Tentang…
Hidup dengan janji berarti hidup dalam iman, tapi bukan iman pada tuhan yang sudah selesai diketahui. Ini iman dalam kekurangan, dan kedaifan-ihktiar yang tak ada henti-hentinya. Sabar dan tawakal Karena tuhan adalah tuhan yang akan datang. Sepenggal kalimat pembuka dalam tulisannya gunawan muhamad. Hasil pengetahuan para arifin adalah ketakmampuan mereka untuk mengenal dia. Al-ghazali dalam al-masdaq al-asna.
Kesesatan tentunya sudah sering kita dengar dalam pernyataan pernyataan para pemuka agama di nusantara ini. Lantas apakah sesat itu? Persoalan sesat tentunya hanyalah sebatas persoalan ketidak-cocokan atau ketidak sepemahaman saja dalam sebuan aliran, dan persoalan pembeda dalam menginterfretasikan akan ketuhanan. Sehingga istilah kasarnya dalam satu ajaran atau satu agama interfretasi akan tuhan itu sudah pasti akan berbeda. Karena sebagain besar diri manusia menganggap tuhan itu sebagai sesosok tuhan yang hadiri dalam kehidupan. Selain itu juga dalam mengenal wilayah ketuhanan, kemungkinan besar terjadi karena perjalanan spiritual setiap orang yang berbeda dalam merasakan kehadiran tuhan. Ruangan-ruangan yang sangat banyak berserakan tidak hanya di dalam diri kita tapi ruangan yang berada di luar diri kitapun pasti akan kita kenali dalam proses pencarian akan tuhan. Sebuah tempat yang sama akan dirasakan berbeda oleh setiap orang. Dengan adanya perasaan yang beda maka wajar bila pengalaman spiritual yang dialami tersebut akan menghasilkan sebuah istilah yang lain yang dirasa sesuai dan sudah mewakili sebuah keadaan jiwa saat berada di sebuah tempat.
Kecenderungan manusia untuk mencari tuhan tentunya dilatar-belakangi oleh keberadaan tuhan sendiri yang sudah banyak meninggalkan jejak jejak dari sebuah penciptaan. Jejak jejak tersebut selain adanya semesta raya ini juga dapat kita temukan dengan adanya identitas dari tuhan sendiri. Misalkan saja nama-nama yang dimiliki oleh tuhan, sebagai sebuah tanda tentunya manusia akan berpikir tentang apa yang sudah diberikan tanda tersebut. Sementara dorongan dalam diri setiap manusia terkadang memaksa untuk mengetahui, dan dengan kekuatan akalnya yang serba ingin tahu secara tidak langsung menjerat pikiran manusia masuk kedalam wilayah ketuhanan. Sementara disisi lain, secara fitrah ada keharusan manusia untuk bertemu dengan tuhannya.
Di wilayah nusantara ini penamaan akan tuhan tentunya sudah di kenali sebelum masuknya agama agama besar dunia. Dalam masyarakat suku mereka mengenal nama tuhan yang sangat berbeda dengan nama tuhan yang ada di suku lain, yah itulah tuhan mereka yang memberi kehidupan pada mereka dengan segala bentuk serta wujudnya. Kta akan mengenal nama nama tuhan seperti puang matoa ( ditoraja ), londong dilangit ( diminahasa ), mori karaeng ( di flores ), uis afu ( di timor ) yi tau wulu tau ( di sawu ) dan mula satene ( di seram ). Konsep tuhan yang seperti ini menurut bekker bersifat deistic ( ketuhanan murni ) dan tidak antropormik ( tuhan yang memanusia ) sehingga tuhan yang esa itu begitu besar dan absolute. Di masyarakat suku di flores tuhan tidak boleh di sebutkan namanya oleh masyarakat biasa, tuhan di sumba (ndapa teki tamo,numa ngara: yang tak dapat di sebut namanya dan dapat di ucap gelarnya) hanya para pemuka agama setempat dalam waktu-waktu tertentu yang dapat menyebutkannya sementara di toraja nama tuhan di ucapkan dengan bahasa rahasia. Dalam hal ini keberadaan tuhan buka berart tidak di kenal oleh masyarakat awam akan tetapi jauh dari pada itu menjaga kemurnian akan nama tuhan dianggap sebagai sesuatu prilaku yang sacral, sebab disisi lain kemahaan akan tuhan tentunya menjadikan keterjagaan akan kesucian tuhan itu sendiri. Karena secara tidak langsung setiap kali tuhan kita sebutkan, sebenernya kita tidak mengebut namanya. Seperti dalam kalimat para sutra menyebutkan “Budha bukanlah Budha dan sebab itu ia Budha” dengan artian tuhan yang kita acu dengan sepenggal kata, sebenarnya tidak terwakili oleh kata yang sudah di ucap, dan kita pasti akan sadar kalau tuhan tidak akan terwakili oleh kata.
Sejarah terbesar dari peradaban manusia adalah sejarah manusia yang menemukan tuhan, hal ini mungkin tuhan tidak hanya di temui dengan diri kita sendiri tapi dengan bersama samapun dilakukan. Sejarah ditemukannya tuhan yang dialami oleh jiwa dalam diri kita seharusnya hanya untuk pengalaman spiritual kita sendiri karena pertemuan jiwa kita dengan tuhan tersebut jelas akan dirasakan berbeda dan tidak mungkin sama dengan jiwa orang lain. disinilah kebanyakan keterjebakan manusia dalam mempersepsi dan berpikir tentang tuhan. Tuhan terkadang direduksi menjadi sebuah berhala ia hanya menjadi titik terakhir dalam penalaran tentang tuhan. Tuhan dianggap sebagai causa sui sebab yang tidak bersebab. Tuhan bukanlah hasil keinginan dan konklusi diskursus kita, tuhan benar benar tak harus ada karena ia ngetasai ada tapi tak termasuk ada. Walah…ngelantur juga kan….weh udah lah di tunda dulu…. Mumet.
Hidup dengan janji berarti hidup dalam iman, tapi bukan iman pada tuhan yang sudah selesai diketahui. Ini iman dalam kekurangan, dan kedaifan-ihktiar yang tak ada henti-hentinya. Sabar dan tawakal Karena tuhan adalah tuhan yang akan datang. Sepenggal kalimat pembuka dalam tulisannya gunawan muhamad. Hasil pengetahuan para arifin adalah ketakmampuan mereka untuk mengenal dia. Al-ghazali dalam al-masdaq al-asna.
Kesesatan tentunya sudah sering kita dengar dalam pernyataan pernyataan para pemuka agama di nusantara ini. Lantas apakah sesat itu? Persoalan sesat tentunya hanyalah sebatas persoalan ketidak-cocokan atau ketidak sepemahaman saja dalam sebuan aliran, dan persoalan pembeda dalam menginterfretasikan akan ketuhanan. Sehingga istilah kasarnya dalam satu ajaran atau satu agama interfretasi akan tuhan itu sudah pasti akan berbeda. Karena sebagain besar diri manusia menganggap tuhan itu sebagai sesosok tuhan yang hadiri dalam kehidupan. Selain itu juga dalam mengenal wilayah ketuhanan, kemungkinan besar terjadi karena perjalanan spiritual setiap orang yang berbeda dalam merasakan kehadiran tuhan. Ruangan-ruangan yang sangat banyak berserakan tidak hanya di dalam diri kita tapi ruangan yang berada di luar diri kitapun pasti akan kita kenali dalam proses pencarian akan tuhan. Sebuah tempat yang sama akan dirasakan berbeda oleh setiap orang. Dengan adanya perasaan yang beda maka wajar bila pengalaman spiritual yang dialami tersebut akan menghasilkan sebuah istilah yang lain yang dirasa sesuai dan sudah mewakili sebuah keadaan jiwa saat berada di sebuah tempat.
Kecenderungan manusia untuk mencari tuhan tentunya dilatar-belakangi oleh keberadaan tuhan sendiri yang sudah banyak meninggalkan jejak jejak dari sebuah penciptaan. Jejak jejak tersebut selain adanya semesta raya ini juga dapat kita temukan dengan adanya identitas dari tuhan sendiri. Misalkan saja nama-nama yang dimiliki oleh tuhan, sebagai sebuah tanda tentunya manusia akan berpikir tentang apa yang sudah diberikan tanda tersebut. Sementara dorongan dalam diri setiap manusia terkadang memaksa untuk mengetahui, dan dengan kekuatan akalnya yang serba ingin tahu secara tidak langsung menjerat pikiran manusia masuk kedalam wilayah ketuhanan. Sementara disisi lain, secara fitrah ada keharusan manusia untuk bertemu dengan tuhannya.
Di wilayah nusantara ini penamaan akan tuhan tentunya sudah di kenali sebelum masuknya agama agama besar dunia. Dalam masyarakat suku mereka mengenal nama tuhan yang sangat berbeda dengan nama tuhan yang ada di suku lain, yah itulah tuhan mereka yang memberi kehidupan pada mereka dengan segala bentuk serta wujudnya. Kta akan mengenal nama nama tuhan seperti puang matoa ( ditoraja ), londong dilangit ( diminahasa ), mori karaeng ( di flores ), uis afu ( di timor ) yi tau wulu tau ( di sawu ) dan mula satene ( di seram ). Konsep tuhan yang seperti ini menurut bekker bersifat deistic ( ketuhanan murni ) dan tidak antropormik ( tuhan yang memanusia ) sehingga tuhan yang esa itu begitu besar dan absolute. Di masyarakat suku di flores tuhan tidak boleh di sebutkan namanya oleh masyarakat biasa, tuhan di sumba (ndapa teki tamo,numa ngara: yang tak dapat di sebut namanya dan dapat di ucap gelarnya) hanya para pemuka agama setempat dalam waktu-waktu tertentu yang dapat menyebutkannya sementara di toraja nama tuhan di ucapkan dengan bahasa rahasia. Dalam hal ini keberadaan tuhan buka berart tidak di kenal oleh masyarakat awam akan tetapi jauh dari pada itu menjaga kemurnian akan nama tuhan dianggap sebagai sesuatu prilaku yang sacral, sebab disisi lain kemahaan akan tuhan tentunya menjadikan keterjagaan akan kesucian tuhan itu sendiri. Karena secara tidak langsung setiap kali tuhan kita sebutkan, sebenernya kita tidak mengebut namanya. Seperti dalam kalimat para sutra menyebutkan “Budha bukanlah Budha dan sebab itu ia Budha” dengan artian tuhan yang kita acu dengan sepenggal kata, sebenarnya tidak terwakili oleh kata yang sudah di ucap, dan kita pasti akan sadar kalau tuhan tidak akan terwakili oleh kata.
Sejarah terbesar dari peradaban manusia adalah sejarah manusia yang menemukan tuhan, hal ini mungkin tuhan tidak hanya di temui dengan diri kita sendiri tapi dengan bersama samapun dilakukan. Sejarah ditemukannya tuhan yang dialami oleh jiwa dalam diri kita seharusnya hanya untuk pengalaman spiritual kita sendiri karena pertemuan jiwa kita dengan tuhan tersebut jelas akan dirasakan berbeda dan tidak mungkin sama dengan jiwa orang lain. disinilah kebanyakan keterjebakan manusia dalam mempersepsi dan berpikir tentang tuhan. Tuhan terkadang direduksi menjadi sebuah berhala ia hanya menjadi titik terakhir dalam penalaran tentang tuhan. Tuhan dianggap sebagai causa sui sebab yang tidak bersebab. Tuhan bukanlah hasil keinginan dan konklusi diskursus kita, tuhan benar benar tak harus ada karena ia ngetasai ada tapi tak termasuk ada. Walah…ngelantur juga kan….weh udah lah di tunda dulu…. Mumet.
2 komentar:
religi kenapa selalu menjadi tema menarik untuk ditelitip untuk didiskusikan?
hehe
yang pasti mungkin karena ketidak pahamankita ajakali yah.. makanya terkadang kita selalu membahas dan menggali kebenaran sebuah agama. dan juga klo misalkan kita sudah memahami esensi dari sebuah agama mungkin saja kita hanya mengamini dan tidak lagi mempertanyakan bahkan mendiskusikan... yang pasti seperti halnya cintalah yang sampe hari ini masih banyak orang membicarakan coba klo orang dah paham bener akan nilai sebuahcinta mereka hanya menjalankan dan mengamini sebuah kesejatatian cinta.. tapi emang tetep antara agama dan cinta adalah hal yang beda..hikzzz
Posting Komentar