Rabu, 25 Agustus 2010

sekitar nama

Makna Sosial di Balik Pemberian Nama
Ludwig Wittgenstein dalam tractaus logico- philosophicus (1912), menaruh perhatian pada perwujudan suatu keterkaitan antara bahasa dan dunia. Dunia dipandangnya sebagai sebuah totalitas fakta-fakta atau totalitas keadaan bukan totalitas benda-benda, karena benda benda tidak bermakna di luar sekelilingnya dan tidak dapat di anlisis di dalam dirinya. Sebuah makna hanya muncul melalui susunan ensambel dari benda-benda. Bahasa tersusun atas nama-nama sederhana (unit-unit terkecil yang tidak dapat di analisis pada dirinya) perpaduan dari bagian unit terkecil tersebut kemudian akan membentuk sebuah proposisi-proposisi. Proposisi tersusun atas tanda-tanda sederhana, maknanya hanya dapat dijelaskan dalam penggunaan bahasa (Cavallaro, 2004:16). Menurut Bloomfield, makna tergantung pada konteks praksis dimana sebuah ujaran (utterance) di produksi dan di respon. Ia percaya bahwa makna kata tidak akan bisa didefinisikan secara tepat sebab manusia tidak mempunyai pengetahuan yang menyeluruh mengenai benda-benda atau ide-ide yang menjadi acuan bagi kata-kata (Cavallaro, 2004:24).
Jhonatan Rutherford menjelaskan identitas adalah mata-rantai yang menghubungkan nilai-nilai sosial budaya masa lalu dengan masa sekarang dalam artian identitas memiliki sejarahnya. Identitas merupakan ikhtisar dari masa lalu yang membentuk masa kini dan mungkin juga masa yang akan datang. Dalam kontek sosialnya identitas merupakan sesuatu yang di miliki secara bersama-sama oleh suatu komunitas atau suatu kelompok tertentu dalam masyarakat dan sekaligus dapat membedakan (difference) mereka dari komunitas atau kelompok yang lain. Dengan demikian sebuah identitas memberikan posisi sosial setiap individu dalam sebuah masyarakat (Yasraf A. Piliang, 2004: 279-280).
Menurut istilahnya nama berasal dari bahasa Sansekerta, yatiu Nam yang berarti di kenal, dapat ditentukan dan dapat dipastikan. Sementara kata yang kita gunakan untuk menyebut seseorang atau suatu benda dan untuk membedakannya dari yang lain di sebut sebagai nama. Setiap nama yang digunakan untuk menyebut dan membedakannya, pastinya akan ada yang di namai. Hal yang di namai tentunya tidak akan memiliki arti serta sifat sebelum memiliki nama. Pada tahapan ini setiap nama akan memiliki rujukan yang pasti sehingga akhirnya nama menjadi sebuah refresentasi akan hal yang dinamai. Nama mendapatkan sebuah arti serta makna saat terkorelasi dengan hal yang lain (Shing, 1998:163).
Mengacu pada pemahaman tersebut maka dapat diasumsikan bahwa sebuah kata akan memiliki makna saat kata tersebut dihubungkan dengan objek yang terklasifikasi secara ilmiah seperti bintang, tumbuhan, atau mineral. Begitu juga dengan nama, akan memiliki makna bila hal yang diacunya merujuk pada sesuatu hal (momentum, penanda, harapan) yang berada dalam lingkungan sosial suatu masyarakat. Sebuah nama bisa jadi tidak memiliki makna apa-apa (arti kososng) sepertihalnya nama pada binatang seperti Naga.
Nama yang kosong secara sepintas masuk di akal. "Naga" dapat menunjuk kepada "ular yang bisa menyemburkan api" (tokoh mitologi). Karena binatang seperti yang dimaksud tidak ada, maka nama "Naga" tidak memiliki referensi yang nyata; maka dari itu, meski "Naga" tidak memiliki referensi terhadap apa pun, namun ia masih memiliki arti. Mungkin nama "Aristoteles" berarti "gurunya Alexander"; karena memang ada orang yang memiliki deskripsi tersebut, maka nama tersebut memiliki referensi.
Referensi dalam nama yang di sandang oleh setiap individu memiliki ikatan pada suatu ruang dan waktu dalam wilayah sosial masyarakat. Pemberian nama pada anak di kecamatan Balaraja merupakan suatu referesntasi akan keberadaan orang tua dalam lingkungan sosialnya, seperti dalam pepatah “kolot tea anak tapi anak lain kolot” (orang tua adalah anak tapi anak bukan orang tua). Sebuah nama akan memiliki referesi lain jika si penyandang nama tersebut bisa melewati wilayah ruang (kampung) ke ruang yang lebih luas lagi (desa ataupun kecamatan). Biasanya referensi lain tersebut memiliki sifat yang umum seperti profesi pekerjaan ataupun sebuah keahlian yang dimiliki oleh individu.

Tidak ada komentar: