Nama Diri Sebagai Pengingat Peristiwa (Moment)
Saat seorang bayi lahir, baik itu perempuan ataupun laki-laki merupakan suatu hal yang di percaya oleh masyarakat sebagai sebuah berkah yang di berikan oleh sang pencipta kepada ciptaannya. Anak sebagai sebuah simbol titipan yang diberikan oleh sang pencipta kepada pasangan suami-istri diyakini akan membawa rejekinya masing-masing. Pak Umar mengungkapkan “jaman dahulu kalau orang tua cerita biasanya Saat memeperoleh anak, kebiasaan orang tua itu biasanya menanam salah satu jenis pohon di pekarangan rumah. Jenis pohon yang ditanam biasanya pohon nangka atau pohon kelapa. Nah, makanya oleh anak-anak sekarang biasanya sering dijadikan guyonan, karena penggunaan pohon itu tadi yang di samakan dengan usia seorang anak yang dilahirkan”.
Seperti yang diungkapkan oleh pak Suhendi saat memberikan nama pada anaknya, pada saat istrinya akan melahirkan beliau sedang menjalankan tugas ketentaraan di Dili, Timor-Timur. Beliau berpesan pada istrinya jika anaknya yang lahir itu berjenis kelamin laki-laki maka berikan ia nama Deliana dan jika yang lahirnya berjenis kelamin perempuan maka berikan ia nama Deliani. Hal tersebut ia pilih semata untuk mengenang sebuah peristiwa yang di alami dan juga untuk mengenang kalau pada saat itu sang ayah sedang bertugas di Dili Timor-Timur.
Agus Izudin mengungkapkan saat memiliki anak yang ke dua, pada saat itu terjadi sebuah peristiwa gerhana dan gempa. Maka untuk mangenang peristiwa tersebut beliau menggunakan kata Lindu nugraha (gempa yang terkena gerhana) di belakang nama anaknya. Nama tersebut digunakan untuk mengenang sebuah peristiwa gempa yang dirasakan di Balaraja.
Penggunaan nama sebagai salah satu representasi untuk mengingat sebuah peristiwa, tentunya tidak semua hal itu diberlakukan dalam setiap masyarakat. Kerena tidak setiap manusia memberikan makna yang sama pada setiap peristiwa, walau mengalami peristiwa yang sama. Mengenai seberapa pentingkah sebuah peristiwa tersebut berkesan kepada inividu, hal tersebut tergantung seberapa besar seseorang memaknai suatu peristiwa. Seperti yang diungkapkan oleh Suhendi :
“sebuah perisiwa yang istimewa yang saya alami sewaktu tugas di Dili, tentunya tidak akan saya lupakan begitu saja. Dan saya memberikan nama kepada anak saya, untuk mengenang peristiwa yang saya alami. Karena waktu tugas di Dili saya sering di serang oleh para gerombolan pemberontak dan saya hampir terbunuh. Untungnya saja saya masih bisa selamat, karena pada saat itu teman satu tim battalion saya ada juga yang meninggal padahal namanya sama dengan saya hanya saja takdirnya mungkin beda”.
Secara umum, manusia cenderung memisahkan peristiwa yang terjadi dalam istilah "baik" dan "buruk". Pemisahan tersebut sering bergantung pada kebiasaan atau tendensi peristiwa itu sendiri. Reaksi mereka terhadap peristiwa tersebut berubah-ubah tergantung pada kepelikan dan bentuk kejadian tersebut; bahkan apa yang akhirnya akan mereka rasakan dan alami biasanya ditentukan oleh kebiasaan sosial masyarakat (Freire, 2001:31).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar