Senin, 01 Juni 2009

lainnya

bila saja
Bila saja pagi ini aku tak mengenali warna cahaya, mungkin saja mimpi yang hinggap semalam tak lagi aku bisa mengenalinya. Kepingan kepingan kata kata itu menjadikan otakku enggan untuk merangkainya. Saluran yang biasanya aku gunakan untuk merangkai kata kata menjadi kalimat sudah lama tak lagi aku bersihkan. Bisa jadi tersumbat, semoga kata kata itu tak menggerogoti pikiranku.
Tanggung jawab ini membuat aku bingung, ia seperti menyesatkan di tengah rimba belantara. Sementara keagungan yang mengalun lantun sayup sayup terdengar memanggil. Kembali, kembali, kembali. Disini rumahmu, rumah yang semestinya bisa kau jaga, rumah yang semestinya bisa kau rawat, rumah yang semestinya menghadirkan sebuah kebahagiaan yang terlihat dari pancaran senyuman.
Perasaan yang bertalu dalam hatimu adalah keraguanmu. Takakan ada orang yang bisa meyakinkanmu sebab kata kata semuanya sudah kau lapalkan. Rangkailah, bereskan agar tidak berserakan. Bekal yang sudah di sediakan sudah saatnya kau gunakan. Sayang bila itu di abaikan.
Nanti malam akan ada sebuah pertunjukan, pastinya kau akan sendang bila saja mau datang untuk menyaksikan. Tiket yang sudah di sediakan adalah tiket penonton. Jangan sampai kau malah menjadi pemain di tengah tengah acara pertunjuka. Hati hati, takut terjebak dalam sebuah rangkaian pertunjukan yan sudah di sajikan. Nanti kau akan bingung sendiri, hingga suatu saat kau sadar dan akan berkata “ini bukan sebuah permainanku, karena tiket yang aku bawa adalah tiket penonton”.
Dalam perjalanan kisahnya, pertunjukan ini menyoal pertunjukan tentang kehidupan. Dimana ada yang menjadi pemain, penonton, dan smuanya yang tak pernah bisa di sebutkan satu persatu. Ingat peran masing masing. Jangan pernah meragu dalam memainkan peran, karena keraguan akan menjebak kita pada pengingkaran sebuah keharusan. Keraguan akan membawa kita pada masalah yang seharusnya tidak pernah bisa kita masalahkan.

lainnya

kejadian itu
Jika kejadiannya hanya menyakiti maka aku akan pastikan untuk melewati hal itu. Kesetiaan sepertinya sudah tidak lagi bisa di pegang. Kekhawatiran sepertinya sudah jelas menjelma. Bukan karena besarnya keraguraguan yang dirasakan. Ini hanya pilihan untuk memastikan akan kejelasan jalannya hidup ini. Setiap waktu dan detik yang berdetak menjadikan perasan ini untuk menjadikan pikiran yang terbagi.
Aku bukan seorang laki-laki yang selalu memegang teguh rasa ragu dalam diriku. Aku juga bukan seorang laki-laki yang selalu sibuk memikirkan bagaimana membuat keturunan. Aku adalah laki-laki yang bisa menjalankan keinginanku. Buakan karena ego atau terlalu cepat menggambil keputusan, ada kejadian yang akan memastikan akan apa yang diinginkan.
Kehidupan sudah menjelma nyata. Ada hal bawaan dan ada hal yang datang belakangan. Batasanya adalah kelahiran. Ia seperti ruang pengantara antar bagian dari perjalanan hidup ini. Pemberian nama pada anak, mencoba memungsikan segala alat indra yang ada dalam tubuh, mengasah intuisi dari rasa walau mulut belum bicara. Ini adalah proses adaptasi awal akan kebradaan tubuh yang terkorelasi dengan semesta.
Saat seseorang sudah beranjak dewasa, ada nilai nilai yang di pegang sebagai landasan ideologinya dalam memandang kehidupan. Mencoba memahami jalan kehidupan dengan berpegangan pada keyakinan diri dan dengan sedikit harapan. Maka berharap Menjadi lebih dewasa, menjadi manusia berguna bagi nusa dan bangsa, menjalani hidup apa adanya, menjalani hidup seperti air yang mengalir dan sebagainya.
Menjalani hidup mengalir seperti air. Sebagai sebuah karakter bentuk air sudahlah jelas kalau ia akan mencari jalan untuk keluar walau bertemu dangan jalan buntu sekalipun. Rasa kagum manusia saat melihat kesifatan akan benda yang ada di sekitarnya memberikan satu nilai yang kemudian dijadikan pegangan.
Sebagai sebuah karakter yang selalu mengalir dari tempat yang atas kemudian mengalir ke tempat yang rendah. pada akhirnya sampai pada sebuah samudra yang luas tentunya tidaklah gampang. Selain ada proses dan ada hal-hal “yang lain” yang akan menyesuaikan pada logika alam yang di lewatinya. Lantas seberapa kuatkah manusia dapat memahami logika alam yang berada di luar pikiran manusia? Seberapa kuatkan kompetensi otak manusia memikirkan logika alam? Bukankah manusia hidup di dalamnya! Sebuah kekonyolan bila manusia hidup di dalamnya, tapi tidak dapat menemukan keterkaitan antara logika yang ada pada alam.
Saat jalan kehidupan diibaratkan sebagai sebuah air yang mengalir. Lantas apakah memang lautan yang akan di tuju oleh setiap manusia. Bukankah ke-suci-an itu adanya di atas gunung. sementara lautan adalah tempat yang akan menampung segala kotoran dan dosa-dosa manusia. Apakah hal ini sudah berarti bahwa tujuan manusia adalah tempat yang kotor. Pastinya pernyataan yang seperti itu tak akan bisa memberikan kepuasan dalam pikiran ini. Ada alasan lain yang musti diutarakan dan dinyatakan. alasan adalah hal pembenaran yang selalu di pegang oleh manusia.
Logika pengibaratan “yang pas”seharusnya dijadikan pegangan oleh manusia. Ada gunung yang masih dijadikan sebagai tempat kesucian. Kesanalah seharusnya jalan yang harus kembali di jejaki. Seperti halnya ikan salmon yang akan mengadakan perjalanan ke tepian hulu untuk berkembang biak dan mati. Disana ada awal kehidupan yang harusnya bisa kita temui. Jalan pulang yang harusnya sudah mulai di kenali karena dari sanalah asal manusia. awal asal kembali ke asal. Bukan lautan yang dijadikan sebagai tujuan kemana kita pulang.

lainnya

sepenggal kalimat
Sebuah kejadian harusnya bisa mendewasakan, bukan Cuma sebatas harapan yang dihasilkan. Belajar menerima, dan merelakan segala yang ada dalam diri harusnya menjadi awal. Agar sebuah perjalanan bisa dinikmati adanya. Menukarkan suasana yang ada mungkin hanyalah sebatas cara untuk meninabobokan dan sedikit menenangkan kegelisahan. Perkenalan ini harusnya diteruskan, hanya modal tekad dan kesungguhan untuk mencapat pada satu pijakan kepastian.
Suasana yang harusnya dialami saat ini, kayanya rugi bener bila hanya di tukarkan dengan keluhan. Anjrit..sementara untuk nyari suasana lain ternyata nggak bisa di lakukan, malah cuman hasilkan kebingungan doang. Gila…bego bener diri ini.
He he..jadi inget ama temen di kampung. Udah ama mertua di musuhin, ama istri di tinggalin, ke tempat gurunya nggak di akuin lagi sebagai murid, sementara ketempat ia biasa nongkrong dan ngobrol sering di usir. Mau ngadu ama orang tua dah nggak ada, jangankan ama sodara. Orang yang paling dekat ama dirinya aja dah ninggalin. Trus kepada siapa, kejemuan ini mesti di aduin. Mau pasrah dan menyerahkan kejadian, kayanya nggak ada yang musti di pasrahkan. Toh semuanya sudah terjadi dan harus di lewati. Lantas bagaimana bisa keluar dari kungkingan pikiran ini. He he mau nggak di pikirin sayangnya nggak bisa ngebohongin pikiran. Mau nggak di rasain, sayangnya tubuh dah kebawa-bawa ama keresahan. Heuhh…..bingung, gila gila gilaaaa….
Sebuah perasaan yang aneh, karena nggak bisa di cerna oleh akal pikiran. Sayangnya aku nggak tau jawaban akan kejadian yang sekarang dialami, pengennya sih tidur. Nyatanya tetep aja mata masih melek. Najis tralala…bener dah. Heran, padahal dulu pernah juga ngalamin kejengahan kaya gini. Dan besok-besoknya pakde meninggal. Dan sekarang, masa kaya gitu lagi sih. Yah walaupun kemaren lusa waktu tidur ane mimpi gigi atas copot, dan mitosnyakan bakal ada yang meninggal. Padahalkan klo mau meninggal yang meninggalah dengan tenang dan sewajarnya. Toh bagaimanapunjuga hal itu sudah menjadi ketentuan dari yang punya hidup, klo dah ketemu alesan dan cara untuk pergi, yah semoga selamat sampai tujuan aja kali yah. He he anjrit gila juga nih pikiran.
Rasa ini sungguh nggak wajar…
Solusi, solusi dan solusi yang harus di temui, heuh….dimana kali tuh ngumpetnya solusi, susah bener klo lagi butuh di temuinya. Nggak enak juga soalnya klo terlalu lama wajah ini terlalu murung. Senyuman yang seharusnya hadir di kala keadaan seperti ini, ia seperti berlari mungkin juga bersembunyi di balik kejengahan sebagai dasar ketidak mampuan pikiran meraba perasaan.
Dan akhirnya hanya rasa kasihannya tuhan aja dah cukup tuk mengasihani kegunadahan yang di rasakan. Santé aja, masih ada kalimat kok yang bisa dijadikan juru selamat. Masih ada kalimat yang bisa kita jadikan penyemangat. Masih ada kalimat yang bisa kita jadikan pelengkap suasana yang di rasakan. Masih ada kalimat yang bisa menjelaskan keindahan yang harusnya bisa dirasakan. Masih ada kalimat sebelum menjelang kiamat. Masih ada kalimat….masih ada kalimat dan masih ada kalimat. Tetap semangat….

lainny

Tersesat akan rasa lapar
Lapar yang kemudian banyak menjebak pikiranku, ia bayak membawaku kedalam alam yang harusnya sudah lama bisa aku atasi, akan tetapi sampe saat ini nyatanya belum juga aku bisa lewati. Ia hinggap dalam tubuh ini kemudian melebur menjadi kesatuan yang sukar untuk dipisahkan. Sebuah cara yang belum bias aku dapatkan untuk mengatasi hal ini, karena logikanya kita nggak akan merasakan rasa lapar bila mana rasa tersebut tidak sempat kita pikirkan. Tidak ada yang bisa dihilangkan bila semuanya sudah ada yang menyediakan, sebagai sebuah solusi pastinya kita bisa mengalihkan kedalam keadaan yang lainnya.
Dampak dari rasa lapar pastinya jelas akan bisa kita buktikan dan kita rasakan, secara medis pastinya akan menghubungkan pada pertumbuhan tubuh, kedalam kurangnya gizi yang dibutuhkan oleh tubuh, dan kebanyakan yah kena penyakit maag. Di dalam hal yang lainnya rasa lapar akan membawa kita akan buntunya sebuah logika, ia tidak bisa membawa kita pada sebuah pikiran yang jernih dan dianggap normal bahkan oleh diri kita. Dalam keadaan lapar,mata ini seperti buta karena kita akan menghiraukan secantik apapun orang yang melintas di hadapan kita, walaupun perempuan cantik tersebut baru keluar dari salon perawatan kecantikan. Lanjutnya dampak dari rasa lapar akan membutakan perasaan yang ada di dalam hati kita, ia tak akan mampu mengajak kita akan kedalam keadaan sekeliling kita klo masih banyak keindahan yang yang harusnya bisa kita nikmati.
Sebagai salah satu hal yang ditakutkan oleh sebagian besar manusia maka langkah langkah untuk mengatasinya dengan berbagai cara sesuai dengan keadaan individu di lingkungan ia tinggal. Di lapisan manapun yang ada di masyarakat bahkan di kelas manapun, di berbagai belahan dunia manapun berbagai cara dilakukan untuk mengantisipasi akan perasaan lapar tersebut.
Bekerja siang malam, bahkan dengan cara yang baik yang sesuai normatip maupun cara cara yang buruk yang bisa menghasilkn konsekwensi penjara seperti menodong, merampok, menipu dan lain sebagainya masih juga banyak yang melakuknnya. Kesemuanya tersebut adalah sebuah prilaku dalam mengatasi rasa lapar yang berada di dalam tubuh ini.
Sebagai sebuah konsep yang adanya dalam sebuah rasa, maka didalam kenyataannya rasa lapar kemudian masuk kedalam berbagai sendi yang ada dalam tubuh ini. Sepertihalnya yang terjadi pada mata yang fungsinya sebagai alat penglihat, kemudian memunculkan istilah lapar mata. Juga yang terjadi pada otak, sama halnya yang terjadi dalam pikiran atau yang terjadi pada nafsu yang ada dalam diri. Seperti tidak pernah merasa cukup akan apa yang sudah ada, akan apa yang sudah di dapat yang harusnya kita sendiri tinggal menikmatinya. Lantas apakah kita tak pernah merasa cukup dan selalu mencari orientasi untuk mendapatkan yang lebih, lantas apakah memang yang lebih itu ada? Dan apakah emang yang lebih itu akan diraskan cukup baik sementara di dalam kehidupan kita hanya membutuhkan hal yang pas, yang akan membereskan masalah masalah ini.
Dan bagaimanakah cara anda menyikapi akan rasa lapar ini? Halah…mikirin rasa lapar aja sampe segininya….heh….udah lah mendingan makan aja dulu lah, pusiang aku.
Aku tengok ke kanan dan ke kiri, masih juga belum aku temui orang yang aku tunggu. Banyak yang orang yang melintas di hadapan, tapi sepertinya tak satupun ada yang aku kenal. Dan sepertinya aku harus kembali menunggu, akan apa yang sudah aku coba amini. Karena semua pasti akan terberi dengan semestinya. Janji sepotong roti jelasnya akan bisa aku nikmati. Dengan segelas susu yang menemani pastinya ini pagi hanya keindahan yang dirasakan.
Kembali aku tengok ke kanan dan ke kiri, belum juga ada tanda tanda akan kehadirannya. Ah..terlanjur aku mengamini akan sepotong roti yang akan di beri. Sekedar pengganjal isi perut pastinya siang ini akan di lewati dengan sedikit senyman yang terlihat jelas di bibir. Usahaku hanya menunggu. Dan yang aku tahu setiap usaha pasti akan mendapatkan hasil. Menunggu adalah jalan usahan untuk mendapatkan hasil. Seberapapun besarnya, sepeti apapun bentuknya. Hasil dari usahaku akan mendapatkan hasil yang layak adanya.
Tuhan tak akan pernah memberikan makanan untuk memenuhi kebutuhan langsung turun dari langit. Tengoklah ke kanan dan ke kiri, karena jalan itulah salah satu jalan yang paling dekat dengan diri masing masing. Dan melalui jalan itu juga sepotong roti akan dibagikan. Bersabarlah, karena terkadang justru kesabaran yang akan menunjukan jalan kemana kaki ini harus dilangkahkan.
Ada beberapa jiwa yang terkapar karena menahan rasa lapar. Semoga rasa lapar itu tak membutakan mata. Karena bila lapar sudah menjadi tameng paling depan yang melapisi diri, baik mata hati atau harga diri tak akan pernah dipedulikan. Lapar yang kadang menutup pikiran, tak ada jalan kebaikan atau jalan keburukan. Hanya jalan yang ada, akan dijalankan. Lapar yang akan meutupi perasaan dalam diri, tak akan bisa merasakan keindahan hari ini. Atau mungkin juga segala keindahan yang di temui, semua akan dihiraukannya. Hanya makan doang jawabannya.
Dan jemari ini mulai gemetar, pastinya akan menjalar ke bagian baian organ lainnya.
Dan sebagain manusia mati menjadi budak rasa lapar…
He he he…nggak ada mulia-mulianya jadi manusia, toh klo akhirnya harus diperbudak oleh perasaan yang selalu dirasakan oleh perut.
Hadu….hhh ampunlah.