bila saja
Bila saja pagi ini aku tak mengenali warna cahaya, mungkin saja mimpi yang hinggap semalam tak lagi aku bisa mengenalinya. Kepingan kepingan kata kata itu menjadikan otakku enggan untuk merangkainya. Saluran yang biasanya aku gunakan untuk merangkai kata kata menjadi kalimat sudah lama tak lagi aku bersihkan. Bisa jadi tersumbat, semoga kata kata itu tak menggerogoti pikiranku.
Tanggung jawab ini membuat aku bingung, ia seperti menyesatkan di tengah rimba belantara. Sementara keagungan yang mengalun lantun sayup sayup terdengar memanggil. Kembali, kembali, kembali. Disini rumahmu, rumah yang semestinya bisa kau jaga, rumah yang semestinya bisa kau rawat, rumah yang semestinya menghadirkan sebuah kebahagiaan yang terlihat dari pancaran senyuman.
Perasaan yang bertalu dalam hatimu adalah keraguanmu. Takakan ada orang yang bisa meyakinkanmu sebab kata kata semuanya sudah kau lapalkan. Rangkailah, bereskan agar tidak berserakan. Bekal yang sudah di sediakan sudah saatnya kau gunakan. Sayang bila itu di abaikan.
Nanti malam akan ada sebuah pertunjukan, pastinya kau akan sendang bila saja mau datang untuk menyaksikan. Tiket yang sudah di sediakan adalah tiket penonton. Jangan sampai kau malah menjadi pemain di tengah tengah acara pertunjuka. Hati hati, takut terjebak dalam sebuah rangkaian pertunjukan yan sudah di sajikan. Nanti kau akan bingung sendiri, hingga suatu saat kau sadar dan akan berkata “ini bukan sebuah permainanku, karena tiket yang aku bawa adalah tiket penonton”.
Dalam perjalanan kisahnya, pertunjukan ini menyoal pertunjukan tentang kehidupan. Dimana ada yang menjadi pemain, penonton, dan smuanya yang tak pernah bisa di sebutkan satu persatu. Ingat peran masing masing. Jangan pernah meragu dalam memainkan peran, karena keraguan akan menjebak kita pada pengingkaran sebuah keharusan. Keraguan akan membawa kita pada masalah yang seharusnya tidak pernah bisa kita masalahkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar