jangan... selanjutnya bagaimana.? walah bingung juga.....udah ah ngomongin hal kaya gitu, emang aneh.

Jumat, 26 Oktober 2007

religi

Tentang…
Hidup dengan janji berarti hidup dalam iman, tapi bukan iman pada tuhan yang sudah selesai diketahui. Ini iman dalam kekurangan, dan kedaifan-ihktiar yang tak ada henti-hentinya. Sabar dan tawakal Karena tuhan adalah tuhan yang akan datang. Sepenggal kalimat pembuka dalam tulisannya gunawan muhamad. Hasil pengetahuan para arifin adalah ketakmampuan mereka untuk mengenal dia. Al-ghazali dalam al-masdaq al-asna.
Kesesatan tentunya sudah sering kita dengar dalam pernyataan pernyataan para pemuka agama di nusantara ini. Lantas apakah sesat itu? Persoalan sesat tentunya hanyalah sebatas persoalan ketidak-cocokan atau ketidak sepemahaman saja dalam sebuan aliran, dan persoalan pembeda dalam menginterfretasikan akan ketuhanan. Sehingga istilah kasarnya dalam satu ajaran atau satu agama interfretasi akan tuhan itu sudah pasti akan berbeda. Karena sebagain besar diri manusia menganggap tuhan itu sebagai sesosok tuhan yang hadiri dalam kehidupan. Selain itu juga dalam mengenal wilayah ketuhanan, kemungkinan besar terjadi karena perjalanan spiritual setiap orang yang berbeda dalam merasakan kehadiran tuhan. Ruangan-ruangan yang sangat banyak berserakan tidak hanya di dalam diri kita tapi ruangan yang berada di luar diri kitapun pasti akan kita kenali dalam proses pencarian akan tuhan. Sebuah tempat yang sama akan dirasakan berbeda oleh setiap orang. Dengan adanya perasaan yang beda maka wajar bila pengalaman spiritual yang dialami tersebut akan menghasilkan sebuah istilah yang lain yang dirasa sesuai dan sudah mewakili sebuah keadaan jiwa saat berada di sebuah tempat.

Kecenderungan manusia untuk mencari tuhan tentunya dilatar-belakangi oleh keberadaan tuhan sendiri yang sudah banyak meninggalkan jejak jejak dari sebuah penciptaan. Jejak jejak tersebut selain adanya semesta raya ini juga dapat kita temukan dengan adanya identitas dari tuhan sendiri. Misalkan saja nama-nama yang dimiliki oleh tuhan, sebagai sebuah tanda tentunya manusia akan berpikir tentang apa yang sudah diberikan tanda tersebut. Sementara dorongan dalam diri setiap manusia terkadang memaksa untuk mengetahui, dan dengan kekuatan akalnya yang serba ingin tahu secara tidak langsung menjerat pikiran manusia masuk kedalam wilayah ketuhanan. Sementara disisi lain, secara fitrah ada keharusan manusia untuk bertemu dengan tuhannya.
Di wilayah nusantara ini penamaan akan tuhan tentunya sudah di kenali sebelum masuknya agama agama besar dunia. Dalam masyarakat suku mereka mengenal nama tuhan yang sangat berbeda dengan nama tuhan yang ada di suku lain, yah itulah tuhan mereka yang memberi kehidupan pada mereka dengan segala bentuk serta wujudnya. Kta akan mengenal nama nama tuhan seperti puang matoa ( ditoraja ), londong dilangit ( diminahasa ), mori karaeng ( di flores ), uis afu ( di timor ) yi tau wulu tau ( di sawu ) dan mula satene ( di seram ). Konsep tuhan yang seperti ini menurut bekker bersifat deistic ( ketuhanan murni ) dan tidak antropormik ( tuhan yang memanusia ) sehingga tuhan yang esa itu begitu besar dan absolute. Di masyarakat suku di flores tuhan tidak boleh di sebutkan namanya oleh masyarakat biasa, tuhan di sumba (ndapa teki tamo,numa ngara: yang tak dapat di sebut namanya dan dapat di ucap gelarnya) hanya para pemuka agama setempat dalam waktu-waktu tertentu yang dapat menyebutkannya sementara di toraja nama tuhan di ucapkan dengan bahasa rahasia. Dalam hal ini keberadaan tuhan buka berart tidak di kenal oleh masyarakat awam akan tetapi jauh dari pada itu menjaga kemurnian akan nama tuhan dianggap sebagai sesuatu prilaku yang sacral, sebab disisi lain kemahaan akan tuhan tentunya menjadikan keterjagaan akan kesucian tuhan itu sendiri. Karena secara tidak langsung setiap kali tuhan kita sebutkan, sebenernya kita tidak mengebut namanya. Seperti dalam kalimat para sutra menyebutkan “Budha bukanlah Budha dan sebab itu ia Budha” dengan artian tuhan yang kita acu dengan sepenggal kata, sebenarnya tidak terwakili oleh kata yang sudah di ucap, dan kita pasti akan sadar kalau tuhan tidak akan terwakili oleh kata.
Sejarah terbesar dari peradaban manusia adalah sejarah manusia yang menemukan tuhan, hal ini mungkin tuhan tidak hanya di temui dengan diri kita sendiri tapi dengan bersama samapun dilakukan. Sejarah ditemukannya tuhan yang dialami oleh jiwa dalam diri kita seharusnya hanya untuk pengalaman spiritual kita sendiri karena pertemuan jiwa kita dengan tuhan tersebut jelas akan dirasakan berbeda dan tidak mungkin sama dengan jiwa orang lain. disinilah kebanyakan keterjebakan manusia dalam mempersepsi dan berpikir tentang tuhan. Tuhan terkadang direduksi menjadi sebuah berhala ia hanya menjadi titik terakhir dalam penalaran tentang tuhan. Tuhan dianggap sebagai causa sui sebab yang tidak bersebab. Tuhan bukanlah hasil keinginan dan konklusi diskursus kita, tuhan benar benar tak harus ada karena ia ngetasai ada tapi tak termasuk ada. Walah…ngelantur juga kan….weh udah lah di tunda dulu…. Mumet.

Minggu, 21 Oktober 2007

religi

Jika nanti
Pada minggu pagi dan aku tidak bermimpi. Hanya sebagian kecil pikiran yang terus-menerus merasuk dalam otakku. mau tak mau aku harus memikirkan kata-kata atau kalimat yang harusnya tak aku pikirkan. Hanya sebuah pertanyaan awalnya. Hanya soal tanah yang suatu saat nanti meminta ujud awalmu apa yang akan kau beri? Sebagian masyarakat yang beragama menganggap tanah adalah awal dari kelahiran. Saripatinya membentuk benih yang di simpan dalam kandungan. Waktu kewaktu benih tumbuh dengan seharusnya. Seolah kejadian ini sangat alami dan tidak ada yang berperan dalam pembentukan ini, hanya saja pertanyaan-pertanyaan bermunculan kemudian saat aku mencoba menjawab satu pertanyaan awal tadi. Yang pasti aku tidak akan berbicara soal awal kehidupan untuk saat ini, karena kehidupan yang aku alami saat ini jauh lebih menarik untuk dipikirkan sambil menjalankan. Kemudian aku akan pergi sesukaku sambil memetik segala igauan yang pernah menjadi mimpiku atau mungkin juga akan menyetubuhi hamparan lautan yang membentang seolah melambaikan tangannya untuk segera aku arungi keindahan semesta ini

Aku pasti akan ingat kemana jalan untuk pulang, karena disana dirumah awalku akan banyak cacing-cacing mati memakan bangkai segala janji yang sudah kuberikan, sebagai sebuah janji yang sudah kuberikan pada matahari agar setiap pagi bisa kukenali dan hari musti di lewati. Tubuh ini seperti tak memiliki arti, saat janji yang sudah di beri tak tahu siapa yang sudah membuatnya, hingga ikatan-ikatan itu terasa dekat melekat melilit tubuh. Untungnya saja masih ada bumi yang begitu sabar dan dapat memaafkan segala keegoan, semoga saja seperti itu kenyataannya. tapi dengan sebuah catatan tentunya sebagian besar manusia bisa memahami akan apa yang sudah dirasakan oleh bumi ini dan tidak ada lagi yang akan terluka terkena bencana. Disana bumi akan merindukanmu dengan alunan lagu dendang pesisir. Sebuah nyanyian nyiur yang terus melantun menghantarkan pada mimpi yang tak lagi terbebani pada sebuah janji.

Langkah langkah kaki setiap hari yang sudah kita jalani entah untuk siapa, dan pastinya langkah kaki ini yang akan membawa kita ketempat tidur setelah lelah dan berat untuk melangkah tapi jangan lupa kita musti cuci kaki dan menggosok gigi.

Batu-batu dan kayu-kayu yang terbujur kaku masih menunggu, kita takakan musti ragu pada matahari yang setia masih membukakan segala pintu, tinggal memastikan saja ruangan mana yang akan kita kenali dan ruangan mana yang musti kita isi. Tanah yang perlahan beku serta angin yang terhempas syahdu masih setia dan rela menyambut segala kehadiran yang sudah lama dinanti.

Walau di tepi waktu itu sisa sisa amarah kembali tiba, toh semua sudah tak akan bisa merasa dan tak lagi bisa mengang segala keakuan. Air sudah mengalir di sungai menghantarkan rakit yang kan membawa kita pada sisi tepi di lain hari. Hanya anak-anak dengan pancaran biru warna matanya akan menyapa bukan disaat pagi buta.

Setiap tempat waktu pasti ada tempatnya, setiap tempat bila sudah dirasakan sesak dan hanya tinggalkan luka maka di negeri sebrang sana banyak tempat yang belum kau kenali dan belum pernah disinggahi, kaki kita dengan sendiri akan melangkah pada sebuah tepi disanalah rakit yang harus kita naiki. Disana di sebrang sungai ada dunia dengan waktu yang tidak di batasi.