Nah trus gimana
Hal yang menarik hari ini saat mendengar berita tentang jalannya proses expansi yang dilakukan oleh para tentara Israel menyerbu tentara hamas. Hai ke kari warga sipil justru banyak yang jadi korban. Sementara para tentara yang bertikai menjadi korban masih terhitung. Masalahnya jelas bukan persoalan banyak ato sedikitnya jumlah korban. Tapi maslah kemanusiaan.
Masalah nyawa yang tak bisa manusia ciptakan tapi bisa menghilangkannya. Reaksinya bukan hanya di timur tengah, sebagai Negara tetangga dari palestina. di Negara eropa dan hampir di setiap Negara memberikan tanggapan akan masalah penyerangan ini. Di israelnyapun ternyata banyak warga yang tidak menetujui akan adanya kejadian tersebut.
Perang dan perang. jelas akan sangat membingukan diri ini untuk bersikap. Mau mencurahkan rasa kasihan, dan memberikan ungkapan keprihatinan kepada warga yang jadi korban.Aku menganggap dan tidak merasa punya hak untuk mengsihani mahluk ciptaan yang kuasan. Aku rasa, rasa kasiannya sang pencipta saja sebenarnya tidak akan pernah kekurangan. Disisi yang lain, terkadang tuhan memberikan pertologannya melalui hamba yang lainnya. Hal tersebut terbukti dengan banyak nya reaksi dan ungkapan keperihatinan dari berbagai golongan manusia di berbagai Negara.
Kecaman dan kutukan hapir dikeluarkan oleh orang-orang yang prihatin akan kejadian tersebut. Hanya saja kecaman dan kutukannya nggak memberi pengaruh apa-apa. Lain halnya dengan cerita legenda si malin kundang di pulau Sumatra sana, yang kutukan seorang ibu dapat merubah seorang manusia menjadi batu. Sementara kutukan yang dikeluarkan oleh manusia sekarang tetap saja nggak memberikan perubahan apa-apa. Justru malah korban di palestina sana yang bertambah.
Bukan bermaksud untuk membandingkan, karena sebenarnya hal tersebut tidak untuk dibandingkan. Jadi santé sajalah. Pastinya sangpencipta sedang memberikan pembelajaran bagi kita. dengan sebuah kejadian yang ada, sikap yang seperti apa yang harus kita ambil.
Sambil menunggu keajaiban itu datang, nggak ada salahnya jika kita berpikir tentang hal lain.
Diplomasi diandalkan dapat meberikan solusi untuk meredam segala aksi. Tapi apakah itu mungkin, jika sebuah reaksi dan aksi adalah hal yang harus dijalankan. Begitu banyak negara yang dianggap sebagai negara maju, toh kenyataannya mereka masih belum bisa menghentikan aksi tersebut. Lantas apakan emang orang-orang yang berada di negara maju sudah tidak lagi mempedulikan akan apa yang sudah terjadi.
Sebesar apapun amerika tetap saja tidak bisa diharapkan untuk mengatasi masalah ini. Sekeren apapun presidenya sekarang tentunya juga tidak bisa menjamin akan kedamaian di dunia. Di masa transisi untuk menjadi penguasa, sangat jelas kehati-hatian menjadi kunci utama yang di pegang untuk melangengkan kekuasaannya. Justru bisa jadi malah sebaliknya, merekalah yang mengharapkan aksi tersebut terjadi. Mungkin juga mereka tidak akan peduli untuk menghindari sebuah masalah yang sudah terjadi.
Jadi inget cerita akan masa lalu, saat soviet bisa menjadi penyeimbang akan kekuasaan amerika. Tapi akankah mereka sendiri bisa mengambil kesempatan ini. Kemudian kembali bangkit sebagai sebuah negara yang bisa menjamin adanya kedamaina di dunia. Sayangnya hal tersebut tidak segampang membalikan telapak tangan. Soviet sudah lama jatuh setelah di lukai. bila diibaratkan tubuh yang besar jatuhnya seseorang, tidak bisa langsung berdiri dan kemudian kembali berlari. Menahan rasa nyeri mungkin saja itu yang paling dirasakan. Sehingga untuk kembali berjalanpun ia masih harus menunggu pengobatan.
Hanya harapan akan sebuah keajaiban yang menjadi doa sebagai bekal hidup bahagia. Solusinya jelas harus ada yang menemani biar tidak sendiri, seperti halnya amerika dengan negaranya yang selalu meras kesepian karena tidak ada negara yang menjadi penyeimbang akan keberadaan dirinya. Sebagai exspresi untuk mencurahkan rasa resah dan gairahnya. menjadi propokator untuk mencari hiburan jelas diperlukan, biar tidak kesepian karen kurang perhatian. He he he…
Seperti halnya tubuh ini, masih jelas gairah yang selalu mengalir deras dalam darah. Begitu juga dengan amerika yang jelas sudah resah karena sudah lama tubuhnya tidak ada yang menjama. Sebagai tubuh yang normal, mencurahkan gairah dengan di jamah jelas akan lebih indah ketimbang bermasturbasi dengan tangan sendiri.
Amerika bisa dianggap sebagai primadona ato kembang desa ( masa she kembang desa, janda muda aja kali yah ato janda kembang, huh…mungkin aja tante yang lagi kegirangan kali yah. He he…) yang selalu dielu-elukan dan di puja tapi tak ada yang berani memanjanya. Sebagai sosok kembang desa sudah pasti mencari perhatian dengan exspresi yang sudah dilakukannya jelas akan menjadi gosip yang tak henti-hentinya dibicarakan. Yah seperti itulah adanya…jangankan cuman berekasi, baru gerak sedikitpun seolah geraknya sudah dinantikan. Dan uh…ato wah… sebuah kata pujian atas keadaanya.
Bukan bermaksud mengekploitasi akan keadaan perempuan dalam tanda kutif. Ini semata hanya melihat kebiasaan masyarakat laki laki umumnya. He he …nggak ngaruh kali yah, orang sama aja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar