Makna Spiritual di Balik Pemberian Nama
Giddens menulis “Agama terdiri dari seperangkat simbol yang membangkitkan perasaan takjim dan hikmat serta terkait dengan pelbagai praktek ritual maupun upacara yang dilaksanakan oleh komunitas pelakunya”. Sebagai sebuah sistem makna, agama memberikan penjelasan dan interfretasi tertentu atas berbagai persoalan dan menjadikan persoalan lainnya tetap menjadi misteri. Agama memberikan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tentang asal-usul alam semesta dan asal-usul manusia dalam kehidupan, kematian serta kehidupan setelah mati dalam sebuah konsep yang bernuansa kegaiban seperti halnya konsep tentang Tuhan (Budiwanti, 2000:26).
Pada ajaran Islam seperti dijelaskan dari kisah awal tentang penjelasan Allah kepada Adam yang mengajarkan kepada Adam tentang nama-nama benda yang berada di sekelilingnya. Sesuatu hal yang belum pernah diajarkan kepada malaikat ataupun setan, “…dan ia mengajarkan kepada Adam nama-nama semuanya…(Q.S 2:3)”. Demikian pentingnya sebuah nama, dalam Al-Quran sendiri mencatat sekurang kurangnya dua kisah tentang pemberian nama. Surat Alimran ayat 39 “Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu tentang lahirnya yahya yang akan membenarkan kalimah Allah”. Dalam Q.S 3:25 juga menjelaskan “hai maryam, Allah menyampaikan berita gembira kepadamu tentang (seorang putra yang akan membawa perkataan-Nya) namanya Al-Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan akhirat dan tergolong orang yang didekatkan (kepada Allah)”.
Agama menanamkan nilai-nilai moral bagi penganutnya. Pada setaip aspek kehidupan, nilai-nilai akan tercermin manjadikan sebuah gambaran bagi manusia lainnya. Agama juga menganjurkan akan tata cara dalam memberikan nama pada anak. Keterkaitan antara nama yang disandang dengan sebuah kepercayaan dapat dilihat dari bagaimana seseorang bisa meyakini nama yang disandangnya memiliki nilai spiritual yang berbeda dengan yang lainnya.
Islam memandang ada keterkaitan antara sebuah nama dengan orang yang menyandang nama. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw: Aslam semoga Allah menyelamatkannya dan Ghifar semoga Allah mengampuninya (H.R Bukhari dan Muslim). Ibnu Al Qoyim berkata, barangsiapa yang memperhatikan sunah, ia akan mendapatkan bahwa makna-makna yang terkandung dalam nama berkaitan dengannya sehingga seolah-olah makna-makna tersebut diambil darinya dan seolah-olah nama-nama tersebut diambil dari makna-maknanya (Ibnul Qoyim Al-Jauziyyah, 2003:77).
Seperti yang diungkapkan oleh nur jahro, beliau mengatakan :
“Ku amfusakum wa ahlikum naro (selamatkanlah keluargamu dari siksa api neraka) dengan tafsiran :sanggupna ngaraksa kana diri sorangan, sehingga teu ngalanggar pada larangan anu tos di bere”. (adanya kesanggupan dalam diri seseorang, untuk tidak melanggar larangan yang sudah diberikan),
seseorang harus hidup di dalam namanya. Misalkan nama Soleh, bila seseorang yang bernama Soleh ini masih melakukan sesuatu hal yang tidak baik, maka si Soleh itu sudah tidak tinggal di dalam namanya sendiri. Sebuah nama tentunya memiliki peranan di dalam menjalankan kehidupan.
Nama seperti sebuah garis yang akan menuntun seseorang pada pengenalan akan makna hidup seseorang ataupun makna diri seseorang. Seperti halnya yang ada dalam sebuah hadis Nabi yang mengatakan “berilah nama yang baik bagi anakmu karena di dalamnya terdapat sebuah doa” dan pastinya sebuah nama yang berikan oleh orang tua sudah pasti baik adanya. Hanya saja yang menjadi masalah kemudian, seberapa besarkah seseorang akan mampu tetap konsisten dengan nama yang sudah diberikan oleh orang tua.
Saya rasa karena hal ini lah yang kemudian, bagi sebagian besar masyarakat mengenal dengan istilah keberatan nama yang disandang oleh sang bayi. Sebagai sebuah proses perjalanan hidup, nama bukan saja dijadikan sebagai sebuah identitas yang menjadi pembeda tapi ia juga menjadi sebuah pedoman yang harusnya selalu di ingat oleh si penyandang di dalam menjalankan kehidupannya”.
Komaruddin Hidayat mengungkapkan : jika dikaji lebih dalam, nama memiliki kekuatan magis dalam arti kandungan makna dan doa orangtua akan berpengaruh pada pertumbuhan jiwa anaknya.Terlebih lagi jika sebelum memberi nama, orangtuanya melakukan puasa serta mengadakan tasyakuran dan doa bersama, agar makna dan doa yang terkandung bagaikan sebuah energi dan cetak biru bagi masa depannya (Koran Seputar Indonesia, 11 Juli 2008).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar