My home
Terlalu banyak yang berubah memang dengan besarnya gelombang moderenisasi yang ada sekarang. Bukan cuman soal nilai, tapi fungsi sebagai sebuah perwujudannyapun ikut berubah juga. Rumah sebagai mana yang sudah kita kenal, memang sebuah tempat frivatsi untuk setiap keluarga dimanapun ia tinggal. Sebagai sebuah wilayah privatsi di satu sisi sementara di sisi lain sebagai sebuah wilayah lingkungan sosial yang tentunya memiliki sebuah aturan yang musti di kenali dan di ikuti walau Terkadang selalu terbentur dengan ruangan dalam wilayah pribadi. Banyak bentuk-bentuk rumah baru yang konsepnya mengambil dari istilah moderenisasi. Memang dalam kenyataannya rumah-runah yang bergaya moderen memiliki nilai filosofisnya sendiri, sama saja dengan penempatan tata ruang rumah dalam masyarakat tradisi.
Hanya saja yang menganjal pada pikiran saya, banyak rumah-rumah sekarang yang karena privatsinya justru digunakan sebagai sebuah tempat di produksinya barang-barang narkoba, dijadikan sebagai sebuah tempat tinggal yang tentunya tidak lagi bisa di jangkau oleh mata kita. Semua sudah dibatasi oleh tembok-tembok tinggi, sehingga untuk melihat anak gadisnyapun seperti dalam kisah-kisah sebuah buku cerita tak akan lagi bisa kita temui. Memang tidak semunaya rumah selalu berkesan negatif, akan tetapi bagai manapun juga sudah pasti akan ada perasan kita yang mungkin enggan untuk bertamu, sebagai sebuah tetangga atau sebatas bertegur sapa sepertinya sudah jarang terjadi. Hal ini bisa dikatakan wajar bagaimana sesama tetangga sudah tidak lagi saling mengenal, dan hal itu sudah banya terjadi di masyarakat kita sekarang. apakah memang seperti itu spirit dari sebuah moderenisasi.
Sebagai sebuah bagian dari tatanan akan keberadaan lingkungan sosial, keberadaan rumah sudah barang tentu akan menjadi sebuah awal bagaimana kita memahami spirit akan kebersamaan dalam menjalani kehidupan sosial di masyarakat. Seperti rumah-rumah yang berada di pedesaan secara konep dan bentuk rumah mereka memang sederhana. kita akan melihat bagaimana keterlibatan sebuah rumah dengan para tetangga yang berada di sekitarnya. Banyak sekali simbol-simbol yang mencerminkan kepribadian sebuah masyarakat, saling menghargai perasaan antar sesama yang berada di sekitar tempat kita tinggal. Dan hal ini tentunya tidak akan mengurangi wilayah privatsi diri kita. Karena dalam batasan batasan tertentu para tetanggapun akan mengerti wilayah wilayah mana saja yang memang diperuntukan oleh orang mereka.
Dalam merencanakan membangun atau merenopasi sebuah rumah yang mewah, pasti setiap orang memiliki pertimbangan- pertimbangan yang matang dan tidak hanya petimbangan soal siapa yang jadi arsiteknya, atau pertmbangan pake bentuk apa desain interior rumah, dengan gaya apa rumah tersebut di buat. Hanya saja terkadang yang membuat saya bertanya kenapa musti membuat rumah dengan sebuah tembok yang tinggi, bahkan terkesan para penghuni asik bercengkrama di teras rumahnya sementara para tetangga yang lewatpun tidak bisa di lihat. Memang itu hak mereka, karena mereka yang punya dana untuk membangun sebuah rumah dengan model tersebut dan memang juga itu hak privatsi mereka. Lantas apakah hal itu juga mencerminkan bagaimana congkaknya para penghuni di dalamnya seperti bangunan rumah yang tak lagi bisa melihat tetangga yang lewat seakan sudah tidak ada keinginan mengenal siapa tetangga kita. Ah tentu tidak… aku yakin mereka tidak secongkak itu, toh banyak juga mereka sangat dermawan banyak menyumbang orang lain di waktu waktu tertentu. Lantas apa maksud dari semua ini.
Membangun rumah ideal tentunya selalin karena sebuah selera pemiliknya agar bisa merasa nyaman saat untuk di tempati juga seharusnya membuat merasa nyaman pada lingkungan sosial. Bila berpikiran seperti itu jelas kita akan mendapatkan kesan kalau lingkungan sosial sudah tidak lagi memberikan sebuah kenyamanan. Para tetangga seoalh dianggap sebuah musuh yang harus di saingi dengan cara membangun rumah semewah mungkin. Memang benar kalau pribahasa mengatakan rumahku adalah sorgaku. Karena disanalah segalanya akan di mulai disana jugalah kehidupan di awali. Tapi apakah harus dengan cara yang seperti itu, harus dngan cara memagar batas-batas rumah dengan tembok yang tinggi.
Berbicara soal surga secara tidak langsung kita akan berbicara juga soela kenyamanan, sementara untuk berbicar soal kenyamanan sudah barang tentu kita tidak hanya berbicara menyangkut kenyamanan dalam diri sendiri saja, tapi kita juga harus merasa nyaman dengan keadaan lingkungan sekitar. Dan apakah kita akan merasa nyaman kalau para tetangga sendiri saja sudah merasakan hal yang tidak nyaman saat mereka melihat tertutupnya rumah yang kita tempati. Dan apakah kita akan merasa nyaman saat para tetangga tidak saling mengenali satu sama lain. sudah barang tentu sebuah kompromi tidak hanya dengan keluarga sendiri tapi kompromi dengan lingkungan kekitar harus kita jalani, tidak akan ada salahnya kalau semua itu di jalani dalam membangun sebuah rumah tempat hunian yang ideal. Disana lah saya rasa konsep rumahku adalah sorgaku akan sangat dirasakan lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar