saat pagi kembali
Awalnya aku hanya ingin berbagi nasib dengan menukarkan kesunyian dalam diri masing-masing. Hanya saja semua itu tak bisa terlepaskan begitu saja, waktu yang sudah aku sediakan hanya mampu menyisihkan percikan dari sisi-sisi kesunyian. Jika saja apa yang aku sudah rasakan bisa terlepas hingga terhempas, heuh…tapi tak semudah itu untuk mengawali apa yang seharusnya aku nikmati.
Sesaat sedikit harap melekat bersama pagi, kemudian pergi disaksikan oleh mentari. Aku hanya bisa berdiam diri menjadi saksi dari apa yang sudah terjadi. Tak ada yang ditinggalkan selain sesak yang berdesakan mengisi ruangan di dalam dada. Sayangnya aku tak menemukan kata yang bisa kau percayai untuk menaha langkah yang semakin menjauh. Hati yang luluh tak jua bisa menahan peluh.
Di kamar ini, yang hanya disaksikan oleh suara suara yang pelan merayap, keinginan itu mulai tersirami.
Sayangnya saat hari perlahan berganti Belum juga aku teryakini walau perempuan yang aku nanti sudah kembali menghampiri. Entah apa yang aku alami, kini. Seperti tak merelakan untuk memberikan hati agar bisa di mengerti. Dia, orang yang melukai tak selayaknya membuat mataku terjaga, sudah tak lagi ada rasa walau dia memaksa untuk memanja.
Diantara susunan kata kata yang sudah tercipta, diantara jajaran rasa yang sudah terbuang sia sia. Ada sisa-sisa yang akhirnya membuat aku percaya akan satu rasa yang tersisa.
Andai saja mesin pembaca isi hati yang dirasa sudah tercipta, barangkali begitu banyak yang berseliweran bermacam keraguan serta segala solusi yang masih menyatu dan terpisah. Seperti berada di dunia antah berantah, tak punya arah bukan berarti tak terarah.
Satu sajak yang berisi tentang ceritamu hilang…
mungkin saja aku lupa dan sudah membuangnya…
karena memang terlalu mudah cerita itu hilang begitu saja, juga dalam ingatan. Tak lagi menyisakan cerita walau sekarang kau sudah ada…
Anehnya cermin itu selain memantulkan bayangan sendiri,
ia juga melindungi matamu yang teduh
walau akhirny perlahan matamu mulai berkaca.
Pernah aku berkata : jangan pernah mengartikan segala sesuatu seorang diri. Sebab yang sudah menjadi mimpimu selain sudah kau jalani juga sudah lama kau kenali, hanya tinggal menunggu matahari itu pergi. Maka segala sesuatunya walau samar pasti akan terlihat oleh mata.
Serahkan pada malam, satukan dirimu dalam remang. Sebab sejatinya segala sesuatu di cipta bukan pada saat matahari menjelang tapi pada saat diri sudah bisa memaknai akan adanya malam. Apakah kau tidak pernah bertanya kenapa ayat ayat yang sudah kau percaya didapatkan pada saat hari sudah malam.
Yah itulah malam, yang menjadikan siang sebagai gudang permasalahan sekaligus untuk mengisikan jawaban. Hanya malam yang bisa memastikan kapan siang akan datang. Malam yang akan memastikan dimana seharusnya kau berjalan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar