Minggu, 21 Oktober 2007

religi

Jika nanti
Pada minggu pagi dan aku tidak bermimpi. Hanya sebagian kecil pikiran yang terus-menerus merasuk dalam otakku. mau tak mau aku harus memikirkan kata-kata atau kalimat yang harusnya tak aku pikirkan. Hanya sebuah pertanyaan awalnya. Hanya soal tanah yang suatu saat nanti meminta ujud awalmu apa yang akan kau beri? Sebagian masyarakat yang beragama menganggap tanah adalah awal dari kelahiran. Saripatinya membentuk benih yang di simpan dalam kandungan. Waktu kewaktu benih tumbuh dengan seharusnya. Seolah kejadian ini sangat alami dan tidak ada yang berperan dalam pembentukan ini, hanya saja pertanyaan-pertanyaan bermunculan kemudian saat aku mencoba menjawab satu pertanyaan awal tadi. Yang pasti aku tidak akan berbicara soal awal kehidupan untuk saat ini, karena kehidupan yang aku alami saat ini jauh lebih menarik untuk dipikirkan sambil menjalankan. Kemudian aku akan pergi sesukaku sambil memetik segala igauan yang pernah menjadi mimpiku atau mungkin juga akan menyetubuhi hamparan lautan yang membentang seolah melambaikan tangannya untuk segera aku arungi keindahan semesta ini

Aku pasti akan ingat kemana jalan untuk pulang, karena disana dirumah awalku akan banyak cacing-cacing mati memakan bangkai segala janji yang sudah kuberikan, sebagai sebuah janji yang sudah kuberikan pada matahari agar setiap pagi bisa kukenali dan hari musti di lewati. Tubuh ini seperti tak memiliki arti, saat janji yang sudah di beri tak tahu siapa yang sudah membuatnya, hingga ikatan-ikatan itu terasa dekat melekat melilit tubuh. Untungnya saja masih ada bumi yang begitu sabar dan dapat memaafkan segala keegoan, semoga saja seperti itu kenyataannya. tapi dengan sebuah catatan tentunya sebagian besar manusia bisa memahami akan apa yang sudah dirasakan oleh bumi ini dan tidak ada lagi yang akan terluka terkena bencana. Disana bumi akan merindukanmu dengan alunan lagu dendang pesisir. Sebuah nyanyian nyiur yang terus melantun menghantarkan pada mimpi yang tak lagi terbebani pada sebuah janji.

Langkah langkah kaki setiap hari yang sudah kita jalani entah untuk siapa, dan pastinya langkah kaki ini yang akan membawa kita ketempat tidur setelah lelah dan berat untuk melangkah tapi jangan lupa kita musti cuci kaki dan menggosok gigi.

Batu-batu dan kayu-kayu yang terbujur kaku masih menunggu, kita takakan musti ragu pada matahari yang setia masih membukakan segala pintu, tinggal memastikan saja ruangan mana yang akan kita kenali dan ruangan mana yang musti kita isi. Tanah yang perlahan beku serta angin yang terhempas syahdu masih setia dan rela menyambut segala kehadiran yang sudah lama dinanti.

Walau di tepi waktu itu sisa sisa amarah kembali tiba, toh semua sudah tak akan bisa merasa dan tak lagi bisa mengang segala keakuan. Air sudah mengalir di sungai menghantarkan rakit yang kan membawa kita pada sisi tepi di lain hari. Hanya anak-anak dengan pancaran biru warna matanya akan menyapa bukan disaat pagi buta.

Setiap tempat waktu pasti ada tempatnya, setiap tempat bila sudah dirasakan sesak dan hanya tinggalkan luka maka di negeri sebrang sana banyak tempat yang belum kau kenali dan belum pernah disinggahi, kaki kita dengan sendiri akan melangkah pada sebuah tepi disanalah rakit yang harus kita naiki. Disana di sebrang sungai ada dunia dengan waktu yang tidak di batasi.

Tidak ada komentar: