Makanan, sesaji dan ritus keagamaan
Suatu malam di sebuah rumah yang tidak terlalu mewah aku tak bisa mngeingkari akan laparnya perut ini. Mau tak mau di rumah yang sudah aku anggap rumahku sendiri dan orang-orang yang mengisi rumahnya sudah aku anggap sebagai orangtuaku kebiasaan lama aku kembali ( mungkin karena perut dah merasa lapar ) tanpa mnghiraukan orang yang mengisi rumah itu aku pergi ke dapur dan mencari sisia sisa makanan yang dimakan tadi sore. Bukan sebuah kebetulan akurasa bila ternyata di dalam lemari makanan terdapat ayam bakar yang terbungkus dalam kotak. Tanpa berpikir panjang langsung saja aku santap ayam tersebut kujadikan sebagai pelengkap makanku. Tidak banyak memang daging ayam yang aku makan. Hanya saja di tengah tangah asiknya santap malam, datanglah kemudain orangtua yang beranjak dari tidurnya dan berkata kata kepadaku “emangnya daging ayam ini aku belikan untuk mu apa, seenaknya saja makan” orang tua itu langsung mengambil sebagian besar daging yang sudah aku buka. setelah mendengar perkataan seperti itu, selera makanku langsung saja hilang dengan segera.
Kejadian tersebut terus terag membuat aku sedikit tercengang, karena selain pertama mengalaminya juga banyak pertanyaan pertanyaan yang bermunculan dari sebuah omelan orang tua itu. Dan ku masih memeikirkan akan makanan tersebut dan klau misalkan makanan tersebut bukan orang yang ada di rumah lantas untuk siapa ia membelikan ayam baker itu. Malam itu aku tidak menemukan jawabannya dan aku sendiri tidak ada keberanian untuk menanyakan hal tersebut. Ah sudahlah pikirku, mungkin makanan tersebut untuk sesuatu hal yang ia percayai akan membawa kebeuntungan baginya dan tentunya aku akan tidak mempedulikannya. Aku hanya menyadari di rumah ini dengan lingkungan masyarakat tradisi aku menganggapnya sudah biasa hal ini terjadi. Walaupun hal tersebut hanya cerita cerita yang aku dengar saja dari obrolan di sebuah warung kopi.
Prihal makana tentunya bagi masyarakat tradisi di beberapa tempat di jawa tettunya akan memiliki makna lain, sepiring makanan tidak hanya di khususkan oleh manusia saja yang memakannya tapi karena besarnya kekeprcayaan yang masih banyak berlaku di berbagai kelompok masyarakat menjadikan makanan sebagai sebuah sarana untuk sebuah sesaji yang di khususkan untuk roh-roh nenekmoyang/ leluhur ataupun untuk sesuatuhal yang di percaya akan membawa keberuntungan dengan harapan sebagian besar keluarga mereka tidak diganggu oleh mahluk-mahluk halus tentunya dan sebagai sogokannya yang berupa sesaji makan tersebut.
Dimasyarakat Indonesia moderen dan dalam konsep kesehatan gizi kita akan mengenal istilah 4 sehat 5 sempurna sebagai menu tambahan untuk masalah gizi bagi manusia. Sementara bagi sesaji kita juga akan mengenal istilah tersebut dengan 7 rupa dan 5 rasa yang terbagi dalam bentuk 7 rupa makanan dengan bentuk serta warna yang berbeda dan 5 rasa minuman dengan rasa yang berbeda seperti kopi manis, kpi pahit, teh manis/ pahit, susu dan air putih. 7 rupa makanan dengan lima rasa minuman tettunya mamiliki makna tersendiri bagi masyarakat yang percaya akan keberadaan leluhurnya.
Sebagai sebuah ucapan trima kasih dan sebagai sebuah sarana keagamaan. Sebuah makanan akan mengalami perlakuan yang berbeda sebab bagaimanapun juga makanan disini sudah memiliki nilai sacral sebab tidak boleh dimakan dan lebih mendahulukan leluhur untuk mencicipi makana tersebut dan manusia disini menjadi orang kedua yang akan memakan sajian tersebut. Dan makanan tersebut akan menjadi propan bila sebuah ritus penyajian makana tersebut sudah selesai dilaksanakan dengan sebuah tahapan ritual kepercayaan.
Kedekatan makanan dengan ritus keagamaan dimasyarakat berlangsung sudah sejak lama dan di pegang erat oleh penganut kepercayaan tersebut. Bentuk-bentuknyapun beragam tergantung jenis upacara apa yang dilangsungkan sehingga ketidak-samaan ritual ini sudah pasti akan membedakan bentuk sesaji yang dihidangkan. Ritual-ritual keagamaan yang melibatkan berbagai sajian makanan untuk saat ini masih banyak bisa kita temui baik dalam televise ataupun secara langsung. Makna dalan setiap bentuk sesaji tentunya akan sangat berbeda.
Di dalam perkembangannya dan besarnya pengaruh agama langitan secara tidak langsung mengeser sebuah tatanan makna yang sudah ada. Saya sendiri menganggap pergeseran makna tersebut karena selain bedanya bentuk tatanan dari sebuah agama yang tidak membolehkan akan ritus tersebut, dan sisi lain masyarakat yang ingin mempertahankan kebiasaan dri orang orang sebelumnya tetap berjalan. Misalkan saja yang paling mudah di lihat di masyarakat tradisi saat mereka melakukan jiarah kubur yang membawa bekal makanan dengan satu daging ayam utuh yang dibakar serta beberapa ikan. Bagi masyarakat tradisi lama pola dan maknanya akan sama sebagai sesaji untuk leluhur yang sudah meninggal ( dan ini dianggap sebagai sebuah perbuatan bidah dalam agama islam ) dan makana bagi masyarakat tradisi sekarang makna yang terkandung didalamnya yah..! untuk bekal makan bersama-sama saja setelah mereka melakukan jiarah kubur.
Yang pasti akan selalu bahasan lain dan pasti melebar bila saya sendiri meneruskan tulisan ini…( padahal males nulis he eh ehe he he)
Kejadian tersebut terus terag membuat aku sedikit tercengang, karena selain pertama mengalaminya juga banyak pertanyaan pertanyaan yang bermunculan dari sebuah omelan orang tua itu. Dan ku masih memeikirkan akan makanan tersebut dan klau misalkan makanan tersebut bukan orang yang ada di rumah lantas untuk siapa ia membelikan ayam baker itu. Malam itu aku tidak menemukan jawabannya dan aku sendiri tidak ada keberanian untuk menanyakan hal tersebut. Ah sudahlah pikirku, mungkin makanan tersebut untuk sesuatu hal yang ia percayai akan membawa kebeuntungan baginya dan tentunya aku akan tidak mempedulikannya. Aku hanya menyadari di rumah ini dengan lingkungan masyarakat tradisi aku menganggapnya sudah biasa hal ini terjadi. Walaupun hal tersebut hanya cerita cerita yang aku dengar saja dari obrolan di sebuah warung kopi.
Prihal makana tentunya bagi masyarakat tradisi di beberapa tempat di jawa tettunya akan memiliki makna lain, sepiring makanan tidak hanya di khususkan oleh manusia saja yang memakannya tapi karena besarnya kekeprcayaan yang masih banyak berlaku di berbagai kelompok masyarakat menjadikan makanan sebagai sebuah sarana untuk sebuah sesaji yang di khususkan untuk roh-roh nenekmoyang/ leluhur ataupun untuk sesuatuhal yang di percaya akan membawa keberuntungan dengan harapan sebagian besar keluarga mereka tidak diganggu oleh mahluk-mahluk halus tentunya dan sebagai sogokannya yang berupa sesaji makan tersebut.
Dimasyarakat Indonesia moderen dan dalam konsep kesehatan gizi kita akan mengenal istilah 4 sehat 5 sempurna sebagai menu tambahan untuk masalah gizi bagi manusia. Sementara bagi sesaji kita juga akan mengenal istilah tersebut dengan 7 rupa dan 5 rasa yang terbagi dalam bentuk 7 rupa makanan dengan bentuk serta warna yang berbeda dan 5 rasa minuman dengan rasa yang berbeda seperti kopi manis, kpi pahit, teh manis/ pahit, susu dan air putih. 7 rupa makanan dengan lima rasa minuman tettunya mamiliki makna tersendiri bagi masyarakat yang percaya akan keberadaan leluhurnya.
Sebagai sebuah ucapan trima kasih dan sebagai sebuah sarana keagamaan. Sebuah makanan akan mengalami perlakuan yang berbeda sebab bagaimanapun juga makanan disini sudah memiliki nilai sacral sebab tidak boleh dimakan dan lebih mendahulukan leluhur untuk mencicipi makana tersebut dan manusia disini menjadi orang kedua yang akan memakan sajian tersebut. Dan makanan tersebut akan menjadi propan bila sebuah ritus penyajian makana tersebut sudah selesai dilaksanakan dengan sebuah tahapan ritual kepercayaan.
Kedekatan makanan dengan ritus keagamaan dimasyarakat berlangsung sudah sejak lama dan di pegang erat oleh penganut kepercayaan tersebut. Bentuk-bentuknyapun beragam tergantung jenis upacara apa yang dilangsungkan sehingga ketidak-samaan ritual ini sudah pasti akan membedakan bentuk sesaji yang dihidangkan. Ritual-ritual keagamaan yang melibatkan berbagai sajian makanan untuk saat ini masih banyak bisa kita temui baik dalam televise ataupun secara langsung. Makna dalan setiap bentuk sesaji tentunya akan sangat berbeda.
Di dalam perkembangannya dan besarnya pengaruh agama langitan secara tidak langsung mengeser sebuah tatanan makna yang sudah ada. Saya sendiri menganggap pergeseran makna tersebut karena selain bedanya bentuk tatanan dari sebuah agama yang tidak membolehkan akan ritus tersebut, dan sisi lain masyarakat yang ingin mempertahankan kebiasaan dri orang orang sebelumnya tetap berjalan. Misalkan saja yang paling mudah di lihat di masyarakat tradisi saat mereka melakukan jiarah kubur yang membawa bekal makanan dengan satu daging ayam utuh yang dibakar serta beberapa ikan. Bagi masyarakat tradisi lama pola dan maknanya akan sama sebagai sesaji untuk leluhur yang sudah meninggal ( dan ini dianggap sebagai sebuah perbuatan bidah dalam agama islam ) dan makana bagi masyarakat tradisi sekarang makna yang terkandung didalamnya yah..! untuk bekal makan bersama-sama saja setelah mereka melakukan jiarah kubur.
Yang pasti akan selalu bahasan lain dan pasti melebar bila saya sendiri meneruskan tulisan ini…( padahal males nulis he eh ehe he he)
1 komentar:
smangat oooooooooooooooooooooooooom smangat bgt
?
Posting Komentar