Selasa, 30 Oktober 2007

lainnya

Metrosexual
Dalam suatu waktu, ditengah ramainya kantin di dalam kampus dengan di temani segelas kopi sambil menikmati hisapan rokok yang masih menyala. Segerombolan anak muda yang kuliah di kampus tersebut sepertinya asik bercengkrama dengan kawan kawannya. Gaul banget memang dari tampang-tampang dan gaya berpakaiannya. Maklum saja baju baju serta atribut distro yang sekarang sedang marak pastinya mereka kenakan. Aku hanya mendengarkan saja dari samping yang memang tak jauh dari kerumunan para pemuda itu. Obrolannya sangat sederhana, bukan sebuah perkuliahan yang mereka bicarakan, bukan juga soal tugas kampus yang terkadang bikin males untuk ngegarapnya. Tapi obrolan tentang mode dan salon yang bagus dalam menata rambut serta merawat tubuh yang asik mereka bicarakan. Aku sempat tercengang juga sih awalnya, karena bila di lihat tampang tampangnya serta cara berpakaian mereka sangat mencerminkan sekali anak musik yang beraliran cadas. Tapi kok, yang jadi pembicaraan mereka dalam sebuah kantin hanya sebatas itu. Aneh….bagi aku, dan mungkin saja justru aku yang mereka anggap sebagai orang yang aneh yang berada yang tak jauh dari kerumunan mereka.
Soal mode yang di jalani para lelaki, baru aku sadar memang tidak hanya terjadi pada saat sekarang saja. Bahkan semenjak dahulu entah tahun berapa yang pasti aku nggak pernah tahu. Di jaman yang katanya serba moderen, tampil di wilayah public dengan menguasai wilayah tersebut memang sudah menjadi kelas social baru dan bisa dikatakan sebagai kasta tertinggi untuk jaman moderen ini. Di kenal oleh banyak orang, sudah barang tentu kita pasti akan menjaga penampilan kita didepan para penggemar. Sudah menjadi sebuah tuntutan yang harus di jalani memang.
Sebagai pria pesolek (sangat menjaga tubuh ), sudah barang tentu akan menambah nilai lebih yang akan didapatkan oleh seorang pria saat ia tampil di hadapan public. Dengan tampang yang keren dengan tubuh yang ideal dan terawat sementara sifatnya agak sedikit nakal tentunya peremuan mana yang tidak tergila gila berlomba untuk menaklukan lelaki seperti itu. Sebuah harapan dan selalu adanya tantangan-tantangan yang baru yang selalu dialami sudah barang tentu akan membawa setiap wanita untuk tetap tunduk dan menikuti sebuah sensasi yang ia rasakan. Sementara para lelaki yang dengan tampang yang biasa saja, sopan dan banyak hal yang katanya positip janganlah berkecil hati karena yah memang seperti itulah jalan kehidupan dari para manusia. Dan jangan juga merasakan takut tidak mendapatkan perempuan yang sudah menjadi iimpiannya, mereka jelas akan kamu dapatkan hanya saja jangan pernah merasa menyesal jika kamu mendapatkannya sebagai sisa sisa bekas para lelaki yang nakal.
Dalam sebuah tulisan perjalanan kita akan mengenal bagaimana bagai mana para pria bersolek ternyata akan banyak di temukan di daerah- daerah yang kita anggap pedalaman. Seperti di daerah pedalaman suku di afrika, kita akan menemui bagaimana prosesi tahunan yang diadakan suku tertentu untuk menyajikan acara kusus para lelaki sebagai peserta. Acaranya unik, karena dalam acara tersebut semua laki laki dewasa yang ada di suku itu harus berdandan semenarik mungkin. Disini para perempuannya bertindak sebagai juri yang menilai laki laki siapa yang pintar bersolek. Acara tahunan ini tentunya sangat bergengsi diantara komonitas mereka. Karena hadiahnya hanyalah sebatas sanjungangan dari para perempuan yang ada pada suku tersebut dan hal itu tentunya merupakan gengsi tersendiri bagi laki laki. Sementara bagi lelaki dewasa yang tak bisa bersolek sudah barang tentu cemoohan akan di dapatkan selama acara berlangsung.
Dari cerita diatas saya sendiri kemudian berpikir dan mencoba membawa cerita tersebut untuk melihat dunia yang saya alami sekarang. Ditengah tengah arus moderenisasi, disini sangat jelas memang diri saya yang mungkin tidak melebur untuk memahami serta menjalankan sebuah keharusan untuk menjalani dalam alam yang serba maju ini. Tentu walaupun saya tercengang melihat anak anak muda dengan gaya yang cadas mereka memperbincangkan tentang model pakainan serta salon mana yang bagus buat perawatan tubuhnya. Saya sendiri memang tidak menyalahkan bagaimana para pria metrosexsual yang selalu menuntut penampilan ketika mereka berada di wilayah publik. Seorang tukulpun sekarang saya sendiri meyakini bagaimana ia harus menghindari masalah bau badan, bau keringat dan terhindar dari bau-bau yang melekat pada tubuh seorang laki-laki. Dan semuanya memang tidak masalah. Hanya saya yang kemudian mengganjal dalam diri saya, apakah seorang lelaki harus seperti itu harus sesuai dengan pakem dari moderenisasi.
babagimana punjuga hal penampilan, saya menganggapnya sebagai soal kenyamanan saja baik dalam diri kita yang mengenakan, bersikap biasa dan bisa membuat nyaman orang yang sedang berbicara dengan kita tentunya akan menjadi sebuah pertimbangan yang harus diperhatikan. Dan pasti anda bertanya apakah orang yang berbicara dengan kita akan merasa nyaman sementara saat orang mendekatpun sudah tidak merasakan nyaman dengan aroma-aroma terapi yang keluar dari tubuh..( he he apa coba ) ? tentu disisi lain mereka akan nyaman sementara sisi sebagian besarnya jangan harap dan jangan ngomongin soal nyaman lah. He he he….
Tentunya maksud saya disini, dari hal-hal sebelumnya terus terang saja yanya tidak bersepakat dengan adanya standarisiasi dalam memandang hal ideal dari seorang manusia ( co khususnya ) karena besarnya pencitraan ini sudah jelas akan banyak merugikan para lelaki-lelaki lainnya yang memang tidak masuk dalam kategori ideal tersebut. Lelaki ideal dalam dunia pencitraan kebanyakan dilihat dari fisik saja dengan tampang keren, tubuh yang atletis, perut kotak kotak dan badan berisi dan kita akan mendengar tanpa sadar para perempuan berkata: gila tuh co maco banget…. Ada hal hal lain yang kadang di lupa, kalau untuk menghadirkan diri dan untuk membuktikan diri kita ada tidak harus berpenampilan sama dan tidak harus bertubuh ideal seperti yang sudah dicitrakan dalam alam moderen ini. Yang seperti dalam istilah, “aku bergaya maka aku ada”. Sudah bukan seperti itu lagi masanya. Wekkaaaaazzzzzxixixixixix wekz…!

Tidak ada komentar: