Selasa, 30 Oktober 2007

lainnya

Old Bantam Story

Banten sekitaran awal abad ke-16 sudah di kenal namanya, ketika Tome Piere melaporkan laporan perjalanannya selama tiga tahun ( 1512—5). Tome Piere mengatakan bahwa Banten merupakan sebuah kota niaga yang baik, terletak di tepi sebuah sungai. Kota itu di pimpin oleh seorang sahbandar yang bertindak dan sekaligus mengatas-namakan Raja Sunda. Wilayah niganya mencakup Sumatra dan bahkan kepulauan Maladewa. Banten merupakan sebuah Bandar yang
besar, melalui Bandar itu pula juga diperdagangkan beras, bahan makanan lain dan lada ( Cortesao 1944:166 ). Berita tersebut dengan jelas memberikan petunjuk bahwa pada masa itu Banten merupakan bagian dari kerajaan sunda. Menurut sebuah kajian yang pernah dilakukan, diketahui bahwa di daerah banten lama dan sekitarnya terdapat sekurangnya 33 buah pemukimna yang jika di kaji namanya masing masingdapat di bagi kedalam beberapa kelompok. Pemukiman itu tentunya dengan status dasar pemerintahan, sosial ekonomi, status, ras, agama dan yang tidak di ketahui setatusnya.
Jika kita mengkaji nama nama dari segi bahasa, maka akan memperlihatkan nama-nama tersebut dengan memperlihatkan ciri-ciri bahasa tertentu. Jika ciri bahasa itu dipadukan dengan kilasan sejarah yang pernah terjadi di daerah itu. Kita sendiri pasti akan memperoleh gambaran mengenai lapisan budayayang terdapat disitu. Lapisan lapisan tersebut akan memeperlihatkan silih bergantinya dominasi budaya tertentu yang pernah terjadi di Banten lama.
Di daerah sekitaran Banten Lama kita akan mengenal nama-nama daerah dengan menggunakan bahasa sunda seperti Pabean, Pamarican, Pakojan, Panjunan, dan pacinan. Nama tersebut jelas sekali memperlihatkan awalan pa- yang lebih kental dengan bahasa Sunda. Itu berarti bahwa tempat-tempat itu seharusnya sudah ada pada masa sahbandar yang belum terpisahkan dengan Kerajaan dari Sunda. Dengan demikian kita bisa anggap sebagai lapisan budaya paling awal di daerah itu.
Menurut sejarahnya ibukota Banten Girang terletak di sekitaran 3km sebelah selatan kota serang sekarang. Yang di rebut oleh pasukan islam di bawah pimpinan Syarif Hidayatullah dan anaknya Maulana Hasanudin tahun 1526.sebagai orang yang datang dari daerah jawa maka bila sebuah pusat wilayah kekuasaan itu sudah di rebut maka pusat pemerintahan nya harus dipindahkan begitulah Syarif Hidayatullah dan hasanudin setelah menklukan sahbandar yang kemudian memindahkan pusat pemerintahannya ke daerah pesesir. Pemerintah baru tersebut di beri nama Surasowan dan dalam peta Banten Lama menunjukan adanya daerah pemukiman baru dengan nama kebalean, Kepakihan, keragilan unsur awalan ke- dan ahiran –an menunjukan akan kentalnya bahasa Jawa. Penamaan nama tempat tersebut kita anggap saja sebagai sebuah lapisan kedua yang mendiami Banten.
Sebagai sebuah Bandar yang penting terutama sebelum masa pemerintahan hasanudin keberadaan wilayah tersebut tentunya sudah tersebar luas ke wilayah luar. Bandar yang di kelola oleh sahbandar yang mengatas namakan Raja Sunda, sepertinya sudah memiliki sebuah tempat khusus untuk membayar pajak atau cukai dan bea yakni dengan nama pabean, dusun yang bernama pabean itu sekarang letaknya paling dekat dengan pesesir pantai dan di tepi sungai Ci Banten.
Dalam sebuah kajian ekologi yang pernah dilakukan dan dapat diketahui bahwa hasil bumi ( beras, asam, buah-buahan dan lada ) yang menurut Tome Pires merupakan komoditi yang sangat penting yang didatangkan dari daerah pedalaman Banten. Hasil bumi yang paling disukai oleh orang asing yakni lada yang khusus didatangkan dari daerah pedalaman sehingga lada tersebut kemudian mendapatkan sebuah tempat khusus sehingga untuk menyimpannya juga dibuatkanlah sebuah tempat yang kemudian di kenal dengan nama Pamarican. Menurut Tome Pires juga lada yang dihasilkan dari kerajaan Sunda setiap tahunnya mencapai 1000 bahar. Dengan mutu yang lumayan baik bila di bandingkan dengan lada yang dihasilkan di daerah Kocian Asia Tenggara ( conesao, 1944:169 ).
Bersamaan dengan masuknya orang jawa ke wilayah banten abad-16 secara tidak langsung pergantian agama mulai makin besar terjadi di wilayah Banten. Seorang penguasa yang beragama islam tentunya menganggap demikian pentingnya pendidikan dan kedudukan kegamaan sehingga ada sebuah dusun khusus yang namanya kemudian di kenal dengan nama Kepakihan.yang lebih merujuk bahwa penghuninya para ahli dan Ulama yang beragama Islam. Toponim yang ada di Banten memberikan petunjuk bahwa dusun dusun tertentu di huni oleh sekelompok masyarakat yang memiliki latar belakang ekonomi. Panjunan, Pajantran dan Panjaringan. Tetunya nama dusun tersebut memberikan petunjuk akan sebuah lapisan sosial tertentu. Panjunan dan pajantran misalnyajelas merupakan lapisan budaya yang pertama. Selain awalan pa- dan akhiran –an yang digunakan, juga karena kata dasar anjun merupakan salah satu bukti keterampilan yang sudah di miliki oleh orang Sunda semenjak jaman prasejarah. Sementara itu, kata jantra adalah kata serapan dari bahasa sansekerta kedalam bahasa Jawa (Zoetmulder, 1982:726)dan Sunda. Sementara untuk dusun panjaringan sendiri muncuk kemudian karena adanya gesekan klas sosial yang terjadi di dusun Panjunan dan Pajantran sehingga sebagai hasil gesekannya dusun Panjaringan di buat. Walau merupakan lapisan ketiga karena bagaimana pun juga alasannya jelas dalam bahasa Sunda awalan kata pan- itu tidak ada dalam bahasa Sunda.
Sementara untuk lapisan berikutnya, kita akan mengenal dengan nama Banten Lama, dengan jelas nama tersebut sangat kental dengan bahasa melayu. Jika nama tersebut berbau Sunda mungkin namanya akan Banten heubeul atau Banten Baheula. Dan kalau berbau bahasa Jawa mungkin saja namanya Banten lawas, tapi yang ada sekarang yang di kenal yah Banten Lama yang lebih ke Melayu. Hal ini memungkinkan nama Banten sendiri baru baru saja diberikan. Bahkan kita mau tidak mau harus menerima dugaan dari nama dari pemberian orang belanda. Hal ini sangat memungkinkan katika Van Chijs mengunjungi kota itu tahun 1881 ia hanya melihat kota yang sudah tinggal puing yang sudah dihancurkan oleh Daendels tahun 1803 karena dusun kecil itu bernama banten kemudian muncullah sebuah nama baru dengan nama Old Bantam dan bila diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia atau Melayu diartikan sebagai nama Banten Lama.

Tidak ada komentar: