Makanan pesta setelah perang
Bagi masyarakat Indonesia umumnya nasi adalah sebuah makan pokok yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat, kebiasaan mengkonsumsi makanan ini kemudian muncul istilah belum dikatakan makan bila belum makan nasi walaupun pada saat waktu makan mereka sudah menyantap singkong atau makanan makanan lain yang secara gizi sudah cukup bila di makan. Pada setiap tempat dimanapun perbedaan pula makan dan pola konsumsi makanan secara tidak langsung akan membedakan juga pola pikir dan pola prilaku masyarakatnya ( selain lingkungan alam tentunya ).
Bagi manusia yang dikategorokan sebagai mahluk yang memakan segala ( baik daging maupun tumbuhan ) selalu menjadikan prioritas utama dalam menjalankan hidupnya. Banyak sekali alasan soal makanan ini di jadikan sebagai sebuah tameng dari proses menjalankan hidup ini. Orang orang bekerja alasannya pertama agar ada jaminan mereka bisa makan untuk hari ini dan beberapa hari kemudian. Dan hal ini tidak berlaku bagi orang kaya saja bagi orang miskin secara materialpun keduanya sama sama masih memiliki rasa takut akan tidak makan ( takut akan rasa lapar ) karena konsekwensinya yah jelas orang yang sudah bosen makan cuman orang “mati”. Ktakutan ini tidak hanya terjadi pada orang yang takut tidak bisa makan karena tidak ada makanan yang harus dimakan. Orang orang yang kelebihan makananpun ternyata masih juga masih memiliki ketakutan soal makanan.
Didalam perkembangan proses kebudayaan, setelah manusia bisa menjinakan binatang yang berada di setiap lingkungan dan bisa mengkategorikan binatang binatang apa saja yang bisa di pelihara dan tidak akan mengancam keberadaan manusia secara langsung membuat pola kehidupan manusia sudah mulai teratur. Karena mereka harus sudah memiliki tempat tinggal yang menetap dan tidak berpindah pindah tempat lagi. Memiliki binatang ternak sebagai sebuah jaminan akan kebutuhan makan ( selain kegiatan utamanya masih berburu untuk mendapatkan makanan ). Secara tidak langsung ternyata membawa sebuah keresahan baru dengan binatang ternaknya.
Babi sebagai sebuah hewan piaraan yang memiliki nilai lebih ( ketmbang binatang lain ) bagi suku suku pedalam di papua. Dalam sebuah buku laporan perjalanan menjelaslan bagaimana hewan peliharaan tersebut dapat mengancam keberlangsungan hidup manusia. Proses konflik antara mansyarakat suku dengan hewan leliharaannya cukup unik, karena suku tersebut akan melibatkan kelompok lain untuk mengatasinya. Pertama tama mereka beternak bagi sebagai sebuah makanan di waktu waktu tertentu saja oleh karenanya babi tersebut dianggap hewan yang sacral. Jadi masyarakat tersebut beternak babi sudah menjadi keharusan dan bahkan sama memperlakukan babi dengan anak sendiri dan ada yang memperlakukan lebih ketimbang anak sendiri. Karena kebanyakan beternak babi, sementara untuk konsumsi daging sebagian laki laki berburu hewan lain untuk dijadikan sebagai sebuah makanan yang di konsumsi sehingga lama kelamaan makin banyak babi yang sudah di ternak tersebut dirasakan mengancam akan keberlangsungan hidup manusia, selain makin banyak makanan yang diberikan untuk babi juga semakin besar popolasi pertumbuhan babi di sana. Dan untuk nenyetabilkan akan binatang peliharaan itu dibuatkanlah konflik antar suku untuk melakukan peperangan. Karena secara logikanya makin lama perang maka main banyak juga pasokan konsumsi yang digunakan. Walaupun ternyata perang sukunya tidak berlagsung lama dan hanya sebatas seremonial saja tapi keadaannya tentu sama seperti perang sungguhan. Disana juga ada kompromi perdamaian sebagai tahapan akhir dari konflik yang dibuat, karena pesta setelah perang daging babi selalu di gunakan dalam jalannya pesta tersebut. Makin banyak orang yang terlibat maka akan makin banyak juga binatang pliharaan yang di korbankan.
Perang antar suku ini diciptakan sebagai sebuah satu alasan dalam mengurangi populasi dari babi yang di ternak. Dengan sebuah pesta yang dilakukan bersama-sama itu yang penting he he he
Tidak ada komentar:
Posting Komentar