Ekspansi nasi
Makan…makan…makan… yah seperi itulah terkadang orang menyebutnya dalam sebuah tayangan tentang kuliner di sebuah stasiun tv. Kemudian istilah kuliner menjadi tidak asing di telinga masyarakat setelah mr Bondan dengan acara wisata kulinernya menjadi salah satu tayangan yang cukup memberikan kesan pada para penontonnya. Hal ini berdampak pada stasiun tv yang lainnya yang kemudian membuat acara dengan tema yang sama yakni kuliner.
Bagi saya jelas menarik bila kita berbicara mengenai persoalan makanan ini. Karena bukan cuman mentok pada persoalan perut ato persoalan aroma yang di hasilkan dari makanan sehingga memancing selera makan kita. Tentunya lebih dari itu, berbicara soal kuliner kita juga akan berbicara soal ekonomi, kesehatan, psikologi social, bahkan kita akan berbicara pada persoalan politik identitas dan exsistensi sebuah budaya dan pola kehidupan masyarakat saat mereka mencoba mencicipi makanan tersebut.
Dengan beragamnya sudut pandang sudah barang tentu saya sendiri tidak akan mampu untuk menjelaskan persoalan kuliner tersebut, serta keterhubungan diantara sub sub yang sudah saya paparkan sebelumnya. Dan disini saya hanya akan bercerita mengenai hal hal kecil saja yang pernah saya lihat, saya amati dan coba saya pikirkan hingga ahirnya meresahkan pikiran saya dan untuk hal iu juga saya coba menuliskan. Karena agaimanapun juga keresahan itu harus di tuliskan terlepas ada yang berminat membacanya atau memikirkannya juga.
Satu hal keresahan akan persoalan makanan tersebut yakni saat banyaknya para penjual makanan di tengan padatnya kota yang ada di Denpasar ini. Banyaknya kedai kedai makan tersebut anehnya justru di kembangkan oleh orang orang yang berada di luar masyarakat denpasar khususnya. Dan perkemangannya jelas sangat pesat, karena hampir di setiap ruas jalan raya akan dengan mudah kita temui jajakan makanan tersebut.
Sebut saja nasi campur atau pecel lele ato ayam goreng dengan bumbu pecel yang notabene makanan tersebut sangat identik dengan etnis tertentu (jawa) yang banyak beredar di Denpasar ini. Makanan yang di sajikan untuk makan malam tersebut yang bukanya hanya dari sore sampe malam saja sangat mendapatkan sambutan yang cukup lumayan besar, mungkin karena harganya yang murah hanya dengan harga dibawah sepuluh ribu kita sudah mendapatkan satu porsi makanan yang isinya lauk, sayuran dan segelas minnuman hangat atau dingin, pastinya cukuplah untuk membuat perut kita kenyang.
Kemudian yang mengganjal di pikiran saya awalnya saat diterimanya makanan tersebut di Denpasar ini kemudian mereka bisa berkembang dan bisa eksis. Dan jawabannya sangat mudah yang jelas yang membuat makanan tersebut tetap eksis sudah barang tentu ada pendukung dari makanan tersebut yakni tidak sedikit orang jawa yang merantau ke Denpasar. Tapi apakah hanya sebatas itu? Bukankah para konsumen mereka banyak juga orang Denpasar yang pastinya menikmati sajian dari makanan tersebut? Lantas bagaimana pertentangan makan tersebut terjadi sehingga sebagai sebuah solusinya memberikan pilihan yang sangat terbuka bagi “masyarakatnya”? dan untuk menjawab persoalan tersebut tentunya tidak gampang.
Bagi saya untuk menjelaskan pertanyaan yang demikian sama juga saat kita mencoba menjelaskan produk-produk makanan dengan label luar seperti Mc D, KFC atau Hoka-Hoka Bento dan sebagainya yang sangat ngetrend di masyarakat modern sekarang ini hanya saja yang membedakannya mungkin saja pangsa pasarnya, kemudian tempat penyajiannya dan menejemen pemasarannya saja berbeda yang dari kesemuanya jelas tidak susah untuk kita dapatkan. Tapi,,,ah pastinya terlalu rumit untuk memaparkan masalah semuanya.
Bagaimanapun juga kesemua produk makan yang saya paparkan diatas bukan produk yang lahir dari kreatifitas masyarakat setempat. ( aneh…belom selesai ngejelasin persoalan pertama, eh persoalan kedua dah nongol. Emang gak focus) jdi persoalan kedua yakni apakah produk makanan yang sudah di paparkan diatas akan mempengaruhi pola makan dan pola hidup masyarakat setempat. Karena bagaimanapun juga, setiap makan yang disajikan akan mempengaruhi pola prilaku seseorang, hal ini dapat kita lihat mulai dari cara menyajikan makanan, cara menyantap makan tersebut akan membawa seseorang pada pola tertentu. Yakni pola makan dan pola prilaku seseorang yang akan cenderung akan berprilaku sama dengan masyarakat dimana awal makan tersebut berkembang.
Hal yang seperti ini sudah barang tentu tidak akan pernah dirasakan secara sadar oleh para konsumennya. Karena hal tersebut mungkin saja terhalang oleh nikmatnya aroma serta nikmatnya rasa dari makanan yang kita santap, dan apakah hal tersebut bisa kita tanggapi secara wajar.
trus apa lagi yah....akhh...ntar ntaran aja deh ngelanjutinnya.... ah klo nggak gimana klo awab sendiri aja akan pertanyaannya...gak keberatankan.Ekspansi nasi
Makan…makan…makan… yah seperi itulah terkadang orang menyebutnya dalam sebuah tayangan tentang kuliner di sebuah stasiun tv. Kemudian istilah kuliner menjadi tidak asing di telinga masyarakat setelah mr Bondan dengan acara wisata kulinernya menjadi salah satu tayangan yang cukup memberikan kesan pada para penontonnya. Hal ini berdampak pada stasiun tv yang lainnya yang kemudian membuat acara dengan tema yang sama yakni kuliner.
Bagi saya jelas menarik bila kita berbicara mengenai persoalan makanan ini. Karena bukan cuman mentok pada persoalan perut ato persoalan aroma yang di hasilkan dari makanan sehingga memancing selera makan kita. Tentunya lebih dari itu, berbicara soal kuliner kita juga akan berbicara soal ekonomi, kesehatan, psikologi social, bahkan kita akan berbicara pada persoalan politik identitas dan exsistensi sebuah budaya dan pola kehidupan masyarakat saat mereka mencoba mencicipi makanan tersebut.
Dengan beragamnya sudut pandang sudah barang tentu saya sendiri tidak akan mampu untuk menjelaskan persoalan kuliner tersebut, serta keterhubungan diantara sub sub yang sudah saya paparkan sebelumnya. Dan disini saya hanya akan bercerita mengenai hal hal kecil saja yang pernah saya lihat, saya amati dan coba saya pikirkan hingga ahirnya meresahkan pikiran saya dan untuk hal iu juga saya coba menuliskan. Karena agaimanapun juga keresahan itu harus di tuliskan terlepas ada yang berminat membacanya atau memikirkannya juga.
Satu hal keresahan akan persoalan makanan tersebut yakni saat banyaknya para penjual makanan di tengan padatnya kota yang ada di Denpasar ini. Banyaknya kedai kedai makan tersebut anehnya justru di kembangkan oleh orang orang yang berada di luar masyarakat denpasar khususnya. Dan perkemangannya jelas sangat pesat, karena hampir di setiap ruas jalan raya akan dengan mudah kita temui jajakan makanan tersebut.
Sebut saja nasi campur atau pecel lele ato ayam goreng dengan bumbu pecel yang notabene makanan tersebut sangat identik dengan etnis tertentu (jawa) yang banyak beredar di Denpasar ini. Makanan yang di sajikan untuk makan malam tersebut yang bukanya hanya dari sore sampe malam saja sangat mendapatkan sambutan yang cukup lumayan besar, mungkin karena harganya yang murah hanya dengan harga dibawah sepuluh ribu kita sudah mendapatkan satu porsi makanan yang isinya lauk, sayuran dan segelas minnuman hangat atau dingin, pastinya cukuplah untuk membuat perut kita kenyang.
Kemudian yang mengganjal di pikiran saya awalnya saat diterimanya makanan tersebut di Denpasar ini kemudian mereka bisa berkembang dan bisa eksis. Dan jawabannya sangat mudah yang jelas yang membuat makanan tersebut tetap eksis sudah barang tentu ada pendukung dari makanan tersebut yakni tidak sedikit orang jawa yang merantau ke Denpasar. Tapi apakah hanya sebatas itu? Bukankah para konsumen mereka banyak juga orang Denpasar yang pastinya menikmati sajian dari makanan tersebut? Lantas bagaimana pertentangan makan tersebut terjadi sehingga sebagai sebuah solusinya memberikan pilihan yang sangat terbuka bagi “masyarakatnya”? dan untuk menjawab persoalan tersebut tentunya tidak gampang.
Bagi saya untuk menjelaskan pertanyaan yang demikian sama juga saat kita mencoba menjelaskan produk-produk makanan dengan label luar seperti Mc D, KFC atau Hoka-Hoka Bento dan sebagainya yang sangat ngetrend di masyarakat modern sekarang ini hanya saja yang membedakannya mungkin saja pangsa pasarnya, kemudian tempat penyajiannya dan menejemen pemasarannya saja berbeda yang dari kesemuanya jelas tidak susah untuk kita dapatkan. Tapi,,,ah pastinya terlalu rumit untuk memaparkan masalah semuanya.
Bagaimanapun juga kesemua produk makan yang saya paparkan diatas bukan produk yang lahir dari kreatifitas masyarakat setempat. ( aneh…belom selesai ngejelasin persoalan pertama, eh persoalan kedua dah nongol. Emang gak focus) jdi persoalan kedua yakni apakah produk makanan yang sudah di paparkan diatas akan mempengaruhi pola makan dan pola hidup masyarakat setempat. Karena bagaimanapun juga, setiap makan yang disajikan akan mempengaruhi pola prilaku seseorang, hal ini dapat kita lihat mulai dari cara menyajikan makanan, cara menyantap makan tersebut akan membawa seseorang pada pola tertentu. Yakni pola makan dan pola prilaku seseorang yang akan cenderung akan berprilaku sama dengan masyarakat dimana awal makan tersebut berkembang.
Hal yang seperti ini sudah barang tentu tidak akan pernah dirasakan secara sadar oleh para konsumennya. Karena hal tersebut mungkin saja terhalang oleh nikmatnya aroma serta nikmatnya rasa dari makanan yang kita santap, dan apakah hal tersebut bisa kita tanggapi secara wajar.
ah tapi males ngelanjutin tulisana..bingung... emm tapi gimana klo untuk pertanyaana di jawab sendiri aja yah..he he he...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar