Saat sebagian diri terdiam
Jari-jariku perlahan seperti kaku, semoga saja aku masih mampu untuk berkata kata dan menuliskannya. Kekakuan ini coba ku selami, untungnya tak membuat pikiranku beku. Hal ini akhirnya bukan hanya sebatas pembenaran dari segala kelakuan. Sebab tak ada pernyataan yang bisa aku pinjam, juga belum menemukan rangkaian kata yang bisa membuat orang percaya.
Diantara hamparan kesunyian, ditengah hempasan riak-riak yang menjadi alunan pengiring samudera yang bernyanyi. Perlahan mata coba ku pejam, mulut ini kupaksakan bungkam suara suara itu perlahan terdengar diselah selah rerumputan yang mulai berlarian setelah bersembunyi di balik semak. Yah…semak yang berada di bagian dalam diri. Walau mulut dibungkam, akan tetapi terlinga ini masih jelas mendengarkan makian dan segala keresahan pikiran yang terus merangkaikan kata-katanya.
Ingatan perlahan mulai berseri, jari jemari perlahan mulai menari. Indahnya hari yang aku lalui menjadikan diri bisa kembali memaknai sebuah arti yang baru saja terjadi.
Kehidupan, kehidupan…sepertinya hanya menjadikan keluhan-keluhan dari segala kebimbangan. Hingga akhirnya akan sampai juga pada satu keputusan untuk memastikan mana yang harus dikorbankan. semua sudah diciptakan dan kita tinggal membuktikan, semua tinggal menjalani sebab keinginan sudah ada dalam diri.
Yah…langkah pertama hanya tinggal menemukan jalan yang sudah diciptakan, lalu kita mulai menjalani dan semoga mimpi-mimpi itu bisa segera kita temui…
Dan saat aku meniatkan diri untuk mulai mengawali, kau berpesan agar aku berHATI-HATI….aku hanya bisa menyela dalam diri, heuh…hati-hati, sebuah kata yang berulang, cukup gampang di mengerti tapi sukar diberikan arti yang pasti…
Hati-hati, saat aku berjalan untuk menjalani satu perjalanan. Tetntunya perjalanan kali ini bukan sebuah perjalanan yang mudah, juga bukan juga sukar untuk di jalani. Lantas dibagian jalan yang sebelah mana dan di jarak yang keberapa kehati hatian itu bisa menjadi bukti. Bukankah saat aku terjatuh dan menabrak satu rintangan hingga akhirnya aku kembali terpental kau hanya akan berbicara, “aku sidah bilang sebelumnya kau musti hati hati” dan disisi lain aku sendiri tidak menjelaskan dibagian bagian yang mana aku musti berhati hati.
Aku seperti tak punya harga diri saat aku berjalan kehadapan illahi, tanpa tau bagaimana maengawali tanpa tau tempat tujuan yang nanti akan kutemui. Jika ia benar bersembunyi dalam diri yang jelas yang ada di dalam diri hanya sebagi sebuah representasi akan keberadaan Nya. sebab “INI” bukan berarti “INI”,” iTu” bukan berarti “iTu”. “Dia” bukan berarti “Dia”, “Aku” Bukan berarti “Aku” dan yang ditemui hanya istilah “bukan berarti” yang menjadikan satu pengingkaran didalam diri.
Keberadaan akan Ada Nya hanya ada pada pernyataan-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar