Harapan Dalam Nama Diri
Bagi pasangan suami-istri, kelahiran seorang anak baik pria/wanita merupakan suatu berkah. Semenjak kelahiran si anak, setiap orang tua selalu mempunyai harapan agar anaknya kelak menjadi orang yang berguna bagi keluarga, masyarakat ataupun bangsa ini. Tidak ada satu orang tuapun memiliki harapan agar anaknya kelak menjadi orang yang tidak berkenan di masyarakat (Bratawijaya, 1988:32).
Semenjak bayi dilahirkan, sebuah harapan baru datang pada orang tua. Nama yang diberikan merupakan cerminan sebuah harapan tersebut. Makna dari arti nama merupakan tempat yang sangat baik untuk memberikan harapan orang tua. Seperti yang dijelaskan Komarudin Hidayat : Nama Sugiharto, dengan harapan kalau besar nanti anaknya akan jadi orang kaya. Sugih artinya ’kaya’, arto berarti ’uang’ Atau Suharto. Artinya orang yang bisa mencari harta agar hidupnya makmur dan indah dipandang, sedangkan Sutrisno diharapkan agar banyak orang yang menyayangi. Nama Budiharjo mungkin orangtuanya berharap agar anaknya berbudi dan hidupnya sejahtera (Hidayat, Koran Seputar Indonesia:11 Juli 2008).
H. Djaenur, yang memberikan anaknya dengan nama Akhmad Subagja, sebagai simbolisasi dari kebahagiaan karena mandapatkan seorang purta. Beliau memberikan harapan, kelak anaknya bisa merasakan kebahagiaan di dalam menempuh perjalananan hidupnya di dunia dan akhirat. Lain hal dengan pak Johadi, yang memberikan nama anak laki-laki terakhirnya dengan nama Awaludin. Nama tersebut dijadikan sebagai sebuah simbol akan istilah “awal adalah akhir”. Bagi masyarakat yang tinggal disekitaran rumah pak Johadi, mungkin apa yang sudah dilakukannya terkesan aneh dalam memberikan nama pada anaknya, mengingat anak yang diberinama tersebut merupakan anak terakhir. Kejadian tersebut tenntunya bukan merupakan hal yang bermasalah di masyarakat, karena masyarakat memahami benar bagaimana sebuah pemberian nama kepada seorang anak merupakan hak dari setiap orang tua dan juga nama yang diberikan tidak melangkahi kaidah-kaidah dalam memberikan nama.
Harapan merupakan aspek fsikis untuk hidup dan tumbuh. Jika harapan sirna, maka secara aktual maupun potensial kehidupanpun musnah. Harapan adalah unsur intrinsik struktur kehidupan, dinamika spirit manusia. Harapan berhubungan erat dengan unsur lain dari struktur kehidupan : yakni keyakinan (feith) keyakinan adalah kepastian terhadap yang belum terjamin, sebuah pengetahuan tentang kemungkinan riil, seperti halnya kesadaran akan kehamilan (fromm, 1996:13). Sebagai salah satu unsure intrinsic yang ada dalam diri manusia, sebuah harapan akan memiliki peranan di dalam mempersepsikan seusatu yang diharapkan. Hanya saja, sebuah reaitas yang kemudian menjadi penentu di dalam tercapainya sebuah harapan. Seperti halnya harapan seorang akan salah satu anak dengan jenis kelamin tertentu, walaupun tidak sesuai dengan yang diharapkan karena realitas berkata lain maka harapan tersebut akan berlalu begitu saja dan tergantikan dengan harapan yang baru.
Bagi masyarakat Balaraja, harapan yang tercermin dalam sebuah nama yang diberikan kepada anaknya masih kurang di pahami. Nama yang diberikan kepada anak hanya sebatas pada sebutan untuk dijadikan sebagai sebuah pembeda dengan orang lain. Seperti yang diungkapkan oleh pak Tawing “yang menjadi pembeda manusia dengan mahluk lainnya, salah satunya nama. Manusia memiliki nama, sementara pepohonan/tumbuhan namanya hanya satu jenis saja dan semuanya sama”.
Harapan itu sersifat paradok. Harapan bukanlah menunggu secara pasif juga bukan pemaksaan yang tidak realistis terhadap keadaan yang tidak bisa dilakukan. Berharap berarti siap setiap saat terhadap apa yang belum lahir, dan tidak akan menjadi sedih bila tidak ada kelahiran di dalam hidup kita. Tidak ada kesadaran dalam berharap terhadap apa yang sudah atau apa yang tidak mungkin ada (fromm, 1996:10). Harapan lahir bersamaan dengan meningkatnya persepsi atas realitas. Sebuah harapan yang baru ini memerlukan pengertian yang mendalam akan tanggung jawab sosial dan tidak berarti akan membiarkan segala sesuatu akan berjalan begitu saja. Jadi sebuah harapan akan selalu lahir selama realitas yang di alami oleh manusia itu ada (Preire, 2001:14).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar