mantra...he he he
Dalam khasana budaya nusantara keragaman hasil karya manusia bisa di lihat dan kita nikmati dalam berbagai bentuk dan rupa. Adanya kebutuhan dasar untuk saling melengkapi akan adanya rasa kekurangan menjadikan manusia terus mencari dengan berbagai cara. Dalam bentuk folklore hasil karya manusia bisa di kategorikan dalam tiga bentuk yakni
folklore lisan yang lebih mengorientasikan pada bentuk-bentuk lisan seperti karya sasta, serat dongeng, legenda, mitos dan lain sebagainya yang kedua yakni bentuk semi lisan dan tulisan yakni terjelaskan dan dapat kita temui dalam bentuk ritual keagaman, pertunjukan kesenian, permainan dan sebagainya, dan yang ketiga yakni foklor bukan lisan folklore ini lebih beroientasi penjelasan bentuk bangunan, peninggalan situs kepurbakalaan dan sebagainya. Ketiga bentuk tersebuta dalam masyarakat tradisi sudah menjadi keseharian yang tak bisa dilepaskan.
Pembahasan foklor lisan tentunya sudah banyak di bahas dan di kaji dengan berbagai cara pandang. Keberadaan sisa sisa peninggalan yang akhirnya hanya menyisakan jejak jejak pertanyaan yang harus di jawab dan dijelaskan sesuai dengan jiwa jaman.
Dalam dunia spiritual tradisional atau dunia mistik di jawa baik serat maupun mantra selalu mendapat tempat khusus dalam pemikiran masyarakat, hal ini dikarenakan adanya anggapan kalau tidak semua orang akan mampu menguasai hal-hal tersebut. Walaupun sebenarnya laku mistik ini akan membawa manusia pada pemahaman akan diri seseorang dan akhirnya akan membawa kepada kekuatan spiritual yang kemudian bisa di bawa kepada hal yang baik maupun hal yang buruk.
Sebuah mantra atau juga bisa diistilahkan dengan doa-doa suci yang terlantun dalam beberapa baris kata-kata dan sering digunakan oleh masyarakat sebagai sebuah awal untuk memulai segala bentuk kegiatan dalam keseharian. Memang dalam kenyataan-nya bentuk bentuk mantra ini beragam.
Dalam fungsinya Minimal ada tiga hal yang harus di kenali yakni pertama penggunaan untuk melukai seseorang, mantra ini biasanya di sebut sebagai mantra jahat karena ia hanya digunakan untuk melukai seseorang hingga akhirnya bisa membunuh orang tersebut. Mantara untuk melukai ini di setiap daerah yang berada di nusantara ini memiliki nama yang berbeda di sunda dengan istilah teluh, di bali dengan leak, di jawa dengan santet dll yang kedua mantara yang digunakan untuk mengobati, mantara ini digunakan sebagai sebuah pelengkap akan dualisme kehidupan dengan kata lain dalam perakteknya biasanya mantar mantra ini dianggap sebagai sebuah mantra yang baik karena ia hanya mengobatio ataupun hanya digunakan untuk menangkal dari mantra yang tidak baik. Dan yang ketiga di sebut sebagai sebuah mantra pengantara, sebagai sebuah mantra wilayah abu-abu dan berada diantara hitam dan putih sebenarnya sangat tipis sekali yang membedakan pusisi peleburan tersebut. Akan tetapi bila kita bedakan biasanya mantar mantra ini terebar dalam keseharian masyarakat pemenuhan hawa nafsu dan tak ada nurani dan lebih terkesan memaksakan seseorang untuk tunduk di hadapan kita seperti mantra-mantra dalam bentuk jaran goyang dll merupakan sebagai sebuah wilayah peleburan di bagian mantra jahat. Sementara disisi lain sebagai sebuah titik lebur dari mantra yang baik biasanya terlihat dalam mantra keseharian misalnya mantra-mantra seperti pengasihan agar banyak di senangi orang agar bila di gunakan untuk usaha usahanya lancer atau dagangannya laku keras.
Bila dikaji lebih lanjut lagi tentunya akan ada bermacam hal yang menopang dan mendukung keberadaan sebuah mantra, biasanya untuk menggunakan sebuah mantra seseorang harus menjalani beberapa proses agar sebuah mantra bisa digunakan. Setiap apa yang ada sudah pasti akan ada yang memilikinya begitu juga dengan mantra. Dan biasanya seseorang harus menjalani puasa mutih, pati geni beberapa hari atau dengan cara lain yang dianggap sebagai sebuah syarat seseorang bisa menggunakan mantra yang diinginkannya. Biasanya juga waktu puasa atau waktu menjalankan proses ritual ini sudah ditentukan karena ada hari hari dan jam jam tertentu sebuah mantra bisa di gunakan dan tidak bisa digunakan. Sebagai sebuah pantangan.
Bila di lihat secara setruktur hal ini sangatlah jelas bisa di lihat pertama dari waktu penggunaan biasanya tempat sepi dan sunyi dinggap sebagai sebuah waktu yang pas untuk menjalankan ritual ini sebagai sebuah awal dimulainya membacakan sebuah mantra. oleh karena itu kebanyakan mantra mantra dijalankan pada saat malam hari saat orang orang sudah tertidur. Dalam tataran teknis memang kebanyakan penggunaan mantra selalu menggunakan hal hal lain sebagai sebuah pelantara. Biasanaya untuk mantra mantra yang jahat lebih banyak menggunakan batuan udara sebagai sebuah pelantara. Bisa juga pelantaranya dalam bentuk makanan atau benda benda keseharian yang dianggap digunakan juga oleh si objek yang akan di tuju. Dan secara keseluruhan ada tiga hal dalam mengaflikasaikan sebuah mantra pertama tentunya kepercayaan serta keyakinan si pelaku dalam menggunakan mantra, kedua keberadaan objek akan keadaan cultur sebagai sebuah latar belakang, dan yang ketiga penggunaan sebuah sarana yang di gunakan sebab bukan hanya doa saja yang di bacakat dan di percaya akan dapat mempengaruhi seseorang tapi adanya hal lain yang kadang menentukan.
1 komentar:
mas encep...coba buka2 blognya anak2 teater topeng...
linknya ada di blogku
contohnya ni http://olarocknroll.blogspot.com/
atau
http://intancomunity.blogspot.com/
Posting Komentar