Nama Diri Sebagai Pengingat Waktu
Para ilmuan membagi waktu menjadi periode-periode yang sama lamanya: periode ini disebut sebagai “jam waktu”. Akan tetapi, bagai beberapa teoterisi dan filusuf bahwa veris abstrak dari waktu ini tidak merefleksikan cara bagaimana kita benar-benar mengalami berlalunya waktu. Secara umum para ilmuan menganggap waktu sebagai medium yang homogen dimana semua kejadian mempunyai nilai dan besaran yang sama. Henry Bergson (1859-1941) memandang waktu sebagai sebuah durasi dan elan vital, ia menggunakan konsep durasi sebagai istilah untuk menggambarkan waktu sebagai mana sungguh-sungguh dialami. Artinya bukan momen demi momen, melainkan sebagai sebuah alur yang kontinyu dimana masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang benar benar-benar tidak dapat dibedakan (Cavallaro, 2004:329). Sementara bagi Durkheim membagi waktu dan ruang sebagai sebuah ritme kehidupan sosial dan wilayah yang di diami oleh masyarakat (Morris, 2003:162).
Anton Bakker menggolongkan pemikiran tentang waktu menjadi 4 golongan. Golongan Subjektivisme menyatakan: bahwa katu itu sesuatu yang tidak riil, hanya merupakan bentuk subjektif-individual yang hanya berasal dari pikiran. Ruang dan waktu hanyalah konstruksi pikiran yang bersifat relatif, terbatas dan ilusif. Pandangan ini tentunya berlaku di barat maupun di timur. Bagi dunia barat di mulai oleh Permenides dan zeno di jaman Yunani sampai pada Descartes, John Looke, David Hume, Kant, Hegel dan Campa di abad ke xx. Sementara di timur di wakili oleh kaum Budhis yang mengungkapkan “masa lalu, masa depan, ruang fiksi, individu-individu tak lebih dari deretan nama-nama. Bentuk pemikiran, kata-kata dari kebiasaan umum, sekedar realitas dangkal” ungkap kaum Budhis.
Golongan kedua adalah kaum Realisme Ekstreem yang menyatakan bahwa waktu itu realitas absolut otonom yyang universal, tidak memiliki kesatuan intrinsik tetapi hanya menunjukan urutan-urutan murni. Pandangan yang bersifat spiritual ini berkembang di kalangan filsuf India purba seperti yang terdapat pada kaum Jaina, Nyaiya dan kaum Vaisashika sekitar tahun 500 SM. Mereka menyatakan bahwa waktu adalah suatu substansi non-material yang riil. Substansi unitaris yang tak terbatas, abadi, noneksisten dan tak terbagikan. Waktu itu hanya satu yang menampung dan meresapi segala yang ada. Di samping itu ada waktu empiris yang memungkinkan adanya perubahan-perubahan, waktu empiris ini adalah hasil konvensi manusia yang diletakan atas waktu riil itu.
Golongan ketiga adaah golongan Realis Lunak, yang berpendapat waktu merupakan aspek perubahan riil, tapi dihasilkan oleh subjek dan terabstraksi dari pengkreatifitas pengkosmos. Para penganutnya seperti Aristotales, Agustinus, Thomas Aquinas dan Enstein. Golongan keempat yakni golongan Subjektivisme Lunak dan banyak dianut oleh kaum eksistensialis pernyataannya yakni “waktu itu memang riil, tetapi berciri melulu kualitatif, tidak bereksistensi dan tidak terukur sebab kesadaran manusia memang tidak bereksistensi” (Soemardjo, 2002:84-85).
Bagi masyarakat Balaraja, waktu dianggap menjadi bagian dalam diri masing-masing individu. Sebagai sebuah refresntasinya waktu bisa disimbolkan dengan sebuah nama yang di sandang oleh salah satu individu dalam setiap kalangan. pak H. Djaenur yang mengisahkan tetantang masa lalu dengan menggunakan istilah jenatna salah satu nama yang diangap si penyandang nama tersebut memang hidup pada masa tersebut.
“Baheula keur jenatna abah andik leutik, biasana lamun tos balik ulin. Sok ngalalaga wa aung. Pan wa aung mah jalemana mopod jasa. Mun urang nyaho ti jauh aya wa aung rek lewat, eta barudak nyararumput. Pas wa aung lewat, barudak ngakarosakeun tatangkalan laju saseurian. Pan pajaran kuntilanak nyangseurikeun tah, laju eta wa awung ber bae lumpat. Eta obor nu di bawa kajeun teuing paeh, teu malire. Ngke pas ngarumpul di imah, ku ibu dicararekanan. Di titah gageuraan sibanyo, soalna tadi wa a’ung tos disangseurikeun ku kintilanak datang ka pipir imah“ (Dahulu waktu jamannya Abah Andik masih kecil, biasanya kalau selesai pulang main suka menggoda Wa Aung. Kan Wa Aung itu orangnya penakut sekali. Kalau misalkan kita tahu dari jauh Wa Aung akan lewat, biasanya anak-anak bersembunyi. Saat Wa Aung melintas biasanya Abah Andik suka melempar pepohonan dengan batu lalu ketawa kecil. Biar di kira kuntilanak yang sedang menertawai orang yang sedang melintas. Setelah mendengar itu tanpa pikir panjang Wa Aung lari terbirit-birit sampai mati obor yang dibawanya beliau tidak mempedulikannya. Nanti setelah sampai rumah, biasany ibu pasti marah marah dan menyuruh anak-anak sebera mencuci kakinya. Karena mangingat akan cerita Wa Aung yang dikejar-kejar kuntilanak sampai pekarangan rumah).
Istilah jenatna (masa/jaman) merepresentasikan sebuah penggalan waktu yang bisa digunakan oleh masyarakat dalam mengisahkan sebuah cerita yang pernah terjadi. Istilah jenat (masa/jaman) hanya digunakan untuk mewakili seseorang yang pernah ada. Penggunaan nama seseorang dalam merefresentasikan penggalan waktu yang sudah berlalu, tentunya hal tersebut memeiliki alasan. Salah satu alasan yang diungkapkan oleh Pak Sasmita mengenai hal ini, beliau menjelaskan : biasanya penggunaan nama jenat, hanya digunakan untuk mengisahkan seseorang yang sudah meninggal, tentunya hal ini digunakan oleh sipenutur agar lebih mempermudah bagi seseorang yang mendengarkan untuk memperkirakan masa dalam angka tahun. Misalnya saja keur jenatna Abah Andik leutik (waktu jamannya Abah Andik kecil). Nah Abah Andik ini adalah adik dari H. Djaenur usia dari H. Dajenur sekarang 75 tahun. Berarti angka usia beliau sekarang di kurangi sekitar 70 tahun untuk menemukan masa anak-anak Abah Andik. Masa anak-anak itu bagi masyarakat Balaraja sekitaran usia 3-sebelum menginjak masa Akhil Baligh (bagi laki-laki) berarti sekitar 12 atau 13 tahun.
Penggunaan istilah jenat merepresentasikan akan keberadaan seseorang, walaupun orang tersebut sudah lama meninggal akan tetapi jiwa mereka masih dirasakan hidup. Hal tersebut tersirat dalam akhir cerita dengan kalimat “mudah-mudahan saja beliau diterangkan jalannya, diterangkan kuburannya di alam sana”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar