Jumat, 18 Januari 2008

lainnya

visitindonesia
jelang 2008 indonesia dengan keseriusannya menjalankan misi pengembangan pariwisata dengan target 7 juta pariwisata dapat mengunjungi indonesia. sebuah target yang cukup lumayan besar, di tengah kondisi indonesia yang sekarang rawan akan
bencana alam yang menimpa negara ini. pamflet dan iklan iklanpun banyak bermunculan daerah daerah yang ada di wilayah indonesia seperti tidak punya pilihan lain dan jelas mereka mau tidak mau harus bersiap siap mengelola daerahnya dan pariwisata yang bagaimana yang akan dikembangkan dan ditawarkan kepada para wisatawan. hal ini tentunya diharapkan akan adanya pemerataan akan sektor pariwisata di indonesia... hal ini tentunya membuat diri saya senang dengan adanya program yang demikian. hanya saja hal itu tentunya tidak membuat diri saya bangga sebagai seorang warga negara karena bagai manapun juga ketakutan yang besar jelas menerjang pikiran saya.
saat pikiran negatif saya muncul, disini saya jelas mencemaskan bagaimana kondisi warga dan masyarakat yang berada di setiap daerah-daerah yang daerahnya dijadikan objek pengembangan pariwisata. dalam hal ini jelas sekali saya tidak bisa memprediksikan dam memperkirakan akan kondisi goncangan kebudayaan yang dirasakan oleh masyarakat. selain masalah goncangan budaya "shock cultur" kita pasti membayangkan bagaimana budaya wisatawan yang datang dengan kehidupan di daerah asalnya yang notabene kehuidupan mereka jelas tidak semuanya memiliki sikaf yang sangat menghargai akan orang lain. keegooan wisatawan tentunya akan membawa pengaruh buruk dengan menganggap dirinya sebagai wisata dengan membawa mata uang dollar ke daerah yang di kunjungi. sementara orang-orang yang ada di daerah tersebut jelas akan terasing dari keadaan daerahnya karena untuk menikmati sajian pariwisata jelas materi dijadikan hal utama, dengan adanya materi orang yang berada di daerah itu akan menjadi bagian dari wisatawan. sementara untuk menjadi penontonpun saya rasa jelas para penduduk tidak akan pernah bisa menontonnya. jelas dalam hal ini aku sendiri mengharapkan akan masyarakat yang tidak terasing dari tanah kelahirannya.
selain itu juga dengan adanya program visit indonesia year saya sendiri memandang negara seperti seonggok tubuh yang dijajakan di pinggir jalan untuk bisa di nikmati dan setiap daerah seolah seperti seorang gadis yang ditawarkan agar mendapatkan sebuah penghasilan anggaran daerah. adakah hal yang lebih baik yang ditawarkan negara ini selain menjajakan dirinya agar dapat di setubuhi kemudian dicampakan begitu saja. aku rasa parwisata harusnya bukan satu satunya cara untuk mendapatkan sebuah penghasilan daerah. aku yakin masih banyak cara lain selain menjajakan dirinya dengan tameng pariwisata, sudah cukup bali sajalah yang dijadikan sebagai objek pariwisata.
kita tidak harus menganggap negara ini sebagai seorang gadis belia yang di kelilingi dengan mitos keperawanannya. dan kita juga tidak harus mejual keperawanan seorang gadis dengan cara dijajakan dengan berbagai famplet dan bermacam iklan.

Tidak ada komentar: