Rabu, 25 Agustus 2010

sekitar nama

Prosesi Pemberian Nama
Di masyarakat Balaraja sendiri, ritual dalam memberikan nama pada anak tidak menggunakan cara-cara yang rumit. Prosesi paling mudah hanya dengan Selamatan dengan mengundang para kerabat ataupun para tetangga. Biasanya selamatan ini dilakukan setelah sholat maghrib atau sebelum waktu maghrib tiba, bertempat di kediaman anak yang akan diberikan nama. Dalam negundang para kerabat waktu yang digunakan menjelang sore. Biasanya ada salah satu anggota keluarga atau kerabat yang di utus untuk keliling dari rumah ke rumah memberitahukan kepada para tetangga agar menghadiri selamatan (riungan/ngariung) pemberian nama pada bayi. Undangan dalam acara selamatan (riungan/ngariung) ini hanya di hadiri oleh kaum laki-laki.
Setelah semua berkumpul dalam satu ruangan, dengan posisi melingkar dan mengikuti ruangan yang tersedia. Tuan rumah dengan salah satu pembawa acaranya, memberikan kata sambutan sekaligus membuka acara dengan mengutarakan maksud dan tujuan acara riungan tersebut. Setelah kata sambutan selesai diutarakan, biasanya si pembawa acara langsung menyerahkan kepada salah satu ustad / orang yang di percaya bisa memimpin dalam berdoa untuk memimpin acara selamatan (riungan).

Pembacaan hadorot yang ditujukan kepada salah satu nabi kemudian di iringi dengan pembacaan surat al-fatihah secara bersama-sama menjadi pembuka dalam memulai riungan. Setelah pembacaan surat al-fatihah selesai kemudian dilanjutkan dengan pembacaan hadorot yang ditujukan kepada sahabat nabi, keluarga nabi, kaum muslimin-muslimat, kepada keluarga dan kepada si bayi agar diberkahi dalam menjalankan hidupnya kemudian dilanjutkan kembali dengan bacaan surat al-fatihah. Setelah bacaan-bacaan yang dilantunkan oleh pak ustad selesai dibacakan, kemudian kembali membacakan bacaan-bacaan ayat dengan maksud mendoakan dan memintakan berkah selamat. Sementara yang lainnya hanya mengamini yang sidah dibacakan oleh pak ustad. Pada saat pembacaan doa itu hampir selesai dibacakan, kemudian tuan rumah mengeluarkan hidangan makanan (jajanan pasar) ataupun di buat sendiri dalam berbagai jenis. Biasanya perhitungan antara doa dan selesainya menyediakan hidangan makanan kecil tidak terlalu jauh selisihnya. Hal ini dilakukan agar saat para undangan selesai mendoakan keselamatan si bayi selesai, mereka bisa langsung menyantap makanan yang sudah disediakan.
Setelah prosesi yang sederhana ini selesai dilaksanakan. Sambil menyantap hidangan yang tersedia mereka melakukan obrolan-obrolan ringan tentang apa saja bahkan tidak memiliki kaitan dengan upacara selamatan yang sedang berlangsung. Bila si empunya hajat tidak memiliki acara yang lain yang berkaitan dengan selamatan anaknya. Berkat yang di kemas dalam bentuk besek segera dikeluarkan dan dibagikan kepada para tamu yang datang. Isi dari berkat biasanya berbentuk nasi yang berisikan lauk serta sayurannya. Selain itu juga berkat ini bisa berisikan nasi uduk beserta lauk pauknya untuk di bawa pulang oleh para undangan yang sudah menghadiri acara riungan. Setelah pembagian berkat ini selesai maka secara tidak langsung upacara selamatan pun selesai.
Bagi keluarga yang dianggap mampu secara materi, baik di desa maupun di kota yang taat menjalankan syari’ah agama islam mengadakan upacara pada hari ke tujuh yang di sebut Akekah/ Ekah. Upacara ini dilakukan sekaligus memberikan nama pada anak (Koentjaraningrat, 1994:354). Seperti yang diriwayatkan oleh Abdul Malik b Abdul Humaid diambil dari riwayat At-Tarmizi : Ingatkanlah kami, pada umur berapa bayi di beri nama! Maka Abu Abdillah berkata : adapun riwayat yang tsabit yaitu diriwayatkan dari Anas bahwa ia memberikan nama pada hari ketiga adapun Samurah pada hari ke tujuh” dengan hadits “setiap anak yang lahir tergadaikan dengan Akikahnya, hewan tersebut di sembelih di hari ketujuh kemudian di beri nama (Ibnul Qoyim Al-Jauziyyah, 2003:75).
Upacara Akekah ini disimbolkan dengan pemotongan dua ekor kambing bagi bayi laki-laki dan satu ekor kambing bagi bayi perempuan (Koentjaraningrat,1994:395). Pemotongan hewan ini biasanya dilakukan pada pagi hari, kemudian hewan kambing tersebut di masak. Setelah daging kambing di masak, kemudian daging hewan tersebut dijadikan berkat untuk selamatan yang diadakan pada malam hari dan dibagikan kepada para tetangga.
Pelaksanaan Akekah/Ekah ini pada dasarnya memiliki tahapan yang sama dengan upacara selamatan pada umumnya. Satu anggota keluarga atau kerabat di utus untuk keliling dari rumah ke rumah memberitahukan kepada para tetangga, agar menghadiri selamatan (riungan/ngariung) pemberian nama pada bayi. Undangan dalam acara selamatan (riungan/ngariung) ini hanya di hadiri oleh kaum laki-laki. Sementara untuk kaum perempuan biasanya yang menghadiri hanya dari keluarga kerabat saja.
Biasanya upacara Akekah ini lebih ramai dari pada upacara Selamatan. Kebanyakan upacara Akekah dilakukan setelah waktu sholat Is’ya. Waktu tersebut di pilih, karena “panjang” untuk bertemu dengan waktu subuh, sementara bila menggunakan waktu antara Maghrib sampai Is’ya maka upacara Akekah tersebut harus kepotong dengan adanya shalat Is’ya. Hal seperti itu jelas sangat di hindari dan tidak disarankan oleh para Ustad atau Kiyai di kampung tersebut mengingat hal etis dalam menjalankan upacara Akekah.
Setelah para undangan sudah hadir dan mengisi tempat yang sudah disediakan oleh yang empunya hajat. Maka orang yang di percaya oleh empunya hajat langsung membuka dan memberikan kata sambutan. Kata sambutan ini lebih menjelaskan maksud dan tujuan akan acara tersebut serta menjelaskan runtunan jalannya acara. Setelah kata sambutan tesebut selelsai dilakukan, biasanya si pembawa acara menyerakan kepada seorang ustad untuk memulai jalannya acara. Bila Ustad yang menghadiri acara tersebut lebih dari satu orang, biasanya mereka membagi tugas di sela-sela waktu tertentu untuk melanjutkan rangkaian acara.
Pembagian tugas yang dilakukan oleh Ustad pertama pembacaan hadorot yang ditujukan kepada nabi Muhammad SAW, keluarga nabi, sahabat- sahabat nabi, kaum muslimin dan muslimat yang di iringi dengan pembacaan surat al-fatihah oleh semua undangan. Setelah pembacaan hadorot selesai, biasanya yang memimpin doa dilakukan oleh ustad lainnya yang menghadiri acara tersebut. Setelah doa selesai dilakukan, para undangan lalu berdiri untuk menyambut sang bayi yang akan di beri nama dan akan di potong rambutnya di bawa keluar.
Pembacaan asrakal dibacakan serentak oleh para undangan yang di pimpin oleh para santri. Sang bayi yang di bawa keluar, kemudian digedong oleh sang kakek/kerabat yang dituakan untuk mengitari para undangan sebanyak tujuh kali putaran. Peralatan yang di bawa berupa sesaji yang berisikan air kembang setaman, kalap hijau yang di hiasi oleh bendera yang terbuat dari uang kertas tertancap di kelapa hijau, serta peralatan cukur untuk memotong rambut si bayi.
Selama melakukan putaran sebanyak tujuh kali dengan diiringi oleh bacaan asrakal, seorang anggota keluarga yang mengikuti iringan si bayi dari belakang menyemprotkan minyak wangi kepada para undangan. Setelah tujuh putaran tersebut selesai dilakuakan, si bayi kemudian diletakan diantara para undangan. Biasanya pemotongan rambut pertama si bayi dilakukan sang kakek serta kerabat yang di hormati, kemudian dilanjutkan oleh pak Kiayi atau Ustad yang menghadiri acara di minta oleh pihak keluarga untuk ikut memotong rambut dan setelah itu mereka memberikan doa kepada si bayi.
Biasanya dalam upacara pemotongan rambut ini, tidak semua rambut bayi di potong. Ada rambut bayi di sekitaran ubun-ubun atau rambut yang berada di belakang disisakan sedikit. Hal ini di percaya oleh masarakat agar si bayi terhindar dari gangguan-gangguan mahluk halus (penoak bala). rambut yang di potong tersebut kemudian dikumpulkan, esok harinya rambut yang dikumpulkan tersebut di timbang dengan timbangan emas. Hasil timbangan dari rambut dijadikan sebagai bahan ukuran untuk dibelikan emas yang akan disidekahkan kepada pakir/kepada orang yang layak menerima sidekah. Adapun bila dalam proses kelahiran sang bayi di bantu oleh dukun bayi, emas yang dibelikan seberat rambut sang bayi, biasanya akan diberikan kepada dukun yang membantu mengurusi kelahiran.
Setelah upacara pemotongan rambut bayi tersebut selesai dilaksanakan, maka para undangan di persilahkan duduk kembali sambil menyantap hidangan yang disediakan oleh tuan rumah. Bila tidak ada acara lagi setelah pemotongan rambut, maka doa penutup akan segera dibacakan. Umumnya pada saat acara santai/ ramah tamah ini berjalan, acara di isi dengan siraman rohani oleh seorang mubaligh yang sengaja di undang oleh yang punya hajat. Tema yang dibawakan dalam siraman rohani ini, biasanya menyangkut dengan prihal penamaan pada bayi atau pada acara akekahannya.
Setelah acara siraman rohani yang dibawakan oleh mubaligh ini selesai. Acara selanjutnya yakni doa penutup yang dibawakan oleh seorang Ustad. Setelah doa penutup itu selesai maka para undangan dibagikan berkat dalam bentuk besek yang berisikan nasi, sayuran dan daging dari kambing yang di sembelih waktu pagi harinya untuk di bawa pulang oleh para undangan.
Bagi beberapa golongan masyarakat, setelah upacara selamatan akekah ini selesai biasanya ada acara tambahan yang tidak resmi yakni pembacaan riwayat/suluk Syeh Abdul Khadir Al-Jaelani atau sering di sebut dengan istilah wawacan/mocopatan. Bahasa yang digunakan dalam wawacan ini biasanya menggunakan bahasa Jawa Madya dengan menggunakan pakem pembacaan sastra dalam tradisi Sunda seperti kidung, kinanti atau dandang gula. Orang yang melakukan wawacan ini biasanya terdiri dari 2 sampai 3 orang secara bergantian. Bila jumlah wawacan yang di baca hanya berjumlah 15 pupuh, maka ke 15 pupuh tersebut di bagi ke dalam beberapa pupuh untuk dibacakan oleh ketiga pembaca tersebut secara bergantian. Acara tambahan ini dilakukan untuk mengharapkan berkah serta hidayah dari Syeh Abbdul Khadir. Pembacaan wawacan ini biasanya selesai jam satu atau jam dua malam, sehingga dalam melakukan runtunan acara akekah menghabiskan waktu 6 sampai 7 jam.

Tidak ada komentar: