Senin, 01 Juni 2009

lainnya

hee..
Sedikit-sedikit haram…
Sedikit-sedikit haram…
Haram kok sedikit sedikit…
Kurang lebihnya seperti itu yang di ungkapkan oleh seorang kawan saat mendengar sebuah pernyataan tentang facebook yang dinyatakan haram oleh sekelompok para ulama di daerah jawa timur sana. Pernyataan tersebut tentu bukan cuman di muat di layar kaca, tapi juga termuat dalam surat kabar. Kejadian tersebut pastinya mendapatkan sebuah sebuah sambutan yang hangat dari orang orang penggila facebook yang sedang ramai ramainya dimanfaatkan sebagai media pergaulan manusia modern indonsia.
Bila menurut keterangan dari salah satu surat kabar, di haramkanya facebook karena web tersebut sudah banyak di salah gunakan, penyalah gunaan tersebut seperti mencari jodoh, berbicara yang tak selayaknya dibicarakan oleh kedua insan yang berbeda jenis kelamin. Patokannya memang jelas, di dalam hukum agama sudah di atur tata cara mencari jodoh/pasangan hidup. Dan memang benar, tapi apakah hal seperti itu dan hanya karena itu sampai harus mengeluarkan sebuah pernyataan haram segala. Jelasnya hal itu nggak cukuplah.
Karena kejadian ini, saya jadi teringat pada cerita seorang kawan yang mencoba mengulas kenapa minuman beralkohol itu diharamkan. Pembahasannya asik, hingga sampai pada satu kesimpulan bahwa objek yang ada sebenarnya tidaklah haram, tapi yang diharamkan sebenarnya saat seseorang melakukan (meminum). Saya baru sadar dengan kesimpulan tersebut setelah coba saya pikirkan dan ternyata memang antara melakukan dan sebuah objek adalah dua hal yang berbeda. Dan kebetulan dampak dari minuman memang bisa memabukan, dan saat seseorang tersebut mabuk dia lupa akan tuhannya.
Inti dari semuanya ternyata terletak pada kata LUPA KEPADA TUHANNYA, karena salah satu tujuan manusia diciptakan agar selalu INGAT PADA SANG PENCIPTA (dalam bahasa kampung itu istilahnya eling). Dan ternyata setelah di bawa ke hal yang lebih umum jelasnya setiap barang yang memabukan sudah pasti haram, klo misalkan barang tersebut bisa membuat orang lupa sama sang penciptanya.
Coba kita balik lagi ke masalah facebook, sebenarnya haram di bagian yang mana sih dari sebuah situs tersebut. Klo misal hanya masalah pencarian jodoh dan berbicara yang nggak nggak…hal tersebut saya rasa di setiap tempat dimanapun juga berlaku hal yang demikian. lantas apakah kita juga akan mengharamkan tempat tempat yang katanya akan menghasilkan kesesatan. Bukankah contoh dari tempat tersebut yang harus kita kenali dan kemudian setelah kita kenal coba kita keluar dari tempat tersebut. Belajar dari keburukan untuk meninggalkan yang buruk, pada saat kita bisa meninggalkannya hal baik tanpa dipelajaripun sudah kita tempati (hayooohhh..belibet).
Hal ini saya rasa, sama halnya saat ada pernyataan setan itu harus kita kenali (heuh..pernyataan yang aneh setan kok harus di deketi trus di kenali lagi kan padahalkan setan harus kita perangi, tapi justru sayangnya saat perang itu belum di mulai sebagian besar manuusia justru malah berlari menghindari heuh…gimana bisa perang). Mungkin ini hal baiknya saat kita coba mengenali syetan, karena logikanya saat lawan kita sudah kita kenali maka akan sangat mudah bisa kita taklukan. Dan memang proses mengenali beserta dosanya adalah konsekwensi setiap diri masing masing.
Karena hal tersebut sudah menjadi bagian dari kehidupan, apakah kita akan mengingkari sebuah kenyataan dari kehidupan. Jelas dengan mengingkari kehidupan secara nggak langsung kita sudah mengingkari yang sudah menciptakan kehidupan ini (mengingkari akan ciptaanya). Kejadian-kejadian yang kita hadapi yang seharusnya kita pelajari, karena turunya ayat alquran setelah adanya kejadian yang di alami oleh nabi. Mungkin kasarnya kitab tersebut bisa dianggap sebagai sebuah kitab kejadian dan kejadian kejadian tersebut adalah gambaran umum sebuah kehidupan yang dialami oleh setiap manusia dalam masa hidupnya.
Untungnya ada ayat yang menjelaskan klo tuhan itu gimana manusianya, tuhan akan menjadi baik jika dianggap baik dan begitu juga sebaliknya. Tapi masalahnya, layakah jika manusia sebagai mahluk ciptaanya, memperlakukan sang pencipta dengan cara mahluk ciptaannya atau mahluk ciptaannya yang harusnya hidup sesuai dengan ketentuan sang pencipta. Resikonya saat manusia hidup sesuai dengan ketentuan sang pencipta, maka di dalam diri manusia tidak ada hak untuk menilai apapun dan tidak memiliki apapun di dalam hidupnya. karena semua yang ada dan dialami dalam kehidupannya dianggap sudah menjadi ketentuan akan qodrat dan irodatnya. Manusia tidak lagi bisa kompromi atao negosiasi dan mungkin itu salah satu hukum tuhan yang tak akan pernah bisa di tawar lagi oleh mahluknya.
Disinilah mungkin pentingnya hakekat dan syariat, saat dua menjadi satu dan yang satu terbentuk dari dua unsur. Keduanya saling melengkapi dan tak akan saling menghianati. Seperti halnya satu nama Allah yang terbentuk dari 99 nama yang dimilikinya juga, semua menuju pada yang satu yakni Allah agar bisa merasakan kehadiran yang tunggal yakni dzar. Ato mungkin seperti halnya symbol salib antara vertical dan horizontal harus bisa diseimbangkan. Demi semata mendapatkan keutuhan dalam tatanan kehidupan dan keutuhan akan pencapaian hidup manusia.
Heuh…..makanya baca, baca, baca. Dan ingat orang yang membaca bukan berarti mereka punya hak untuk menilai, karena membaca dan menilai adalah dua hal yang berbeda tapi bisa jadi satu karena kan biasanya orang yang ngebaca sudah pasti bisa menyimpulkan bahan bacaannya dan kesimpulan kan bagian dari salah satu penilaian. Weh weh weh…nah trus gimana neh.

Tidak ada komentar: