Selasa, 30 Oktober 2007

makanan

Wisata kuliner dan masalah perut kita

Tayangan wisata kuliner dalam sebuah program televisi ternyata cukup banyak di nikmati oleh masyarakat. Hal ini bisa kita lihat bagaimana acara acara yang sejenisnya kemudian bermunculan dalam acara- acara siaran televise. Banyaknya bermunculan acara yang sama sudah pasti akan kita maklumi karena kondisi industri pertelevisian di masyarakat kita sepertinya yah memang seperti itu, saat reting sebuah tayangan didapatkat cukup tinggi maka tema tema yang sama juga diangkat dengan sebuah tayangan yang sebenarnya hampir sama juga. Pengemasan yang sederhana, yang hanya mengambil background dari satu tempat makan ketempat makan lain dengan sebuah acara kekseluruhan yang cukup santai. Hal ini dirasa pas dengan kondisi para penonton yang bisa menikmatinya dengan santai juga. Hanya saja bagai manpun juga, tayangan tayangan kuliner tersebut saya sendiri merasakan cukup muak dengan menontonnya. Bahkan terkadang saya sendiri merasakan jadi tidak enak makan setelah melihat tayangan tersebut.
Maklum saja bagaimanapun juga sebagai seorang yang masih belum jelas akan sebuah penghasilan antara makan dan tidak makan cukup seimbanglah dalam keseharian. Walaupun memang bisa makan, tentunya makanan yang saya makan tidak pernah sama dengan yang ada dalam tayangan tayangan tersebut. Bila bicara soal keterasingan.! saya sendiri memang merasa terasing, (mungkin juga mengasingkan diri he he) karena belum pernah mencoba makanan seharga yang sudah diberitakan tersebut trus hubunganan antara keterasingan dan nggak bisa beli makanan apa yah he he . Bagi beberapa golongan satu porsi seharga diatas lima puluh ribu sangat terjangkau, dan memang benar mereka bisa menikmati karena memang mereka mampu.
Walaupun memang tidak selamanya, tempat tempat yang mereka kunjungi dalam membuat acara tidak selamanya dan tidak selalu berada di tempat yang mewah. Karena beberapa episode dalam tayangan tersebut memang mengambil latar makanan-makanan yang berada di lesehan. Dengan sebuah suasana terkesan mereka yang tampil disana cukup menikmati makan yang sudah mereka sajikan.
Kita tidak pernah berpikir, bagaimana pola konsumsi yang sudah kita lakukan selama ini sudah cukup banyak mempengaruhi keadaan diri kita. Banyaknya penyakit salah satunya sudah jelas dari pola konsumsi makanaan yang di makan. Logikanya sederhanan, makana-makanan yang berada di supermarket supermarket dan tempat tempat yang katanya sudah menjamin akan nilai gizi serta kandungan akan vitamin yang mereka makan sudah pasti akan terjamin. Jadi wajar makanan-makanan dari bahan baku yang bersih mulus tanpa ada ulat satupun terkadang menjadi sebuah pilihan utmana untuk mereka konsumsi. Aneh memang, jelas aneh lah karena bagaimanapun juga pikiran saya menganggap binatang saja ( ulat dan teman temannya ) mereka sudah tidak lagi mampu untuk hidup di dalam bahan baku makanan tersebut. Sementara sebagian besar masyarakat kita justru makanan yang seperti itu menjadi menu pilihan utama. Lahhhh kok jadi kesini nulisnya wekzzz aneh…!.
Tahu makanan Indonesia secara tidak langsung kita akan mengenal berbagai macam karekter manusia Indonesia. Keadaan ekonomi masyarakat Indonesia dan kita akan tahu hal-hal yang lainnya menyangkut kepribadian manusia Indonesia. Banyak memang hal hal yang menarik dari sebuah makanan yang sudah kita makan.
Seperti itulah mungkin salah satu tujuan yang mendasari tayangan tentang kuliner ditayangkan. Memang bukan cuman soal reting demi kepentingan usaha pertelevisian akan tetapi hal-hal lain yang jauh lebih menarik. Ada baiknya tayangan tersebut tidak harus melulu menyajikan sebuah makanan yang dihidangkan dengan “mak nyusnya saja”saat makan tersebut di santap, tapi sudah sebaiknya latar belakang makanan tersebut baik yang berlatarkan tentang sejarahnya makanan, maupun yang melatar belakangi terbentuknya makanan yang sudah bisa diciptakan dengan wujud seperti itu. bagi saya mungkin akan jauh lebih menarik untuk disajikan ke masyarakat. Sebab bagaimanapun juga sebuah makan yang seperti saya tuliskan sebelumnya akan mewakili latar belakang kondisi sosial budaya masyarakat Indonesia.
Keunikan akan mengemas sebuah makanan untuk dimakan memang banyak jalan cerritnyanya. Bahan bahan yang mungkin saja bagi sebagian kita tidak ada nilai gizinya toh masih juga dapat kita temukan di daerah daerah seperti makanan jukut ares, makanan tersebut di buat dari pelepah pisang batu yang kemudian dimasak menjadi sebuah kuah yang di makan untuk menemani lawar. Secara logika kita pasti makanan tersebut tidak ada nilai gizinya tapi anggapan dari kawan kawan saya justru makanan tersebut dapat menetralisir dari makanan lawar (yang di buat dengan bahan daging) yang sudah dimakannya.
Disisi lain saya sendiri berpikiran bagai mana awal makan tersebut di buat, jangan jangan makan tersebut di buat pada masa susuahnya masyarakat setempat memperoleh makan (yang layak untuk di konsumsi dengan latar belakang nasi serta sayuran dengan lauknya) dikarenakan karena kondisi pemerintahan pada saat itu memang tidak setabil sehingga untuk mendapatkan makanan mereka mengexplorasi tumbuh-tumbuhan yang bisa di makan untuk memepertahankan hidup. Hal tersebut jika benar maka akan jelas bagai mana sebuah makanan serta korelasinya terhadap perpolitikan yang mengakibatkan krisis ekonomi yang sudah dialami oleh pemerintahan, sehingga dampak kemiskinan dapat dirasakan oleh masyarakat ini dan dengan salah satu wujud nyatanya yang kita bisa lihat dari makanan yang sudah di konsumsi tadi.

Tidak ada komentar: